Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Cangkeman.net -"Elu enak orang kaya!
Begitulah balasan dari salah satu gerombolan tunakarya saat ditegur tetangga samping rumah lantaran tetangga tadi terganggu dengan aktivitas yg mereka lakukan. Ya wajar, sih, ditegur. Hampir sepanjang malam ngumpul, main gim bersama, atau sekadar ngobrol sambil haha-hihi, terkadang ditemani lagu yg tak kalah nyaring dengan bacotan yg keluar dari mulut mereka. Padahal, malam hari merupakan waktu istirahat beberapa akbar orang setelah seharian beraktivitas.
Tapi inilah salah satu risiko hidup di daerah perkampungan. Kalau anak komplek, mungkin tidak pernah menemukan fenomena macam ini. Mungkin loh, ya. Saya belum pernah jadi anak komplek.
Para tunakarya tadi memanfaatkan lahan kosong yg dijadikan basecamp untuk mengerjakan kegiatan bersama bahkan sejak sebelum maghrib. Tak jarang, jam satu dini hari masih gaduh. Kalau akhir pekan mungkin dapat dimaklumi. Tapi kalauweekday, lain soal.
Sebetulnya, saya bodo amat dengan kegiatan para tunakarya itu. Alasannya sederhana, sama-sama anak kampung sini (Akamsi). Namun, semakin lama semakin tidak tahu aturan, semakin tidak tahu etika & mementingkan ego. Sudah ditegur berkali-kali dengan orang lain selain tetangga saya pun, baik secara langsung maupun di grup WhatsApp lingkungan, nggak mempan.
Elu enak orang kaya!
Jawaban itu terikat kuat di otak sambil melongok ke bawah. Kebetulan saya sedang duduk santai di gazebo yg letaknya di lantai atas, saat tetangga samping rumah menegur. Orang kaya, katanya. Biarpun jawaban tersebut bukan dialamatkan pada saya, tetapi kena mental juga. Bikin ngakak dalam batin. Kalau sudah kaya, ngapain masih numpang di rumah orang tua. Yah, walaupun orang tua tinggal satu, dengan kondisi badannya sudah memasuki masa aus, jadi pertimbangan juga, sih. Tetapi kondisi perekonomian pribadi yg masih carut-marut emang nggak dapat disangkal. Makanya saya kena mental akibat omongan mereka.
Kadang saya sendiri masih heran, setelah sekian waktu bekerja, kok duit masih langka di dompet. Tabungan di bunk, angkanya masih minimalis. Mau beli barang, kadang mikir-mikir. Karena kelamaan berpikir, nggak jadi beli lantaran sayang duit. Susah, bos, nyari duit. Ternyata lebih gampang ngumpulin, loh. Asalkan kebutuhan dasar sudah terpenuhi buat diri sendiri & keluarga, yg lain entar dulu deh. Mosok yg kayak begini dibilang orang kaya? Kayaknya yg menegur, nasibnya juga beda tipis dengan saya.
Biar duit masih langka, ya tetep dicari. Kalo nggak gitu, gimana dapat hidup? Karena duit nggak turun dari langit atau dapat keluar dari usus besar, mau nggak mau, suka nggak suka, harus kerja biar dapet duit. Terserah mau kerja ikut orang atau mandilu, yg penting dapat dapet alat tukar, yg nantinya dipakai untuk biaya hidup, atau sesekali mengerjakan kegiatanrefreshingbiar otak nggak mumet.
Mereka yg terlalu lama menyandang status tunakarya itu barangkali nggak tau capeknya nyari duit: capek pikiran, capek perasaan, kadang juga capek dikerjain. Tapi para pejuang cuan tetap bertahan walau capek ini-itu. Bertahan demi apa coba? Ya apalagi kalau bukan demi duit, biar dapat hidup. Kadang, kalau pekerjaan utama kurang menghasilkan, nggak jarang pejuang rupiah mencari recehan di tempat lain.
Bullshitkalo ada yg bilang hidup itu nggak butuh duit. Atau dalam kalimat yg lebih sopan, duit bukanlah segalanya. Ah, taik sekolam lah bacotan kayak gitu. Nggak ada duit berujung kesulitan dalam memenuhi berbagai kebutuhan. Memangnya semua hal di dunia ini gratis? Malah yg terpenting baru dapat didapatkan kalau punya duit. Mengenyangkan perut salah satu contohnya.
Maka, istirahat malam memang aktivitas wajib yg harus dilakukan untuk memulai hari esok. Saat mengerjakannya, nggak harap ada gangguan. Lagi enak istirahat malah bikin gaduh. Siapa yg nggak jengkel, coba? Eh dapat-dapatnya salah satu dari mereka menjawab,Elu enak orang kaya.
Gila, kali, ya. Seolah-olah mereka menyalahkan kesialan hidup yg didapatkan kepada orang lain. Menyalahkan memang cara yg paling gampang. Salahkan orang kaya karena punya kehidupan yg lebih aman, nyaman, tentram. Salahkan perusahaan-perusahaan yg tidak memberikan kesempatan dalam bekerja. Salahkan instansi keuangan karena tidak memberikan danang bantuan yg nantinya akan dipakai untuk memulai usaha. Salahkan pemerintah karena tidak mendapatkan atau merasakan berbagai bantuan sosial yg terprogram. Salahkan orang tua karena melahirkan anak-anak dalam keluarga yg miskin. Jangan lupa, salahkan diri sendiri karena berhenti berusaha akibat berbagai alasan.
Katanya, sih, Tuhan tidak akan mengubah suatu kaum kalau mereka tidak mengubahnya sendiri. Dalam konteks yg lebih sempit, Dia tidak akan mengubah kehidupan seseorang kalau tiada usaha yg dilakukan, atau berhenti dalam mengusahakannya. Namanya takdir, ada yg tidak dapat diubah, ada yg dapat. Kemiskinan merupakan salah satu yg sanggup diubah. Asalkan mau & dibarengi usaha.
Para tunakarya yg aktivitasnya mengganggu hampir setiap malam itu barangkali tidak sadar akan hal itu. Maunya sat-set-sat-set langsung kaya. Wajar sih, siapa yg nggak mau kayak begitu? Tapi kan kebanyakan nggak seperti itu. Dalam mengusahakannya, dalam suatu titik dapat capek namun tetap saja tidak mengubah apa pun. Atau dapat juga mereka nyaman dengan kemiskinan yg mendera di kehidupannya.
Apa pun itu, intinya, mereka mencari pengalihan untuk mengisi kebermaknaan diri dari kehidupan mereka yg tak bermakna. Karena makna hidup adalah persoalan bagaimana peran kita & apa yg kita sumbangkan. Tidak perlu bicara secara luas seperti konteks sosial-masyarakat. Dalam lingkup keluarga, bagaimana peran kita & apa sumbangan untuk keluarga sendiri? Mungkinkah itu masalah yg mereka hadapi? Merasa tidak berperan & tidak memberikan apapun kepada keluarga sendiri, dalam konteks perekonomian, misalnya?
Saya cuma dapat menebak-nebak alasan di balik rutinitas yg hampir setiap malam yg mereka lakukan. Saya amati, & gerombolan itu berjenis kelamin laki-laki. Makna hidup seorang laki-laki dapat didapat dari pekerjaan. Kalau tidak punya, bukan tidak mungkin didera rasa tidak punya kebermaknaan hidup. Sehingga, mereka tidak peduli dengan apa pun. Salah satunya, mengganggu kenyamanan hidup orang lain. Malah, kalau ditegur, dapat jadi mereka senang. Terlebih dengan cara kasar.
Kegiatan yg mereka lakukan rupanya punya makna meski dengan cara yg buruk. Mereka mendapatkan kebermaknaan hidup. Adapun peran yg dilakoni adalah sebagai pengganggu & sumbangan yg diberikan adalah kebisingan, menciptakan orang lain jengkel.
Jelas, cara yg mereka lakukan adalah salah. Saya tidak menyangkal dalam menjalani hidup lebih banyak ketemu kesulitan daripada kemudahan. Kemudian mengantarkan seseorang kepada penderitaan hidup, yg salah satu potensinya melahirkan sikap dissosial atau dalam istilah lain disebut anti-sosial; suka bikin rusuh.
Tetapi, perkara penderitaan & kesulitan hidup tidak tebang pilih. Setiap orang pernah atau sedang mengalami. Hanya bentuknya saja yg berbeda. Jangan merasa cuma diri sendiri yg merasakannya. Jangan pula berpikir bahwa penderitaan hidup yg dirasakan tidak membawa penderitaan bagi orang-orang di sekitar. Kadang, hal seperti ini gampang dilupakan bagi mereka yg mengalami penderitaan hidup.
Ya wajar, sih, saat seseorang mengalami penderitaan, otak mereka jadi nggak bener. Bagi seseorang yg lebih waras, memang ada semacam kewajiban memberikan simpati. Namun terkadang salah satu dari bentuksupportemosional itu dapat disalah artikan. Misalnya, apa-apa harus dimaklumi lantaran kondisinya lagi begitu. Tak jarang memaksa. Jadi serba salah. Tetangga sih tetangga, tetapi kok tetangga masa gitu? Ingin memaklumi tetapi nggak mau memaklumi kondisi orang lain.
Cara mereka membalas teguran itu menciptakan saya berpikir lebih dalam. Perkara mencari kekayaan dapat jadi fenomena yg agak rahasia juga. Ada yg jalannya mulus, ada juga yg mesti jungkir balik dulu baru dapat mendapatkannya. Tapi ya lagi-lagi harus dilakukan. Kalau tidak begitu, dari mana mendapatkannya? Ternak lele? Iya kalau punya modal, atau minimal punya usaha untuk mendapatkan danang. Intinya memang perkara usaha dalam mendapatkannya memang harus dilakukan sepanjang waktu. Atau minimal, hingga tahu & paham konsep kaya dalam pengertian pribadi.
Menjadi orang kaya memang enak. Lagian, siapa yg tidak mau? Sekali lagi, permasalahannya, mau atau tidak dalam mengusahakannya? Dalam mengerjakannya, dapat saja tidak punya waktu untuk berkumpul dengan rekan-sejawat yg masih betah berstatus pengangguran lantaran sibuk meningkatkan perekonomian. Lalu mengantarkan hidup jadi lebih nyaman & tentram. Asalkan tahu peran & sanggup memberikan sumbangan supaya perekonomian keluarga jadi lebih baik. Buat saya, ini pengertian kaya menurut pribadi.
Memang, cara tetangga di samping rumah dalam menegur agak kasar juga, sih. Akhirnya yg ditegur jadi merasa jagoan. Barangkali saya juga patut disalahkan karena tidak pernah menegur. Apalagi, posisi rumah orang tua saya cuma dibatasi tembokbasecampmereka daripada yg menegur.
Akhirnya, keesokan harinya setelah bekerja, saya antarkan sebungkus martabak keju khas Pecenongan untuk mereka. Makanan memang cara termudah menentramkan orang-orang macam mereka. Saya katakan,Boleh ngumpul, tetapi kalo udah malem, suaranya dikecilin, ya. Nggak enak sama yg lain.
Mereka tertawa. Apalagi salah satunya mengatakan,Wah, rupanya kita lagi disogok.Membuat saya ikutan tertawa. Kemudian sambil menatap salah satu tetangga di rumah keluarga lama, yg sudah disulap jadi kontrakan petak, saya katakan,Apalagi, kamu. Keluarga kita sudah saling mengenal lama. Jadi, saling perhatian aja, ya. Nggak perlu saya harus menegur dengan cara yg dipakai oleh itu,dengan menunjuk rumah tetangga sebelah.
Dia membalas,Iya, Om.
Begitulah akhirnya. Bermodalkan saling pengertian karena membawa status sudah bertetangga sejak lama, pelan-pelan berubah. Mereka memang masih sering nongkrong tetapi semakin tidak bising. Bahkan, kadang-kadang sudah cabut sebelum jam sepuluh malam. Paling tidak saat ini, mereka dapat mengerti bagaimana berhubungan sosial dengan baik & benar di lingkungan tempat tinggal. Kita ini makhluk sosial. Saling pengertian tanpa menyalahkan merupakan salah satu kemampuan yg penting. Dalam batin, saya merapal harapan, semoga di masa mendatang mereka sanggup jadi kaya dalam artian masing-masing. Semoga.
Hari ini 10:23