Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Pustaka
Geliat Agama di Tengah Wabah
Rachmanto - detikNews
Sabtu, 20 Feb 2021 08:56 WIB
Jakarta-
Judul Buku:Virus, Manusia, Tuhan: Refleksi Lintas Iman tentang Covid-19; Editor : Dicky Sofjan & Muhammad Wildan; Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia, Desember, 2020; Tebal : xx + 338
Pandemi kembali membuka "luka lama" hubungan agama dengan sains. Begitu pernyataan Dicky Sofjan dalam prolog buku ini. Dia mencontohkan, ada kaum agamawan yg tidak mempercayai dokter, periset medis, & epidemiolog. Mereka percaya bahwa "Allah lebih hebat dari corona", "air wudhu dapat mencegah Covid-19", "darahku bercampur dengan darah Yesus", & sebagainya.
Di sisi lain, ada kelompok saintis yg kerap memandang semua orang beriman adalah antisains & tidak dapat berdialog secara rasional mengenai Covid-19. Meskipun begitu, pandemi pun menunjukkan agama dapat lentur kepada perubahan. Dia tidak stagnan yg mengakibatkannya gagal dalam mengatasi persoalan manusia. Tetapi bertahan dengan berbagai ijtihadnya.
BukuVirus, Manusia, & Tuhanini menawarkan pandangan positif tentang agama. Bahwa agama dapat memainkan peran signifikan dalam keadaan penuh tekanan bernama pandemi Covid-19. Bahwa masih ada kelompok agama yg kaku dalam memandang wabah corona memang tidak dapat dipungkiri. Tetapi masih banyak yg berpandangan terbuka hingga dapat menanggapinya dengan luwes.
Kumpulan tulisan dalam buku ini mengpakai berbagai perspektif agama yg berbeda; sudut pandang Islam, Katolik, Kristen, Konghucu, Hindu Bali, Hindu Kaharingan, Baha'i, Buddha, & juga penghayat. Dapat dikatakan, buku ini berhasil merepresentasikan sudut pandang tradisi agama & kepercayaan mengenai tema wabah virus corona.
Tidak Mengejutkan
Engkus Ruswana memaparkan tentang sistem kepercayaan & agama leluhur Nusantara. Bagi mereka, bumi adalah ibu, langit sebagai bapak, & anasir alam --api, angin, & tanah-- merupakansedulur(saudara). Jika manusia sayang dengan alam, maka alam akan memberikan kasih sayangnya kembali. Tetapi saat manusia mengerjakan kejahatan kepada alam, alam niscaya membalasnya.
Bagi penganut penghayat kepercayaan, kehadiran pandemi Covid-19 bukan hal yg mengejutkan. Penyebabnya, perilaku alam yg berubah akibat perilaku manusia. Seperti meningkatnya suhu udara, ketidakteraturan iklim, menipisnya sumber air bersih, & berbagai bencana alam. Maka musibah wabah merupakan cara alam untuk menyeimbangkan diri. Upaya yg dilakukan dalam adaptasi kebiasaan baru & di masa-masa yg akan datang adalah dengan menghargai & mensayangi alam. Jika manusia tidak dapat mengubah sifat tamaknya, bencana demi bencana akan datang silih berganti..
Pandangan di atas memberikan peringatan keras kepada insan yg kerap mendaku sebagai makhluk tuhan dengan kewenangan tinggi atas alam. Kewenangan ini sejatinya merupakan kenikmatan & harus dilakukan secara bertanggung jawab. Apabila diabaikan, dapat berubah jadi musibah. Manusia yg tidak dapat menahan keserakahan menyebabkan dirinya berlaku semena-mena kepada alam. Mengeksploitasi tanpa henti hingga menimbulkan berbagai kerusakan alam. Jika manusia masih terus mengerjakan aksi jahatnya kepada alam, jagat raya tidak akan berhenti memberikan balasan yg setimpal.
Pandangan tersebut dapat dilihat relevansinya dengan kebijakan pemerintah selama pandemi Covid-19. Misalnya upaya menekan peredaran virus corona dilakukan denganlock down. Selama penerapan kebijakan ini, orang-orang dipaksa berdiam diri di rumah & mengurangi kegiatannya di luar. Penggunaan berbagai moda transportasi menurun. Gas buang kendaraan pun berkurang. Akhirnya, udara yg selama ini tanpa henti dikotori manusia dapat kembali bersih. Dan itulah cara alam menyeimbangkan dirinya.
Perilaku pemeluk agama saat pandemi juga perlu diperhatikan. Fatimah Husein menulis tentang Covid-19 yg menyebabkan pemisahan antar-pemeluk agama. Dia menyatakan narasi keagamaan di masa pandemi berperan memperkuat segregasi para umat beragama. Narasi keagamaan pun memperlemah ikatan hubungan antaragama yg di lapisan bawah masyarakat. Kontekstualisasi beragama (seperti diperbolehkannya mengganti Salat Jumat dengan Salat Zuhur) tertutup oleh narasi yg bersifat tunggal. Hal ini berpotensi membangun segregasi antarwarga yg berbeda agama & keyakinan.
Salah satu contohnya, dalam grup medsos yg diteliti, ada salah satu anggota yg mem-postingtentang Covid-19 berdasarkan narasi agama Protestan.Posting-an itu kemudian direspons oleh anggota lainnya dengan narasi agama Islam. Berbagaiposting-an tersebut sejatinya bertujuan untuk memberi kekuatan selama pandemi. Tetapi ketika dihinggakan melalui medsos (ruang publik), dapat menimbulkan isu antar-pemeluk agama. Dapat dikatakan, masyarakat masih belum dapat melepaskan bukti diri keagamaannya dalam ruang yg semestinya netral.
Menaburkan Harapan
Di tengah ketidakpastian mengenai kapan berakhirnya pandemi (dan Indonesia sudah menembus 1 juta kasus positif Covid-19 & munculnya varian baru di luar negeri), karya ini hadir untuk menaburkan harapan. Bahwa tradisi agama & keyakinan dapat jadi salah satu inspirasi untuk menjalani hari-hari yg penuh tantangan & ancaman. Agama yg dapat menggerakkan manusia untuk mengerjakan kebajikan & menawarkan alternatif bagi masalah global. Bukan agama yg kaku & menyeramkan (yang sering dipertontonkan segelintir kecil kalangan). Wajah agama seperti inilah yg diharapkan hadir & ditunjukkan oleh para pemeluknya. Hingga agama dapat jadi kebaikan bagi semesta alam.
Enam belas tulisan yg tersaji dalam buku ini tentu sangat sedikit dibandingkan dengan ragam respons & pemaknaan agama atas bencana. Masih banyak kajian & refleksi yg dapat disodorkan. Contoh mudah saja, buku ini belum memuat tulisan yg secara spesifik membahas dua ormas akbar di Indonesia, yaitu Nahdlatul Ulama & Muhammadiyah. Padahal keduanya berperan aktif dalam merespons pandemi Covid-19 sejak awal hingga saat ini, baik di level pusat maupun akar rumput. Satu tulisan dari Moch Nur Ichwan memang menyebut NU & Muhammadiyah, tetapi baru sepintas. Oleh sebab itu, pembaca dipersilakan mencermati isu agama & bencana lebih dalam.
Rachmantomahasiswa Doktor Kepemimpinan & Inovasi Kebijakan SPs UGM, fokus riset tentang respons komunitas agama kepada pandemi
Hari ini 16:34
Geliat Agama di Tengah Wabah
Rachmanto - detikNews
Sabtu, 20 Feb 2021 08:56 WIB
Jakarta-
Judul Buku:Virus, Manusia, Tuhan: Refleksi Lintas Iman tentang Covid-19; Editor : Dicky Sofjan & Muhammad Wildan; Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia, Desember, 2020; Tebal : xx + 338
Pandemi kembali membuka "luka lama" hubungan agama dengan sains. Begitu pernyataan Dicky Sofjan dalam prolog buku ini. Dia mencontohkan, ada kaum agamawan yg tidak mempercayai dokter, periset medis, & epidemiolog. Mereka percaya bahwa "Allah lebih hebat dari corona", "air wudhu dapat mencegah Covid-19", "darahku bercampur dengan darah Yesus", & sebagainya.
Di sisi lain, ada kelompok saintis yg kerap memandang semua orang beriman adalah antisains & tidak dapat berdialog secara rasional mengenai Covid-19. Meskipun begitu, pandemi pun menunjukkan agama dapat lentur kepada perubahan. Dia tidak stagnan yg mengakibatkannya gagal dalam mengatasi persoalan manusia. Tetapi bertahan dengan berbagai ijtihadnya.
BukuVirus, Manusia, & Tuhanini menawarkan pandangan positif tentang agama. Bahwa agama dapat memainkan peran signifikan dalam keadaan penuh tekanan bernama pandemi Covid-19. Bahwa masih ada kelompok agama yg kaku dalam memandang wabah corona memang tidak dapat dipungkiri. Tetapi masih banyak yg berpandangan terbuka hingga dapat menanggapinya dengan luwes.
Kumpulan tulisan dalam buku ini mengpakai berbagai perspektif agama yg berbeda; sudut pandang Islam, Katolik, Kristen, Konghucu, Hindu Bali, Hindu Kaharingan, Baha'i, Buddha, & juga penghayat. Dapat dikatakan, buku ini berhasil merepresentasikan sudut pandang tradisi agama & kepercayaan mengenai tema wabah virus corona.
Tidak Mengejutkan
Engkus Ruswana memaparkan tentang sistem kepercayaan & agama leluhur Nusantara. Bagi mereka, bumi adalah ibu, langit sebagai bapak, & anasir alam --api, angin, & tanah-- merupakansedulur(saudara). Jika manusia sayang dengan alam, maka alam akan memberikan kasih sayangnya kembali. Tetapi saat manusia mengerjakan kejahatan kepada alam, alam niscaya membalasnya.
Bagi penganut penghayat kepercayaan, kehadiran pandemi Covid-19 bukan hal yg mengejutkan. Penyebabnya, perilaku alam yg berubah akibat perilaku manusia. Seperti meningkatnya suhu udara, ketidakteraturan iklim, menipisnya sumber air bersih, & berbagai bencana alam. Maka musibah wabah merupakan cara alam untuk menyeimbangkan diri. Upaya yg dilakukan dalam adaptasi kebiasaan baru & di masa-masa yg akan datang adalah dengan menghargai & mensayangi alam. Jika manusia tidak dapat mengubah sifat tamaknya, bencana demi bencana akan datang silih berganti..
Pandangan di atas memberikan peringatan keras kepada insan yg kerap mendaku sebagai makhluk tuhan dengan kewenangan tinggi atas alam. Kewenangan ini sejatinya merupakan kenikmatan & harus dilakukan secara bertanggung jawab. Apabila diabaikan, dapat berubah jadi musibah. Manusia yg tidak dapat menahan keserakahan menyebabkan dirinya berlaku semena-mena kepada alam. Mengeksploitasi tanpa henti hingga menimbulkan berbagai kerusakan alam. Jika manusia masih terus mengerjakan aksi jahatnya kepada alam, jagat raya tidak akan berhenti memberikan balasan yg setimpal.
Pandangan tersebut dapat dilihat relevansinya dengan kebijakan pemerintah selama pandemi Covid-19. Misalnya upaya menekan peredaran virus corona dilakukan denganlock down. Selama penerapan kebijakan ini, orang-orang dipaksa berdiam diri di rumah & mengurangi kegiatannya di luar. Penggunaan berbagai moda transportasi menurun. Gas buang kendaraan pun berkurang. Akhirnya, udara yg selama ini tanpa henti dikotori manusia dapat kembali bersih. Dan itulah cara alam menyeimbangkan dirinya.
Perilaku pemeluk agama saat pandemi juga perlu diperhatikan. Fatimah Husein menulis tentang Covid-19 yg menyebabkan pemisahan antar-pemeluk agama. Dia menyatakan narasi keagamaan di masa pandemi berperan memperkuat segregasi para umat beragama. Narasi keagamaan pun memperlemah ikatan hubungan antaragama yg di lapisan bawah masyarakat. Kontekstualisasi beragama (seperti diperbolehkannya mengganti Salat Jumat dengan Salat Zuhur) tertutup oleh narasi yg bersifat tunggal. Hal ini berpotensi membangun segregasi antarwarga yg berbeda agama & keyakinan.
Salah satu contohnya, dalam grup medsos yg diteliti, ada salah satu anggota yg mem-postingtentang Covid-19 berdasarkan narasi agama Protestan.Posting-an itu kemudian direspons oleh anggota lainnya dengan narasi agama Islam. Berbagaiposting-an tersebut sejatinya bertujuan untuk memberi kekuatan selama pandemi. Tetapi ketika dihinggakan melalui medsos (ruang publik), dapat menimbulkan isu antar-pemeluk agama. Dapat dikatakan, masyarakat masih belum dapat melepaskan bukti diri keagamaannya dalam ruang yg semestinya netral.
Menaburkan Harapan
Di tengah ketidakpastian mengenai kapan berakhirnya pandemi (dan Indonesia sudah menembus 1 juta kasus positif Covid-19 & munculnya varian baru di luar negeri), karya ini hadir untuk menaburkan harapan. Bahwa tradisi agama & keyakinan dapat jadi salah satu inspirasi untuk menjalani hari-hari yg penuh tantangan & ancaman. Agama yg dapat menggerakkan manusia untuk mengerjakan kebajikan & menawarkan alternatif bagi masalah global. Bukan agama yg kaku & menyeramkan (yang sering dipertontonkan segelintir kecil kalangan). Wajah agama seperti inilah yg diharapkan hadir & ditunjukkan oleh para pemeluknya. Hingga agama dapat jadi kebaikan bagi semesta alam.
Enam belas tulisan yg tersaji dalam buku ini tentu sangat sedikit dibandingkan dengan ragam respons & pemaknaan agama atas bencana. Masih banyak kajian & refleksi yg dapat disodorkan. Contoh mudah saja, buku ini belum memuat tulisan yg secara spesifik membahas dua ormas akbar di Indonesia, yaitu Nahdlatul Ulama & Muhammadiyah. Padahal keduanya berperan aktif dalam merespons pandemi Covid-19 sejak awal hingga saat ini, baik di level pusat maupun akar rumput. Satu tulisan dari Moch Nur Ichwan memang menyebut NU & Muhammadiyah, tetapi baru sepintas. Oleh sebab itu, pembaca dipersilakan mencermati isu agama & bencana lebih dalam.
Rachmantomahasiswa Doktor Kepemimpinan & Inovasi Kebijakan SPs UGM, fokus riset tentang respons komunitas agama kepada pandemi
Halaman Tidak Ditemukan - Detikcom
Mohon Maaf, halaman tidak tersedia atau URL yang Anda inputkan salah.
news.detik.com