Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Vaksin Nusantara sempat jadi buah bibir ditengah masyarakat Indonesia. Klaim efektifitas vaksin yg tinggi serta imunitas yg bertahan seumur hidup menciptakan sejumlah masyarakat tertarik dengan vaksin ini. Sayangnya informasi doal Vaksin Nusantara tidak diimbangi dengan informasi menyeluruh. Akhirnya terbentuk stigma bahwa vaksin ini dipersulit oleh BPOM.
Vaksin Nusantara adalah kandidat vaksin sel dendritik yg dikembangkan oleh perusahaan Amerika, Aivita Biotech. Nama vaksin ini berdasarkan situs Aivita Biotech adalah AV-COVID-19. Vaksin Nusantara tergolong vaksin sel dendritik autolog, yaitu sumber sel dendritik adalah pasien itu sendiri, berbeda dengan vaksin sel heterolog. Oleh sebab itu, vaksin Nusantara tidak dapat diproduksi secara massal.
Metode pembuatan vaksin dengan kultur sel dendritik autolog yg pastinya lebih mahal & sulit daripada vaksin konvensional (berbasis antigen) dilakukan dengan asa dapat memicu imunitas lebih kuat & bertahan lama. Sebelumnya harus kita ketahui dahulu bagaimana sistem imun adaptif bekerja. Pertama, antigen (bagian virus) yg masuk kedalam tubuh akan dideteksi oleh sel imun yg tergolong sebagai APC (antigen presenting cell). Sesuai namanya, APC akan mendeteksi & memakan (fagositosis) antigen (virus) kemudian menampilkan antigen tersebut kepada sel imun spesifik sel limfosit T sehingga teraktivasi. Berbeda dengan limfosit T, limfosit B dapat langsung mendeteksi antigen tanpa dimediasi oleh APC, bahkan limfosit B itu sendiri bekerja sebagai APC. Tetapi, limfosit B baru dapat teraktivasi kalau dibantu oleh sel limfosit T yg sudah teraktivasi jadi sel T pembantu (helper T cell). Kekebalan spesifik baru terbentuk setelah sel limfosit T & limfosit B. Pada vaksin konvensional berbasis polipeptida ataupun virus yg dimatikan (inactivated virus), antigen dimasukan ke dalam tubuh dengan asa antigen tersebut akan diburu oleh APC sebelum terdegradasi. Sementara itu, pada vaksin RNA (misal, vaksin Pfizer), RNA akan ditranslasikan oleh sel APC (misal sel dendritik) & ditampilkan kepada sel T sehingga kemampuan vaksin RNA berpotensi lebih efektif menimbulkan respon imun dibandingkan vaksin berbasis virus yg dilemahkan. Sementara itu, pada pembuatan vaksin dendritik, sel dendritik dikultur (ditumbuhkan dalam laboratorium) kemudian dipaparkan dengan antigen (virus). Setelah sel dendritik menampilkan antigen barulah sel tersebut dimasukan kembali ke dalam tubuh pasien untuk mengaktivasi sel limfosit T.
Nah jadi disini terlihat perbedaannya, kalau dua vaksin yg awal, antigen (inactivated virus) atau bakal antigen (mRNA), disuntikan kedalam tubuh & kita berharap sel dendritik atau APC lain mendeteksi. Sementara itu, vaksin sel dendritik, kita ambil sel, kita kasih makan (kultur) & kita ajari (beri antigen), tentunya akan ada lebih banyak sel dendritik yg menampilkan antigen pada vaksin sel dendritik.
Mungkin dapat diibaratkan seperti bayi tabung, sel telur dikumpulkan setelah sebelumnya dipicu hiperovulasi & dilakukan fertilisasi in vitro, keberhasilan fertilisasi lehih tinggi. Karena pada fertilisasi in vitro, sperma langsung ditembakan ke dalam sel telur, jadi sperma mager (non motile) pun dapat menggapai ovum.
Setelah mengenal vaksin dendritik, mari kita kupas fakta-fakta Vaksin Nusantara yg harus diketahui supaya jangan kita terbawa oleh misinformasi.
1. Vaksin Nusantara tidak dapat diproduksi skala besar.
Keterbatasan produk terapi sel adalah tidak dapat diproduksi secara masal. Terlebih kalau sel yg dipakai bersifat autolog sehingga proses kultur & produksi vaksin cuma dapat dilakukan di tempat pengambilan sel dari pasien. Hal ini dikarenakan oleh proses transportasi sel yg memakan biaya & berpotensi menurunkan kualitas sel. Sayangnya mantan Menteri Kesehatan Indonesia malah menyebarkan disinformasi bahwa Vaksin Nusantara dapat diproduksi 10 jt takaran per bulan.
Logikanya begini, anggaplah Indonesia adalah negara maju & punya 200 RS dengan lab kultur sel canggih. Anggap satu bulan ada 5 pekan, mari kita hitung, 10jt : (20057)= 1428 kultur sel dilakukan setiap hari di satu laboratorium sementara ada 10.000 kultur sel yg tersimpan pada inkubator. Tentunya adalah angka yg tidak realistis mengingat jumlah tenaga kerja yg terlatih untuk kultur sel di Indonesia sangat sedikit sementara kultur sel autolog tidak dapat dilakukan secara otomatis. Bahkan untuk kultur sel heterolog pun perluh SDM yg banyak untuk kontrol mutu (quality control).
2. Harga produksi vaksin nusantara lebih mahal daripada vaksin konvensional
Mahalnya vaksin sel dendritik bukan saja karena tidak dapat diproduksi masal. Tetapi modal bahan habis pakai yg dipakai memang mahal. Proses produksi dalam negeri pun tidak menjamin bahwa vaksin ini akan murah & ekonomis devisa, karena justru bahan baku produksinya impor.
Mahalnya Vaksin Nusantara kelak sebenarnya sudah dapat dilihat dari harga produk terapi sel heterolog & autolog yg sudah beredar dipasaran.
3. Vaksin Nusantara akan mendukung ketersediaan vaksin
Fakta bahwa Vaksin Nusantara tidak dapat diproduksi masal jelas menunjukan bahwa vaksin ini tidak akan berkontribusi banyak bagi ketersediaan vaksin.
4. Proses perizinan Vaksin Nusantara lebih rumit
Pengobatan berbasis sel (cell therapy) bukanlah hal yg umum, terlebih di Indonesia. Tentunya hal ini menciptakan proses perizinan lebih lambat. Jadi jangan suudzon dahulu kepada BPOM. Sebab dalam banyak kasus, bahkan regu uji klinis Vaksin Nusantara sendiri yg mengerjakan kesalahan & menghambat perizinan seperti masalah komite etik yg harusnya berada di tempat uji klinis.
Sumber:
pubmed.ncbi.nlm.nih.gov
Lihat juga:
Alasan sungai di Jakarta hitam & bau
Bagaimana Cara Mengendalikan Kali Sentiong dengan Pasang surut?
Peran kumis anjing laut Kemarin 22:57
Vaksin Nusantara adalah kandidat vaksin sel dendritik yg dikembangkan oleh perusahaan Amerika, Aivita Biotech. Nama vaksin ini berdasarkan situs Aivita Biotech adalah AV-COVID-19. Vaksin Nusantara tergolong vaksin sel dendritik autolog, yaitu sumber sel dendritik adalah pasien itu sendiri, berbeda dengan vaksin sel heterolog. Oleh sebab itu, vaksin Nusantara tidak dapat diproduksi secara massal.
Metode pembuatan vaksin dengan kultur sel dendritik autolog yg pastinya lebih mahal & sulit daripada vaksin konvensional (berbasis antigen) dilakukan dengan asa dapat memicu imunitas lebih kuat & bertahan lama. Sebelumnya harus kita ketahui dahulu bagaimana sistem imun adaptif bekerja. Pertama, antigen (bagian virus) yg masuk kedalam tubuh akan dideteksi oleh sel imun yg tergolong sebagai APC (antigen presenting cell). Sesuai namanya, APC akan mendeteksi & memakan (fagositosis) antigen (virus) kemudian menampilkan antigen tersebut kepada sel imun spesifik sel limfosit T sehingga teraktivasi. Berbeda dengan limfosit T, limfosit B dapat langsung mendeteksi antigen tanpa dimediasi oleh APC, bahkan limfosit B itu sendiri bekerja sebagai APC. Tetapi, limfosit B baru dapat teraktivasi kalau dibantu oleh sel limfosit T yg sudah teraktivasi jadi sel T pembantu (helper T cell). Kekebalan spesifik baru terbentuk setelah sel limfosit T & limfosit B. Pada vaksin konvensional berbasis polipeptida ataupun virus yg dimatikan (inactivated virus), antigen dimasukan ke dalam tubuh dengan asa antigen tersebut akan diburu oleh APC sebelum terdegradasi. Sementara itu, pada vaksin RNA (misal, vaksin Pfizer), RNA akan ditranslasikan oleh sel APC (misal sel dendritik) & ditampilkan kepada sel T sehingga kemampuan vaksin RNA berpotensi lebih efektif menimbulkan respon imun dibandingkan vaksin berbasis virus yg dilemahkan. Sementara itu, pada pembuatan vaksin dendritik, sel dendritik dikultur (ditumbuhkan dalam laboratorium) kemudian dipaparkan dengan antigen (virus). Setelah sel dendritik menampilkan antigen barulah sel tersebut dimasukan kembali ke dalam tubuh pasien untuk mengaktivasi sel limfosit T.
Nah jadi disini terlihat perbedaannya, kalau dua vaksin yg awal, antigen (inactivated virus) atau bakal antigen (mRNA), disuntikan kedalam tubuh & kita berharap sel dendritik atau APC lain mendeteksi. Sementara itu, vaksin sel dendritik, kita ambil sel, kita kasih makan (kultur) & kita ajari (beri antigen), tentunya akan ada lebih banyak sel dendritik yg menampilkan antigen pada vaksin sel dendritik.
Mungkin dapat diibaratkan seperti bayi tabung, sel telur dikumpulkan setelah sebelumnya dipicu hiperovulasi & dilakukan fertilisasi in vitro, keberhasilan fertilisasi lehih tinggi. Karena pada fertilisasi in vitro, sperma langsung ditembakan ke dalam sel telur, jadi sperma mager (non motile) pun dapat menggapai ovum.
Setelah mengenal vaksin dendritik, mari kita kupas fakta-fakta Vaksin Nusantara yg harus diketahui supaya jangan kita terbawa oleh misinformasi.
1. Vaksin Nusantara tidak dapat diproduksi skala besar.
Keterbatasan produk terapi sel adalah tidak dapat diproduksi secara masal. Terlebih kalau sel yg dipakai bersifat autolog sehingga proses kultur & produksi vaksin cuma dapat dilakukan di tempat pengambilan sel dari pasien. Hal ini dikarenakan oleh proses transportasi sel yg memakan biaya & berpotensi menurunkan kualitas sel. Sayangnya mantan Menteri Kesehatan Indonesia malah menyebarkan disinformasi bahwa Vaksin Nusantara dapat diproduksi 10 jt takaran per bulan.
Logikanya begini, anggaplah Indonesia adalah negara maju & punya 200 RS dengan lab kultur sel canggih. Anggap satu bulan ada 5 pekan, mari kita hitung, 10jt : (20057)= 1428 kultur sel dilakukan setiap hari di satu laboratorium sementara ada 10.000 kultur sel yg tersimpan pada inkubator. Tentunya adalah angka yg tidak realistis mengingat jumlah tenaga kerja yg terlatih untuk kultur sel di Indonesia sangat sedikit sementara kultur sel autolog tidak dapat dilakukan secara otomatis. Bahkan untuk kultur sel heterolog pun perluh SDM yg banyak untuk kontrol mutu (quality control).
2. Harga produksi vaksin nusantara lebih mahal daripada vaksin konvensional
Mahalnya vaksin sel dendritik bukan saja karena tidak dapat diproduksi masal. Tetapi modal bahan habis pakai yg dipakai memang mahal. Proses produksi dalam negeri pun tidak menjamin bahwa vaksin ini akan murah & ekonomis devisa, karena justru bahan baku produksinya impor.
Mahalnya Vaksin Nusantara kelak sebenarnya sudah dapat dilihat dari harga produk terapi sel heterolog & autolog yg sudah beredar dipasaran.
3. Vaksin Nusantara akan mendukung ketersediaan vaksin
Fakta bahwa Vaksin Nusantara tidak dapat diproduksi masal jelas menunjukan bahwa vaksin ini tidak akan berkontribusi banyak bagi ketersediaan vaksin.
4. Proses perizinan Vaksin Nusantara lebih rumit
Pengobatan berbasis sel (cell therapy) bukanlah hal yg umum, terlebih di Indonesia. Tentunya hal ini menciptakan proses perizinan lebih lambat. Jadi jangan suudzon dahulu kepada BPOM. Sebab dalam banyak kasus, bahkan regu uji klinis Vaksin Nusantara sendiri yg mengerjakan kesalahan & menghambat perizinan seperti masalah komite etik yg harusnya berada di tempat uji klinis.
Sumber:
Dendritic cell vaccine immunotherapy; the beginning of the end of cancer and COVID-19. A hypothesis - PubMed
Immunotherapy is the newest approach to combat cancer. It can be achieved using several strategies, among which is the dendritic cell (DC) vaccine therapy. Several clinical trials are ongoing using DC vaccine therapy either as a sole agent or in combination with other interventions to tackle...
Lihat juga:
Alasan sungai di Jakarta hitam & bau
Bagaimana Cara Mengendalikan Kali Sentiong dengan Pasang surut?
Peran kumis anjing laut Kemarin 22:57