Rosetta
IndoForum Beginner C
- No. Urut
- 2047
- Sejak
- 10 Jun 2006
- Pesan
- 716
- Nilai reaksi
- 20
- Poin
- 18
Seks bebas di kalangan anak-anak kian mengkhawatirkan.
Sebanyak 62.7% anak-anak SMP yang masih bau kencur mengaku pernah berhubungan seks.
Kemajuan dan kemudahan teknologi, khususnya internet dan telepon seluler, budaya konsumtif, iklan-iklan di ruang publik, serta sikap permisif (serba boleh) membuat anak-anak semakin mudah tergelincir ke dalam praktik seks bebas.
Kasus 18 siswi SMPN Tambora, Jakarta Barat, yang mengundurkan diri dari sekolah karena ketahuan terlibat prostitusi, hanyalah puncak gunung es. Budaya konsumtif akibat gaya hidup hedonisme memerlukan biaya mahal.
Untuk memenuhi keinginan itu, anak-anak menjual kegadisannya senilai Rp. 2 juta. Tidak hanya itu, seks kemudian menjadi mesin uang, mereka bersedia dibayar Rp. 300 ribu sekali kencan.
Cerita di atas bukan menakut-nakuti orang tua. Bahkan hasil sejumlah survey menunjukkan tingkat seks bebas sudah merasuk sampai ke tingkat anak-anak SMP.
Sekjen Komisi Nasional Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait mengungkapkan survey yang dilakukan pihaknya terhadap 4.726 anak SMP dan SMA di 12 kota besar di Tanah Air pada Januari - Juni 2008 kemarin menunjukkan 62.7% anak SMP sudah pernah melakukan hubungan seks, 21.2% anak SMA mengaku pernah melakukan aborsi, dan 97% anak SMP dan SMA mengaku pernah menonton film porno.
Data yang dirangkum Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) pun tidak jauh berbeda. Menurut Deputi Bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi BKKBN Muhammad Basir Palu, BKKBN menyimpulkan 60% remaja telah mempraktikkan seks bebas sebelum menikah. Akibatnya adalah kehamilan yang tidak dikehendaki, aborsi, dan lain-lain.
Data lain ditunjukkan jaringan Jangan Bugil di Depan Kamera. Menurut Sony Set, pendiri jaringan itu, setiap tahun terjadi sekitar 2.5 juta kasus aborsi di Indonesia dan dari jumlah itu sebanyak 60% dilakukan remaja.
Banyak faktor
Selain faktor ekonomi dan gaya hidup hedonisme, perilaku seks bebas anak-anak SMP juga disebabkan kian dikesampingkannya ajaran budi pekerti di sekolah.
"Fakta hasil survey itu jelas menyentak hati masyarakat awam. Bangsa ini yang terkenal religius ternyata dalam dunia anak-anak di bawa usia 18 tahun ada perilaku moral yang mengkhawatirkan," kata Arist Merdeka Sirait prihatin.
Aris menunjuk kasus siswi SMPN Tambora, Jakarta Barat, yang berlatar kebutuhan konsumtif. "Ini suatu fenomena. Anak ingin dianggap keren dengan memiliki handphone atau bersepatu bermerek. Mereka memilih jalan instan," ujarnya.
Meski anak-anak tersebut jatuh dalam perilaku seks bebas, lanjutnya, tidak seharusnya sekolah ikut menghukum dengan mengeluarkan mereka dari sekolah. Baik Aris maupun Deputi Bidang Perlindungan Anak Kementrian Pemberdayaan Perempuan Surjadi Soeparman mengatakan jika sekolah mendepak anak-anak itu, berarti sekolah menjerumuskan mereka menjadi pekerja seks professional. Sekolah harus menjadi benteng anak-anak dari tindak prostitusi.
Pihak sekolah mengeluarkan anak-anak yang terjerumus dalam seks bebas itu semata-mata untuk menyelamatkan reputasi sekolah padahal anak-anak itu hanyalah korban.
Direktur Eksekutif Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Inne Silviane menambahkan minimnya pengetahuan anak SMP tentang kesehatan reproduksi dan seksualitas membuat para remaja tidak memiliki penangkal dalam soal seksualitas.
"Dengan terlibat prostitusi, para remaja sangat rentan terinfeksi penyakit menular seperti HIV dan AIDS," kata Inne.
Inne menegaskan pendidikan seksual dan kesehatan reproduksi di sekolah menengah sangat penting. Materi yang diajarkan bukan soal hubungan seksualnya, melainkan pada kesehatan seksual atau reproduksi yang baik.
Banyak faktor yang membuat anak-anak mudah terjerumus dalam praktik seks bebas. Pendidikan formal di sekolah, pendidikan dalam keluarga, komunikasi orang tua dengan anak-anak, perkembangan teknologi, dan iklan, semuanya memberi kontribusi.
Fakta Remaja dan Seks Pranikah
Satu dari 4 penduduk dunia saat ini adalah remaja, 88% di antaranya hidup di negara-negara berkembang. Di Indonesia, jumlah remaja mencapai lebih dari 44 juta jiwa. Bila mereka tidak memiliki pengetahuan tentang kesehatan reproduksi yang memadahi, apa yang terjadi dengan generasi muda kita?
Survey dari remaja yang mengaku pernah melakukan hubungan seks pranikah:
- 62.7% Siswi SMP pernah melakukan hubungan seksual;
- 21.2% Remaja pernah melakukan aborsi;
- 93.7% Remaja SMP dan SMA pernah menonton film porno.
- Umur: 13 - 18 tahun;
- Cara: 60% tidak menggunakan alat dan obat kontrasepsi;
- Tempat: 85% di rumah sendiri.
Sumber-sumber lainnya sehingga dapat dibuatnya thread ini: Komnas Perlindungan Anak, PKSB, BKKBN, Media Indonesia.