• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Grhasta: Sumber Pertanyaan Kapan Menikah

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Angela
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Angela

IndoForum Pro E
No. Urut
88
Sejak
25 Mar 2006
Pesan
45.487
Nilai reaksi
35
Poin
0
Grhasta: Sumber Pertanyaan Kapan Menikah


Cangkeman.net -Hey, manusia yg masih betah melajang, sudah bosan atau barangkali jengkel saat dihadapkan pertanyaan, Kapan menikah?. Kadang, agak bingung dalam menjawabnya. Apalagi, pihak yg bertanya memberikan suatu fakta yg dapat dijadikan indikasi bahwa sudah waktunya anda berkeluarga. Belum lagi ditambah dengan pernyataan, Si ini-itu sudah (menikah), loh, anda kapan?. Akibat sering ditanya, alasan yg diberikan semakin menipis. Kalau saya, sih, gitu. Pada akhirnya, bertanya dalam diri, darimanakah sumber pertanyaan laknat ini?

Zaman boleh berganti namun peninggalan peradaban masa lalu belum tentu mati. Penyebabnya ada hal-hal yg tetap hidup dalam ingatan masyarakat. Psikologi mengenalnya sebagai bagian dari alam bawah sadar sosial. Kemudian disengaja atau tidak, diwariskan dari generasi ke generasi. Lalu pada akhirnya, giliran kita yg mendapatkannya. Konsep ini diciptakan oleh Erich Fromm.

Salah satu hal-hal dari peradaban masa lalu namun tetap hidup hingga sekarang adalah Catur Asrama. Kalaupun kita atau para pendahulu tidak mengenal konsep Catur Asrama, secara teknis diwariskan dalam bentuk pertanyaan. Salah satunya, Kapan menikah?

Seperti yg diketahui, peradaban Indonesia pada masa lalu, sangat dipengaruhi oleh kebudayaan & kepercayaan agama Hindu. Catur Asrama merupakan salah satu produknya. Sebuah konsep di mana manusia menjalani kehidupan melalui empat tahap atau tingkatan. Terlepas apa pun agama & keyakinan kita atau orang-orang sekitar, Catur Asrama tetap hidup dalam diri manusia Indonesia. Salah satu tahapan Catur Asrama disebut, grhasta. Dia lah dalang dari sumber sakit kepala kaum jomblo.

Grhasta merupakan tahapan yg dapat diartikan sudah waktunya untuk berkeluarga. Sebuah tahapan kedua yg harus dilewati manusia dalam konsep Catur Asrama setelah melewati brahmacari alias masa pendidikan. Jelas, fokus utama grhasta adalah membangun sebuah keluarga.

Apa yg ditanyakan seseorang kepada orang lain untuk mengetahui kapan dia membangun keluarga, pastinya dilatarbelakangi suatu hal. Kalau secara konsep Catur Asrama hal ini didasarkan pada semacam filsafat, yakni, Catur Purusa Artha.

Agak rumit memang menjelaskan Catur Purusa Artha. Singkatnya dapat diartikan sebagai empat tujuan hidup manusia, yg kemudian dalam mengimplementasikannya dalam bentuk Catur Asrama, yg mengatur pola hidup manusia hingga menuju masa tua. Dalam fase grhasta, yg jadi pegangan adalah artha dan kama.

Terdapat dua arti dari artha. Pertama, artha merupakan tujuan hidup atau kepentingan orang lain. Dalam arti kedua, dapat berarti harta atau kekayaan. Kedua arti ini memang terkait dengan grhasta. Tanpa harta, bagaimana menghidupi keluarga? Artinya, dalam mendapatkannya, selain barangkali mengharapkan warisan kalau kebetulan terlahir dalam keluarga yg punya hal itu, cara lainnya adalah dengan bekerja. Misalkan sebagai karyawan di suatu perusahaan atau berwiraswasta. Kemudian hasilnya, untuk kepentingan orang lain, dalam konteks ini, tentu saja untuk anggota keluarga.

Jadi, sebetulnya pertanyaan Kapan menikah?, sebaiknya ditanyakan setelah mengetahui kondisi si jomblo. Kalau menanyakan hal ini namun yg bersangkutan belum mapan apalagi berstatus pengangguran, apa pihak yg bertanya agak dungu? Selain biar fokus dulu mencari harta supaya hidupnya mapan tanpa harus menghadapi pertanyaan yg tidak perlu, apa tega mengikutsertakan anak orang yg sudah susah-susah dibesarkan oleh orang tuanya, malah diajak hidup susah bersama? Sok romantis ada batasnya juga kali.

Okelah, barangkali sudah dianggap mapan & dengan nada heran dia bertanya, Lha, kok masih betah saja hidup sendiri?. Apalagi, mengetahui semakin tingginya usia. Sehingga yg bersangkutan tanpa letih memberikan pertanyaan, Kapan menikah?, hingga tidak mengetahui bahwa telinga yg ditanya mulai membusuk. Namun tetap tidak peka & sering memberikan pertanyaan. Diingatkan sambil diberi wejangan ini-itu saat berjumpa atau sekadar ngobrol ngalor-ngidul, kemudian pembahasan ini dapat muncul begitu saja.

Kemudian selain artha yg difokuskan dalam masalah grhasta, adalah kama. Konsep ini dapat dimengerti sebagai hasrat seseorang untuk berbuat sesuatu. Sependek yg saya ingat, terdapat sepuluh hal di dalamnya. Kesepuluh itulah yg harus dikontrol supaya tidak terjerumus ke dalam hal-hal buruk. Karena memang hasrat sejatinya harus dikendalikan. Kalau mampu, akan muncul suatu kepuasan dalam diri seseorang saat menjalani kehidupan.

Tentunya seorang Grhastin; sebutan orang yg berada pada tahap grhasta selain mengontrol hasrat dalam diri, punya kewajiban untuk memiliki keturunan sehingga akan muncul juga pertanyaan Kapan punya anak? Atau saat sudah punya anak, akan muncul pertanyaan lanjutan, Kapan nambah (anak)?

Perkara mencari jodoh memang sama misterinya dengan mencari kantong rezeki. Sudah serius, eh, malah nggak jadi. Atau kadang juga berpikir, Apa yg kurang dalam diri ini, hingga-hingga jodoh nggak kunjung datang? Bukan bermaksud sok laku, tetapi terkadang masalah susahnya mendapat jodoh dapat menciptakan bingung juga. Wah, kalau semakin dipikir malah semakin menciptakan rendah diri karena menemukan banyak kekurangan yg ada dalam diri. Bukan tidak mungkin malah jadi demotivasi dalam mencari pasangan hidup.

Ketika menghadapi pertanyaan Kapan menikah & ditambah dengan wejangan ini-itu, kadang, saya meminta kepada mereka dengan nada sedikit frustasi sambil setengah bercanda, Yaudah, mana, mana? Mana yg mau dengan gue? Nggak perlu banyak cingcong. Kenalin, sini dah!

Terdapat suatu pernyataan yg keluar dari mulut seorang kawan, Saat seseorang terlalu lama melajang, keharapan untuk mencari jodoh kian memudar, lalu menghilang. Memang betul, setidaknya dalam kasus saya. Keharapan mendapatkannya semakin malas & jadi terasa tidak perlu untuk punya jodoh lalu menikah, membangun keluarga, & seterusnya.

Namun, di saat bersamaan, saya pun merasa harap menikah. Bukan sadar akan usia semakin lanjut, tetapi keharapan itu muncul saat melihat anak kecil. Membuat tidak sabar untuk punya keturunan. Saya penasaran seperti apa masa depan anak-anak kami (saya & seseorang yg suatu saat nanti dipanggil istri, & ibu oleh anak-anak) nantinya, bagaimana membesarkannya, harapannya dengan cara yg baik, tentu saja. Kemudian hari-hari akan dipenuhi dengan berbagai perilaku mereka yg menciptakan hidup kami semakin penuh rasa. Eh, teringat belum punya jodoh, saya kembali ke realita.

Kemudian, teringat kelanjutan pembicaraan dengan teman saya, Makanya, Men, kalau nanti merasakan jatuh sayang lagi, & pasanganmu keliatannya oke dengan elu, hajar aja udah: ajakin serius. Kenalkan dia dengan orang tuamu, elu temuin dah orang tuanya. Perkara ini, mah, tergantung kemampuan bernegosiasi, ya.

Eh, si manusia ini, setau saya, padahal sama-sama berstatus jomblo. Bisa-dapatnya memberi nasehat macam itu. Apakah betulan memberikan saran atau curhat colongan, atau barangkali menghibur diri sekaligus memberi semangat sendiri? Entahlah. Namun, yg dapat saya pastikan, omongannya lagi-lagi ada benarnya.

Tapi yah, sayangnya sekarang, setidaknya sewaktu menuliskan ini, perasaan deg-deg serr.. belum muncul saat berjumpa dengan perempuan lain, setidaknya dari yg saya kenal hingga saat ini. Mungkin para jomblo yg tabah di luar sana juga mengalami keadaan yg serupa.

Mungkin, Tuhan terlalu menjaga jodoh kita supaya dipertemukan di waktu & keadaan yg tepat. Jika saat itu datang, kalau saya, janji deh, akan menerimanya sepenuh hati. Pokoknya mah, bagi yg demen bertanya Kapan menikah, cukup tunggu undangan saja, di saat kaum jomblo sedang berusaha mencari tambatan hatinya. Karena, perkara nikah bukan ajang perlombaan. Artinya, yg duluan bukanlah pemenangnya. Iya, kan?

Iyain aja udah.


Tulisan ini ditulis oleh Angga Prasetyo di Cangkeman pada tanggal 23 Juni 2022. Hari ini 15:28
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.