yan raditya
IndoForum Addict E
- No. Urut
- 163658
- Sejak
- 31 Jan 2012
- Pesan
- 24.461
- Nilai reaksi
- 72
- Poin
- 48
Saham global jatuh selama tiga hari berturut-turut pada penutupan perdagangan Rabu 10 Oktober 2012. Peringatan pertumbuhan pendapatan korporasi yang lambat telah menggarisbawahi kekhawatiran tentang lesunya perekonomian dunia.
Sementara itu, harga minyak merosot, meskipun ada kekhawatiran keamanan pasokan minyak mentah dari Timur Tengah.
Pasar ekuitas sedikit terpengaruh setelah adanya peringatan dari danang Moneter Internasional, bunk Dunia, dan perusahaan multinasional AS tentang prospek ekonomi dunia yang loyo.
Setelah penutupan perdagangan Selasa, Alcoa memperingatkan berkurangnya konsumsi aluminium sebagai indikasi pertumbuhan ekonomi yang melambat. Perusahaan besar lainnya, termasuk perusahaan minyak, Chevron Corp, juga memperingatkan penurunan pendapatan. Dua perusahaan itu mengatakan laba kuartal ketiga akan jauh lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya.
Alhasil, saham Alcoa turun 4,6 persen menjadi US$8,71 dan Chevron melemah 4,2 persen menjadi US$112,45. Penurunan saham dua perusahaan ini merupakan hambatan terbesar pada pergerakan indeks S&P 500.
Indeks Dow Jones industrial average ditutup turun 128,56 poin atau 0,95 persen di posisi 13.344,97. Indeks Standard & Poor's 500 turun 8,92 poin atau 0,62 persen menjadi 1.432,56. Nasdaq Composite Index tergelincir 13,24 poin atau 0,43 persen berada pada level 3.051,78.
Di pasar Asia, pada pembukaan perdagangan saham Kamis 11 Oktober 2012, indeks juga melemah. Indeks MSCI dari saham Asia Pasifik selain Jepang turun 0,3 persen, dan Nikkei Jepang dibuka terkoreksi 0,6 persen.
Sebelumnya, bunk Dunia pada awal pekan ini memangkas proyeksi pertumbuhan untuk Asia Timur, karena ada kekhawatiran perlambatan ekonomi China bertahan lebih lama dari yang diharapkan. Sementara itu, pada Selasa, danang Moneter Internasional mengatakan krisis utang zona euro bisa mengancam ekonomi global.
Sementara itu, harga minyak Brent melemah dalam perdagangan yang sangat volatile, dan minyak mentah AS berbalik turun setelah pada awal perdagangan naik, karena kekhawatiran keamanan pasokan dari Timur Tengah di tengah meningkatnya ketegangan Suriah. Namun, proyeksi pertumbuhan dunia yang melambat telah menghambat permintaan minyak.
Minyak mentah Brent turun 17 sen dan menetap di level US$114,33 per barel. Sedangkan minyak mentah berjangka AS turun US$1,14 dan berada di posisi US$91,25 per barel.