yan raditya
IndoForum Addict E
- No. Urut
- 163658
- Sejak
- 31 Jan 2012
- Pesan
- 24.461
- Nilai reaksi
- 72
- Poin
- 48
Proses pengadilan terhadap tujuh ilmuwan itu memicu kontroversi. Komunitas ilmiah internasional mengatakan, sejauh ini gempa bumi tidak dapat diprediksi dan para pakar itu telah dijadikan kambing hitam atas bencana alam yang tak terduga.
Pihak yang mendukung proses hukum itu mengatakan, dengan mengecilkan risiko, para ilmuwan tersebut telah menyebabkan ratusan orang tewas pada 6 April 2009 pada pukul 03.32 saat gempa itu terjadi. Gempat tersebut menghancurkan bagunan yang telah berusia berabad-abad serta blok apartemen modern.
Dalam tuntutannya, jaksa menuduh para ilmuwan itu memberikan "analisa yang tidak lengkap, tidak layak, tidak sesuai dan salah" tentang puluhan getaran (tremor) yang mengguncang kota pegunungan itu pada hari-hari sebelum gempa berkekuatan 6,3 itu.
Pakar geologi dan vulkanologi menjadi anggota sebuah komite khusus tentang bencana alam yang mengadakan pertemuan darurat di L'Aquila enam hari sebelum kota itu dan desa-desa sekitarnya hancur. Dalam sebuah penilaian yang meyakinkan warga, mereka menyatakan tidak mungkin untuk menentukan apakah getaran-getaran itu akan disusul dengan sebuah gempa besar.
Saran komite itu digambarkan oleh Jaksa Fabio Picuti sebagai "banal, tidak berguna, self-contradictory, dan keliru.
Surat dakwaan menyatakan bahwa Enzo Boschi, anggota panel itu dan mantan direktur Institut Nasional Geofisika dan Vulkanologi, telah mengatakan kepada warga, "Saya akan menolak (kemungkinan) adanya sebuah gempa bumi."
Picuti mengatakan, "Orang-orang tewas karena kalimat ini".
Para ilmuwan di seluruh dunia mengecam proses pengadilan itu sebagai tidak adil. Mereka berpendapat, teknologi tidak memungkinkan untuk prediksi gempa. Tahun lalu, lebih dari 5000 ilmuwan mengirim surat terbuka kepada Presiden Italia, Giorgio Napolitano, yang isinya mengecam pengadilan tersebut.