talam
IndoForum Senior E
- No. Urut
- 48451
- Sejak
- 16 Jul 2008
- Pesan
- 3.672
- Nilai reaksi
- 25
- Poin
- 48
Kelompok tentara yang mengatakan merebut kekuasaan di Guinea menerapkan jam malam di seluruh wilayah negara di Afrika barat tersebut.
Sebelumnya, kelompok perwira junior yang melancarkan kudeta militer memperingatkan para jenderal yang mendukung pemerintah agar tidak mengerahkan tentara bayaran untuk menghadapi kudeta.
Pemimpin kudeta Kapten Moussa Dadis Camara menuduh jenderal-jenderal yang masih setia kepada pemerintah terdahulu telah memasukkan tentara bayaran ke negara itu.
Kapten Camara mengatakan, orang-orang yang bertanggungjawab atas campur tangan pasukan dari luar akan dianggap bertanggungjawab atas berbagai akibat yang timbul.
Krisis politik di Guinea ini terjadi setelah presiden negara itu, Lansana Conte, 74 tahun, meninggal.
Presiden Conte meninggal hari Senin malam setelah menderita "sakit lama", demikian pengumuman yang dikeluarkan pada Selasa dini hari.
Dalam perkembangan lain, perdana menteri Guinea mengatakan pemerintah masih memegang kendali kekuasaan, tapi situasi di negara Afrika barat masih belum jelas.
Para pengamat khawatir kerusuhan di Guiena bisa menyebar di kawasan yang mengalami situasi yang relatif stabil setelah bertahun-tahun dilanda konflik.
Sementara itu, pimpinan Majelis Nasional mendesak masyarakat internasional menghalangi percobaan kudeta.
"Masyarakat internasional harus...mencegah militer menyela proses demokratis," kata Aboubacar Sompare kepada kantor berita Reuters.
Para pimpinan Uni Afrika menggelar perundingan darurat untuk membahas krisis di Guinea tersebut.
Menurut konstitusi Guinea, Sompare semestinya memegang kendali atas pemerintahan sampai pemilihan digelar dalam 60 hari.
Dalam wawancara melalui telefon dengan kantor berita Reuters, Sompare mengatakan, militer terbelah di antara kubu loyalis dan para perencana makar perebutan kekuasaan.
"Situasi belum terpecahkan. Loyalis dan orang-orang yang mengadakan kudeta telah bertemu...tapi mereka belum mencapai kata sepakat," kata Sompare.
Sementara itu, Perdana Menteri Guinea Ahmed Tidiane Souare mengatakan, pemerintah yang dilindungi oleh pasukan yang setia masih merupakan pihak berwenang yang syah.
Dan, dia menepis pernyataan para pemimpin kudeta bahwa pasukan bayaran mungkin dikerahkan.
"...tidak, itu sama sekali tidak benar," kata Souare kepada kantor berita Associated Press.
"Kami masih memengang kendali, dan kami sedang mencoba memulihkan situasi. Kami tidak berniat untuk mendatangkan tentara bayaran. Senyatanya, kami bahkan belum meminta angkatan bersenjata kami sendiri untuk campur tangan," tambah Souare.
Souare tidak bisa berkomunikasi langsung dengan warganya sejak pasukan yang memberontak menguasai stasiun radio dan televisi negara, lapor AP.
Beberapa tank tampak di jalan-jalan ibukota Konakri, tapi situasi kota tetap tenang.
Sebelumnya, pimpinan kudeta Kaptain Camara muncul di televisi mengatakan, orang-orang yang bertanggungjawab atas campur tangan pasukan dari luar akan dianggap bertanggungjawab atas berbagai akibat yang timbul.
"Saya bisa memperkirakan campur tangan tentara bayaran dari negara-negara tetangga sudah masuk ke dalam negara kami," katanya.
Kapten Camara juga berjanji akan menggelar pemilihan dalam jangka waktu dua tahun.
"Dewan tidak punya ambisi untuk memegang kekuasaan," katanya.
Menurut perwira junior tersebut, satu-satunya alasan adalah kebutuhan untuk mempertahankan integritas teritorial Guinea.
Para pelaku kudeta mengumumkan telah membentuk Dewan Nasional untuk Demokrasi dan Pembangunan untuk menggantikan pemerintahan yang dibubarkan.
Dewan itu beranggotakan 32 anggota, termasuk enam warga sipil di bawah pimpinan pemimpin kudeta Kapten Camara.
"Dewan berkomitmen untuk melaksanakan pemilihan umum yang bebas dan transparan pada Bulan Desember 2010," ujar Camara kemudian.
December 2010 adalah saat berakhirnya masa jabatan Presiden Conte.
Sumber : Klik Disini

