• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Evaluasi Kuliner Gladak Langen Bogan Solo!

yan raditya

IndoForum Addict E
No. Urut
163658
Sejak
31 Jan 2012
Pesan
24.461
Nilai reaksi
72
Poin
48
0BAwy.jpg
Wakil Ketua Komisi III DPRD Solo, Quatly Abdulkadir Alkatiri, meminta Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Solo mengevaluasi pusat kuliner Gladak Langen Bogan (Galabo) menyusul adanya aksi mogok berjualan dari 21 pedagang setempat, Senin (10/3/2014) malam. Pasalnya, Disperindag harus sering-sering duduk bersama, sharing dengan para pedagang untuk menyerap aspirasi mereka.

Hla kok baru sekarang mogoknya? Kenapa tidak dari dulu-dulu? Retribusi Rp15.000/hari itu kan sudah lama ditentukan, sebelum fasilitas pedagang kaki lima (PKL) dibangun. Mestinya yang proporsional dong. Pendapatan pedagang yang naik turun itu wajar. Mestinya kalau pas naik ya bisa menyisihkan, kalau pas turun harus berhemat dan masih ada cadangan. Kan gitu, bukan dengan aksi mogok,” tegas Quatly.

Politisi asal Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu meminta pedagang Galabo jujur untuk menyampaikan apa adanya kepada pemerintah kota (pemkot). Dia berpendapat asal semua persoalan disampaikan secara terbuka pasti masalah itu bisa diatasi.

“Dulu, kami sudah memfasilitasi pembangunan selternya dengan dana miliaran rupiah. Sekarang, tiba-tiba protes. Ayo lah duduk bareng antara pemkot dan pedagang untuk mencari solusi yang tidak merugikan kedua belah pihak. Misalnya, kalau pas musim penghujan omset menurun, retribusi dikurangi. Artinya, ada subsidi dari pemerintah. Kalau musim kemarau, retribusi dinaikan,” sarannya.

Kalau saran itu bisa dilaksanakan dan menjadi solusi terbaik, jelas dia, APBD bisa membantu. Dia mengatakan APBD itu juga uang rakyat. Quatly mengaku sering kali menerima keluhan dari masyarakat konsumen kuliner Galabo.

“Banyak masyarakat yang bilang, Galabo itu harganya kelas bintang lima, tetapi rasanya kelas kaki lima. Keluhan semacam ini mestinya harus diantisipasi pedagang. Keluhan itu kalau berkembang dari mulut ke mulut jelas akan mengurangi pelanggan pedagang. Dampaknya omset menurun kan,” kata dia.

Quatly mengimbau kepada Disperindag supaya segera mengadakan pertemuan dengan pedagang, maksimal enam bulan sekali. Namun, Quatly meminta pertemuan dengan pedagang itu diusahakan agar setiap empat bulan sekali.
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.