• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Berita Gedung SMP Ini Hanya Pakai Bambu dan Alang-Alang

facebookeb

IndoForum Senior A
No. Urut
210735
Sejak
9 Jan 2013
Pesan
7.471
Nilai reaksi
100
Poin
48
bCgNp.jpg

Tiga Unit Gedung SMP Negeri Oenenu, Kecamatan Bikomi Tengah, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur, Yang Mirip Kandang Ayam.
Tak ada rotan, akar pun jadi. Pepatah ini pas disematkan untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri Oenenu, Desa Oenenu, Kecamatan Bikomi Tengah, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur.

Betapa tidak. Lantaran ruang sekolah yang terbatas dan bersesakan antara para siswanya, orang tua siswa akhirnya melakukan swadaya dengan membangun ruangan sekolah baru agar anaknya tetap bisa mengenyam pendidikan layak.

Tak tanggung-tanggung, bukan gedung permanen, berplafon dan berlantai keramik yang dibangun, tetapi orangtua siswa malah membangun tiga ruangan baru yang beratapkan ilalang dan berdinding bambu, sepintas mirip kandang ayam.

Para orangtua beralasan bahwa proposal pembangunan sekolah yang selama ini diajukan berulang kali ke Pemerintah Daerah (Pemda) setempat, tak pernah sekalipun mendapat respon yang positif.

Ketua Komite SMP Negeri Oenenu, Beediktus Kapitan, kepada Kompas.com, Rabu (14/8/2013) mengatakan orangtua murid terpaksa membangun ruangan darurat itu karena tiga unit bangunan permanen sempit yang dimiliki sekolah tersebut tak cukup untuk melakukan kegiatan belajar mengajar (KBM) secara sehat. Terlebih jumlah siswa yang mencapai 160 siswa.

“Tiga ruang permanen itu hanya bisa menampung kelas VIII A dan B, serta kelas IX A dan B, sementara kelas VII A, B dan C tidak mendapatkan ruangan sehingga kita swadaya bangun ruangan darurat ini,” kata Kapitan.

"Kita dari komite sekolah, sudah ajukan proposal baik ke pemerintah daerah maupun ke Dirjen Pendidikan di Jakarta, namun hingga saat ini tidak ada kabar berita,” ungkap Kapitan.

Menurut Kapitan, semua orangtua siswa juga mempertanyakan ke mana mengalirnya danang pendidikan nasional sebesar Rp344 triliun, sehingga satupun proposal untuk meminta bantuan pembangunan ruang kelas untuk sekolah juga tidak pernah mendapat tanggapan serius dari pemerintah.

Hal yang sama juga disampaikan Marsel Ato, salah satu orangtua siswa yang meminta agar sekolah yang berada di perbatasan RI dan Timor Leste bisa menjadi prioritas utama pembangunan.

"Bagaimana kualitas sumber daya manusia, khususnya generasi muda mau bagus kalau bangunannya saja terbatas, sehingga kami minta tolong sampaikan keluhan kami, hari ini kami bangun ruang darurat, mungkin bertahan satu tahun saja, kemudian roboh, sebab terbuat dari ilalang dan bambu. Kalau bisa ada sedikit bantuan mengalir ke sekolah di perbatasan, seperti SMP Oenenu," harap Ato.

Ato mengatakan, tiga bangunan ini dibuat seadanya, dengan atap memakai ilalang, berdinding bambu, sementara kursi dan meja, memakai kayu berukuran sedang.

Terkait dengan hal itu, Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (PPO) Kabupaten TTU, Vinsensius Saba, mengaku kalau proposal itu telah ada di dinas, namun belum ditindaklanjuti. “Proposal sudah ada pada kita dan sudah dikirim ke Jakarta, tetapi sampai saat ini belum ada jawaban,” kata Saba.
 
miris banget ya .. btw kita udah merdeka berapa tahun ya ?
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.