roughtorer
IndoForum Senior A
- No. Urut
- 44416
- Sejak
- 24 Mei 2008
- Pesan
- 6.755
- Nilai reaksi
- 175
- Poin
- 63
Kamis, 6 November 2008 | 19:48 WIB
JAKARTA, KAMIS - Ketua Departemen Angkutan dan Prasarana Dewan Pimpinan Pusat Organisasi Pengusaha Angkutan Darat (Organda), Rudy Thehamihardja mengisyaratkan takkan ada penurunan tarif angkutan, meskipun pemerintah menurunkan harga BBM subsidi.
"Dengan tarif yang berlaku saat ini pun, pengusaha angkutan kesulitan dalam menutupi biaya operasional. Jadi sepertinya, tidak mungkin ada penurunan tarif angkutan," kata Rudy, Kamis (6/11) di Bogor.
Menurut penghitungan Rudy, penurunan harga BBM subsidi sebesar Rp 500 hanya menurunkan biaya operasional sebesar 4 persen. "Itu pun sulit untuk mengimbangi kenaikan harga suku cadang kendaraan, yang juga naik seiring melemahnya rupiah terhadap dollar," kata Rudy.
Angkutan umum perkotaan atau angkot yang beredar di Indonesia, menurut Rudy, kebanyakan buatan Jepang. "Jadi meskipun onderdilnya dibuat di Bekasi, tetap saja bila rupiah melemah maka harganya naik," ujar dia.
Porsi BBM dalam biaya operasional angkutan, kata Rudy, maksimal mencapai 40 persen. Sisanya adalah perpaduan dari biaya investasi, upah awak bus, perawatan, hingga pungutan liar. "Komponen BBM sulit ditekan, tetapi pungli seharusnya dapat diberantas," tambah Rudy,
JAKARTA, KAMIS - Ketua Departemen Angkutan dan Prasarana Dewan Pimpinan Pusat Organisasi Pengusaha Angkutan Darat (Organda), Rudy Thehamihardja mengisyaratkan takkan ada penurunan tarif angkutan, meskipun pemerintah menurunkan harga BBM subsidi.
"Dengan tarif yang berlaku saat ini pun, pengusaha angkutan kesulitan dalam menutupi biaya operasional. Jadi sepertinya, tidak mungkin ada penurunan tarif angkutan," kata Rudy, Kamis (6/11) di Bogor.
Menurut penghitungan Rudy, penurunan harga BBM subsidi sebesar Rp 500 hanya menurunkan biaya operasional sebesar 4 persen. "Itu pun sulit untuk mengimbangi kenaikan harga suku cadang kendaraan, yang juga naik seiring melemahnya rupiah terhadap dollar," kata Rudy.
Angkutan umum perkotaan atau angkot yang beredar di Indonesia, menurut Rudy, kebanyakan buatan Jepang. "Jadi meskipun onderdilnya dibuat di Bekasi, tetap saja bila rupiah melemah maka harganya naik," ujar dia.
Porsi BBM dalam biaya operasional angkutan, kata Rudy, maksimal mencapai 40 persen. Sisanya adalah perpaduan dari biaya investasi, upah awak bus, perawatan, hingga pungutan liar. "Komponen BBM sulit ditekan, tetapi pungli seharusnya dapat diberantas," tambah Rudy,