• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Hari pasaran, tradisi weton & kalender penanggalan Jawa

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Angela
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Angela

IndoForum Pro E
No. Urut
88
Sejak
25 Mar 2006
Pesan
45.487
Nilai reaksi
35
Poin
0


Hari pasaran, tradisi weton & kalender penanggalan Jawa



Hari pasaran, tradisi weton & kalender penanggalan Jawa



Halo agan & sista semua, selamat datang di thread saya kali ini yg membahas soal kalender penanggalan, weton & hari pasaran. Meskipun Indonesia memakai sistem penanggalan tahun Masehi sebagai patokan kalender, tetapi sebenarnya beberapa suku di Indonesia juga sudah memiliki & hingga saat ini masih memakai kalender penanggalan tradisionalnya sendiri-sendiri.


Hari pasaran, tradisi weton & kalender penanggalan Jawa


Seperti misalnya kalender Sunda (Saka Sunda, Candrakala & Sukrakala), kalender Jawa, kalender Bali (Saka Bali), Sumatra, & Sulawesi. Semua kalender itu hampir mirip satu sama lain, cuma nama bulan & nama hari yg berbeda. Dalam thread kali ini kita akan membahas penanggalan pada kalender Jawa.

Di ibukota, kita sudah mengenal nama pasar yg diambil dari nama hari, seperti misal Pasar Senen, Pasar Rebo, & Pasar Minggu, karena pada jaman dulu memang pasar itu cuma mengerjakan aktivitas jual-beli pada hari senin, rabu & minggu. Ternyata bukan di ibukota saja yg nama pasarnya diambil dari nama hari.

Seperti di Jawa, dalam masyarakat Jawa diketahui nama-nama pasar yg diambil dari nama hari dalam kalender jawa, seperti Pasar Legi, Pasar Pon, Pasar Kliwon, & sebagainya. Dan seperti pasar di ibukota, pasar di Jawa ini dulunya cuma buka di hari Legi, Pon & Kliwon, suatu nama hari dalam kalender Jawa, yg juga disebut sebagai hari pasaran. Sistem hari pasaran ini juga dipakai pada kalender Bali, cuma saja nama-nama harinya berbeda.

Jumlah hari pasaran dalam kalender jawa itu sendiri cuma terdiri dari lima hari, yaitu Legi, Pahing, Pon, Wage, & Kliwon. Sebenarnya masyarakat Jawa mengpakai dua macam sistem pekan, yaitu pekan Pancawara, satu pekan yg terdiri dari lima hari seperti yg sudah disebutkan, & pekan Saptawara, satu pekan yg terdiri dari 7 hari. Saptawara itu sendiri mengikuti siklus pekan dalam kalender masehi, nama harinya pun mengikuti nama hari dalam tahun masehi, yaitu pekan hingga sabtu.

Hari pasaran juga merupakan perlambangan sikap badan. Kliwon (kasih) melambangkan sikap berdiri, Legi (manis) melambangkan sikap berbalik arah, Pahing (pahit) melambangkan sikap menghadap ke depan, Pon (putih) melambangkan sikap tidur, & Wage (hitam) melambangkan sikap duduk.

Dalam kalender Jawa, dalam satu hari itu sering mempunyai dua nama, seperti misalnya Rabu Legi atau Jumat Kliwon, maka dalam sebuah penulisan pada hari & tanggal, seperti misal penulisan hari & tanggal dalam suatu undangan pernikahan, maka nama harinya akan ditulis dengan dua nama. Weton atau hari kelahiran seseorang juga mempunyai dua nama hari.

Menurut tradisi jawa, dengan menghitung hari weton kedua pasangan yg akan menikah, maka dapat diketahui pasangan itu cocok atau tidak, berjodoh atau tidak, bahkan kehidupan rumah tangga yg bagaimana yg akan dijalani nanti, dapat diperkirakan dengan menghitung neptu atau nepton dari weton atau hari lahir pasangan tersebut.

Sedangkan neptu atau nepton itu sendiri adalah bobot angka yg dimiliki oleh sebuah hari. Setiap nama hari memiliki bobot angka sendiri-sendiri. Bobot angka untuk lima hari dalam sepekan atau Pancawara adalah Pahing berbobot angka 9, Pon berbobot angka 7, Wage berbobot angka 4, Kliwon berbobot angka 8, & Legi berbobot angka 5.

Sementara neptu atau bobot angka pekan yg tujuh hari atau Saptawara adalah Senin berbobot angka 4, Selasa berbobot angka 3, Rabu berbobot angka 7, Kamis berbobot angka 8, Jumat berbobot angka 6, Sabtu berbobot angka 9, & Minggu berbobot angka 5.

Hari weton atau kelahiran ini juga dipakai sebagai perhitungan untuk menentukan kapan hari & tanggal yg baik untuk melangsungkan pernikahan, dengan mengerjakan perhitungan yg lumayan rumit dari neptu weton kedua mempelai. Perhitungan itu mengpakai rumus (jumlah neptu weton kedua mempelai + hari baik) : 5, tetapi harus masih menyisakan 3.

Seperti misalnya mempelai pria lahir di hari Sabtu Pahing, maka jumlah neptunya adalah 18. Sedangkan mempelai wanita lahir hari Selasa kliwon, jadi jumlah neptunya adalah 11. Maka gabungan neptu dari kedua mempelai jadi berjumlah 29.

Jadi perhitungannya adalah (29 + angka baik) : 5, tetapi masih sisa 3. Dan satu-satunya angka yg kalau ditambahkan 29 dapat dibagi 5 tetapi masih sisa 3 adalah 9. Jadi penjumlahannya adalah (29+9): 5 = 38:5, maka diperoleh 7 & masih sisa 3. Berarti hasil dari perhitungan itu adalah angka 9. Dan hasil angka 9 itu dicocokkan dengan tabel hari weton perkawinan seperti di bawah ini.


Hari pasaran, tradisi weton & kalender penanggalan Jawa



Dari perhitungan yg menghasilkan angka 9 yg kemudian dicocokkan dengan tabel diatas, maka didapatlah hari baik yaitu senin Legi & pekan Wage. Dua hari itulah yang jadi hari terbaik bagi pasangan tersebut untuk melangsungkan pernikahan. Pasangan dapat memilih salah satu diantara senin legi atau pekan Wage.

Untuk menentukan bulan yg baik untuk menikah, maka kedua mempelai tidak perlu lagi mengerjakan suatu perhitungan yg rumit seperti diatas, tetapi cukup dengan melihat tabel hitungan weton bulan perkawinan seperti di bawah ini.


Hari pasaran, tradisi weton & kalender penanggalan Jawa



Perhitungan weton juga dipakai untuk memperkirakan cocok & tidaknya pasangan yg mau menikah, memperkirakan bagaimana kehidupan pasangan itu setelah menikah, maka dapat dihitung dari weton pasangan itu. Perhitungan ini tidak rumit seperti menghitung hari baik pernikahan. Cuma dengan menjumlahkan bobot angka atau neptu dari weton pasangan itu, lalu dicocokkan dengan tabel di bawah ini, maka akan didapat perkiraan bagaimana kehidupan mereka kelak.


Hari pasaran, tradisi weton & kalender penanggalan Jawa



Perhitungan weton & neptu ini tidak cuma dipakai dalam perkawinan saja, tetapi juga dipakai dalam menentukan hari baik untuk pindah rumah, kapan waktu yg tepat untuk bercocok tanam, berburu, mencari ikan, sebagai patokan bagi seseorang untuk memulai sebuah tirakat seperti misalnya berpuasa, bahkan juga untuk menentukan arah yg baik untuk mencari rejeki. Semua perhitungan itu berdasarkan kitab primbon Jawa.

Nama-nama bulan dalam kalender jawa diambil dari gabungan antara bahasa arab, kalender hijriah, bahasa sansekerta & melayu yg dilebur ke dalam bahasa jawa, atau mungkin sudah diubah & disesuaikan supaya lebih familiar dengan 'lidah jawa'.
emoticon-Big Grin
Nama-nama bulan itu sendiri adalah Suro, Sapar, Mulud, Bakda Mulud, Jumadil Awal, Jumadil Akhir, Rejeb, Ruwah, Pasa, Sawal, Sla, & Besar. Dan jumlah hari dalam tiap satu bulan itu adalah 29 hingga 30 hari.

Seperti nama tahun dalam kalender cina yg mengpakai nama hewan, kalender jawa juga mempunyai nama tahun sendiri. Dan nama tahun itu adalah Purwana yg artinya mulai berniat, Karyana yg artinya mengerjakan, Anama yg artinya pekerjaan, Lalana yg artinya proses & atau nasib, Ngawana yg artinya hidup, Pawaka yg artinya sering kembali, Wasana yg artinya arah, Swasana yg artinya kosong.

Sebelum tahun 1633 masehi, masyarakat Jawa sudah mengpakai tahun Saka sebagai kalendernya. Tapi pada tahun 1633 tahun Masehi atau 1555 tahun Saka, Sultan Agung raja Mataram mengubah sistem tahun Saka itu jadi tahun Jawa yg berbasis pada perputaran bulan, sedangkan penanggalan tahun Saka itu berbasis pada perputaran matahari. Dan anehnya, angka tahun Jawa itu tetap meneruskan penanggalan tahun Saka, dari tahun 1555 Saka jadi 1555 Jawa. Sedangkan tahun Saka itu sendiri adalah sistem penanggalan yg berasal dari India.

Sistem penanggalan yg dibuat Sultan Agung itu adalah perpaduan dari sistem penanggalan Islam, penanggalan Hindu & penanggalan Julian, yaitu penanggalan dari budaya barat. Karena Sultan Agung harap menanamkan Islam dengan keras kepada masyarakat Jawa, maka nama-nama bulan pada kalender Jawa kebanyakan diambil dari nama bulan pada kalender Hijriah dengan beberapa penyesuaian supaya lebih mudah diucapkan oleh masyarakat Jawa.

Sistem penanggalan jawa ini sudah berlangsung sejak lama & merupakan suatu tradisi antik yg turun temurun. Demikianlah trit saya kali ini, soal percaya atau tidaknya pada penghitungan jodoh & rejeki, saya serahkan pada agan & sista semua. Karena jodoh, rejeki & maut itu sudah digariskan oleh Yang Maha Kuasa. Moga thread ini dapat berguna buat agan & sista semua...


Source1, Source2, Source3, Source4, Source5

Kemarin 22:40
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.