Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Habib Ja'far Yang Humanis & Seruan "Jihad Algoritmatik" Nya
Habib Husein Ja'far Al Haddar, begitu nama lengkapnya adalah seorang da'i sekaligus habaib muda asal Bondowoso, Jawa Timur yg terkenal humanis & moderat dalam menyampaikan syiar Islam. Selain penampilannya yg melawan streotype kalangan "Habib" pada umumnya, metode dakwah yg dia pakai juga termasuk dalam kategori tidak populer di kalangan para pendakwah & ulama Islam. Betapa tidak, selain segmentasi dakwahnya yg lebih menyasar kepada kaum milenial & generasi kekian, dia juga memilih platform media sosial & podcast sebagai sarana dalam mempopulerkan & memberikan pemahaman yg benar kepada Islam. Tidak cuma hingga di situ, bahkan teman-teman sepergaulannya pun kebanyakan bukan dari kalangan ulama atau intelekual Islam, tetapi lebih banyak dengan kalangan selebritis, konten kreator hingga Stand Up Komedian atau Komik yg mana hal tersebut tentu saja mengundang kontroversi bagi khalayak ramai, utamanya para netizen. Sebut saja Onad, Coki Pardede, Tretan Muslim, Dedy Corbuzier hingga Pendeta Yerry Patinasarani adalah sederet nama-nama yg sering menghiasi setiap podcast ataupun konten-konten Youtube nya. Bahkan saking humanisnya, dia menciptakan sebuah chanel edukasi tentang Islam di platform Youtube dengan nama Pemuda Tersesat, yg mana konten tersebut membahas seputar pertanyaan para netizen yg di gelari pemuda tersesat tentang Islam yg tidak mungkin di tanyakan dalam majelis resmi seperti di mesjid atau dalam ceramah-ceramah yg mainstream.
Dalam sebuah kesempatan wawancara bersama Gita Wirjawan, dalam acara podcast bernama Endgame yg di tayangkan oleh chanel Youtube Gita Wirjawan, Habib Ja'far menyampaikan gagasannya mengenai "Jihad Algoritmatik" dalam dunia teknologi.
Menurutnya, di awal-awal kemunculan teknologi informasi, ada asa ruang digital itu akan jadi ruang publik yg baru & sehat di mana orang dapat berbicara & di berikan ruang yg luas untuk menyampaikan pikiran & pendapatnya mengenai semua hal tanpa ada tekanan apapun oleh pihak manapun. Namun ternyata pada kenyataannya, setidaknya dalam 10 tahun terakhir ini, kita di hadapkan pada kondisi yg tidak semestinya yg di harapkan. Ruang publik digital misalnya, akbar di arahkan oleh para buzzer, bahkan yg lebih moderat oleh Key Opinion Leader (KOL), yakni mereka yg sengaja di pesan oleh beberapa orang atau kelompok, baik itu kelompok bisnis, politik atau agama yg kemudian menggiring opini untuk meyakini kebenaran suatu kelompok tersebut sehingga pembicaraan jadi tidak lagi sangat natural & itu adalah suatu ancaman.
Sebagai contoh, lanjutnya lagi, pernah ada seorang ayah yg tidak percaya kepada adanya wabah Virus Covid 19 cuma karena sebuah tayangan yg di dapatkannya dari media sosial & anaknya mati-matian menyadarkan ayahnya bahwa itu hoaks tetapi ayahnya tetap saja pada pendiriannya & lebih dari itu sang ayah bahkan tidak percaya pada vaksin Covid 19 sehingga saat dia sakit karena terpapar Virus Corona akhirnya berakhir dengan meninggal dunia. Ini adalah salah satu contoh bahwa sekarang ini pembicaraan di media sosial jadi tidak sehat & toksiknya di mana-mana. Pada akhirnya, saat ini kita di hadapkan pada satu pertanyaan, akan lanjut bermedia sosial atau tidak?. Kalau tidak, akan ada banyak kerugian yg harus kita bayar & kalau iya, bagaimana polanya?. Itu akan jadi pertanyaan sekaligus opsi yg memiliki konsukensinya masing-masing. Ini adalah tantangan bagi kita generasi saat ini, yg mana kita harus menyadari bahwa kita sudah beralih dari dunia cetak & analog ke dunia digital yg begitu cepat.
Tentang jihad algoritmatik yg di tawarkan oleh Habib Ja'far, beliau menggarisbawahi soal kondisi yg sedang terjadi pada beberapa akbar publik digital saat ini yaitu tunduk pada algoritma digital, khususnya media sosial yg sudah ada. Bahkan pada titik yg ekstrim, apa yg kemudian di kritik dalam filsafat teknologi yg biasanya mengacu pada karl Marx, bagaimana modernisme secara umum, yg salah satu produk terbarunya adalah digitalisasi ini, mengalineasi manusia dari dirinya sendiri.
Sebagai contoh, lanjut dia, kritik yg akbar itu adalah kepada aplikasi TikTok karena betul-betul menciptakan dunia jadi absurd tetapi Habib Ja'far tidak mengindarinya bahkan ikut masuk ke dalamnya. Dia melihat, setelah beberapa bulan jadi TikToker, bahwa ada banyak konten-konten positif di sana tetapi kemudian jadi tidak populer karena tidak di support secara algoritmatik oleh mereka. Sebaliknya konten-konten yg deskruktif & tidak edukatif tetapi bersedia mengikuti aturan mereka jadi populer & tersupport dengan baik. Untuk melawan fenomena ini, Habib Ja'far berpendapat harus di akali dengan memasukan konten-konten edukatif sesering & sebanyak mungkin tetapi tunduk pada algoritma yg di bangun oleh platform. Misalnya, mereka punya sound tertentu atau punya sesuatu yg sedang viral & sedang mereka support, maka kita harus masuk ke dalamnya dengan muatan konten yg terdapat nilai-nilai positif di dalamnya.
" Misalnya, pernah kita videokan diri kita dalam keadaan yg belum rapi, kemudian di taruh kameranya, di injak (di tutup) gitu, kemudian di ambil lagi udah rapi. Nah itu, ketika kita pakai sound (yang sedang di support oleh algoritma TikTok) itu, kemungkinan viralnya tinggi. Akhirnya saya bikin. Saya dalam keadaan (lagi mau sholat), saya bilang, kalau lagi sholat pakaiannya biasa saja, Kemudian di injak (di tutup & muncul lagi dengan pakaian rapi), kalau lagi ketemu pacar pakaiannya keren. Tuhan mu itu pacarmu atau Tuhan yg maha kuasa itu" jelas Habib seraya menirukan gerak sedang menciptakan konten TikTok.
Habib Ja'far melanjutkan, bahwa saat ini yg harus di lakukan adalah bukan menyalahkan algoritma atau bahkan menjauhi media sosial, tetapi hal paling bijak yg harus di lakukan adalah berdamai dengan algoritma dalam pengertian memanfaatkan media sosial untuk menyebarkan konten-konten yg edukatif & positif, tetapi menyesuaikan dengan pola & perkembangan yg sudah ada.
Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Husein...27far_Al_Hadar
Hari ini 11:32
Habib Husein Ja'far Al Haddar, begitu nama lengkapnya adalah seorang da'i sekaligus habaib muda asal Bondowoso, Jawa Timur yg terkenal humanis & moderat dalam menyampaikan syiar Islam. Selain penampilannya yg melawan streotype kalangan "Habib" pada umumnya, metode dakwah yg dia pakai juga termasuk dalam kategori tidak populer di kalangan para pendakwah & ulama Islam. Betapa tidak, selain segmentasi dakwahnya yg lebih menyasar kepada kaum milenial & generasi kekian, dia juga memilih platform media sosial & podcast sebagai sarana dalam mempopulerkan & memberikan pemahaman yg benar kepada Islam. Tidak cuma hingga di situ, bahkan teman-teman sepergaulannya pun kebanyakan bukan dari kalangan ulama atau intelekual Islam, tetapi lebih banyak dengan kalangan selebritis, konten kreator hingga Stand Up Komedian atau Komik yg mana hal tersebut tentu saja mengundang kontroversi bagi khalayak ramai, utamanya para netizen. Sebut saja Onad, Coki Pardede, Tretan Muslim, Dedy Corbuzier hingga Pendeta Yerry Patinasarani adalah sederet nama-nama yg sering menghiasi setiap podcast ataupun konten-konten Youtube nya. Bahkan saking humanisnya, dia menciptakan sebuah chanel edukasi tentang Islam di platform Youtube dengan nama Pemuda Tersesat, yg mana konten tersebut membahas seputar pertanyaan para netizen yg di gelari pemuda tersesat tentang Islam yg tidak mungkin di tanyakan dalam majelis resmi seperti di mesjid atau dalam ceramah-ceramah yg mainstream.
Dalam sebuah kesempatan wawancara bersama Gita Wirjawan, dalam acara podcast bernama Endgame yg di tayangkan oleh chanel Youtube Gita Wirjawan, Habib Ja'far menyampaikan gagasannya mengenai "Jihad Algoritmatik" dalam dunia teknologi.
Menurutnya, di awal-awal kemunculan teknologi informasi, ada asa ruang digital itu akan jadi ruang publik yg baru & sehat di mana orang dapat berbicara & di berikan ruang yg luas untuk menyampaikan pikiran & pendapatnya mengenai semua hal tanpa ada tekanan apapun oleh pihak manapun. Namun ternyata pada kenyataannya, setidaknya dalam 10 tahun terakhir ini, kita di hadapkan pada kondisi yg tidak semestinya yg di harapkan. Ruang publik digital misalnya, akbar di arahkan oleh para buzzer, bahkan yg lebih moderat oleh Key Opinion Leader (KOL), yakni mereka yg sengaja di pesan oleh beberapa orang atau kelompok, baik itu kelompok bisnis, politik atau agama yg kemudian menggiring opini untuk meyakini kebenaran suatu kelompok tersebut sehingga pembicaraan jadi tidak lagi sangat natural & itu adalah suatu ancaman.
Sebagai contoh, lanjutnya lagi, pernah ada seorang ayah yg tidak percaya kepada adanya wabah Virus Covid 19 cuma karena sebuah tayangan yg di dapatkannya dari media sosial & anaknya mati-matian menyadarkan ayahnya bahwa itu hoaks tetapi ayahnya tetap saja pada pendiriannya & lebih dari itu sang ayah bahkan tidak percaya pada vaksin Covid 19 sehingga saat dia sakit karena terpapar Virus Corona akhirnya berakhir dengan meninggal dunia. Ini adalah salah satu contoh bahwa sekarang ini pembicaraan di media sosial jadi tidak sehat & toksiknya di mana-mana. Pada akhirnya, saat ini kita di hadapkan pada satu pertanyaan, akan lanjut bermedia sosial atau tidak?. Kalau tidak, akan ada banyak kerugian yg harus kita bayar & kalau iya, bagaimana polanya?. Itu akan jadi pertanyaan sekaligus opsi yg memiliki konsukensinya masing-masing. Ini adalah tantangan bagi kita generasi saat ini, yg mana kita harus menyadari bahwa kita sudah beralih dari dunia cetak & analog ke dunia digital yg begitu cepat.
Tentang jihad algoritmatik yg di tawarkan oleh Habib Ja'far, beliau menggarisbawahi soal kondisi yg sedang terjadi pada beberapa akbar publik digital saat ini yaitu tunduk pada algoritma digital, khususnya media sosial yg sudah ada. Bahkan pada titik yg ekstrim, apa yg kemudian di kritik dalam filsafat teknologi yg biasanya mengacu pada karl Marx, bagaimana modernisme secara umum, yg salah satu produk terbarunya adalah digitalisasi ini, mengalineasi manusia dari dirinya sendiri.
Sebagai contoh, lanjut dia, kritik yg akbar itu adalah kepada aplikasi TikTok karena betul-betul menciptakan dunia jadi absurd tetapi Habib Ja'far tidak mengindarinya bahkan ikut masuk ke dalamnya. Dia melihat, setelah beberapa bulan jadi TikToker, bahwa ada banyak konten-konten positif di sana tetapi kemudian jadi tidak populer karena tidak di support secara algoritmatik oleh mereka. Sebaliknya konten-konten yg deskruktif & tidak edukatif tetapi bersedia mengikuti aturan mereka jadi populer & tersupport dengan baik. Untuk melawan fenomena ini, Habib Ja'far berpendapat harus di akali dengan memasukan konten-konten edukatif sesering & sebanyak mungkin tetapi tunduk pada algoritma yg di bangun oleh platform. Misalnya, mereka punya sound tertentu atau punya sesuatu yg sedang viral & sedang mereka support, maka kita harus masuk ke dalamnya dengan muatan konten yg terdapat nilai-nilai positif di dalamnya.
" Misalnya, pernah kita videokan diri kita dalam keadaan yg belum rapi, kemudian di taruh kameranya, di injak (di tutup) gitu, kemudian di ambil lagi udah rapi. Nah itu, ketika kita pakai sound (yang sedang di support oleh algoritma TikTok) itu, kemungkinan viralnya tinggi. Akhirnya saya bikin. Saya dalam keadaan (lagi mau sholat), saya bilang, kalau lagi sholat pakaiannya biasa saja, Kemudian di injak (di tutup & muncul lagi dengan pakaian rapi), kalau lagi ketemu pacar pakaiannya keren. Tuhan mu itu pacarmu atau Tuhan yg maha kuasa itu" jelas Habib seraya menirukan gerak sedang menciptakan konten TikTok.
Habib Ja'far melanjutkan, bahwa saat ini yg harus di lakukan adalah bukan menyalahkan algoritma atau bahkan menjauhi media sosial, tetapi hal paling bijak yg harus di lakukan adalah berdamai dengan algoritma dalam pengertian memanfaatkan media sosial untuk menyebarkan konten-konten yg edukatif & positif, tetapi menyesuaikan dengan pola & perkembangan yg sudah ada.
Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Husein...27far_Al_Hadar
Hari ini 11:32