• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Genjutsu di Dunia Nyata: Pengkondisian Klasik

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Angela
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Angela

IndoForum Pro E
No. Urut
88
Sejak
25 Mar 2006
Pesan
45.487
Nilai reaksi
35
Poin
0
Genjutsu di Dunia Nyata: Pengkondisian Klasik



Merasa heran mengetahui begitu banyak korban aplikasi Binary Options? Atau, mengapa ada orang yg takut kepada sesuatu sementara yg lain tidak? Contoh lainnya, mengapa cuma dengan melihat benda peninggalan mantan agan, sanggup menghadirkan kenangan akan sayang kalian yg kandas? Yah, beragam contoh yg disebutkan merupakan penerapan & akibat Genjutsu di dunia nyata.

Dari sekian metode yg sanggup untuk menjelaskan fenomena di atas, ane akan mencoba menjelaskannya dengan Pengkondisian Klasik. Sebuah metode belajar yg didalamnya terdapat istilah, seperti; stimulus yg dikondisikan (Conditional Stimulus/Counter Strike), stimulus yg tidak dikondisikan (Unconditioned Stimulus/UCS), respon yg tidak dikondisikan (Unconditioned Response/UCR), & respon yg dikondisikan (Conditioned Response/CR). Nanti akan ane jelaskan lebih lanjut setelah agan-agan kenalan dulu dengan penemu metode Pengkondisian Klasik.

Genjutsu di Dunia Nyata: Pengkondisian Klasik


Adalah Ivan Pavlov; seorang fisiolog asal Rusia mengerjakan eksperimen dengan anjing peliharannya. Awalnya sih, Pavlov nggak sengaja ngeliat anjingnya ngeluarin air liur ketika Pavlov membawakan makanan untuknya. Kemudian, tercetuslah sebuah ide untuk eksperimen; Kira-kira dapat nggak, ya, si anjing tetap mengeluarkan air liur dengan alat yg lain?

Setelah dilakukan serangkaian eksperimen/pengkondisian, ternyata dapat. Hewan peliharaan Pavlov mengeluarkan air liur saat mendengar suara lonceng. Hasil penelitiannya mengantarkannya meraih Nobel. Di kemudian hari, hasil penelitiannya disebut Pengkondisian Klasik.

Genjutsu di Dunia Nyata: Pengkondisian Klasik


Pengkondisian Klasik menyebar ke seluruh penjuru, & salah satunya didengar oleh John Broadus Watson; behavioris militan asal Amerika Serikat. Pada tahun 1920-an, John Watson mengerjakan eksperimen dengan manusia. Kejadian ini kemudian hari disebut kasus The Little Albert. Seorang bayi laki-laki berusia sebelas bulan perilakunya berubah. Albert jadi takut dengan tikus putih setelah menjalankan proses pengkondisian. Berikut ini pembagian elemen-elemen menurut Pengkondisian Klasik yg dipakai dalam kasus The Little Albert:

Pertama, elemen pengkondisian stimulus (Conditioned Stimulus/Counter Strike). Elemen ini bersifat netral, tanpa arti. Sehingga, target pengkondisian tidak akan memberikan respon apa pun ketika Counter Strike diberikan. Dalam kasus ini: tikus putih.

Kedua, merupakan stimulus yg tidak dikondisikan (Unconditioned Stimulus/UCS). Stimulus ini akan menimbulkan reaksi tertentu ketika diberikan namun tidak dapat dikendalikan. John Broadus Watson mengpakai suara keras. Inilah yg jadi UCS.

Ketiga, respon yg tidak dikondisikan (Unconditioned Response/UCR). Dalam artian sederhana, UCR merupakan respon refleks ketika diberikan UCS. Jelas, apabila seorang bayi diberikan suara keras (UCS) responnya adalah ketakutan. Dalam kasus The Little Albert, ketakutan dijadikan UCR.

Terakhir, respon yg dikondisikan (Conditioned Response/CR). CR merupakan respon yg sama dengan UCR. Hanya saja, UCR terjadi tanpa pengkondisian atau pembelajaran, sementara CR diperoleh setelah mengalami serangkaian pengkondisian.

Selanjutnya, terdapat tiga tahapan Pengkondisian Klasik. Pertama disebut Sebelum Pengkondisian. Dalam kasus ini, awalnya Albert merespon netral ketika diberikan tikus putih (Conditional Stimulus/Counter Strike). Namun, ketika diberikan suara keras (Unconditioned Stimulus/UCS), Albert merespon dengan rasa takut (Unconditioned Response/UCR).

Kedua, disebut Tahap Pengkondisian. Bisa dikatakan tahapan ini merupakan proses pembelajaran. Seperti yg diketahui, Albert akan ketakutan ketika mendengar suara keras (UCS). Pada saat inilah proses pengkondisian dilakukan; tikus putih (Counter Strike) akan sering diberikan bersamaan dengan suara keras (UCS). Sehingga, Albert akan merespon ketakutan (UCR). Tahapan ini akan dilakukan berulang kali hingga Albert belajar bahwa Conditional Stimulus/Counter Strike akan menghasilkan Unconditioned Stimulus/UCS, atau tikus putih menghasilkan suara keras.

Terakhir, disebut Pasca Pengkondisian. Pada tahapan ini, John Broadus Watson memberikan tikus putih. Rupanya, respon Albert tetap sama; ketakutan. Padahal sudah tidak lagi diberikan suara keras bersamaan dengan diberikannya tikus putih. Respon ketakutan ini terjadi setelah mengalami proses pengkondisian; Counter Strike & UCS diberikan bersamaan berkali-kali. Rasa takut dalam tahapan Pasca Pengkondisian disebut Classical Response(CR).

Jadi, Classical Responseterjadi melalui Pengkondisian Klasik; sebuah proses pembelajaran dengan menggabungkan antara Classical Stimulus/Counter Strike dengan Unconditioned Stimulus/UCS.

Artinya, metode Pengkondisian Klasik sangat bergantung pada dunia eksternal, yakni; lingkungan. Karena dari lingkungan proses pembelajaran akan terjadi melalui interaksi perseorangan dengan stimulus eksternal yg diberikan selama proses pembelajaran. Hal inilah yg menciptakan seseorang sanggup melahirkan perilaku tertentu yg dipengaruhi oleh faktor eksternal.

Berbagai fenomena yg ane sebutkan di awal paragraf dapat dijelaskan dengan Pengkondisian Klasik. Kenapa seseorang takut dengan suatu hal sementara yg lain tidak? Jawabannya dapat agan dapatkan dari penjelasan kasus The Little Albertyang sudah ane jabarkan sebelumnya.

Genjutsu di Dunia Nyata: Pengkondisian Klasik


Nah, sekarang kita masuk kasus yg lagi fenomenal banget, yakni; Binary Options. Karena menurut ane bagian ini lebih mengarah marketing, artinya, dalam prosesnya menggabungkan antara ilmu marketing dengan Pengkondisian Klasik.

Tujuannya supaya prosesnya berjalan lebih terstruktur & sistematis. Btw, kalo agan paham banget dengan metode ini, agan dapat aja menciptakan brandingalias pencitraan, baik personal branding maupun branding sebuah produk.

Kita balik ke kasus Binary Options.

Mungkin zaman sekarang sudah terlampau sulit dalam mencari uang, sehingga pejuang cuan tak jarang melirik jalan lain tanpa berpikir panjang. Apalagi ditambah hadirnya era pandemi. Mereka sudah sedih & hampir putus asa lantaran sudah berjuang keras mendapatkan uang namun hasilnya jauh dari harapan. Emosi semacam inilah yg dijadikan Unconditioned Response/UCR.

Dengan mengkolaborasi ilmu marketing, aplikasi binaryoptions memanfaatkan UCR. Ditambah dengan kehadiran afiliator, influencer, atau apapun sebutannya, yg tujuannya supaya masyarakat jadi aware akan keberadaan sebuah aplikasi yg sanggup mendapatkan uang segudang tanpa bersusah payah.

Kemudian, penggiat binaryoptions menciptakan berbagai konten terkait; dari sekedar tata-cara bermain hingga cerita sukses yg mengharukan yg didapat dari bermain aplikasi tipe ini. Tak jarang menciptakan orang terperangkap dalam genjutsu. Seiring berjalannya waktu, aplikasi yg tadinya berstatus Counter Strike jadi CR, lantaran ada penggabungan antara Counter Strike dengan UCR.

Selanjutnya, mengambil contoh barang peninggalan mantan sanggup menciptakanmu mengenang sayang agan-agan sekalian yg kandas. Agan mungkin sudah begitu sayang dengannya, memiliki segudang asa & berbagai imajinasi bila hidup bersama, namun nasib berkata lain.

Peristiwa putusnya hubungan tersebut diputar berulang kali di kepala agan. Sampai-hingga tidak sadar bahwa agan sudah mengerjakan Pengkondisian Klasik kepada diri agan. Sebuah benda yg tadinya tak bermakna (Counter Strike), anda maknai dengan suatu makna (UCR). Hanya dengan melihat benda pemberian darinya, agan dapat galau seharian (CR).

Pengkondisian Klasik juga sanggup menjelaskan berbagai fenomena gangguan mental seperti; fobia, kecanduan, Gangguan Pasca-Trauma, & lain sebagainya. Metode ini memang memiliki sumbangsih yg cukup akbar dalam dunia kejiwaan.

Dalam sudut pandang yg positif, misal; seseorang bersemangat ketika mengerjakan kegiatan tertentu atau sekedar menonton sebuah film atau mendengarkan sebuah lagu. Hal ini terjadi lahirnya emosi yg positif lantaran adanya sebuah kejadian atau kenangan yg akhirnya melekat dalam pikiran.

Memang, Pengkondisian Klasik merupakan metode belajar luar biasa. Ivan Pavlov sebagai penemu bahkan disebut sebagai ilmuwan paling berpengaruh pada zaman 20. Namun, bukan berarti metode ini seratus persen sempurna.

Pengkondisian Klasik mereduksi kompleksitas manusia. Ini yg kerap kali dilakukan para behavioris lantaran mereka terlalu mengagungkan faktor eksternal; lingkungan. Perilaku manusia sebetulnya sangat kompleks namun dikerdilkan dengan stimulus-respon. Akhirnya, reduksionisme mengantarkan kepada determinisme. Karena teori ini terlalu menekankan lingkungan. Tak jarang mengabaikan faktor internal.

Misal, dua bersaudara yg hidup di lingkungan sama, nyatanya dapat jadi pribadi yg berbeda. Lingkungan yg busuk & penuh kriminal memang berpotensi melahirkan pelaku tindak kejahatan. Namun bukan berarti lingkungan yg baik & minim kriminal tidak memiliki potensi.

Dalam kasus lain, adanya atlet atau berbagai tokoh terkenal justru lahir & tumbuh akbar di lingkungan yg kurang menguntungkan, meskipun ada juga yg tidak dalam lingkungan demikian. Kaum behavioris agak kesulitan dalam menjelaskan fenomena ini.

Sebetulnya, kaum behavioris nggak dapat disalahkan juga. Karena begini, dalam sebuah perkembangan suatu ilmu atau metode, dipengaruhi oleh fenomena yg berkembang saat itu.

Dalam kasus Pengkondisian Klasik secara khusus, atau mazhab Behavioral secara umum, sangat dipengaruhi oleh fenomena reduksionisme. Kalo mengatakan KBBI sih, reduksionisme; teori atau prosedur menyederhanakan gejala, data, & sebagainya yg kompleks sehingga jadi tidak kompleks. Ingat mengatakan kuncinya; penyederhanaan.

Nah, pada masa tersebut, ilmu yg berkembang pesat akibat reduksionisme adalah ilmu alam, seperti; matematika, kimia, & fisika. Dalam konteks agama, paham atheisme mulai berkembang juga.

Dalam psikologi, yg berkembang selain mazhab behaviorisme adalah mulai berkembangnya biopsikologi/psikologi faal, psikologi klinis, & sependek yg ane inget, mazhab Gestalt pun juga mulai punya panggung. Sehingga, pada masa itu, psikologi udah jarang banget ngomongin jiwa secara abstrak. Tindak-tanduk jiwa seseorang diamati melalui perilaku. Dalam ukuran mikro, dapat diamati dari sistem saraf, neurotransmitter, & lain sebagainya.

Kalo ditelisik lebih lanjut, akarnya adalah berkembangnya pemikiran determinisme (sebab-akibat) dalam ilmu filsafat. Contohnya, pemikiran kehendak bebas atau kebebasan, bahkan kebahagiaan hanyalah ilusi. Karena pada masa itu, sangat sulit banget mendapatkan hal-hal tersebut. Wajar. Karena perang terjadi dimana-mana & seolah-olah nggak akan pernah selesai.

Wah, kalo dilanjut bakalan OOT.

Intinya sih, Pengkondisian Klasik dapat menolong untuk mencapai hal-hal yg sudah ditentukan. Selain itu, Pengkondisian Klasik juga sanggup menjelaskan berbagai fenomena yg sedang terjadi di lingkungan sosial. Setidaknya, melalui tulisan thread ini, agan dapat paham penyebab orang-orang yg terkena genjutsuakibat stimulus lingkungan.

Sekian~

Kemarin 23:24
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.