Alex
IndoForum Beginner A
- No. Urut
- 4130
- Sejak
- 3 Agt 2006
- Pesan
- 1.175
- Nilai reaksi
- 12
- Poin
- 38
Seorang penjual topi berjalan
melintasi hutan.
Karena cuaca panas, ia memutuskan
beristirahat
sejenak dibawah sebuah pohon besar.
Sebelum
merebahkan diri, ia meletakkan
keranjang berisi
topi-topi dagangan disampingnya.
Beberapa jam ia
terlelap dan terbangun oleh suara-suara
ribut.
Hal pertama yang disadarinya adalah
bahwa
semua topi dagangannya telah hilang.
Kemudian ia mendengar suara monyet-
monyet di
atas pohon. Ia mendongak keatas dan
betapa
terkejutnya ia melihat pohon itu penuh
dengan
monyet. Yang semuanya mengenakan
topi-topinya.
Penjual topi itu terduduk dan berpikir
keras
bagaimana caranya ia bisa mendapatkan
kembali
topi-topi dagangannya yang sedang
dibuat main-
main oleh monyet-monyet itu. Ia berpikir
dan
berpikir, dan mulai menggaruk-garuk
kepalanya.
Ternyata monyet-monyet itu menirukan
tingkah
lakunya. Kemudian, ia
melepas topinya dan mengipas-
ngipaskan ke
wajahnya. Ternyata monyet-monyet itu
pun
melakukan hal yang sama.
Aha..! Ia pun mendapat ide..! Lalu ia
membuang
topinya ke tanah, dan monyet-monyet itu
juga
membuang topi-topi di tangan mereka ke
tanah.
Segera saja si penjual itu
mengumpulkan dan
mendapatkan kembali semua topi-
topinya. Ia pun
melanjutkan perjalanannya.
Lima puluh tahun kemudian, cucu dari si
penjual
topi itu juga menjadi seorang penjual
topi juga dan
telah mendengar cerita tentang monyet-
monyet itu
dari kakeknya. Suatu hari, persis seperti
kakeknya, ia melintasi hutan yang sama.
Ia
beristirahat di bawah pohon yang sama
dan
meletakkan keranjang berisi topi-topi
dagangan di sampingnya. Ketika
terbangun iapun
menyadari kalau monyet-monyet
dipohon tersebut
telah mengambil semua topi-topinya.
Ia pun teringat akan cerita kakeknya. Ia
mulai
menggaruk-garuk kepala, dan monyet-
monyet itu
menirukannya. Ia melepas topinya dan
mengipas-
ngipaskan ke wajahnya, monyet-monyet
itu masih
menirukannya. Nah, sekarang ia merasa
yakin
akan ide kakeknya. Kemudian ia
melempar topinya
ke tanah. Tapi kali ini ia yang
terkejut, karena monyet-monyet itu tidak
menirukannya dan tetap memegangi topi-
topi itu
erat-erat.
Kemudian, seekor monyet turun dari
pohon,
mengambil topi yang dilemparkan oleh
cucu
penjual topi itu, lalu menepuk bahunya
sambil
berkata,
"Emangnya cuman elo aja yang punya
kakek...?"
melintasi hutan.
Karena cuaca panas, ia memutuskan
beristirahat
sejenak dibawah sebuah pohon besar.
Sebelum
merebahkan diri, ia meletakkan
keranjang berisi
topi-topi dagangan disampingnya.
Beberapa jam ia
terlelap dan terbangun oleh suara-suara
ribut.
Hal pertama yang disadarinya adalah
bahwa
semua topi dagangannya telah hilang.
Kemudian ia mendengar suara monyet-
monyet di
atas pohon. Ia mendongak keatas dan
betapa
terkejutnya ia melihat pohon itu penuh
dengan
monyet. Yang semuanya mengenakan
topi-topinya.
Penjual topi itu terduduk dan berpikir
keras
bagaimana caranya ia bisa mendapatkan
kembali
topi-topi dagangannya yang sedang
dibuat main-
main oleh monyet-monyet itu. Ia berpikir
dan
berpikir, dan mulai menggaruk-garuk
kepalanya.
Ternyata monyet-monyet itu menirukan
tingkah
lakunya. Kemudian, ia
melepas topinya dan mengipas-
ngipaskan ke
wajahnya. Ternyata monyet-monyet itu
pun
melakukan hal yang sama.
Aha..! Ia pun mendapat ide..! Lalu ia
membuang
topinya ke tanah, dan monyet-monyet itu
juga
membuang topi-topi di tangan mereka ke
tanah.
Segera saja si penjual itu
mengumpulkan dan
mendapatkan kembali semua topi-
topinya. Ia pun
melanjutkan perjalanannya.
Lima puluh tahun kemudian, cucu dari si
penjual
topi itu juga menjadi seorang penjual
topi juga dan
telah mendengar cerita tentang monyet-
monyet itu
dari kakeknya. Suatu hari, persis seperti
kakeknya, ia melintasi hutan yang sama.
Ia
beristirahat di bawah pohon yang sama
dan
meletakkan keranjang berisi topi-topi
dagangan di sampingnya. Ketika
terbangun iapun
menyadari kalau monyet-monyet
dipohon tersebut
telah mengambil semua topi-topinya.
Ia pun teringat akan cerita kakeknya. Ia
mulai
menggaruk-garuk kepala, dan monyet-
monyet itu
menirukannya. Ia melepas topinya dan
mengipas-
ngipaskan ke wajahnya, monyet-monyet
itu masih
menirukannya. Nah, sekarang ia merasa
yakin
akan ide kakeknya. Kemudian ia
melempar topinya
ke tanah. Tapi kali ini ia yang
terkejut, karena monyet-monyet itu tidak
menirukannya dan tetap memegangi topi-
topi itu
erat-erat.
Kemudian, seekor monyet turun dari
pohon,
mengambil topi yang dilemparkan oleh
cucu
penjual topi itu, lalu menepuk bahunya
sambil
berkata,
"Emangnya cuman elo aja yang punya
kakek...?"
