Panjangnya rantai distribusi dan tingginya biaya logistik di dalam negeri membuat peringkat daya saing industri makanan dan minuman (mamin) masih di bawah Malaysia, Brunei Darussalam dan Thailand.
Daya saing industri makanan dan minuman Indonesia menduduki peringkat 50, masih di bawah negara kompetitor utama seperti Malaysia yang ada di peringkat 25, Brunei Darussalam peringkat 28, dan Thailand peringkat 38, kata Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI), Adhi S. Lukman, di Jakarta, Senin.
"Sistem distribusi yang memerlukan waktu lama membuat biaya logistik semakin tinggi," katanya.
Faktor distribusi yang panjang, menurut Adhi, meningkatkan harga produk hingga 15 persen, yang memicu penurunan daya saing produk mamin Indonesia.
"Di negara Asia Tenggara rata-rata kenaikan harga produk hanya 7 persen, bahkan Jepang dan Malaysia hanya 5 persen," ujarnya
Daya saing industri makanan dan minuman Indonesia menduduki peringkat 50, masih di bawah negara kompetitor utama seperti Malaysia yang ada di peringkat 25, Brunei Darussalam peringkat 28, dan Thailand peringkat 38, kata Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI), Adhi S. Lukman, di Jakarta, Senin.
"Sistem distribusi yang memerlukan waktu lama membuat biaya logistik semakin tinggi," katanya.
Faktor distribusi yang panjang, menurut Adhi, meningkatkan harga produk hingga 15 persen, yang memicu penurunan daya saing produk mamin Indonesia.
"Di negara Asia Tenggara rata-rata kenaikan harga produk hanya 7 persen, bahkan Jepang dan Malaysia hanya 5 persen," ujarnya