Komputer Aktif - Jumat, 16 Juni 2006
Bemper si Penguin
Optimalkan sistem keamanan yang telah dibentuk Linux untuk mengamankan data Anda dari serangan tangan-tangan jahil.
Linux lebih aman ketimbang Windows. Pernyataan itu tentu mengundang kontroversi. Apalagi temuan dari berbagai lembaga riset keamanan komputer baru-baru ini mengungkapkan adanya peningkatan jumlah serangan terhadap komputer berbasis Linux.
Penelitian sebuah perusahaan digital risk management, Mi2g, Juli lalu menyebutkan selama 6 bulan pertama tahun 2002 ini ada 7.630 serangan yang berhasil terhadap sistem Linux. Naik tajam bila dibandingkan dengan masa yang sama pada tahun lalu yang hanya sebesar 5.736 kasus. Ck,ck,ck...
Masih menurut Mi2g, justru serangan terhadap sistem Windows yang menjalankan Microsoft Internet Information Server (IIS) menurun sebanyak 20 persen. Dari 11.828 serangan di pertengahan pertama tahun 2001 menjadi 9.404 selama pertengahan pertama tahun ini.
Memang, tren seperti itu bisa saja diartikan macam-macam. Namun yang jelas naiknya populasi pengguna Linux dari tahun ke tahun mungkin turut meningkatkan minat para pembuat virus untuk menebarkan terornya ke sistem operasi ciptaan Linus Torvalds ini.
Menurut John "Maddog" Hallwell, salah seorang dedengkot gerakan Open Source, sampai tahun 1999 total PC yang terinstal Linux sudah mencapai sekitar 15 juta. Angka sebesar itu mungkin memang menarik untuk para pembuat virus.
Jadi mana yang lebih aman? "Sebetulnya semua tergantung kepada pengguna. Kalau merasa cocok dan tepat, dua-duanya bisa dikatakan setara, tergantung kemauan dan kemampuan Anda saja," jawab Farid alias fwerd, salah seorang personel grup hacker tanah air, K-Elektronik, melalui e-mail dari kediamannya di wilayah negara bagian New England, AS.
"Kemungkinan selalu ada (dan bukan hanya untuk Linux, tapi untuk semua OS)," tanggap pakar Linux tanah air, I Made Wiryana, yang kini bermukim di Jerman untuk menyelesaikan program S2 bidang Rechnernetze und Verteilte Systeme, di Universitaet Bielelfeld. Ia juga kami hubungi via e-mail.
Ya, tapi para pengguna Linux pun punya alasannya sendiri untuk percaya bahwa sistem operasi berlogo penguin ini membuat komputernya relatif lebih aman. Made Wiryana, misalnya, melihat penerapan sistem multi-user yang ketat di Linux merupakan salah satu penjelasan akan hal itu.
"User memiliki file atau device sendiri-sendiri… Dengan cara ini, suatu proses yang tak memiliki 'hak' mencukupi maka tak bisa mengubah suatu file, atau mengakses suatu device," kata pria yang sempat memelihara rambutnya sampai melewati bahu ini.
Made mencontohkan, bahwa dengan begitu orangtua yang berbagi komputer dengan anaknya tak perlu khawatir si anak bisa menghapus berkas-berkasnya, atau menghapus sistem. Sistem seperti itu pula yang membuat virus sulit untuk menyebar di Linux, karena tiap program punya izin akses dan operasi dalam wilayah tertentu saja.
Made tidak membual, karena sampai saat ini jumlah virus untuk Linux jauh lebih sedikit ketimbang virus untuk Windows. Hampir seluruh virus yang mampu menginfeksi Windows tidak mempan untuk sistem Linux. Dalam catatan kami virus yang menginfeksi Linux dalam tiga bulan terakhir ini di antaranya Simile dan Jac.
Sifat Open Source dari Linux juga mendukung keamanannya. "Begitu ada bug atau lubang, akan ada notice di milis Linux atau situs-situs Linux, sehingga semua akan mengetahui dan berusaha mem-patch kembali," kata Agus Law, seorang system administrator di PT Innovative, sebuah perusahaan pengembang software dan penyedia jasa jaringan komputer di Jakarta. Sementara, menurutnya, kalau ada bug di Windows, biasanya orang harus menunggu pihak Microsoft untuk menyelesaikannya.
"Seingat saya Microsoft mengeluarkan patch IIS memakan waktu dua minggu," sambut Iwan Darmawan alias Chikebum, salah seorang hacker dari kelompok anti-hackerlink yang mengaku sering membobol sistem operasi Windows NT/2000 dan Linux Redhat.
Okelah, kita sudahi saja perbincangan mana yang lebih aman, karena keamanan seratus persen itu katanya mustahil. "Amannya sih setelah (PC) dimatiin, masukin ke peti besi, terus dikubur, dan kuburannya dijagain hansip. Itu baru (mungkin) seratus persen aman," kelakar fwerd.
Ya, sebaik apapun sistem keamanan komputer, pasti menyisakan pintu masuk dan keluar. Sistem keamanan komputer memang ibarat pagar yang dibangun untuk menghalangi orang masuk ke rumah Anda secara sembarangan. Setinggi dan serumit apapun pagar tersebut tentu menyisakan pintu bagi Anda sendiri untuk keluar masuk. Sekali orang jahat mengetahui caranya, maka Anda pun harus mencari cara lain untuk menghalanginya masuk.
Jadi masalahnya sekarang, kalau Anda menggunakan Linux, bagaimana cara mengoptimalkan sistem keamanannya? Silakan simak beberapa tip kecil yang kami koleksi dari saran berbagai pengguna, hacker dan pakar Linux tadi. FARID, FENNY | PRAM