Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Quote:
Ilustrasi - sumber
Lebih jahat dari galak waktu ditagih, hasil kerja keras sendiri tidak dapat dinikmati
Hai GanSis!! Ngomongin soal hutang sebenarnya agak sensitif ya. Saya ini aja mikir dua kali untuk menulis thread ini. Takut-takutnya ada yg tersinggung.
Karena kita tahu sendirilah, warga +62 memang memiliki respon yg unik terkait hutang. Mungkin saya salah ketika mengatakan "orang Indonesia geger mengurusi hutang pemerintah, tetapi sama hutangnya sendiri pura-pura lupa". Hmm.. Drama banget.
Saya bikin thread ini didasari ketika lihat berita seseorang yg menagih hutang, tetapi malah dipenjara. Saya sudah lama dengar berita ini, namun kemarin di Kaskus trending lagi (*******/iGEeH). Maka saya merasa terdorong untuk ikut menyampaikan uneg-uneg.
Heran sih, saat kita menagih hutang namun justru malah dipenjara. Memang cara menagih lewat medsos kurang etis. Namun mau bagaimana lagi kalau yg ditagih seakan tidak punya niat bayar sedari awal meminjam. Ya itu persepsi dari pelaku tersebut. Aslinya gimana saya kurang tahu.
Lebih jahat dari orang yg galak sewaktu ditagih hutang. Saya yakin GanSis sering menemukan kasus-kasus demikian. Dan tahukah GanSis yg lebih jahat dari itu semua?
Ya, seperti dituliskan pada judul thread. Karena hutang, hasil kerja keras jadi sia-sia. Kenapa gitu? Jelas saja dapat begitu, misal kita baru gajian, lalu teman pinjam uang untuk cicilan inilah itulah segala macam. Begitu juga gaji-gaji berikutnya juga dipinjam dengan drama-drama lainnya.
Lalu ada yg lebih jahat lagi, sifat orang yg suka penghutang. Tanpa pedulikan bahwa orang yg dimintai hutang juga punya kehidupan & keperluannya sendiri.
Hutang ini sangat penuh drama & dilema kalau saya pikir. Di masyarakat kita, persepsi yg terbentuk cukup absurd. Seseorang dapat dituduh pelit, atau tidak peduli antar sesama cuma karena ogah memberi pinjaman. Sementara sebaliknya, kalau memberi pinjaman, maka dilupakan.
Alhasil, semuanya jadi serba salah. Seseorang tidak mungkin dapat membahagiakan semua orang. Lucu saja, misalnya saya sudah mengumpulkan uang untuk suatu barang. Tapi disaat uang terkumpul, ada orang lain harap pinjam uang. Karena tujuan peminjaman uang bukan sesuatu yg darurat seperti sakit misalnya. Maka saya pikir, hak saya menolak memberi pinjaman. Dan bukan suatu hal baru di Indonesia, kalau besoknya saya jadi bahan gosip, ketika melihat saya belanja suatu barang. "Dimintai hutang gak dapat! tetapi belanja dapat! dasar pelit!" celoteh warga +62. *julid mode on*
*Itu cuma contoh aja
Kenapa orang-orang dapat seenak itu pinjam uang tanpa berpikir bayarnya gimana? Sementara begitu malangnya orang-orang yg punya sifat gak enakan.
Sifat gak enakan ini memang merusak banget. Jika diteruskan, kita akan dimanfaatkan oleh orang lain terus. Jatuhnya kita seperti bekerja, hasilnya untuk menyenangkan orang lain.
Memikirkan hutang ini memang ribet & penuh drama. Bagi yg memiliki hutang, siangnya terhina, malamnya gelisah. Juga dengan orang yg memberi pinjaman atau debitur, menagihnya seperti orang mengemis, padahal itu uangnya sendiri.
Angkat topi untuk orang-orang yg berbesar hati mengikhlaskan uangnya yg sudah dipinjamkan pada orang lain.
Seperti pria asal Jogja yg sudah ikhlaskan utang Rp. 16 juta yg dipinjam oleh ke 10 temannya dengan masing-masing nominal yg berbeda. Dengan alasan malas berdrama dalam penagihan hutang. Ia lebih memilih menganggap lunas hutang tersebut.
Quote:
Unggahan Teja tentang utang teman-temannya/ Foto: Facebook Teja
Memang solusi terbaik bagi kita yg kesulitan menagih hutang kepada orang lain, yakni dengan mengikhlaskannya. Terlebih kalau hutang tersebut untuk keperluan mendesak, seperti berobat misalnya.
Hanya saja rasa ikhlas merelakan hutang orang lain kepada diri kita tidak semudah itu. Apalagi saat kita memang membutuhkan sekali uang tersebut. Sementara orang yg dipinjamkan uang, justru saat punya uang malah kesannya menghamburkan uang untuk kesenangannya sendiri. Kan kesel ya.
Salahnya sih dari awal, kenapa mau pinjamkan uang kepada orang begitu? Karena gak tega? Gak enakan sama orang? Begitulah risiko, utang melayang tidak dibayarkan.
Demi menghindari kondisi demikian. Solusinya kita harus lebih bijak & selektif meminjamkan uang. Jangan asal selama ada uang, langsung dikasihkan gitu aja, supaya dianggap dermawan. Gak gitu juga.
Menolong orang ada banyak cara. Sebaliknya, ketika kita manja-manjain orang lain dengan memberikan uang, justru itu tidak mendewasakan orang lain. Niat awal mungkin kita mau membantu, ketika ada datang orang untuk pinjam uang dengan alasan buat makan. Rasa empati ini akan muncul untuk membantu.
Tapi kadang kita keliru dalam menolong orang. Mereka yg ditolong mungkin saja memang susah beneran. Namun susahnya itu, susah yg dibuat-buat. Disebabkan gaya hidup yg hedon misalnya & tidak dapat mengatur keuangan. Uang berapapun habis cuma untuk keperluan tidak esensial. Sampai untuk makannya saja tidak ada lagi uang tersisa.
Oke GanSis, seperti biasa thread saya memang suka kepanjangan. Ini karena saya menulis memang tujuannya buat menuangkan segala uneg-uneg. Kalau ada yg baca ya alhamdulillah.
Sadar gak sih, selama ini kita terlalu sibuk bagaimana cara dapatkan uang & mengumpulkan harta. Hingga lupa caranya mengatur keuangan. Di kondisi normal mungkin tidak masalah, tiap bulan terima gaji. Penghasilan usaha juga ada. Cicilan jadi lancar. Tanpa nabung pun gak masalah. Pokoknya untuk hidup hari ini.
Tapi hidupkan tidak selamanya normal & berjalan mulus. Seperti sekarang, dunia tengah krisis kesehatan & ekonomi. Saat seperti ini baru sadar betapa penting menabung, menyiapkan danang darurat & berhemat. Menabung itu seperti sedekah, tidak harus menunggu ketika punya banyak uang. Justru sebaliknya. Hari ini 06:14
Lebih jahat dari galak waktu ditagih, hasil kerja keras sendiri tidak dapat dinikmati
Hai GanSis!! Ngomongin soal hutang sebenarnya agak sensitif ya. Saya ini aja mikir dua kali untuk menulis thread ini. Takut-takutnya ada yg tersinggung.
Karena kita tahu sendirilah, warga +62 memang memiliki respon yg unik terkait hutang. Mungkin saya salah ketika mengatakan "orang Indonesia geger mengurusi hutang pemerintah, tetapi sama hutangnya sendiri pura-pura lupa". Hmm.. Drama banget.
Saya bikin thread ini didasari ketika lihat berita seseorang yg menagih hutang, tetapi malah dipenjara. Saya sudah lama dengar berita ini, namun kemarin di Kaskus trending lagi (*******/iGEeH). Maka saya merasa terdorong untuk ikut menyampaikan uneg-uneg.
Heran sih, saat kita menagih hutang namun justru malah dipenjara. Memang cara menagih lewat medsos kurang etis. Namun mau bagaimana lagi kalau yg ditagih seakan tidak punya niat bayar sedari awal meminjam. Ya itu persepsi dari pelaku tersebut. Aslinya gimana saya kurang tahu.
Lebih jahat dari orang yg galak sewaktu ditagih hutang. Saya yakin GanSis sering menemukan kasus-kasus demikian. Dan tahukah GanSis yg lebih jahat dari itu semua?
Ya, seperti dituliskan pada judul thread. Karena hutang, hasil kerja keras jadi sia-sia. Kenapa gitu? Jelas saja dapat begitu, misal kita baru gajian, lalu teman pinjam uang untuk cicilan inilah itulah segala macam. Begitu juga gaji-gaji berikutnya juga dipinjam dengan drama-drama lainnya.
Lalu ada yg lebih jahat lagi, sifat orang yg suka penghutang. Tanpa pedulikan bahwa orang yg dimintai hutang juga punya kehidupan & keperluannya sendiri.
Hutang ini sangat penuh drama & dilema kalau saya pikir. Di masyarakat kita, persepsi yg terbentuk cukup absurd. Seseorang dapat dituduh pelit, atau tidak peduli antar sesama cuma karena ogah memberi pinjaman. Sementara sebaliknya, kalau memberi pinjaman, maka dilupakan.
Alhasil, semuanya jadi serba salah. Seseorang tidak mungkin dapat membahagiakan semua orang. Lucu saja, misalnya saya sudah mengumpulkan uang untuk suatu barang. Tapi disaat uang terkumpul, ada orang lain harap pinjam uang. Karena tujuan peminjaman uang bukan sesuatu yg darurat seperti sakit misalnya. Maka saya pikir, hak saya menolak memberi pinjaman. Dan bukan suatu hal baru di Indonesia, kalau besoknya saya jadi bahan gosip, ketika melihat saya belanja suatu barang. "Dimintai hutang gak dapat! tetapi belanja dapat! dasar pelit!" celoteh warga +62. *julid mode on*
*Itu cuma contoh aja
Kenapa orang-orang dapat seenak itu pinjam uang tanpa berpikir bayarnya gimana? Sementara begitu malangnya orang-orang yg punya sifat gak enakan.
Sifat gak enakan ini memang merusak banget. Jika diteruskan, kita akan dimanfaatkan oleh orang lain terus. Jatuhnya kita seperti bekerja, hasilnya untuk menyenangkan orang lain.
Memikirkan hutang ini memang ribet & penuh drama. Bagi yg memiliki hutang, siangnya terhina, malamnya gelisah. Juga dengan orang yg memberi pinjaman atau debitur, menagihnya seperti orang mengemis, padahal itu uangnya sendiri.
Angkat topi untuk orang-orang yg berbesar hati mengikhlaskan uangnya yg sudah dipinjamkan pada orang lain.
Seperti pria asal Jogja yg sudah ikhlaskan utang Rp. 16 juta yg dipinjam oleh ke 10 temannya dengan masing-masing nominal yg berbeda. Dengan alasan malas berdrama dalam penagihan hutang. Ia lebih memilih menganggap lunas hutang tersebut.
Quote:
Memang solusi terbaik bagi kita yg kesulitan menagih hutang kepada orang lain, yakni dengan mengikhlaskannya. Terlebih kalau hutang tersebut untuk keperluan mendesak, seperti berobat misalnya.
Hanya saja rasa ikhlas merelakan hutang orang lain kepada diri kita tidak semudah itu. Apalagi saat kita memang membutuhkan sekali uang tersebut. Sementara orang yg dipinjamkan uang, justru saat punya uang malah kesannya menghamburkan uang untuk kesenangannya sendiri. Kan kesel ya.
Salahnya sih dari awal, kenapa mau pinjamkan uang kepada orang begitu? Karena gak tega? Gak enakan sama orang? Begitulah risiko, utang melayang tidak dibayarkan.
Demi menghindari kondisi demikian. Solusinya kita harus lebih bijak & selektif meminjamkan uang. Jangan asal selama ada uang, langsung dikasihkan gitu aja, supaya dianggap dermawan. Gak gitu juga.
Menolong orang ada banyak cara. Sebaliknya, ketika kita manja-manjain orang lain dengan memberikan uang, justru itu tidak mendewasakan orang lain. Niat awal mungkin kita mau membantu, ketika ada datang orang untuk pinjam uang dengan alasan buat makan. Rasa empati ini akan muncul untuk membantu.
Tapi kadang kita keliru dalam menolong orang. Mereka yg ditolong mungkin saja memang susah beneran. Namun susahnya itu, susah yg dibuat-buat. Disebabkan gaya hidup yg hedon misalnya & tidak dapat mengatur keuangan. Uang berapapun habis cuma untuk keperluan tidak esensial. Sampai untuk makannya saja tidak ada lagi uang tersisa.
Oke GanSis, seperti biasa thread saya memang suka kepanjangan. Ini karena saya menulis memang tujuannya buat menuangkan segala uneg-uneg. Kalau ada yg baca ya alhamdulillah.
Sadar gak sih, selama ini kita terlalu sibuk bagaimana cara dapatkan uang & mengumpulkan harta. Hingga lupa caranya mengatur keuangan. Di kondisi normal mungkin tidak masalah, tiap bulan terima gaji. Penghasilan usaha juga ada. Cicilan jadi lancar. Tanpa nabung pun gak masalah. Pokoknya untuk hidup hari ini.
Tapi hidupkan tidak selamanya normal & berjalan mulus. Seperti sekarang, dunia tengah krisis kesehatan & ekonomi. Saat seperti ini baru sadar betapa penting menabung, menyiapkan danang darurat & berhemat. Menabung itu seperti sedekah, tidak harus menunggu ketika punya banyak uang. Justru sebaliknya. Hari ini 06:14