Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Melihat kiprah Turki yg memberikan sedikit sejarah tentang peradaban dunia memang cukup menarik, terlebih ketika dinasti mereka runtuh & berganti jadi republik. Pemahaman Sekuler vs Agamis sangat kental terasa, hingga jadi pro & kontra dari kebijakan para pemimpin mereka.
Diawali dengan banyak peperangan, dari perang Italo-Turki 1912, kemudian berkecamuknya daerah otonomi yg membentuk Liga Balkan yaitu Montenegro, Yunani, Bulgaria, & Serbia menciptakan wilayah Usmani semakin mengkerut di 1913, ditambah lagi dengan Perang Sarikamish melawan Rusia 1914-1915. Dan berujung pada perang Megiddo 1918 yg dimenangi blok sekutu ketika Perang Dunia 1, maka Timur Tengah dikuasai dua kekuatan akbar saat itu Imperium Britania Raya & Perancis.
Perjanjian Sevres pun terjadi Ottoman diambang kehancuran, punggawa sekutu menempatkan pasukannya di Konstantinopel (sekarang Istanbul).
Di dalam negeri akhirnya muncul kaum nasionalis, mereka marah kenapa Sultan Ottoman dimana punggawa sekutu (Entente) diperbolehkan masuk ke wilayah Ottoman.
Maka kaum nasionalis harus mengangkat senjata, & muak kenapa Sultan Ottoman terlalu patuh pada sekutu. Yang akhirnya menciptakan pemerintahan baru di Ankara, Anatolia tengah, dengan Mustafa Kemal Pasha sebagai pemimpinnya, tentu perjuangannya dengan mengangkat senjata.
Di Tanggal 1 November 1922, ada sejarah yg akbar ketika parlemen nasionalis Turki di Ankara, akhirnya mengumumkan pembubaran Kesultanan Ottoman. Ini menandakan Khalifah dalam Islam sudah padam, sedangkan pada tanggal 17 November Sultan Mehmed VIharus terusir dari bekas kerajaannya & tinggal di luar Turki.
Pada 1923, antara sekutu & kaum nasionalis Turki mengerjakan perjanjian damai permanen yg diketahui sebagai "Traktat Lausanne". Di tahun yg sama akhirnya di deklarasikan "Republik Turki" (Turkiye Cumhuriyeti) sebuah negara baru dengan konstitusi & sistem hukum sekuler.
Mustafa Kemal diberikan gelar "Ataturk", saking sekulernya adzan pun sempat mengpakai bahasa Turki karena agama dianggap tidak cocok dengan sains modern sedangkan sekularisme sangat penting bagi modernitas. Kebijakan ini tentu ada pro & kontra, karena Turki berasaskan pada negara yg modern, demokratis, & sekuler. Dan bagian dari sekulerisasi, ia pun menciptakan kebijakan yg kontroversi yakni menjauhkan pemerintahan dengan agama seperti menghapus kekuasaan lembaga kegamaan. Setidaknya Turki di ubah jadi ramah kepada semua agama & berbagai kelompok, serta tidak menjadikan agama sebagai alat justifikasi politik.
Atas kebijakannya yg menciptakan Turki jadi lebih modern, ia dihormati & disegani oleh masyarakat Turki, tetapi ia dibenci oleh mereka yg sayang sistem khilafah.
Maka tak heran sifat pemimpin ini jadi inspirasi gerakan nasionalis di berbagai dunia, bahkan Bung Karno pun terinspirasi dari sosok Mustafa Kemal namun tidak meninggalkan agama seutuhnya, namun di combine jadi Nasakom.
Tongkat kepemimpinan Turki saat ini beralih ke Recep Tayyip Erdogan, apa yg ia lakukan ketika memimpin Turki? Kebijakan sekuler tetap dipertahankan, namun karena ekonomi Turki menuju jurang krisis ia memberikan pesan & dukungan dari dunia Islam, mengubah fungsi hagia Sophia kembali jadi masjid yg tadinya adalah museum, kebijakan sekuler tentang pelarangan bukti diri agama pun dibatalkan, masjid-masjid baru dibangun, tentu kalangan sekuler tidak suka dengan perubahan ini & kudeta pun dilancarkan namun gagal.
Namun yg menciptakan beberapa masyarakat Turki tak suka dengan Erdogan bukan tentang bukti diri agama yg dihidupkan kembali, namun resesi ekonomi Turki di depan mata. Walau begitu ia tetap populer terlebih di mata dunia, dengan bersitegang dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump & putra mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman.
Bahkah baru-baru ini statementnya tentang Israel dinilai sungguh berani!! Erdogan pun mesra dengan beberapa pemimpin dunia khususnya kepada Vladimir Putin. Sepak terjangnya di politik dunia menjadikan dirinya semakin populer.
Perlahan namun pasti sepak terjang Erdogan merubah apa yg sudah ditetapkan oleh Ataturk, berjalannya waktu Erdogan semakin pintar memainkan trik politik supaya semakin disukai banyak orang.
Atas aksi Erdogan di politik luar negerinya mendapatkan simpati dari banyak orang di dunia, hingga di Indonesia sendiri ada komunitas sahabat Erdogan. Sungguh luar biasa, kenapa tidak sahabat Jokowi atau Anies Baswedan saja?
Terima kasih yg sudah membaca thread ini hingga akhir, semoga bermanfaat, tetap sehat & merdeka. See u next thread.
"Nikmati Membaca Dengan Santuy"
--------------------------------------
Tulisan : c4punk@2021
referensi : klik, klik, klik, klik
Pic : google