• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

FOTO: Kelaparan Ancam Bayi Somalia

XiaoYanZi

IndoForum Beginner A
No. Urut
144616
Sejak
14 Jul 2011
Pesan
1.118
Nilai reaksi
38
Poin
48
117923_bayi-bayi-somalia_300_225.jpg


VIVAnews --Alih-alih senyum menggemaskan, yang terpancar di wajah bayi tujuh bulan itu justru ekspresi ngeri yang memprihatinkan. Pipinya sama sekali tak montok seperti lazimnya bocah-bocah lain, cekung. Kepalanya nampak lebih besar dari tubuhnya, dengan sepasang mata lebar yang membelalak. Dan tubuhnya, benar-benar kurus, tinggal tujuh ons. Hanya ada kulit yang membungkus rangka dada dan tulang lengannya yang mungil.

Mihag Gedi Farah -- nama bayi itu hanya bisa diam dalam buaian sang ibu yang tak mampu berbuat banyak. "Bayiku sakit, aku sangat menderita memikirkannya," kata Asiah Dagane, ibu Mihag, seperti dimuat Daily Mail, 27 Juli 2011.

Asiah membawa Mihag dan empat anaknya yang lain dari Kismayo, Somalia ke Kenya, setelah semua domba dan hewan ternak mereka mati. Mereka harus menempuh jarak seminggu untuk mencapai kamp bantuan internasional. Dengan berjalan kaki.

Menurut perawat yang menanganinya, Mihag menderita malnutrisi sangat parah. Perawat dari International Rescue Comitte, Sirat Amine mengatakan, kesempatan Mihag untuk bertahan hidup hanya 50 persen. "Tentunya kami tak memberitahu ibunya, bahwa bayi itu mungkin tak akan bertahan. Yang bisa kami lakukan, terus memberi mereka harapan," tambah dia.

Penderitaan tak hanya dialami Mihag seorang. Ia hanya satu 800.000 anak Afrika yang terancam tewas kelaparan. Kekeringan panjang, yang terburuk selama beberapa dekade, membuat tanaman mati, sumber air kering kerontang bagai gurun. Hewan-hewan ternak pun takluk. Tak ada lagi yang bisa dimakan.

Para relawan bergegas membawa bantuan ke daerah daerah berbahaya, yang sebelumnya tak bisa dijangkau di Somalia, demi menyelamatkan nyawa-nyawa yang terancam.

Masih banyak anak-anak dan orang dewasa kelaparan yang tetap bertahan di Somalia -- jauh dari makanan dan dokter rumah sakit lapangan di kamp-kamp pengungsi di Kenya dan Ethiopia.

PBB memperkirakan lebih dari 11 juta orang di Afrika Timur terdampak kemarau, 3,7 juta lainnya berada di Somalia. Mereka adalah yang paling berisiko tewas kelaparan. Sebab, tak hanya kekeringan yang dihadapi, juga perang saudara yang berlarut-larut.

Kekeringan di Somalia berubah menjadi malapetaka sebab, baik pemerintah maupun organisasi internasional tak bisa menjagkau daerah yang dikuasai militan Al Shabab -- yang diduga berafiliasi dengan Al Qaeda. Para relawan internasional bahkan bertaruh nyawa, sebab pasukan pemberontak tak segan membunuh mereka.

Akhir pekan ini, PBB akan mengangkut makanan darurat ke setidaknya 170 ribu dari 2,2 juta warga Somalia yang belum tersentuh bantuan.

Operasi pemberian ransum ke empat kabupaten di Somalia selatan akan dimulai Kamis 28 Juli 2011, namun transportasi menjadi kendala utama. Ranjau darat memutuskan jalan-jalan utama. Sementara landasan bandara rusak parah dan tak bisa didarati pesawat.

Dalam 12 bulan mendatang, PBB menargetkan pengumpulan bantuan sebesar US$1,6 miliar untuk mengatasi krisis di kawasan 'Tanduk Afrika'. Atau makin banyak nyawa yang akan melayang.

117923_bayi-bayi-somalia.jpg

117927_bayi-bayi-somalia.jpg

117926_bayi-bayi-somalia.jpg

117925_bayi-bayi-somalia.jpg

117924_bayi-bayi-somalia.jpg

Mihag Gedi Farah, bayi berusia tujuh bulan yang menderita malnutrisi menjalani perawatan di Komite Penyelamatan Internasional, IRC, Kenya, Selasa 26 Juli, 2011. Foto: AP Photo/Schalk van Zuydam

117929_bayi-bayi-somalia.jpg

Ali Omar, bocah Somalia berusia tiga tahun yang menjalani perawatan di Komite Penyelamatan Internasional, IRC, di kota Dadaab, Kenya, Selasa 26 Juli, 2011. Foto: AP Photo/Farah Abdi Warsameh

117928_bayi-bayi-somalia.jpg

Bayi Somalia ini terbaring di balik kelambu di Komite Penyelamatan Internasional, IRC, di kota Dadaab, Kenya, Selasa 26 Juli, 2011. Foto: AP Photo/Schalk van Zuydam


to all children in Somalia... YOU ARE NOT ALONE.. we are here with you...
 
iya, ge..
miris banget :(
tp katanya pemerintah di sana.. kayak presiden gitu hidupnya jauh lebih makmur.. bener gak ya?
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.