yan raditya
IndoForum Addict E
- No. Urut
- 163658
- Sejak
- 31 Jan 2012
- Pesan
- 24.461
- Nilai reaksi
- 72
- Poin
- 48
Hasil tes laboratorium dua pasien terduga Ebola di Jawa Timur akan diketahui pada Senin (03/11/2014). Hasil itu akan menentukan untuk mengetahui apakah keduanya mengidap virus Ebola atau tidak.
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kementerian Kesehatan, Tjandra Yoga Aditama, mengaku pihaknya tengah memeriksa sampel kedua pasien.
“Mungkin bisa selesai besok (Senin, 3 November 2014),” katanya kepada wartawan BBC Indonesia, Jerome Wirawan, Minggu (02/11).
Menurut Tjandra, kedua pasien belum tentu mengidap Ebola mengingat keluhan mereka relatif ringan dan tidak menunjukkan gejala-gejala orang yang terpapar virus tersebut, seperti manifestasi pendarahan, gangguan saluran cerna, serta nyeri otot.
“Kemungkinan penyakit lain ada dan Ebola merupakan salah satu penyakit yang diwaspadai,” kata Tjandra.
Malaria
Saat ini, seorang TKI yang dinyatakan sebagai pasein terduga virus Ebola masih dirawat di ruang isolasi di Rumah Sakit dokter Soedono, Madiun.
Berdasarkan hasil pemeriksaan medis, pasien tersebut positif menderita malaria.
Namun, karena ia baru datang dari Liberia, salah satu negara di Afrika Barat yang ditetapkan sebagai daerah endemis Ebola, pihak rumah sakit menerapkan serangkaian tes.
Syaiful Anwar, kepala bagian medis Rumah Sakit dokter Soedono, Madiun, mengatakan semua indikator kesehatan pasien itu menunjukkan tanda-tanda normal, kecuali tingkat trombosit yang menurun sejak dirawat Jumat (31/10) lalu.
“Dia positif malaria. Hari pertama, level trombositnya 48.000. Hari kedua, 49.000. Hari ini, 36.000. Padahal, level trombosit yang normal berkisar antara 150.000 hingga 300.000,” kata Syaiful.
Normal
Selain di Madiun, seorang TKI di Kediri juga dinyatakan sebagai pasien terduga Ebola. Saat ini, kondisinya normal.
Dokter Widyastomo, kepala bagian pelayanan Rumah Sakit Umum Daerah Pare, Kediri, mengatakan diagnosa awal pasien tersebut ialah radang tenggorokan.
“Karena dia demam dan ada riwayat pernah ke daerah endemis (Ebola), langsung kita laksanakan prosedur yang sudah ditetapkan. Namun, kan belum positif (Ebola),” ujarnya.
Liberia
Sebanyak 28 TKI pulang ke kampung halaman mereka pada 26 Oktober lalu setelah bekerja di Liberia, salah satu lokasi endemis virus Ebola.
Tjandra mengaku sempat berada di dalam satu pesawat dengan mereka dari Abu Dhabi menuju Jakarta.
Kala itu, Tjandra dalam perjalanan pulang dari pertemuan Badan Kesehatan Dunia (WHO) di Jenewa, Swiss, dan transit di Abu Dhabi.
Ke-28 TKI itu juga transit di Abu Dhabi dari Liberia. Mereka tiba di Jakarta pada 26 Oktober lalu.
“Mereka sudah diperiksa di Liberia. Di paspor mereka tertera bahwa mereka sehat. Kemudian mereka diperiksa lagi di salah satu bandara transit. Dan ketika tiba di Bandara Soekarno-Hatta, para petugas Kantor Kesehatan Pelabuhan memeriksa mereka. Tidak ada dari mereka yang sakit,” ujar Tjandra.
Namun demikian ketika tiba di Madiun, salah satu TKI mengalami panas tinggi dan muntah-muntah.
Dia kemudian diputuskan untuk dirawat dan dikarantina di RS dokter Soedono.
Dari ke-28 TKI, 22 orang di antara mereka berasal dari Madiun dan enam lainnya dari Kediri.
Walau hanya dua orang yang menjadi suspect virus Ebola, menurut Syaiful Anwar, kepala bagian medis Rumah Sakit dokter Soedono, Madiun, sisanya tidak diperbolehkan meninggalkan rumah dan kondisi mereka terus dipantau dinas kesehatan daerah setempat.
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kementerian Kesehatan, Tjandra Yoga Aditama, mengaku pihaknya tengah memeriksa sampel kedua pasien.
“Mungkin bisa selesai besok (Senin, 3 November 2014),” katanya kepada wartawan BBC Indonesia, Jerome Wirawan, Minggu (02/11).
Menurut Tjandra, kedua pasien belum tentu mengidap Ebola mengingat keluhan mereka relatif ringan dan tidak menunjukkan gejala-gejala orang yang terpapar virus tersebut, seperti manifestasi pendarahan, gangguan saluran cerna, serta nyeri otot.
“Kemungkinan penyakit lain ada dan Ebola merupakan salah satu penyakit yang diwaspadai,” kata Tjandra.
Malaria
Saat ini, seorang TKI yang dinyatakan sebagai pasein terduga virus Ebola masih dirawat di ruang isolasi di Rumah Sakit dokter Soedono, Madiun.
Berdasarkan hasil pemeriksaan medis, pasien tersebut positif menderita malaria.
Namun, karena ia baru datang dari Liberia, salah satu negara di Afrika Barat yang ditetapkan sebagai daerah endemis Ebola, pihak rumah sakit menerapkan serangkaian tes.
Syaiful Anwar, kepala bagian medis Rumah Sakit dokter Soedono, Madiun, mengatakan semua indikator kesehatan pasien itu menunjukkan tanda-tanda normal, kecuali tingkat trombosit yang menurun sejak dirawat Jumat (31/10) lalu.
“Dia positif malaria. Hari pertama, level trombositnya 48.000. Hari kedua, 49.000. Hari ini, 36.000. Padahal, level trombosit yang normal berkisar antara 150.000 hingga 300.000,” kata Syaiful.
Normal
Selain di Madiun, seorang TKI di Kediri juga dinyatakan sebagai pasien terduga Ebola. Saat ini, kondisinya normal.
Dokter Widyastomo, kepala bagian pelayanan Rumah Sakit Umum Daerah Pare, Kediri, mengatakan diagnosa awal pasien tersebut ialah radang tenggorokan.
“Karena dia demam dan ada riwayat pernah ke daerah endemis (Ebola), langsung kita laksanakan prosedur yang sudah ditetapkan. Namun, kan belum positif (Ebola),” ujarnya.
Liberia
Sebanyak 28 TKI pulang ke kampung halaman mereka pada 26 Oktober lalu setelah bekerja di Liberia, salah satu lokasi endemis virus Ebola.
Tjandra mengaku sempat berada di dalam satu pesawat dengan mereka dari Abu Dhabi menuju Jakarta.
Kala itu, Tjandra dalam perjalanan pulang dari pertemuan Badan Kesehatan Dunia (WHO) di Jenewa, Swiss, dan transit di Abu Dhabi.
Ke-28 TKI itu juga transit di Abu Dhabi dari Liberia. Mereka tiba di Jakarta pada 26 Oktober lalu.
“Mereka sudah diperiksa di Liberia. Di paspor mereka tertera bahwa mereka sehat. Kemudian mereka diperiksa lagi di salah satu bandara transit. Dan ketika tiba di Bandara Soekarno-Hatta, para petugas Kantor Kesehatan Pelabuhan memeriksa mereka. Tidak ada dari mereka yang sakit,” ujar Tjandra.
Namun demikian ketika tiba di Madiun, salah satu TKI mengalami panas tinggi dan muntah-muntah.
Dia kemudian diputuskan untuk dirawat dan dikarantina di RS dokter Soedono.
Dari ke-28 TKI, 22 orang di antara mereka berasal dari Madiun dan enam lainnya dari Kediri.
Walau hanya dua orang yang menjadi suspect virus Ebola, menurut Syaiful Anwar, kepala bagian medis Rumah Sakit dokter Soedono, Madiun, sisanya tidak diperbolehkan meninggalkan rumah dan kondisi mereka terus dipantau dinas kesehatan daerah setempat.