yophi
IndoForum Beginner E
- No. Urut
- 45381
- Sejak
- 5 Jun 2008
- Pesan
- 512
- Nilai reaksi
- 15
- Poin
- 18
INGATKAH dongeng tentang seekor putri duyung yang ingin menjadi manusia demi pangeran yang dicintai? Atau Michelle Obama yang harus meninggalkan karir cemerlangnya demi sang suami? Apakah wanita memang harus mengubah cita-cita dan mimpinya demi pasangan?
Ternyata tidak. Pasalnya, tidak selamanya perubahan itu memberi kebaikan bagi Anda dan pasangan. Berikut beberapa masukan yang dilansir SheKnows, kapan saatnya Anda harus berubah, dan kapan saatnya Anda harus tetap menjadi diri sendiri.
Berubah tidak selalu pilihan tepat
Misalkan saja, Anda diminta meninggalkan karir dengan alasan pasangan ingin Anda jadi ibu rumah tangga seutuhnya yang punya waktu total untuk merawat dan mendidik anak-anak. Bisa saja permintaan tersebut Anda kabulkan, namun Anda tetap harus memikirkan baik-baik. Pertimbangkan, apakah pekerjaan suami telah mapan saat dia meminta Anda tidak lagi bekerja? Ada baiknya Anda juga memperhitungkan berapa besar biaya pendidikan yang nantinya dibutuhkan anak-anak hingga mereka menyelesaikan pendidikan tinggi.
Jika Anda pikir hal tersebut sudah tercukupi hanya dengan mengandalkan pekerjaan suami, silakan saja meninggalkan karier anda. Namun, pikirkan lagi jika yang terjadi justru sebaliknya. Sebab, yang Anda pertaruhkan adalah masa depan anak-anak.
Lakukan dengan kesadaran sepenuh hati
Perubahan Anda dimulai dari kesadaran diri sendiri, bukan atas paksaan atau desakan orang lain. Jika telah menyadari sepenuh hati bahwa "ini saatnya berubah", tentu Anda juga akan melakukannya sepenuh hati. Karena berubah dengan paksaan tidak akan berlangsung lama. Bahkan kekecewaan yang muncul bisa jadi lebih besar, baik pada diri sendiri maupun pasangan.
Lakukan jika rasional
Tidak selamanya keputusan berubah akan berdampak baik. Selalu akan ada orang yang turut mengomentari perubahan Anda, baik positif ataupun negatif. Jadi, sejauh mana Anda harus berubah untuk pria? Jawabannya, Anda boleh dan sah-sah saja berubah demi pasangan yang Anda cintai, namun tetap berada pada batasan dan tetap berpikir rasional.
Jika permintaan pasangan tidaklah lazim untuk Anda lakukan, atau hanya membuat diri tidak nyaman, sebaiknya jangan lakukan. Tetaplah menjadi diri sendiri. Namun jika perubahan yang diinginkan pasangan dapat meningkatkan kualitas diri Anda, maka berubahlah!
Ternyata tidak. Pasalnya, tidak selamanya perubahan itu memberi kebaikan bagi Anda dan pasangan. Berikut beberapa masukan yang dilansir SheKnows, kapan saatnya Anda harus berubah, dan kapan saatnya Anda harus tetap menjadi diri sendiri.
Berubah tidak selalu pilihan tepat
Misalkan saja, Anda diminta meninggalkan karir dengan alasan pasangan ingin Anda jadi ibu rumah tangga seutuhnya yang punya waktu total untuk merawat dan mendidik anak-anak. Bisa saja permintaan tersebut Anda kabulkan, namun Anda tetap harus memikirkan baik-baik. Pertimbangkan, apakah pekerjaan suami telah mapan saat dia meminta Anda tidak lagi bekerja? Ada baiknya Anda juga memperhitungkan berapa besar biaya pendidikan yang nantinya dibutuhkan anak-anak hingga mereka menyelesaikan pendidikan tinggi.
Jika Anda pikir hal tersebut sudah tercukupi hanya dengan mengandalkan pekerjaan suami, silakan saja meninggalkan karier anda. Namun, pikirkan lagi jika yang terjadi justru sebaliknya. Sebab, yang Anda pertaruhkan adalah masa depan anak-anak.
Lakukan dengan kesadaran sepenuh hati
Perubahan Anda dimulai dari kesadaran diri sendiri, bukan atas paksaan atau desakan orang lain. Jika telah menyadari sepenuh hati bahwa "ini saatnya berubah", tentu Anda juga akan melakukannya sepenuh hati. Karena berubah dengan paksaan tidak akan berlangsung lama. Bahkan kekecewaan yang muncul bisa jadi lebih besar, baik pada diri sendiri maupun pasangan.
Lakukan jika rasional
Tidak selamanya keputusan berubah akan berdampak baik. Selalu akan ada orang yang turut mengomentari perubahan Anda, baik positif ataupun negatif. Jadi, sejauh mana Anda harus berubah untuk pria? Jawabannya, Anda boleh dan sah-sah saja berubah demi pasangan yang Anda cintai, namun tetap berada pada batasan dan tetap berpikir rasional.
Jika permintaan pasangan tidaklah lazim untuk Anda lakukan, atau hanya membuat diri tidak nyaman, sebaiknya jangan lakukan. Tetaplah menjadi diri sendiri. Namun jika perubahan yang diinginkan pasangan dapat meningkatkan kualitas diri Anda, maka berubahlah!