• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Gerwani & Perjuangan Politik Perempuan

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Angela
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Angela

IndoForum Pro E
No. Urut
88
Sejak
25 Mar 2006
Pesan
45.487
Nilai reaksi
35
Poin
0
Berhubung Thread Tentang isu-isu seperti ini jarang diangkat maka, saya akan menulis sedikit informasi mengenai ini.

Thread ini adalah uraian singkat dari Buku: Penghancuran Gerakan Perempuan : Politik Seksual Di Indonesia Pasca Kejatuhan PKI yg ditulis oleh : Saskia Eleonora Wieringa

Selama Membaca!

BOLA mata para jendral dicungkil dari tempatnya, sekujur tubuhnya dikuliti & kemaluan mereka dipotong. Mayat yg tak lagi utuh tersebut dikumpulkan dalam satu sumur mati di wilayah Lubang Buaya, Jakarta. Di atas sumur mati tersebut para wanita sundal menari Tari harum Bunga dengan bugil merayakan kemenangan. Tarian setan tersebut diiringi laguGendjer Gendjeryang bernuansa mistis. Maka, lengkap sudah segala kegerian dimalam jahaman 1 Oktober 1965 tersebut.

Gambaran diatas merupakan secuilscenedari lakon Pengkhianatan G30S/PKI, sebuah film yg dirilis tahun 1984 & terus menerus diputar sebagai tontonan wajib setiap tahun sepanjang masa Orde Baru. Film tersebut, selain melalui jalur formal seperti institusi pendidikan & buku-buku sejarahnya, merupakan salah satu jalan Orde Baru untuk menghegemoni pencerahan atas citra PKI secara biasa & Gerwani khususnya, sebagai orang-orang yg bengis-keji-jahanam-sundal-dan segala macam terma yg menggambarkan ketiadaan perikemanusiaan.

Setelah Orde Baru runtuh & pemeriksaan ulang atas sejarah versi Orde Baru dilakukan, kita tahu bahwa Tari Harum Bunga Gerwani di Lubang Buaya merupakan omong kosong. Begitupun dengan mayat para korban yg digambarkan dikuliti, bola mata yg keluar, hingga kemaluan yg dipotong juga adalah kebohongan. Tetapi, hal ini bukan berarti secara otomatis mengubah stigma masyarakat tentang PKI & Gerwani. PKI masih dicap sebagai organisasi ateis tak bermoral, & Gerwani masih digambarkan sebagai pelacur sundal yg cuma setingkat lebih tinggi dari hewan.

Dalam konteks demikianlah, buku Saskia Eleonora Wieringa, seorang Profesor di Universitas Amsterdam & ketuaGender and Womens Same-Sex Relation Crossculturally,patut mendapat perhatian lebih. Wieringa dalam bukunya berjudulPenghancuran Gerakan Perempuan : Politik Seksual Di Indonesia Pasca Kejatuhan PKI(yang berangkat dari sebuah penelitian berjudulThe Politization of Gender Relation in Indonesia), menunjukkan kepada kita apa Gerwani sebenarnya. Benarkah Gerwani adalah organisasi para pelacur? Bagaimana Gerwani, & gerakan perempuan pada umumnya, ikut mewarnai perjalanan sejarah Indonesia? Pertanyaan-pertanyaan begitu yg dijawab oleh Wieringa dalam buku ini.



Gerwani: Organisasi Perempuan Militan

Pada tanggal 4 Juni 1950, enam wakil organisasi perempuan berkumpul di Semarang & menghasilkan sebuah keputusan untuk menciptakan satu organisasi perempuan yg dinamakan Gerwis (Gerakan Wanita Sedar). Enam organisasi yg mendirikan Gerwis adalah: Rukun Putri Indonesia (Rupindo) dari Semarang, Persatuan Wanita Sedar dari Surabaya, Isteri Sedar dari Bandung, Gerakan Wanita Indonesia (Gerwindo) dari Kediri, Wanita Madura, & Perjuangan Putri Republik Indonesia dari Pasuruhan. Para pendiri Gerwis berasal dari kalangan sosial yg berbeda tetapi semuanya terjun dalam gerakan nasional, bahkan, banyak diantaranya yg jadi anggota punggawa bersenjata. Dalam pembentukan organisasi tersebut, disepakati ketua perdana Gerwis adalah Tris Metty yg pernah jadi anggota Laskar Wanita Jawa Tengah.

Walaupun Gerwis di dalam konstitusinya menyatakan diri sebagai organisasi non-politik & tidak berafiliasi dengan partai politik manapun, kenyataannya PKI memiliki pengaruh yg sangat kuat dalam proses pembentukan hingga arah politik Gerwis kedepan. Sebagaimana yg dijelaskan Ny Chalisah, salah satu pendiri Gerwis, bahwa partai meminta saya untuk membangun organisasi perempuan komunis di dalam partai (hlm 218). Tetapi, keharapan para pemimpin PKI ini bukanlah satu-satunya faktor penyebab berdirinya Gerwis. Lebih akbar dari itu, hasrat bersama untuk tercapainya kemerdekaan nasional & berakhirnya praktik feodalisme adalah faktor terbesar berdirinya Gerwis.

Konres perdana Gerwis dilakukan pada Desember 1951. Dalam masa ini, Gerwis berada dalam kondisi yg sulit. Para utusan Gerwis dari daerah-daerah banyak yg masih berada dipenjara. Ketika itu, parlemen yg dipimpin Masyumi adalah pemerintahan yg reaksioner & para utusan Gerwis tersebut adalam korban dari politik yg reaksioner ini. Untuk itu, Aidit, sebagai pemimpin PKI kala itu, menginstruksikan Gerwis untuk menghentikan sementara kritik kepada pemerintah & lebih memfokuskan pada gerakan bawah tanah.

Dalam kongres kedua pada 1954, setelah mendapat tekanan dari PKI untuk jadi organisasi massa dibawahnya (Gerwis pada awalnya dibentuk sebagai organisasi kader), Gerwis mengubah nama jadi Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia) & memilih Umi Sarjono yang juga merupakan anggota PKI sebagai ketuanya. Organisasi berkembang pesat diantara masa kongres perdana & kedua. Di Surabaya, Gerwis memiliki 40 cabang dengan 6000 anggota & pada tahun 1954, anggotanya sudah meliputi 80.000 orang. Dalam masa ini pula, Gerwani aktif dalam tiga front perjuangan sekaligus.Pertama,dalam lapangan politik, mereka menghadapi elemen reaksioner, yaitu elemen yg menggerakkan peristiwa 17 Oktober 1952;kedua,dalam tataran feminisme, mereka menentang PP Nomor 19 yg mengatur masalah perkimpoian tetapi dinilai diskriminatif & untuk itu Gerwis mendukung disahkannyaUndang-Undang Perkimpoian yg lebih demokratis; danketiga,Gerwis berusaha sedapat mungkin untuk menghindari konfrontasi dengan Sukarno. Selain itu, di tingkat lokal, Gerwis ikut serta dalam kampanye BTI (Barisan Tani Indonesia) melawan tindakan pemerintah yg berusaha mengusir kaum tani dari bekas perkebunan yg sudah mereka duduki. (hlm 227-228).

Perubahan Gerwani dari organisasi kader jadi organisasi massa ini salah satunya dilakukan dengan cara menawarkan kepada kaum perempuan untuk jadi pemimpin tanpa memandang latar-belakang sosial. Perwari (Persatuan Wanita Republik Indonesia) misalnya, para pemimpinnya cuma berasal dari keluarga pamong praja, atau memiliki pendidikan yg cukup tinggi. Strategi ini berhasil merekrut banyak kader, karena perempuan yg bergabung menilai Gerwani sebagai satu-satunya pihak yg sudi menolong memecahkan persoalan mereka sehari-hari. Selain itu, Gerwani juga dinilai sebagai organisasi alternatif di luar organisasi perempuan yg sudah ada & menawarkan solusi konkret atas permasalahan yg terjadi sehari hari.

Kemudian, dalam resolusi Kongres ke III, Gerwani menunjukkan arah politik yg semakin condong kepada urusan poilitik nasional dari yg semula banyak berjuang dalam lapangan permasalahan perempuan, utamanya tentang demokrasi terpimpin. Pergeseran orientasi ini semakin terlihat ketika Gerwani fokus pada isu kenaikan harga pangan & sandang ketimbang urusan-urusan feminis seperti masalah perkimpoian. Dengan perubahan orientasi ini, maka Gerwani harus mengerjakan berbagai penyesuaian yg dirumuskan dalam tiga hal.Pertama,Gerwani harap memimpin gerakan yg lebih luas;kedua,Gerwani menghendaki membangun gerakan massa, dalam hal ini Gerwani mengikuti garis PKI dalam emansipasi perempuan yg merumuskan bahwa sosialisme harus dicapai lebih dulu sebelum bicara masalah spesifik tentang urusan perempuan;ketiga,Gerwani menghendaki perempuan ikut ambil bagian dalam politik nasional, hal ini contohnya tercermin dari keterlibatan Gerwani dalam urusan perang memperebutkan Irian Barat & menyerukan supaya gerakan perempuan bersatu untuk itu.


Ideologi Gerwani

Dengan sepak terjangnya tersebut, jadi pertanyaan akbar apakah ideologi yg jadi dasar Gerwani. Pertanyaan tersebut dijawab oleh Wieringa di bab 2 dengan judul Tiga Alur: Feminisme, Sosialisme & Nasionalisme. Sebagaimana judulnya, Gerwani memang dipengaruhi oleh tiga aliran pemikiran tersebut.

Gerwani mendapat inspirasi tentang pemikiran sosialis/marxisme karena organisasi ini bertalian erat dengan PKI. Menurut Wieringa, dalam hubungannya kepada marxisme, Gerwani bergulat dengan sejumlah problem teoritis. Dalam marxisme, perjuangan perempuan harus ditempatkan sebagai bagian dari perjuangan kelas. Ketika komunisme ditegakkan, maka perempuan sebagai subordinasi keluarga akan lenyap & keluarga proletar bahagia akan menggantikannya (hlm 83). Pandangan ini memiliki beberapa problem, diantaranya, bagi Wieringa, pandangan Engels tentang keluarga yg ditulisnya dalamThe Origin of the Family(1884) dianggap a-historis, khususnya tentang masyarakat suku.Kedua,karena perempuan utamanya ditempatkan dalam rumah tangga, maka teori marxis cuma memiliki sedikit pengertian kepada peran perempuan di tengah masyarakat.Ketiga,karena eksploitasi perempuan dalam keluarga dipandang sebagai penemuan kapitalis, maka pemecahannya dicari di luar rumah tangga, yakni perempuan harus memasuki produksi masyarakat, pekerjaan rumah tangga harus disosialisasi.Terakhir,karena penindasan seksual dihubungkan dengan kapitalisme, maka disini sosialisme akan memberikan jalan keluar & oleh karena itu tidak perlu adanya perjuangan perempuan secara sadar guna memperbaiki perilaku laki-laki maupun mengubah hubungan antar-pribadi.

Pada tahun 70-80an, kaum feminis-marxis & sosialis mencoba mengoreksi marxisme karena dianggap kurang memberikan jawaban terkait hubungan antara pekerjaan rumah tangga dalam kaitannya dengan produksi masyarakat. Koreksi itu dimaksudkan untuk memperluas konsep pokok tentang produksi dengan memasukkan persoalan melahirkan & pemeliharaan anak (hlm. 86). Namun, upaya penafsiran ulang marxisme ini tidak sanggup untuk menjawab sejumlah persoalan pokok, seperti hubungan antara kapitalisme dengan patriarki. Hal ini biasanya dijabarkan dengan teori secara terpisah tetapi saling terkait (hlm 87). Problem lain yg dihadapi feminis-marxis belakangan lebih fundamental. Utamanya terkait dengan kritik kepada subjek marxis & evaluasi basis epistemologi marxisme yg menganggap marxisme & perjuangan kelas sebagai perjuangan sosial paling penting, sedangkan perjuangan lain harus tunduk di bawahnya.

Dalam hubungannya dengan feminisme, nasionalisme Indonesia juga ditandai dengan kontradiksi penolakan akan pembedaan seksual disatu pihak, dipihak lain hal itu bersifat universal (hlm 92). Disatu sisi, disparitas gender menciptakan dikotomisasi secara politik, ekonomi, & sosial, namun pada saat yg sama pembangunan keduanya dipandang sebagai sesuatu yg amat penting dalam cita-cita nasional. Sebagai contoh, Sukarno yg seorang nasionalis-sosialis mendorong perempuan untuk mejadi roda kedua kereta perang menuju kemerdekaan. Tetapi disisi lain, pasca kolonialisme, para pemimpin laki-laki berupaya untuk menguasai & mengontrol kegiatan perempuan. Hal ini kemudian dilawan oleh Gerwani, misalnya, dengan mendekonstruksi model putri Jawa Kartini. Bagi mereka, Kartini adalah simbol bagaimana perempuan melawan & memberontak untuk mendapatkan hak yg sama seperti laki-laki (hlm 82-92).

Setelah tahun 1959, Gerwani menyatakan kesetiaannya kepada sosialisme. Para pemimpin Gerwani pun mulai membaca karya-karya para penulis sosialis seperti Clara Zetkin & Engels. Selain itu,Api Kartini(terbitan Gerwani), juga terus-menerus mempublikasikan tentang berkah sosialisme dengan mengutip kata-kata Sukarno. Demikianlah, dalam sejarahnya yg relatif singkat, Gerwani sudah mengerjakan upaya pembentukan bukti diri dirinya sendiri. Ketiga alur wacana ini yg kemudian mewarnai perjalanan sejarah Gerwani, meskipun hubungan diantara ketiganya sangat dinamis.


Lanjut dibawah gan
emoticon-Ngacir


Hari ini 21:33
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.