yan raditya
IndoForum Addict E
- No. Urut
- 163658
- Sejak
- 31 Jan 2012
- Pesan
- 24.461
- Nilai reaksi
- 72
- Poin
- 48
Dalam hitungan hari,puluhan desa terendam lumpur.Segala peradaban yang ditinggalkan kehidupan musnah dalam sekejap.” Sudah enam tahun semburan lumpur,tapi belum juga selesai,”ujar Ahmad,salah satu warga korban lumpur saat mengikuti ruwatan semburan lumpur Lapindo Brantas Inc di Desa Siring,Kecamatan Porong,Sidoarjo,kemarin. Sangat wajar korban lumpur sangat emosi.
Segala derita selama ini harus diredam dengan segala janji manis pemerintah dan PT Minarak Lapindo Jaya (MLJ). Derita itu akhirnya tumpah di tanggul Very Important Person (VIP),di Desa Siring,Kecamatan Porong,Sidoarjo,kemarin. Puluhan poster yang berisi kecaman Lumpur Lapindo Inc dibentangkan lebar-lebar. Aksi teatrikal tentang perjuangan korban lumpur dipaparkan di bawah teriknya matahari.
Mereka mandi lumpur di bawah sinar matahari yang menyengat. Aksi ini diawali dengan berjalan dari tanggul Desa Ketapang menuju ke tanggul Desa Siring.Sesampainya di Desa Siring,mereka kemudian berhenti dan berorasi.Tiba-tiba, tiga aktivis lumpur kemudian membuka baju mereka dan langsung terjun ke kolam lumpur. Seluruh badan mereka dibalur lumpur cair.
Bahkan, mereka juga berenang di lumpur yang bagian bawahnya sudah mengeras itu.”Kami minta keluarga Aburizal Bakrie segera menyelesaikan masalah lumpur,”teriak korban lumpur lainnya. Selain poster-poster berukuran kecil yang bertuliskan tuntutan penyelesaian lumpur, mereka juga memasang poster besar.Poster itu memiliki tinggi tiga meter dengan panjang 120 meter.Tiangnya dipasang di sisi tanggul yang berbatasan langsung dengan rel Kereta Api dan Jalan Raya Porong.
Poster yang ditulis dengan huruf kapital itu bertuliskan, ”Bakrie Perusak Bumi,Perampok Uang Negara”.Spanduk besar itu menjadi perhatian pengguna jalan karena tampak jelas jika dibaca. Sedangkan anak-anak korban lumpur juga membacakan puisi yang melukiskan kesedihan mereka setelah enam tahun semburan lumpur belum juga selesai.Mereka tetap berada di tanggul lumpur meski terik matahari menyengat.
Aksi ini juga diikuti sekitar 50 anak-anak dari sanggar Al- Faz,Desa Besuki,Kecamatan Jabon,Sidoarjo,sanggar sahabat anak Malang,sanggar merah Merdeka Surabaya dan komunitas sang Badol Pare. Pengasuh Sanggar Al-Faz,M.Irsyad mengatakan Lapindo dan pemerintah ibaratnya punya mata tapi tak bisa melihat,punya telinga tak bisa mendengar.” Lapindo dan pemerintah acuh dan lepas tanggung jawab terhadap korban lumpur,” ujarnya.
Berlarut-larutnya pemulihan kehidupan korban lumpur, lanjut Irsyad,merupakan wujud adanya skandal antara perusahaan dan pemerintah. Grup Bakrie pemilik Lapindo tak segan-segan-segan mengingkari janji dan tanggung jawabnya. Aksi peringatan enam tahun semburan lumpur juga digelar korban lumpur asal Desa Renokenongo,Siring, Jatirejo dan Kedungbendo,di tanggul titik 24,Desa Jatirejo.
Mereka menggelar doa bersama meminta agar permasalahan lumpur segera diselesaikan. Korban lumpur yang tergabung dalam Perpes 14 Tahun 2007 Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo,belum menerima pelunasan ganti rugi. Padahal,desa mereka merupakan yang pertama kali diterjang lumpur panas. Ganti rugi mereka ditanggung oleh Lapindo Brantas Inc.
Dari sekitar 13.324 berkas pembayaran yang harus dibayar, sebanyak 80% belum tuntas. Untuk melunasi pembayaran aset korban lumpur, Lapindo harus merogoh brankas sekitar Rp 900 miliar. Lapindo melalui anak perusahaannya, PT MLJ baru sanggup menyediakan dana Rp 400 miliar yang rencananya akan dibagikan bulan Juni ini. Sedangkan sisanya Rp500 miliar belum ada kejelasan kapan akan diberikan.”Kita berharap agar pelunasan warga korban lumpur segera bayarkan,” ujar Khoirul Huda,salah satu koordinator korban lumpur.
Sejak pagi,korban lumpur memenuhi tanggul titik 25 mereka kemudian berdoa bersama yang dilanjutkan potong tumpeng sebagai tanda peringatan enam tahun semburan lumpur.Ibu-ibu tak kuasa membendung air mata ketika KH.Abdul Fatah yang memimpin membacakan doa. Sunarti,korban lumpur asal Jatirejo mengaku teringat kampung halamannya.”Di bawah hamparan lumpur ini dulu saya dilahirkan.Enam tahun sudah kami terusir dari tanah kelahiran,”ujarnya.
Ribuan korban lumpur yang terdiri dari laki-laki dan perempuan itu duduk bersila dengan alas terpal dan beratapkan asbes.Lokasi tanggul titik 25 cukup luas,karena merupakan tempat untuk memantau lumpur terdekat dengan pusat semburan.
Tanggul titik 25,bisa dikatakan merupakan tanggul VIP, karena setiap ada kunjungan pejabat, termasuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyoni beberapa waktu lalu juga mendatangi lokasi itu.Sebenarnya, tidak sembarang orang bisa masuk ke tanggul VIP itu tanpa seizin dari BPLS.Namun, lebih dari sebulan tanggul itu dikuasai korban lumpur asal empat desa yang menuntut pelunasan ganti rugi.
Menunggu Tuah Arteri Porong
Terlepas dari persoalan ganti rugi, Pemprov Jatim optimistis bisa memulihkan investasi seiring tuntasnya pembangunan jalan arteri porong. Gubernur Jatim Soekarwo menandaskan,sejak adanya lumpur panas Lapindo enam tahun lalu,memberikan dampak cukup besar pada iklim investasi di Jatim.
Berdasarkan kajian dari Universitas Brawijaya (UB) Malang,setiap tahunnya ada potensi investasi sebesar Rp33 triliun yang hilang. Artinya investasi sejumlah itu tidak gagal masuk ke Jatim karena adanya lumpur Lapindo. ”Itu berdasarkan hasil survei UB sebelum ada arteri porong lagi.Setelah adanya arteri porong ini dampak tersebut mulai berkurang.Tapi sampai saat ini belum ada kajian yang menunjukkan angka lebih lanjut,” tandasnya.
Anggota Komisi C DPRD Jatim Arif Hari Setiawan menandaskan, dampak dari luapan lumpur lapindo memang cukup besar.Dia menuturkan, Wali Kota Probolinggo pernah gencar mencari investor dari luar negeri.Namun pertanyaan yang muncul adalah posisi Probolinggo dari luapan lumpur Lapindo.
”Ketika dijawab Probolinggo berada di sebelah timurnya, maka calon investor itu langsung mengurungkan niatnya. Selain itu kami juga mendapatkan keterangan banyak perusahaan yang sudah eksis di kawasan Pasuruan,Probolinggo dan sekitar memilih bergeser ke tempat lain,” tuturnya.
Dia menegaskan,setelah pembangunan arteri Potong selesai sudah ada perkembangan. Di antaranya pada bisnis tempat wisata yang mengalami peningkatan hingga 30% dibandingkan tahun lalu. ”Memang belum ada kajian, tapi saya yakin dengan adanya arteri Porong,maka investasi di Jatim akan meningkat dibandingkan tahun sebelumnya,” tegasnya.