Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Cangkeman.net -Sebagai seorang yg suka menulis, saya kerap kali ditodong oleh orang untuk menerbitkan buku. Katanya, belum lengkap kalau seorang penulis itu enggak punya buku sendiri.
Aku sendiri sebenarnya lebih suka membaca daripada menulis. Dalam sehari mungkin saya lebih banyak membaca daripada menulis. Dari mulai membaca pesan singkat -yang jelas dari mantan, kalau pacar pasti pesan panjang- hingga membaca hal-hal yg berada di beranda Facebook, takarir Instagram, hingga cuitan-cuitan di Twitter. Tapi saya enggak terlalu setuju kalau penulis harus menerbitkan buku.
Entah sudah berapa banyak saya mengikuti antalogi buku puisi, tetapi coba hitung berapa banyak orang yg membaca buku itu? Atau seengaknya membeli buku itu?
Mereka-mereka yg menyarankan saya membukukan tulisan-tulisanku kebanyakan justru enggak suka membaca melalui media buku. Bagiku itu wajar, karena seperti pada musik yg saat ini itu eranya orang-orang menciptakan single bukan album, kini orang juga lebih suka membaca tulisan-tulisan singkat daripada buku yg berhalaman-halaman.
Tentu saya tidak anti dengan buku, semua orang tau itu. Tapi memang tak semua tulisan harus dijadikan buku. Jika maksud dari tulisan adalah sebagai media berbagi kisah, pengetahuan, & hiburan, yah rasanya tulisan-tulisan pendek seperti tulisan-tulisan di Cangkeman ini lebih efektif dibandingkan buku.
Okelah, mungkin ada beberapa orang menempuh jalur kepenulisan sebagai jalan ninja mencari uang yg salah satunya adalah dengan menjual tulisannya dalam bentuk buku. Tapi yg jadi masalah adalah, memasarkan buku bukanlah hal yg mudah lagi instan. Kalau anda bukan siapa-siapa, enggak punya personalbrandingyang kuat khususnya di dunia sosial media atau hiburan, jangan harap anda akan memperoleh keuntungan demi keuntungan dari menjual bukumu. Apalagi kalau emang kualitas menulismu payah. Buanglah angan-angan jadi kaya dari menjual buku-bukumu.
Apalagi sekarang banyak terbentuk perkumpulan-perkumpulan yg membawa embel-embel literasi -padahal tau literasi aja embuhhh- yg mengadakan kegiatan menulis bersama & nantinya tulisan tersebut dibukukan oleh penerbit yg ternyata adalah orang-orangnya pendiri perkumpulan itu juga. Itu sih namanya ngumpulin ikan buat makan umpan hehehe.
Yah enggak masalah sih masuk perkumpulan-perkumpulan berbau literasi atau mengikuti kegiatan nulis bareng gitu, itu hak kalian, toh saya juga mengerjakannya. Tapi akan sangat berbahaya kalau anda menganggap dengan mengikuti gitu-gituan anda udah jadi orang yg palingnyastrahingga merasa sudah jangok & jadi berhenti belajar. Apalagi ketika buku pertamamu terbit, anda merasa jadi penulis yg punya masa depan cerah, itu bahaya. Cerah kaga, yg ada kemampuan menulismu akan di situ-situ aja, bukumu yg beli juga orang-orang itu aja, itu pun enggak tau dibaca apa enggak.
Oh iyah balik lagi ke aku
Bukannya saya enggak mau nerbitin buku seperti yg disarankan orang-orang yg enggak suka buku itu. Aku menulis untuk bercerita, berbagi kisah, berbagi keluh, & kesah. Yah hal yg paling efektif untuk itu semua adalah media sosial. Aku biasa menulis di Facebook, berkicau di Twitter, atau kadang-kadang berpuisi di Instagram. Sekarang saya juga punya tempat baru untuk menulis, tentu saja diCangkemanini.
Dari hasil pengamatanku sejauh ini, orang-orang sekitarku lebih sering membicarakan tulisan-tulisanku di sosial media daripada tulisanku di buku. Itu artinya, entah secara sengaja atau tidak, tulisanku di media sosial mereka baca.
Ingat yah, tulisan ini bukan untuk melarang anda untuk menerbitkan buku. Bukan. Tulisan ini menjawab kenapa menurutku seorang penulis enggak harus menerbitkan buku. Jangan di-framing!
Tulisan ini ditulis oleh Fatio NE diCangkemanpada tanggal 23 November 2021.
Hari ini 02:52