Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Sejak masih jadi Panglima TNI, saya jujur heran dengan gerak gerik Gatot Nurmantyo.
Gatot pada masa-masa mendekati akhir jabatannya, begitu gencar membangun narasi kebangkitan PKI, seolah-olah partai komunis yg sudah dibubarkan sejak 1966 itu masih ada & harap bangkit kembali.
Bahkan pada bulan November 2017, saat masih menjabat, ia gencar mempromosikan nobar film PKI yg dibuat pada tahun 1984. "Kalau itu perintah saya, mau apa memangnya ??" Begitu mengatakan Gatot saat diwawancarai oleh media dengan nada yg condong arogan.
Yang menarik, pada bulan November 2018, meski sudah tidak menjabat sebagai Panglima TNI, ia menantang KSAD yg waktu itu dijabat Jenderal Mulyono, untuk melepas pangkatnya kalau tidak berani menggelar nobar PKI.
Ada apa sebenarnya dengan beliau ??
Nah, kejadian ini tambah menarik perhatian saya ketika Gatot Nurmantyo mengomentari pernyataan mantan Kepala BIN, AM Hendropriyono bahwa Pemilu kali ini bukan tentang Jokowi & Prabowo, tetapi pertarungan ideologi Pancasila melawan Khilafah.
Gatot komentar di laman Instagramnya membalas pernyataan Hendropriyono, "Jangan mau dipecah belah sama orang-orang yg dahaga kekuasaan !!"
Ia juga menambahkan dengan mengupload potongan surat kabar lama yg berisi pernyataan almarhum Jenderal AH Nasution, bahwa "PKI secara menipu mempertentangkan Pancasila & Islam".
Bagi Gatot, yg pernah diberi gelar "Jenderal Islam" oleh para pendukungnya, PKI adalah biang segala masalah, termasuk permasalahan saat ini saat munculnya teori ada gerakan Khilafah di belakang kubu Prabowo yg menguat pasca dibubarkannya HTI oleh Jokowi pada tahun 2017.
Gatot seolah-olah "buta" bahwa tanpa ada PKI, di Timur Tengah gerakan pendirian negara Islam sudah memecah Suriah jadi berkeping-keping dengan pertarungan ISIS & Alqaeda, yg sama-sama beragama Islam & mengusung agenda khilafah versi mereka masing-masing.
Kedua organisasi teroris itu selain berhadap-hadapan & saling memenggal, mereka juga sama-sama bertempur melawan pemerintahan Suriah yg sah.
Lalu, apa yg salah dari pernyataan AM Hendropriyono, bahwa Pemilu kali ini adalah pertarungan Pancasila melawan Khilafah ??
Hendropriyono sebagai mantan Kepala BIN tentu punya bukti kuat adanya gerakan untuk mengganti sistem Republik ini jadi negara Islam, oleh gerakan transnasional yg diusung oleh salah satunya bernama Hizbut Thahrir.
Yang salah mungkin adalah ilusi Gatot Nurmantyo yg menganggap bahwa Islam di Indonesia itu satu, & pecahnya mereka adalah karena gerakan PKI yg mengadu domba. Padahal, tanpa ada yg mengadu domba, apalagi oleh PKI yg jejaknya saja sudah tidak ada, Islam di Indonesia sudah terpecah.
"Mana buktinya Islam di Indonesia terpecah ??" Kata seseorang dengan ngototnya.
Lah, selama ini Banser NU sedang menghadang siapa ??
Gesekan-gesekan antara Banser NU dengan simpatisan HTI terjadi dimana-mana. Di Surabaya, di Sidoarjo bahkan terjadi pembakaran bendera simbol HTI di Garut oleh Banser bulan Oktober 2018, adalah bukti bahwa sudah ada dua kekuatan yg mengusung agama "Islam" yg terjadi di arus bawah.
Bahkan Rizieq Shihab waktu di Madinah pun di videonya yg beredar mengatakan, bahwa ada dua gerakan akbar Islam yg saling menguasai yaitu Islam fundamental & Islam tradisional. Islam tradisional tentu diwakili oleh Nahdlatul Ulama, & fundamental adalah para pengusung negara Islam, atau yg sekarang ini mereka perhalus dengan nama NKRI bersyariah.
Terus, dimana PKI nya ?? Gak ada. Sama sekali tidak ada. Kalaupun ada potongan koran lama tentang pernyataan almarhum Jenderal AH Nasution bahwa PKI menipu dengan mempertentangkan Pancasila & Islam, tentu itu beda konteksnya dengan sekarang.
Dulu memang begitu ketika PKI sedang kuat-kuatnya & berhadapan dengan partai Islam Masyumi. Tapi sekarang, PKI nya saja sudah punah. PKI punah bukan saja di Indonesia, tetapi juga di Rusia, yg dulu diketahui dengan Uni Sovyet.
Jadi, pak Gatot Nurmantyo sudah salah menempatkan kondisi dulu dengan keadaan sekarang. Sekarang medan perangnya sudah berbeda, yg ada sekarang - mengacu pada apa yg terjadi pada beberapa negara di Timur Tengah seperti Suriah - adalah ideologi untuk mendirikan negara Islam melawan sistem negara yg sudah ada.
Pak Gatot "sang Jenderal Islam" hadapilah kenyataan di masa sekarang, bahwa yg terjadi di Indonesia mirip dengan awal-awal terjadi di Suriah.
Menguatnya ormas-ormas Islam fundamental yg hadir dengan model kekerasan seperti persekusi & intimidasi, juga gerakan jangka panjang untuk mendirikan negara Islam, sudah tampak jelas di depan mata.
Jangan ditutup sebelah matanya, dengan ilusi PKI mengadu domba. Hadapilah kenyataan bahwa Islam sedang ditunggangi oleh kekuatan politik mengatas-namakan agama demi kekuasaan.
Bapak mantan Panglima TNI, tentu jauh lebih mengerti karena mendapat asupan informasi yg lebih detail & akurat. Masak masih sibuk dengan pocong PKI yg melompat-lompat pun sudah tidak dapat ?
Jika harap mengatas-namakan "Islam" kenapa bapak tidak berdiri bersama Banser NU yg secara sadar bersama 4 juta anggotanya, bangkit untuk menghadapi ancaman pendukung khilafah yg memanfaatkan momen Pilpres ini untuk kembali eksis di sini ?
NU kan Islam juga ? Dan kalau masalah dengan PKI, NU jugalah yg berhadapan langsung dengan mereka saat tahun 1965.
Semoga pak Gatot Nurmantyo segera melek dengan perkembangan yg ada & tidak sibuk dengan ilusi masa lampau yg sejatinya sudah punah. Sekarang jamannya iCore pak, bukan lagi mesin ketik yg harus di tipeX karena ada salah kata.
Hari ini 05:03