kis
IndoForum Junior E
- No. Urut
- 281032
- Sejak
- 23 Mei 2013
- Pesan
- 1.661
- Nilai reaksi
- 36
- Poin
- 48
Dirjen Perdagangan Luar Negeri, Bachrul Chairi mengatakan untuk menutupi kebutuhan masyarakat pihaknya akan memberikan kuota impor kepada para importir. Untuk triwulan 1 (Januari - Maret 2014), Kemendag telah mengeluarkan persetujuan impor sapi bakalan sebanyak 130.245 ekor kepada 35 importir dan sapi siap potong sebanyak 26.360 ekor kepada 16 importir.
"Untuk sapi indukan saat ini baru 1000 ekor. Kita harapannya akan banyak pengajuan impor sapi indukan," ucap Bachrul dalam siaran persnya kepada merdeka.com di Jakarta, Sabtu (17/1).
Bukan hanya itu, harga daging sapi dalam negeri pada dua minggu pertama 2014 ini masih tetap tinggi. Dari data Kementerian Perdagangan, harga daging sapi masih berkisar di antara Rp 97.600 per Kilogram dan ini lebih tinggi dibandingkan Desember 2013 yang tercatat hanya Rp 94.210 per Kilogram.
Harga tersebut bervariasi di beberapa kota. Di daerah sentra yaitu Denpasar, Kupang, dan Makassar kisaran harga rendah yaitu antara Rp 70.000 - Rp 80.000 per Kilogram. Untuk kota-kota yang dekat dengan daerah sentra harganya antara Rp 80.000- Rp 90.000 per Kilogram adalah Palu, Kendari, Ambon, Manado, Semarang, dan Gorontalo. Harga relatif tinggi antara Rp 90.000 - Rp 100.000 per Kilogram antara lain terjadi di Bandar Lampung, Surabaya, Pekanbaru, Padang, Serang, DKI Jakarta, Bandung, Samarinda, Banda Aceh, Palembang, Bengkulu, Mamuju, dan Ternate.
Dirjen Perdagangan Dalam Negeri, Srie Agustina mengatakan bahwa harga daging sapi dipengaruhi oleh tiga titik rantai pasok. Pertama di tingkat farm gate atau di tingkat peternak untuk harga timbang hidupnya. Biaya produksi ternak di tingkat lokal atau harga impor yang dipengaruhi kurs dolar amat mempengaruhi pembentukan harga di rantai pasok kedua berikutnya yaitu di Rumah Potong Hewan (RPH) untuk harga karkasnya. Setelahnya adalah harga di tingkat pedagang besar yang memiliki jaringan ke pedagang pengecer di pasar-pasar tradisional.
