• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Erick-ku Sayang, Terawan-ku Malang

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Angela
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Angela

IndoForum Pro E
No. Urut
88
Sejak
25 Mar 2006
Pesan
45.487
Nilai reaksi
35
Poin
0
Spoiler for Jokowi & Terawan:
Erick-ku Sayang, Terawan-ku Malang




Hinggap bak langau, titik bak hujan. Tiba-tiba saja muncul video Presiden Jokowi mengeluarkan amarah di hadapan kabinetnya. Video yg muncul pada tanggal 28 Juni 2020 itu merupakan kejadian 10 sehari sebelumnya. Saat itu, Presiden Jokowi mengancam akan mereshuffle kabinetnya karena dinilai bekerja biasa-biasa saja di tengah krisis Covid-19 & ekonomi.

Kemarahan Jokowi sangat tersirat pada sektor kesehatan terkait realisasi anggaran penanganan Covid-19. Sebab anggaran kesehatan yg sangat akbar yakni Rp 87,55 triliun baru terpakai 1,54 persen atau Rp 1,34 triliun.

Maka tak salah kiranya publik akan menduga Menteri Kesehatan Dr Terawan Agus Putranto sebagai salah satu kandidat kuat yg akan hengkang dari kabinet Jokowi-Maruf.

Sumber :Kompas [Jokowi Marah, Ini Realisasi Anggaran Penanganan Covid-19]

Dari gelar doktor yg menyemat sebelum nama Terawan, publik dapat melihat bahwa Terawan adalah Menteri yg berasal dari kalangan profesional. Ia merupakan lulusan Fakultas Kedokteran UGM yg masuk TNI AD sebagai dokter militer. Perannya sebagai dokter militer pula yg agaknya menciptakan Terawan pernah menjabat sebagai Kepala RSPAD Gatot Soebroto & dipercaya jadi Ketua Tim Dokter Kepresidenan.

Namun karena ia berasal dari kalangan profesional pula yg menyebabkan besarnya kemungkinan Terawan di-reshuffle Presiden Jokowi. Ia tak memiliki back up dari partai politik.

Pengamat politik Universitas Al Azhar Indonesia Ujang Komarudin membeberkan dua faktor rawannya posisi Terawan untuk di-reshuffle. Pertama karena tidak memiliki back up parpol, kedua karena kinerjanya yg dianggap Jokowi tidak memuaskan.

Kinerja yg tidak memuaskan ini pula yg menyebabkan penulis bertanya-tanya. Mengapa Terawan yg merupakan seorang dari kalangan profesional, saintis, bahkan mumpuni di bidang organisasi sebagai Kepala Rumah Sakit justru mendapatkan teguran keras di bidang yg ia sendiri sudah geluti sedari dulu?

Sumber :Tribunnews [Pengamat Sebut Terawan Rawan Digusur Dari Kabinet Jokowi Karena Tidak Punya Back Up Partai Politik]

Terawan bukanlah seorang politikus murni. Sebagai saintis, ia menjalankan tugasnya sesuai kaidah ilmiah khususnya tentang penanganan Covid-19. Namun dunia politik yg sarat dengan kepentingan, tak ramah bagi seorang Terawan. Ibarat baru dianjur sudah tertarung - baru mengerjakan pekerjaan, sudah terlebih dahulu mendapat rintangan. Segala kebijakan yg sudah ia susun matang di sektor kesehatan sering mendapat gangguan.

Tengok saja pada bulan Maret 2020, awal masuknya corona ke Indonesia. Presiden Jokowi mengharapkan Rapid Test massal segera dilakukan guna mengetahui secara cepat penyebaran corona. Namun Terawan tidak menganjurkan penggunaan Rapid Test. Sebab, rapid test bukanlah standar WHO. Metode Rapid Test tidak akan dapat mendeteksi apakah seseorang positif corona atau tidak. Dikarenakan alat itu bukan standar WHO, maka tak ada satupun rumah sakit di Indonesia yg memiliki stok Rapid Test. Indonesia harus mengerjakan impor untuk pengadaannya.

Sumber :Bisnis [Jokowi Minta Rapid Test, Menkes Terawan Sebut Bukan Standar WHO]

Saat wacana pengadaan Rapid Test itu pula mulai muncul tekanan dari Kementerian BUMN yg dipimpin Erick Thohir. Ternyata Menteri Erick sudah memesan alat rapid test dari China melaui PT Rajawali Nusantara Indonesia. Namun masih terganjal izin dari Menkes Terawan.

Akibat tekanan politik seperti itu, mau tak mau akhirnya Menkes menyetujui pengadaan Rapid Test yg kini tidak memberi pengaruh apa-apa. Hanya menambah jumlah ODP & PDP yg mengantri hasil tes PCR hingga sebulan lamanya. Selama menunggu itu pula keluar biaya perawatan yg tidak sedikit & membuka celah bagi korupsi pengadaan alkes.

Sumber :Tribunnews Kaltim [Menkes Terawan Tak Kunjung Izinkan Jajaran Erick Thohir Beli Rapid Test Canggih dari China, Ada Apa?]

Gangguan kepada Kemenkes juga datang dari Kemenperin terkait pelaksanaan PSBB yg sudah dirumuskan sedemikian rupa oleh Terawan melalui Permenkes Nomor 9 Tahun 2020. PSBB yg semestinya dapat jadi kunci bagi Indonesia dalam memutus rantai penyebaran corona dicari celahnya oleh Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita.

Akibatnya 200 perusaahaan akbar yg rata-rata industri manufaktur masih saja beroperasi di tengah PSBB Jakarta. Padahal ke-200 perusahaan tersebut termasuk ke dalam perusahaan yg harus tutup selama PSBB berlangsung.

Sumber :Kompas [Izinkan Industri Beroperasi Saat PSBB, Menperin: Kami Sudah Koordinasi dengan Gubernur DKI...]

Gangguan PSBB tak cuma hingga di situ. Kemenhub juga turut andil melonggarkan PSBB dengan diterbitkannya Permenhub Nomor 12 Tahun 2020 yg dikeluarkan Menhub Ad Interim Luhut Binsar Pandjaitan. Lewat Permenhub itu, ojek online boleh mengangkut penumpang. Padahal dalam Permenkes, ojol cuma boleh mengangkut barang.

Sumber :Kompas [Polemik Permenhub 18, Dinilai Bertentangan dengan Permenkes hingga Menyesatkan]

Tak cuma kepentingan politik Menteri lainnya yg jadi gangguan kinerja Menkes. Ternyata pihak rumah sakit pun berpolitik dengan menolak pasien Covid-19 dengan alasan rumah sakitnya akan diajuhi pasien. Pembeberan ini sempat viral lewat perbincangan Deddy Corbuzier dengan Jubir Covid-19 Achmad Yurianto. Menurut Yuri, kesehatan sudah jadi ladang bisnis, khususnya bagi rumah sakit yg takut kehilangan pasien. Itulah mengapa pemerintah enggan menyebutkan nama-nama rumah sakit yg jadi rujukan Covid-19 di luar rumah sakit yg jadi rujukan pemerintah.

Sumber :Suara [RS Tolak Rawat Pasien Corona Covid-19, Pemerintah Kuak Alasan Sebenarnya]

Seperti memanjat terkena seruda, mendapat rintangan dalam mengerjakan usaha. Iitulah yg dialami Terawan. Ia yg sebetulnya lurus secara kaidah ilmiah, digempur habis-hadapatn oleh kepentingan bisnis, mafia alkes, & kartel farmasi, termasuk Menteri BUMN. Apalagi sebagai saintis, ilmu komunikasi Terawan jelek.

Lurusnya Terawan agaknya tidak terlalu dihargai di dunia perpolitikan RI, khususnya oleh presiden. Lewat marah-marahnya Jokowi, Menkes langsung dihajar tanpa tedeng aling-aling. Posisinya sangat terancam. Presiden akan lebih memilih mempertahankan Menteri lainnya yg memiliki power politik kuat seperti Menteri BUMN Erick Thohir.

Bagaimana tidak, Menteri Erick memberi keuntungan yg sangat akbar bagi hubungan Indonesia China melalui impor Rapid Test. Ditambah lagi, Erick memasukkan 22 anggota TNI-Polri aktif di BUMN. Bukankah para anggota TNI-Polri aktif itu dapat jadi gerbong pengaman untuk menjaga Presiden usai jabatannya berakhir, maupun menjaga Kepentingan Politik anak & menantu Jokowi.

Sumber :Kompas [Era Erick Thohir, 22 Anggota TNI/Polri Masuk Jajaran Komisaris BUMN]

Ingat, bukan rahasia biasa lagi untuk maju Pilkada membutuhkan danang & bekingan politik. CSR BUMN adalah salah satu fitur vital dalam pendanaan pemilu. Seperti yg pernah dipaparkan BPN Prabowo-Sandi di Pilpres 2019 lalu & dibuktikan dengan ucapan terima kasih Pak Jokowi di badan pesawat Garuda.

Sumber :KataData [BPN Prabowo-Sandi Sebut Banyak BUMN Curangi Pemilu]
Sumber :Merdeka [Penjelasan Garuda Indonesia soal Ucapan 'Terima Kasih Pak Jokowi' di Badan Pesawat]

Kita semua tahu sebenarnya presiden tengah dihadapkan pada persoalan dilematis. Yakni antara melepaskan Terawan demi menjaga rekanan bisnis, baik untuk pemulihan ekonomi di new normal, maupun memanjakan calon donatur politik dinasti Jokowi, atau melepaskan Erick Thohir dengan risiko kehilangan gerbong ekonomi baik BUMN maupun swasta.

Namun ketika melihat sikap Presiden belakangan ini yg tampaknya sulit tegas & dibuktikan dari marah-marahnya yg justru jadi penanda sedang kehilangan Respect karena ketidaktegasannya, maka penulis mengira Presiden akan melepaskan Terawan demi menjaga Erick Thohir.

Presiden akan membuang orang baik demi menjaga gerbong ekonomi politik.



Hari ini 22:04
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.