yan raditya
IndoForum Addict E
- No. Urut
- 163658
- Sejak
- 31 Jan 2012
- Pesan
- 24.461
- Nilai reaksi
- 72
- Poin
- 48
Warga dan sejumlah wartawan berkerumun menyaksikan penggeledahan di rumah paman dan bibi Firman, tersangka teroris Solo, di Kampung Kalawagar RT 02/12, Desa Singasari, Kecamatan Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya, kemarin.
TASIKMALAYA – Lebih dari 15 anggota Ditreskrimum Polda Jabar dibantu Polres Tasikmalaya melakukan penggeledahan di rumah pasangan suami- istri Iman,49,dan Tuti,45,di Kampung Kalawagar RT 02/12, Desa Singasari,Kecamatan Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya, yang merupakan rumah paman dan bibi Firman, 20, tersangka teroris Solo yang ditangkap di Depok beberapa waktu lalu.
Sontak saja upaya penggeledahan rumah yang berlangsung tertutup tersebut menjadi tontonan ratusan warga.Polisi memasang garis polisi dan wartawan pun tidak diizinkan masuk.Hanya ketua RW setempat yakni Tatang yang diminta polisi untuk menjadi saksi upaya penggeledahan tersebut,sedangkan lainnya sama sekali tidak diperkenankan masuk dan penjagaan pun dilakukan sangat ketat.
Barang yang diduga kuat milik Firman itu terdiri dari sejumlah buku religi,VCD yang diduga tentang jihad, ponsel serta beberapa berkas di antaranya surat tugas dari Pondok Pesantren Al Mukmin,Ngruki, agar Firman bisa menjadi tenaga guru bahasa Arab di SMP dan SMK Ibnu Siena, Jalan Siliwangi, Kota Tasikmalaya.Di sekolah itu, Firman memang sempat mengajar satu tahu pada tahu ajaran 2011/2012.
Setelah berhasil mengumpulkan sejumlah barang yang diduga kuat milik Firman, petugas pun meninggalkan rumah tersebut dan mencabut kembali garis polisi sekitar pukul 17.30 WIB. Sedangkan Iman dan Tuti pun dibawa ke Mapolres Tasikmalaya untuk dimintai keterangan lebih lanjut. “Polisi menemukan sejumlah barang di salah satu kamar dan mengambilnya untuk dijadikan barang bukti yang diduga milik Firman.
Toni,ayah kandung Firman, memang berasal dari Kampung Kalawagar dan Firman sendiri sempat berada di sini pada pertengahan bulan suci Ramadan 1433 H kemarin, serta menginap selama dua hari,”ungkap Ketua RW 12 Tatang. Selain VCD dan sebagainya, dari penggeledahan itu juga polisi membawa surat cinta kendati tidak diketahui isinya karena tidak diizinkan untuk membaca.
“Pada saat menginap pada bulan puasa itu, keluarga memang tidak melapor, baik ke RT ataupun RW karena beranggapan jika Firman bukan tamu. Karena memang warga di sini juga bertamu kepada paman dan bibinya sendiri,” katanya. Kapolres Tasikmalaya AKBP Irman Sugema enggan berkomentar banyak mengenai upaya penggeledahan tersebut, kendati beberapa kali dicegat wartawan saat hendak menuju Mapolres Tasikmalaya.
Di Ciamis, polisi sempat disibukkan oleh aksi kejar-kejaran kendaraan yang dikira kendaraan komplotan teroris. Ternyata mereka adalah tiga pemuda-pemudi yang ketakutan karena tidak memiliki surat izin menemudi (SIM) saat melintasi deretan razia polisi.Mobil berhenti setelah menabrak warung dan sang sopir ditangkap massa.
Di Kota Bandung, jajaran Polsekta Regol melakukan pendataan penduduk pendatang di kawasan kamar indekos Jalan Pasundan RW 04, Kelurahan Balonggede,Kecamatan Regoltadi malam.Hal ini dilakukan dengan tujuan mengantisipasi adanya pendatang yang memiliki data tumpang tindih, serta penipuan berkedok data lokal, sekaligus antisipasi terorisme. “Ya, ini dilakukan untuk mengantisipasi terduga teror ada di antara para pendatang ini,” ujar Kapolsekta Regol Kompol Anwar Haidar.
Dalam razia ini belum ada penemuan berarti. Akan tetapi Anwar mengimbau agar tetap waspada. Sementara itu,terduga teroris asal Tambora,Jakarta Barat, Muhammad Toriq, 32, diidentifikasi merupakan jaringan Abu Omar. Hal ini berdasar temuan bahan-bahan bom rakitan bertipe sama dengan bom yang dirakit jaringan ini.Kelompok ini memperjuangkan ideologi dari kelompok Abu Omar.
Dalam menjalankan terornya, merekamengincarSolodan Jakarta,termasuk memanfaatkan situasi Pilkada DKI Jakarta. “Jaringan ini justru banyak di Jakarta, di Solo sedikit.Farhan dan Muchsin itu kan orang Jakarta.Jadi ada semacam link yang bisa menghubungkan orang-orang ini,” ungkap pengamat terorisme Ali Fauzi saat dihubungi media kemarin.
Menurut adik gembong teroris Amrozi itu,Toriq bisa saja mengetahui Farhan dan kawan- kawannya walau belum tentu mengenal baik.Walaupun mempunyai semangat ideologi tinggi,generasi kelompok Abu Omar ini tak pernah belajar merangkai bom secara terperinci.“ Kelompok ini bergerak sporadis, amatiran, dan tidak merencanakan aksinya dengan rapi,”katanya.
Ali sendiri mengaku mengenal Farhan, terduga teroris yang tewas ditembak tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Polri di Solo. Dia bertemu Farhan saat mengikuti pelatihan militer di Filipina bersama Abu Omar. “Saat itu Farhan masih berusia 9 tahunan. Jadi saya pikir, kelompok ini memang generasi baru dari jaringan Abu Omar,”tutur Ali.
Untuk diketahui,kelompok Abu Omar berasal dari kelompok NII, kemudian berpecah menjadi Jamaah Islamiyah (JI) dan Abu Omar.Abu Omar alias Indra Kusuma alias Andi Yunus alias Nico Salman ditangkap Juli 2011 di Jakarta atas penyelundupan senjata dari Filipina bagian selatan ke Indonesia. Abu Omar adalah ayah tiri Farhan Mujahid yang tewas ditembak di Solo.
Penilaian Ali Fauzi tersebut senada dengan analisis penyidik Kepolisian Daerah Polda Metro Jaya yang menduga Toriq terkait dengan jaringan teroris di Solo, Jawa Tengah, dan Depok,Jawa Barat.Melalui Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Polisi Rikwanto,Polda juga mengungkapkan adanya istilah poros Solo-Jakarta yang akan menyasar dua daerah tersebut sebagai target aksi terorisme.
Pihak Densus 88/Antiteror Polri hingga kemarin masih memeriksa ibu Toriq, Iyut,dan sang istri, Sri Haryanti, untuk mengorek keberadaan Toriq. Mabes Polri pun sudah menginstruksikan kepada seluruh polda di Tanah Air untuk melakukan pencarian.
“Kami masih berupaya menangkap Toriq dan melakukan penelusuran lebih lanjut. Keterkaitan apa pun itu akan kita dalami dalam proses pemeriksaan, masuk kelompok mana, kelompok mana,jadi bahan informasi sehingga kita tidak dituduh asal memberikan pernyataan karena berkaitan dengan pihak-pihak yang masih dilakukan pendalaman,” jelas Kepala Bagian Penerangan Umum Mabes Polri Kombes Pol Agus Rianto kemarin.
Sementara itu, mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Hasyim Muzadi menandaskan bahwa penangan aksi terorisme perlu dilakukan secara terpadu dan menyeluruh. Dalam pandangannya, penanganan aksi terorisme yang dilakukan saat masih sektoral dengan lebih menekankan sektor keamanan.
Itu pun, lanjutnya, dilakukan dengan kurang bijak karena sering kali menempuh jalan pintas dengan menembak mati pihak yang diduga anggota jaringan terorisme.“Indonesia belum punya gerakan yang terpadu dan komprehensif untuk meredam gerakan terorisme,” kata Hasyim di sela-sela acara dialog “Orientasi Konstitusi dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara” kemarin di Depok.
Menurut dia, untuk meredam terorisme, terutama yang bersifat ideologis,perlu ditempuh upaya deradikalisasi secara bersungguh-sungguh, melibatkan pihak-pihak yang memiliki kapasitas dan kapabilitas di bidangnya,misalnya para ulama. Saat ini,menurut Hasyim, upaya deradikalisasi lebih sering dilakukan melalui seminar-seminar yang sering kali justru tidak tepat sasaran karena pesertanya justru orang-orang yang tidak bermasalah dan percaya dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Tidak kalah penting dilakukan untuk meredam terorisme adalah melacak hubungan organisasi teroris di Tanah Air dengan dunia luar. Setelah sekitar satu minggu berada di Rumah Sakit (RS) Polri Sukanto,jenazah dua terduga teroris Muchsin Sanny Permadi,20,dan Farhan,19,akhirnya diserahkan kepada pihak keluarga untuk kemudian dimakamkan di Pondok Rangon, Jakarta Timur,kemarin.
TASIKMALAYA – Lebih dari 15 anggota Ditreskrimum Polda Jabar dibantu Polres Tasikmalaya melakukan penggeledahan di rumah pasangan suami- istri Iman,49,dan Tuti,45,di Kampung Kalawagar RT 02/12, Desa Singasari,Kecamatan Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya, yang merupakan rumah paman dan bibi Firman, 20, tersangka teroris Solo yang ditangkap di Depok beberapa waktu lalu.
Sontak saja upaya penggeledahan rumah yang berlangsung tertutup tersebut menjadi tontonan ratusan warga.Polisi memasang garis polisi dan wartawan pun tidak diizinkan masuk.Hanya ketua RW setempat yakni Tatang yang diminta polisi untuk menjadi saksi upaya penggeledahan tersebut,sedangkan lainnya sama sekali tidak diperkenankan masuk dan penjagaan pun dilakukan sangat ketat.
Barang yang diduga kuat milik Firman itu terdiri dari sejumlah buku religi,VCD yang diduga tentang jihad, ponsel serta beberapa berkas di antaranya surat tugas dari Pondok Pesantren Al Mukmin,Ngruki, agar Firman bisa menjadi tenaga guru bahasa Arab di SMP dan SMK Ibnu Siena, Jalan Siliwangi, Kota Tasikmalaya.Di sekolah itu, Firman memang sempat mengajar satu tahu pada tahu ajaran 2011/2012.
Setelah berhasil mengumpulkan sejumlah barang yang diduga kuat milik Firman, petugas pun meninggalkan rumah tersebut dan mencabut kembali garis polisi sekitar pukul 17.30 WIB. Sedangkan Iman dan Tuti pun dibawa ke Mapolres Tasikmalaya untuk dimintai keterangan lebih lanjut. “Polisi menemukan sejumlah barang di salah satu kamar dan mengambilnya untuk dijadikan barang bukti yang diduga milik Firman.
Toni,ayah kandung Firman, memang berasal dari Kampung Kalawagar dan Firman sendiri sempat berada di sini pada pertengahan bulan suci Ramadan 1433 H kemarin, serta menginap selama dua hari,”ungkap Ketua RW 12 Tatang. Selain VCD dan sebagainya, dari penggeledahan itu juga polisi membawa surat cinta kendati tidak diketahui isinya karena tidak diizinkan untuk membaca.
“Pada saat menginap pada bulan puasa itu, keluarga memang tidak melapor, baik ke RT ataupun RW karena beranggapan jika Firman bukan tamu. Karena memang warga di sini juga bertamu kepada paman dan bibinya sendiri,” katanya. Kapolres Tasikmalaya AKBP Irman Sugema enggan berkomentar banyak mengenai upaya penggeledahan tersebut, kendati beberapa kali dicegat wartawan saat hendak menuju Mapolres Tasikmalaya.
Di Ciamis, polisi sempat disibukkan oleh aksi kejar-kejaran kendaraan yang dikira kendaraan komplotan teroris. Ternyata mereka adalah tiga pemuda-pemudi yang ketakutan karena tidak memiliki surat izin menemudi (SIM) saat melintasi deretan razia polisi.Mobil berhenti setelah menabrak warung dan sang sopir ditangkap massa.
Di Kota Bandung, jajaran Polsekta Regol melakukan pendataan penduduk pendatang di kawasan kamar indekos Jalan Pasundan RW 04, Kelurahan Balonggede,Kecamatan Regoltadi malam.Hal ini dilakukan dengan tujuan mengantisipasi adanya pendatang yang memiliki data tumpang tindih, serta penipuan berkedok data lokal, sekaligus antisipasi terorisme. “Ya, ini dilakukan untuk mengantisipasi terduga teror ada di antara para pendatang ini,” ujar Kapolsekta Regol Kompol Anwar Haidar.
Dalam razia ini belum ada penemuan berarti. Akan tetapi Anwar mengimbau agar tetap waspada. Sementara itu,terduga teroris asal Tambora,Jakarta Barat, Muhammad Toriq, 32, diidentifikasi merupakan jaringan Abu Omar. Hal ini berdasar temuan bahan-bahan bom rakitan bertipe sama dengan bom yang dirakit jaringan ini.Kelompok ini memperjuangkan ideologi dari kelompok Abu Omar.
Dalam menjalankan terornya, merekamengincarSolodan Jakarta,termasuk memanfaatkan situasi Pilkada DKI Jakarta. “Jaringan ini justru banyak di Jakarta, di Solo sedikit.Farhan dan Muchsin itu kan orang Jakarta.Jadi ada semacam link yang bisa menghubungkan orang-orang ini,” ungkap pengamat terorisme Ali Fauzi saat dihubungi media kemarin.
Menurut adik gembong teroris Amrozi itu,Toriq bisa saja mengetahui Farhan dan kawan- kawannya walau belum tentu mengenal baik.Walaupun mempunyai semangat ideologi tinggi,generasi kelompok Abu Omar ini tak pernah belajar merangkai bom secara terperinci.“ Kelompok ini bergerak sporadis, amatiran, dan tidak merencanakan aksinya dengan rapi,”katanya.
Ali sendiri mengaku mengenal Farhan, terduga teroris yang tewas ditembak tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Polri di Solo. Dia bertemu Farhan saat mengikuti pelatihan militer di Filipina bersama Abu Omar. “Saat itu Farhan masih berusia 9 tahunan. Jadi saya pikir, kelompok ini memang generasi baru dari jaringan Abu Omar,”tutur Ali.
Untuk diketahui,kelompok Abu Omar berasal dari kelompok NII, kemudian berpecah menjadi Jamaah Islamiyah (JI) dan Abu Omar.Abu Omar alias Indra Kusuma alias Andi Yunus alias Nico Salman ditangkap Juli 2011 di Jakarta atas penyelundupan senjata dari Filipina bagian selatan ke Indonesia. Abu Omar adalah ayah tiri Farhan Mujahid yang tewas ditembak di Solo.
Penilaian Ali Fauzi tersebut senada dengan analisis penyidik Kepolisian Daerah Polda Metro Jaya yang menduga Toriq terkait dengan jaringan teroris di Solo, Jawa Tengah, dan Depok,Jawa Barat.Melalui Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Polisi Rikwanto,Polda juga mengungkapkan adanya istilah poros Solo-Jakarta yang akan menyasar dua daerah tersebut sebagai target aksi terorisme.
Pihak Densus 88/Antiteror Polri hingga kemarin masih memeriksa ibu Toriq, Iyut,dan sang istri, Sri Haryanti, untuk mengorek keberadaan Toriq. Mabes Polri pun sudah menginstruksikan kepada seluruh polda di Tanah Air untuk melakukan pencarian.
“Kami masih berupaya menangkap Toriq dan melakukan penelusuran lebih lanjut. Keterkaitan apa pun itu akan kita dalami dalam proses pemeriksaan, masuk kelompok mana, kelompok mana,jadi bahan informasi sehingga kita tidak dituduh asal memberikan pernyataan karena berkaitan dengan pihak-pihak yang masih dilakukan pendalaman,” jelas Kepala Bagian Penerangan Umum Mabes Polri Kombes Pol Agus Rianto kemarin.
Sementara itu, mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Hasyim Muzadi menandaskan bahwa penangan aksi terorisme perlu dilakukan secara terpadu dan menyeluruh. Dalam pandangannya, penanganan aksi terorisme yang dilakukan saat masih sektoral dengan lebih menekankan sektor keamanan.
Itu pun, lanjutnya, dilakukan dengan kurang bijak karena sering kali menempuh jalan pintas dengan menembak mati pihak yang diduga anggota jaringan terorisme.“Indonesia belum punya gerakan yang terpadu dan komprehensif untuk meredam gerakan terorisme,” kata Hasyim di sela-sela acara dialog “Orientasi Konstitusi dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara” kemarin di Depok.
Menurut dia, untuk meredam terorisme, terutama yang bersifat ideologis,perlu ditempuh upaya deradikalisasi secara bersungguh-sungguh, melibatkan pihak-pihak yang memiliki kapasitas dan kapabilitas di bidangnya,misalnya para ulama. Saat ini,menurut Hasyim, upaya deradikalisasi lebih sering dilakukan melalui seminar-seminar yang sering kali justru tidak tepat sasaran karena pesertanya justru orang-orang yang tidak bermasalah dan percaya dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Tidak kalah penting dilakukan untuk meredam terorisme adalah melacak hubungan organisasi teroris di Tanah Air dengan dunia luar. Setelah sekitar satu minggu berada di Rumah Sakit (RS) Polri Sukanto,jenazah dua terduga teroris Muchsin Sanny Permadi,20,dan Farhan,19,akhirnya diserahkan kepada pihak keluarga untuk kemudian dimakamkan di Pondok Rangon, Jakarta Timur,kemarin.