Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Penulis: Latatu Nandemar
Editor: Fatio Nurul Efendi
Cangkeman.net -Ini memang bukan hari guru. Tetapi, meski ini bukan hari guru, sepertinya tidak ada salahnya untuk berbagi cerita tentang pengalaman pahit seorang guru ketika mengajar di sebuah sekolah yg berlokasi di pelosok. Kejadiannya sudah cukup lama.
Begini ceritanya.
Ada seorang guru honorer menegur seorang murid laki-laki kelas delapan yg terkenal sangat bengal. Alasan mengapa guru tersebut menegurnya adalah karena panjang rambutnya yg sudah melewati batas 'aman' siswa semestinya.
Guru tersebut mengatakan bahwa rambutnya harus sudah rapi ketika besok masuk ke sekolah. Di keesokan hari, ternyata anak tersebut tidak mengerjakan apa yg guru tersebut perintahkan. Rambutnya masih sama keren-nya (setidaknya menurut si anak tersebut) seperti waktu kemarin.
Kemudian guru tersebut kembali menegurnya & memberinya kesempatan kedua supaya besok rambutnya sudah dipangkas tidak melebihi batas peraturan.
Teguran-teguran tersebut ditanggapi dengan gaya ciri khas anak bengal yg harap menunjukkan eksistensinya di lingkungan sekitar teman pergaulannya. Sok santai, ada sedikit gaya menantang & seolah tanpa takut.
Esoknya guru tersebut berpikir bahwa anak itu akan mengikuti apa yg guru tersebut instruksikan. Ternyata tidak, dia malah datang ke sekolah dengan rambut yg lebih keren lagi (sekali lagi itu cuma perasaan si anak tersebut). Yaitu dengan mewarnai rambutnya dengan pewarna rambut yg sangat merah menyala.
Dalam hati guru tersebut merasa ini benar-benar sudah sangat keterlaluan. Murid yg satu ini bukan cuma tidak mengikuti perintah guru, tetapi seperti sengaja memperlihatkan keberaniannya dengan menantang perintah dari guru tersebut sebagai pendidiknya. Terus terang, hati sang guru sangat terluka juga dengan tingkah anak ini. Ada perasaan tidak dihargai atau merasa direndahkan.
Akhirnya, guru tersebut memberikan ancaman disertai nada yg sangat jauh lebih keras. Jika besok masih berpenampilan seperti itu, maka akan guru tersebut gunting rambutnya dengan model "Asal Tidak Gondrong", alias memotongnya akan asal saja yg penting tidak melewati batas ketentuan tanpa memikirkan rapi atau tidaknya.
Setelah mengerjakan teguran keras tersebut, sang guru merasa seperti sosok yg sangat berwibawa, elegan, berjiwa pemimpin & perasaan-perasaan bangga lainnya. Sepertinya esok, guru tersebut akan jadi pemenang dalam urusan yg belum selesai bersama murid bengal yg satu ini.
Tetapi perkiraan guru tersebut ternyata sangat salah. Esoknya wibawa guru tersebut justru sangatambyar.Hancur lebur. Bagaimana tidak? Sang murid datang dengan penampilan yg sama sekali tidak berubah. Dan parahnya lagi, dia datang bersama ayahnya. Rupanya murid guru tersebut ini mengadu kepada ayahnya masalah urusan rambut ini. Dan coba tebak, ternyata sang ayah memiliki penampilan yg sangat sama persis.
Rambut gondrong & juga dengan warna merah menyala. Yang membedakan antara mereka hanyalah si anak mengpakai seragam sekolah sementara si ayah cuma memakai kaos oblong dengan golok terselip di pinggangnya. Mungkin ini yg disebut definisi"Like Father Like Son". Atau juga contoh tepat dari perumpamaan "Buah Jatuh Tak Jauh Dari Pohonnya".
Rupanya si ayah datang untuk memberi pelajaran kepada guru tersebut (padahal yg akan diberi pelajaran oleh si ayah adalah seorang guru, yg profesinya memberikan pelajaran) karena sudah mengatur-atur urusan rambut anaknya. Sang ayah memaki-maki guru tersebut.
Guru tersebut yg sangat anti kekerasan, khususnya di hadapan jawara yg memiliki golok, cuma diam dengan ketenangan yg dipaksakan. Perasaan wibawa & bangga guru tersebut ketika menegur dengan sangat keras di hari kemarin benar-benar musnah tak tersisa. Rupanya sang ayah adalah jawara yg lumayan ditakuti di wilayahnya.
Pengalaman yg guru tersebut dapatkan akhirnya membawa dirinya pada satu kesimpulan bahwa tidak mudah jadi seorang guru karena harus menghadapi kesulitan yg beragam. Misalnya Karakter anak-anak yg sulit diatur karena sedang dalam masa pencarian jati diri. Tidak dapat memberi sanksi secara fisik karena mereka dibentengi oleh Undang-undang Perlindungan Anak sementara Undang-undang Perlindungan Guru tidak jelas di mana keberadaannya. Tidak dapat asal menegur murid karena khawatir terjadi hal seperti di atas tadi. Dan juga honor yg tidak sebanding dengan rasa letih ataupun risiko yg harus didapatkan.
Guru tersebut benar-benar berharap supaya kesejahteraan guru diperhatikan oleh pemerintah. Sehingga kualitas guru jadi semakin meningkat & memiliki totalitas dalam menjalankan profesi atau pengabdiannya sebagai pendidik karena kehidupannya terjamin dengan baik.
Dan... guru tersebut yg mengalami kejadian di atas tadi adalah saya.Hahaha...
Tulisan ini ditulis diCangkemanpada tanggal 19 Februari 2023. Hari ini 12:22