Diggie
IndoForum Activist C
- No. Urut
- 287751
- Sejak
- 6 Apr 2020
- Pesan
- 14.213
- Nilai reaksi
- 1
- Poin
- 0
Berikut adalah berita Euforia Inggris & peluang juara Three Lions.
Kapten timnas Inggris Harry Kane (tengah) bersama striker Raheem Sterling (kiri) & gelandang Jack Grealish setelah pertandingan 16 Besar EURO 2020 melawan Jerman di Stadion Wembley, London, 29 Juni 2021. Ketiga pemain ini jadi faktor paling instrumental dalam kemenangan 2-0 melawan Jerman itu. ANTARA/AFP/Andy Rain/aa.
Statistik pertemuan Inggris dengan ketiga regu itu juga mengunggulkan Inggris. Jadi tak berlebihan kalau Mourinho mengatakan pemenang Inggris vs Jerman akan melangkah ke final.Jakarta (ANTARA) - Media massa & masyarakat Inggris terus membahas kemenangan bersejarah timnas mereka atas Jerman dalam 16 akbar Piala Eropa 2020.
"Saya teringat luka 1996 saat masih berusia 12 tahun & harus pergi ke sekolah keesokan harinya,” mengatakan Terence Michael Anthony, akuntan di London yg kini berusia 37 tahun. "Saya berdoa kami dapat membalasnya, tetapi baru 25 tahun kemudian terwujud."
Adalah peristiwa Rabu 26 Juni 1996 yg dimaksudkan Anthony. Itu saat Inggris bertarung melawan Jerman di bumi sendiri, di stadion kebanggaan sendiri di Wembley, dalam semifinal Euro 96.
Alan Shearer membawa Inggris unggul 1-0 pada menit ketiga, tetapi 13 menit kemudian Stefan Kuntz menyamakan kedudukan. Posisi 1-1 tak berubah meskipun bola sudah disepak selama 120 menit.
Masuklah adu penalti. Lima penendang perdana Inggris & Jerman sukses memasukkan bola, pun dengan Andreas Moller si penendang keenam Jerman. Tetapi giliran penendang keenam Inggris, Gareth Southgate, yg kini melatih Three Lions, kiper Andreas Kopke menepis tendangannya.
Inggris pun meraung dalam sedih & nestapa. Impian mencapai final perdana Euro yg dapat jadi jalan untuk trofi Euro pun sirna seketika. Lebih mengenaskan lagi, semua itu terjadi di tempat keramat di Stadion Wembley.
Sakit tiada terperi itu membekas lama, bukan cuma dalam diri Southagate, tetapi juga seluruh Inggris, termasuk Terence Michael Anthony itu.
Namun, manakala Raheem Sterling menjebol gawang Jerman pada menit ke-75 dalam 16 akbar Euro 2020 yg juga digelar di Wembley, Selasa 29 Juni, emosi bahagia tumpah ke seisi stadion. Puas & lega luar biasa itu kian menghebat tatkala Harry Kane menggandakan kedudukan pada menit ke-86.
"Rasanya emosi yg terpendam selama seperempat zaman tumpah ruah di tribun ini," sambung si akuntan Terence Michael Anthony kepada Assosiated Press.
Ya, mengalahkan Jerman, apalagi dengan menjaga gawang sendiri tak kebobolan, bagaikan terbebas dari kutukan. Jerman yg tak saja seteru sejati Inggris di lapangan hijau tetapi juga di pelataran politik, budaya & ekonomi dari zaman ke zaman itu, sudah sering menghambat Inggris baik dalam Piala Eropa maupun Piala Dunia.
Kejayaan terbesar yg masih diingat Inggris hingga kini adalah menaklukkan Jerman 4-2 pada final Piala Dunia 1966. Tapi empat tahun kemudian Jerman membalas 3-1 dalam Piala Dunia 1970. Dua puluh tahun kemudian mereka berjumpa lagi dalam semifinal Piala Dunia 1990, & Inggris kalah adu penalti 4-3.
Luka kian menganga manakala Southgate gagal membalaskan kalah adu tendangan 12 pas itu, dalam semifinal Euro 1996. Dan meskipun dalam Euro 2000 Inggris menghindari kekalahan dari Jerman pada fase grup, dendam kesumat tak pernah surut.
Baca juga: Southgate bilang atmosfer Wembley suntik energi Inggris atasi Jerman
Baca juga: Toni Kroos akui gol Sterling ubah jalannya laga Inggris vs Jerman
Selanjutnya: gerbang optimisme jadi juara
Berita diatas dikutip dari internet, jika Euforia Inggris & peluang juara Three Lions adalah spam, mohon beritahu kami.
Kapten timnas Inggris Harry Kane (tengah) bersama striker Raheem Sterling (kiri) & gelandang Jack Grealish setelah pertandingan 16 Besar EURO 2020 melawan Jerman di Stadion Wembley, London, 29 Juni 2021. Ketiga pemain ini jadi faktor paling instrumental dalam kemenangan 2-0 melawan Jerman itu. ANTARA/AFP/Andy Rain/aa.
Statistik pertemuan Inggris dengan ketiga regu itu juga mengunggulkan Inggris. Jadi tak berlebihan kalau Mourinho mengatakan pemenang Inggris vs Jerman akan melangkah ke final.Jakarta (ANTARA) - Media massa & masyarakat Inggris terus membahas kemenangan bersejarah timnas mereka atas Jerman dalam 16 akbar Piala Eropa 2020.
"Saya teringat luka 1996 saat masih berusia 12 tahun & harus pergi ke sekolah keesokan harinya,” mengatakan Terence Michael Anthony, akuntan di London yg kini berusia 37 tahun. "Saya berdoa kami dapat membalasnya, tetapi baru 25 tahun kemudian terwujud."
Adalah peristiwa Rabu 26 Juni 1996 yg dimaksudkan Anthony. Itu saat Inggris bertarung melawan Jerman di bumi sendiri, di stadion kebanggaan sendiri di Wembley, dalam semifinal Euro 96.
Alan Shearer membawa Inggris unggul 1-0 pada menit ketiga, tetapi 13 menit kemudian Stefan Kuntz menyamakan kedudukan. Posisi 1-1 tak berubah meskipun bola sudah disepak selama 120 menit.
Masuklah adu penalti. Lima penendang perdana Inggris & Jerman sukses memasukkan bola, pun dengan Andreas Moller si penendang keenam Jerman. Tetapi giliran penendang keenam Inggris, Gareth Southgate, yg kini melatih Three Lions, kiper Andreas Kopke menepis tendangannya.
Inggris pun meraung dalam sedih & nestapa. Impian mencapai final perdana Euro yg dapat jadi jalan untuk trofi Euro pun sirna seketika. Lebih mengenaskan lagi, semua itu terjadi di tempat keramat di Stadion Wembley.
Sakit tiada terperi itu membekas lama, bukan cuma dalam diri Southagate, tetapi juga seluruh Inggris, termasuk Terence Michael Anthony itu.
Namun, manakala Raheem Sterling menjebol gawang Jerman pada menit ke-75 dalam 16 akbar Euro 2020 yg juga digelar di Wembley, Selasa 29 Juni, emosi bahagia tumpah ke seisi stadion. Puas & lega luar biasa itu kian menghebat tatkala Harry Kane menggandakan kedudukan pada menit ke-86.
"Rasanya emosi yg terpendam selama seperempat zaman tumpah ruah di tribun ini," sambung si akuntan Terence Michael Anthony kepada Assosiated Press.
Ya, mengalahkan Jerman, apalagi dengan menjaga gawang sendiri tak kebobolan, bagaikan terbebas dari kutukan. Jerman yg tak saja seteru sejati Inggris di lapangan hijau tetapi juga di pelataran politik, budaya & ekonomi dari zaman ke zaman itu, sudah sering menghambat Inggris baik dalam Piala Eropa maupun Piala Dunia.
Kejayaan terbesar yg masih diingat Inggris hingga kini adalah menaklukkan Jerman 4-2 pada final Piala Dunia 1966. Tapi empat tahun kemudian Jerman membalas 3-1 dalam Piala Dunia 1970. Dua puluh tahun kemudian mereka berjumpa lagi dalam semifinal Piala Dunia 1990, & Inggris kalah adu penalti 4-3.
Luka kian menganga manakala Southgate gagal membalaskan kalah adu tendangan 12 pas itu, dalam semifinal Euro 1996. Dan meskipun dalam Euro 2000 Inggris menghindari kekalahan dari Jerman pada fase grup, dendam kesumat tak pernah surut.
Baca juga: Southgate bilang atmosfer Wembley suntik energi Inggris atasi Jerman
Baca juga: Toni Kroos akui gol Sterling ubah jalannya laga Inggris vs Jerman
Selanjutnya: gerbang optimisme jadi juara
- 1
- 2
- 3
- 4
- Tampilkan Semua
Berita diatas dikutip dari internet, jika Euforia Inggris & peluang juara Three Lions adalah spam, mohon beritahu kami.