Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
ChatGPT dari OpenAI
KOMPAS.com - Selama ini, Google dapat dibilang jadi solusi bagi banyak orang untuk mencari berbagai jawaban dari suatu hal atau masalah. layanin pencarian Google ini tersedia melalui teks via Google Search, atau suara melalui Google Assistant.
Nah, belakangan, ada sebuah robot percakapan alias chatbot berbasis teks yg dapat "diajak bicara" untuk sekadar "curhat", menyelesaikan masalah, hingga menolong pengguna mencari suatu informasi dari internet. Ia adalah ChatGPT, sebuah chatbot buatan perusahaan riset kecerdasan buatan (AI) OpenAI yg mengandalkan pembelajaran mesin (machine learning) dari data-data yg dikumpulkan di internet hingga 2021.
Meski fungsinya mirip seperti Google Search, ChatGPT sejatinya memiliki cara kerja yg berbeda. Jika pengguna harus menelusuri hasil pencarian di laman Google tentang apa yg mereka cari, ChatGPT justru akan memberikan informasi yg dicari tersebut secara langsung dengan narasi atau bahasa yg agaknya bakal mudah dipahami pengguna.
Menariknya, ChatGPT tidak akan menampilkan iklan kepada para penggunanya, sedangkan Search biasanya bakal dijejali dengan beberapa iklan. Nah, kemampuan seperti ini menciptakan Google khawatir akan kehadiran ChatGPT, yg tentunya dapat mengancam bisnis layanin pencarian internetnya, Search di masa depan. Setidaknya begitu menurut laporan dari kantor berita NYTimes.
Dalam laporan itu, disebutkan bahwa Google sudah mengumumkan status "peringatan" alias "code red" terkait kehadiran & kepopuleran ChatGPT dalam beberapa waktu belakangan ini. Konon, status ini akan menciptakan Google "putar otak" untuk memikirkan beragam strategi demi bersaing dengan ChatGPT di masa depan.
Google punya LaMDA
Sebagaimana dihimpun KompasTekno dari NYTimes, Jumat (23/12/2022), Google sebenarnya sudah punya chatbot serupa ChatGPT yg bernama Language Model for Dialogue Applications (LaMDA). Chatbot yg belum meluncur ke publik ini sempat jadi kontroversi pada Juni lalu, pasca seorang mantan ilmuwan Google, Blake Lemoine, mengumbar bahwa LaMDA dapat berpikir & memiliki perasaan seperti manusia.
Terlepas dari segala kontroversinya, LaMDA tentunya dapat jadi kompetitor dari ChatGPT, termasuk kompetitor lainnya bernama Dall-E 2 yg dapat menciptakan gambar berdasarkan teks yg dimasukkan pengguna. Namun, Google tampaknya juga harus berpikir lagi, apakah LaMDA nantinya bakal mencaplok bisnis Search, sama seperti ChatGPT atau Dall-E 2yang menyenggol bisnis mesin pencari internet?
Adapun ChatGPT & Dall-E 2 juga merupakan dua layanin chatbot yg dibangun oleh para ilmuwan & teknisi Google, sehingga hal ini juga dapat jadi dilema bagi Google & LaMDA. Di luar kemungkinan ini, Google tentunya juga harus memikirkan strategi untuk menciptakan LaMDA ramah pengguna, tidak bias & menciptakan hoaks, serta tidak mengerjakan diskriminasi kepada suatu suku, ras, agama, & hal lainnya. Sebab, berdasarkan beberapa laporan di internet, masalah utama yg ada di ChatGPT & dianggap mengkhawatirkan saat ini adalah chabot tersebut dapat tidak netral & memihak satu sisi, termasuk melontarkan kata-kata kasar.
Kendati ChatGPT memiliki sifat seperti itu, layanin tersebut, yg saat ini masih dalam pengembangan, agaknya sudah masuk ke dalam "radar" Google sebagai layanin yg dapat mengancam bisnis Search. Ke depannya, bukan tidak mungkin Google bakal berlaku agresif dengan meluncurkan fitur atau layanin baru, supaya pengguna tidak beralih ke ChatGPT & layanin serupa lainnya untuk sekadar mencari informasi di internet.
sumber :klik
Hari ini 11:35