Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Cangkeman.net -Beberapa waktu lalu, seseorang mengungkapkan pendapatnya. Katanya,"Jualan buku dari karya sendiri nggak bikin kaya."
Menurut persepsiku, dia seolah bertanya,"Untuk apa sih, nerbitin buku?"
Sebagai seorang penulis yg amat berharap punya karya yg dibukukan secara solo, merasa tergelitik untuk mengkeritik pendapatnya. Untuk siapapun yg merasa sedang dibahas di sini, penulis akan mengungkapkan tentang suatu hal yg bukan cuma berdasarkan opini, tetapi juga FAKTA!
Okelah, untuk persepsi"Jualan buku sendiri nggak bikin kaya."itu sih saya setuju-setuju aja. Cuma, ada beberapa alasan lain yg patut dipertimbangkan kenapa karyamu sebaiknya dibukukan. Nih alasanya.
Pertama, seorang penulis yg namanya terpampang dicoverbuku, tentu akan memiliki kebanggan tersendiri memiliki karya itu. Ditambah lagi, beberapa profesi mengharuskan seseorang memiliki setidaknya satu karya yg dibukukan untuk naik jabatan; seperti guru.
Kedua, menghindari plagiarisme. Hai, itu karya kita! Bukankah menyenangkan dapat mengakui kepada khalayak kalau karya yg tengah mereka baca adalah karya kita? Namun, bagaimana dapat kita mengakui itu karya kita yg terkena plagiarisme kalau kita tidak punya hak cipta?
Inilah kenapa sebaiknya kita bukukan karya kita. Usah pedulikan dulu adakah orang yg mau beli atau sekadar membacanya. Yang terpenting, kita dapat mengakui bahwa itu karya kita. Perlu ditekankan, bahwa yg dimaksud dibukukan di sini bukan sembarang membukukan, tetapi harus ber-ISBN.
Pernah ada satu kasus dari sekian banyak kasus plagiasi yg saya temukan selama memijaki dunia tulis-menulis. Seorang author di salah satu platform kepenulisan, memiliki jutaan pembaca. Suatu ketika, karyanya terkena plagiarisme, & itu bukan cuma terjadi satu kali. Beberpa kali ia di-plagiat oleh orang-orang yg tidak bertanggung jawab. Ia juga sudah melaporkannya ke pihak aplikasi berkali-kali, selama itu pula laporannya ditolak. Katanya, cuma mirip.
Serius! Pihak aplikasi cuma mengatakan cuma mirip. Padahal, dari sub judul, tokoh, alur cerita, bahkan isinya, sama! Bukan mirip atau persis lagi, tetapi 100% sama. Mirisnya lagi, si penjiplak sering update dalam rentang waktu sehari atau bahkan beberapa jam setelah author asli mengupload ceritanya. Kalau sudah terjadi kasus seperti itu, kan, bingung cari cara buat mendapat kembali hak cipta.
Memang, sekarang banyak, kok aplikasi yg menawarkan fitur keamanan karya kita; tidak dapat di-copy,tidak dapat di-screenshoot,dll. Namun, sadarkah anda bahwa makin ke sini, makin marak juga aplikasi yg dapat mencuri data-data seperti itu.
Intinya, membukukan karya kita itu bukan sekadar mencari cuan, tetapi sebagai cara penulis menciptakan karyanya aman. Kalau sudah ber-ISBN, kan, tenang. Karena menulis itu erat kaitanya dengan apa manfaatnya buat masa depan. Bukan sekadar cari peruntungan.
Tulisan ini ditulis oleh Minain diCangkemanpada tanggal 11 Desember 2021.
Kemarin 21:45