• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Ehipassiko Dan Dogma

marcedes

IndoForum Junior E
No. Urut
17648
Sejak
21 Jun 2007
Pesan
1.552
Nilai reaksi
20
Poin
38
27. “Yang Mulia, pada suatu ketika ada seorang brahmana yang sudah tua, sudah berumur, dan dibebani usia. Dia mempunyai istri seorang gadis brahmana muda yang hamil dan sudah mendekati persalinan. Maka istrinya ini memberitahu dia: ‘Pergilah, brahmana, belilah seekor kera muda di pasar dan bawalah kembali kepadaku sebagai teman bermain bagi anakku.' Brahmana itu menjawab: ‘Tunggu, nyonya, sampai engkau telah melahirkan anak itu. Jika engkau melahirkan seorang anak lelaki, maka aku akan membeli seekor kera jantan muda di pasar dan membawanya kembali kepadamu sebagai teman bermain bagi anak lelakimu; tetapi jika engkau melahirkan seorang anak perempuan, maka aku akan membeli seekor kera betina muda di pasar dan membawanya kembali kepadamu sebagai teman bermain bagi anak perempuanmu.' Untuk kedua kalinya istrinya itu mengucapkan permohonan yang sama dan menerima jawaban yang sama pula. Untuk ketiga kalinya istrinya itu mengucapkan permohonan yang sama. Kemudian, karena pikirannya amat mencintai istrinya, brahmana itu lalu pergi ke pasar, membeli seekor kera jantan muda, membawanya kembali dan memberitahu istrinya:' Aku telah membeli seekor kera jantan muda ini di pasar [385] dan membawanya kembali kepadamu sebagai teman bermain bagi anak lelakimu.' Kemudian istrinya berkata: Pergilah, brahmana, bawalah kera jantan muda ini ke Rattapani, putra tukang celup, dan katakan kepadanya: “Rattapani yang baik, saya ingin agar kera jantan muda ini diberi warna yang disebut kuning-salep, kemudian dipukul dan dipukul lagi, dan diratakan di dua sisinya.”' Maka, karena pikirannya amat mencintai istrinya, brahmana itu membawa kera jantan muda itu ke Rattapani, putra tukang celup, dan berkata kepadanya: ‘Rattapani yang baik, saya ingin agar kera jantan muda ini diberi warna yang disebut kuning-salep, kemudian diketok dan diketok lagi, dan dilicinkan di dua sisinya.' Rattapani, putra tukang celup itu berkata kepadanya: ‘Yang Mulia, kera jantan muda ini akan tahan menerima warna itu tetapi tidak akan menerima ketokan dan pelicinan.' Demikian pula, Yang Mulia, doktrin Nigantha yang tolol itu akan menyenangkan orang-orang tolol tetapi bukan orang-orang yang bijaksana, dan doktrin itu tidak akan tahan bila diuji atau dilicinkan.

“Kemudian, Yang Mulia, pada saat yang lain brahmana itu membawa seperangkat pakaian baru ke Rattapani, putra tukang celup dan berkata kepadanya: ‘Rattapani yang baik, saya ingin agar seperangkat pakaian baru ini diberi warna yang disebut kuning-salep, kemudian dipukul dan dipukul lagi, dan diratakan di dua sisinya.' Rattapani, putra tukang celup itu berkata kepadanya: ‘Yang Mulia, seperangkat pakaian baru ini akan tahan menerima warna dan pukulan dan pelicinan.'

Demikian pula, Yang Mulia, doktrin Yang Terberkahi itu, yang telah mantap dan sepenuhnya tercerahkan, akan menyenangkan orang-orang yang bijaksana tetapi bukan orang-orang tolol, dan doktrin itu akan tahan bila diuji atau dilicinkan.”

lebih jelas baca UPALI SUTTA.

ajaran buddha sampai saat ini masih tahan dan bisa di buktikan kebenaran nya.

DATANG DAN BUKTIKAN SENDIRI.....

beda dengan dogma..yang cuma bisa bercerita..tetapi tidak akan tahan..kenapa?
karena kebenaran adalah yang KENYATAAN.
 
Yang bilang ajaran Buddha itu kebenaran yah pemeluk Buddha sendiri. Kalau tidak, ngapaian saudara-saudara dari agama lain capek-capek mau menginjil saya, mau menjadikan saya mualaf.....

Bagiku, ajaran Buddha cukup benar untuk diriku saja. Apakah itu benar bagi yang lain, terserah mereka deh. Karena mereka juga aku harap dan aku rasa memiliki kebenarannya sendiri. Banyak kebenaran yang ada di dunia ini, kebenaran beriringan dengan keyakinan.

Setiap keyakinan memiliki kebenarannya sendiri. semakin banyak membaca, kita akan sadar bahwa kita semakin bodoh, semakin kita tahu, kebalikannya yang akan kita sadari, bahwa kita sebenarnya tidak tahu.

Ada banyak kebenaran yang diklaim benar oleh pengikutnya. Namun seperti Bhineka Tunggal Ika, kebenaran-kebenaran yang sejati itu tidak pernah kembar adanya.

Agama Yahudi, yang menurut ajaran kita sudah pasti dogma. karena kemutlakan hukum taurat dan keesahan Tuhannya, muncul 1000 tahun sebelum masehi. Dan masih bertahan sampai sekarang. Agama Kristen, hanya selisih sekitar 500 tahun lebih muda dari agama Buddha. Sementara agama Islam, hanya selisih sekitar 1000 tahun lebih muda dari agama Buddha. Lebih jauh lagi, sebagai agama tertua dengan sistem kasta (jelas dogma) dan ketertutupan Weda untuk kasta lain selain Brahmana (dogma juga), masih miliaran pemeluknya di seluruh dunia.

Karma yang menentukan sesuatu itu bertahan atau hancur. Bukan dogma atau kenyataan.

Kenyataannya, dengan segala klaim kebenaran yang bisa dibuktikan pada ajaran Buddha, sampai sekarang masih ada saja yang bertanya padaku, 'Masih Buddha...?'

Sekali lagi, cukup bagi kita saja ajaran Buddha ini benar. Kalau kita mau seluruh dunia, seluruh agama, membuktikan bahwa ajaran Buddha benar, kembali ke tujuan agama Buddha untuk mencapai Nibbana, apakah ini membantu?

Ehipasiko diucapkan dengan rendah hati, bukan dengan membusungkan dada dan menantang dengan mata melotot. Kita tidak pernah cari gara-gara. Sampai hari ini, hanya pada aliran (?) Meitreya saja ada Misionaris yang mengatas namakan agama Buddha.
 
Agama Yahudi, yang menurut ajaran kita sudah pasti dogma. karena kemutlakan hukum taurat dan keesahan Tuhannya, muncul 1000 tahun sebelum masehi. Dan masih bertahan sampai sekarang. Agama Kristen, hanya selisih sekitar 500 tahun lebih muda dari agama Buddha. Sementara agama Islam, hanya selisih sekitar 1000 tahun lebih muda dari agama Buddha. Lebih jauh lagi, sebagai agama tertua dengan sistem kasta (jelas dogma) dan ketertutupan Weda untuk kasta lain selain Brahmana (dogma juga), masih miliaran pemeluknya di seluruh dunia.

Karma yang menentukan sesuatu itu bertahan atau hancur. Bukan dogma atau kenyataan.

Kenyataannya, dengan segala klaim kebenaran yang bisa dibuktikan pada ajaran Buddha, sampai sekarang masih ada saja yang bertanya padaku, 'Masih Buddha...?'

Sekali lagi, cukup bagi kita saja ajaran Buddha ini benar. Kalau kita mau seluruh dunia, seluruh agama, membuktikan bahwa ajaran Buddha benar, kembali ke tujuan agama Buddha untuk mencapai Nibbana, apakah ini membantu?

Ehipasiko diucapkan dengan rendah hati, bukan dengan membusungkan dada dan menantang dengan mata melotot. Kita tidak pernah cari gara-gara. Sampai hari ini, hanya pada aliran (?) Meitreya saja ada Misionaris yang mengatas namakan agama Buddha.

So what is your problem, brother ??

Anda menyatakan bahwa "kebenaran" ajaran BUDDHA hanya diakui oleh pemeluknya saja. THAT's OK... lantas what's your problem ?? Terus anda cerita panjang lebar tentang KRISTEN dan MUSLIM, what's your problem lagi ?? Jika anda menyatakan bahwa "kebenaran" BUDDHA hanya oleh BUDDHIS saja, maka berhenti disini saja.

Terasa ada seperti perasaan depresi atau semacamnya anda menyikapi tentang perbedaan "keyakinan", terutama lagi ketika anda menyikapi tentang aliran "MAITREYA". Mungkin kembali lagi kita harus ehi phassiko... tetapi haruslah ehi phassiko yang internal (buktikan sendiri ajaran sendiri) dan bukan eksternal (membuktikan ajaran orang lain salah). BAGAIMANAPUN ber-AGAMA atau ber-KEYAKINAN itu memang menurut kecocokan masing masing.

Saya cocok dengan BUDDHA, belum tentu yang lain cocok dengan BUDDHA. Itu saja. Tak ada urusan orang lain beragama A atau beragama B ataupun tidak beragama.
 
Syukur lah akhirnya menyadari. Tidak ada masalah apa-apa. Hanya saya melihat dari membaca bahwa banyak pemeluk agama yang berubah menjadi fanatik atas agamanya sendiri karena keyakinannya.

kemudian, saya menyampaikan ide bahwa yang membuat suatu ajaran itu bertahn bukan karena dia dogma atau kenyataan (seperti yang anda tulis), melainkan proses hukum karma. dengan memaparkan bukti-bukti sejarah yang sampai sekarang masih berproses.

Soal depresi atas aliran Meytreya. Itu perasaan anda saja. Saya baik-baik saja dengan ajaran tersebut. Selama yang dilakukan adalah perbuatan yang baik menurutku, tidak ada masalah. Hanya ada satu yang tidak saya suka atau mengganjal, yaitu kecenderungan mereka untuk melakukan misionaris pada kalangan umat beragama sendiri.

Maksudku begini; ada pemeluk Meitreya yang berusaha mengajak temannya yang beragama Buddha untuk bergabung dengannya. Ada penganut Islam yang berusaha memualafkan sebanyak-banyaknya orang. Ada juga teman Kristen yang berusaha menginjil siapa saja dimana saja (bahkan sampai di Gramedia).

Saya tidak setuju di situ. Karena melakukan misionaris pada umat yang sudah beragama adalah sebuah perbuatan yang SARA ('S' nya bukan sex yah, :D). Perbuatan misionaris pada umat yang sudah beragama, bisa berujung pada pergesekan-pergesekan yang bisa menimbulkan percikan bunga api seprti di Ambon atau di Palestina.

Lakukan misionaris jika memang niat untuk menyebarkan agama di tempat-tempat terpencil di muka bumi ini pada manusia yang belum mengenal agama.

Karena, sedikit ironis bahwa "KEMAJUAN" yang kita dengung-dengungkan sebenarnya adalah "Keyakinan Timur Tengah" dengan 'Pemikiran Barat". dan kemajuan ini sedikit banyak juga sudah mulai terjadi pad sebahagian pemeluk ajaran Buddha.

Lihatlah misionaris yang dilakukan umat Meitreya pada umat beragama. Tindakan seperti itu hanya ada pada agama-agama Timur Tengah. Menurut pemikiranku, ini yang salah. Jadi, saya bukan depresi atas ajarannya. Dan saya sama sekali tidak tertarik dengan ajaran itu. Walau saya suka mempelajari ajaran semua agama. Namun sampai detik ini saya masih puas dengan ajaran agama Buddha.

Kemudian tulisan-tulisan yang memaksakan suatu kebenaran menjadi universal adalah juga khas timur tengah. Sebagai sesama umat Buddha yang mau berbagi pikiran dan sharing di ajang seperti di Indo Forum ini, tidak ada salahnya saling mengingatkan. Juga kepada adik-adik/saudara-saudara kita dari aliran Meitreya.

Perkuat keyakinanmu pada ajaranmu. Tapi cukup untuk dirimu sendiri. Konsep kendaraan besar seperti dalam Mahayana, jangan diterjemahkan menjadi misionaris antar sesama pemeluk agama.

Saya berpikir mengapa banyak serangan-serangan diberikan kepada aliran Meitreya di forum ini, salah satu sebabnya adalah, kerena kita menjumpai mereka sering melakukan praktek misionaris (alih-alih ehipasiko) pada sesama penganut Buddha. Dan celakanya, kadang mereka nekat melakukan misionaris pada orang-orang yang aura keyakinannya sudah demikian tebal. Yang ada justru muncul cemooh.

Mungkin ide saya sebenarnya adalah untuk sedikit membantu memminimalisir 'ganyang-ganyang' Meitreya ini. Dengan membuka hati, membuka pikiran, evaluasi perbuatan. Sehingga kita tidak perlu bertindak seperti ribuan uam Islam terhadap aliran Ahmadiyah. Dan kalau itu sampai terjadi, jangan ngaku penganut agama Buddha deh...:>
 
sebenarnya biar itu aliran THERAVADA,VADATHERA,TATAVEDA,A,B,C,Z,,,,atau aliran INDOFORUM...^^...

setidak nya...AJARAN-nya dapat di buktikan, ( kita menyebutnya ehipassiko )...
atau tahan AKAN KETOKAN atau PELICINAN.....
seperti ajaran buddha 4 kesunyataan mulia....tahan akan apapun..kenapa?
karena itu lah KENYATAAN, dan KEBENARAN...

kalau ajaran KE-TUHANAN...seperti aliran-aliran lain....yg beranggapan bahwa adanya makhluk tertinggi yang menguasai alam semesta...apakah ajaran tersebut dapat di buktikan?....hanya bisa di katakan percaya-percaya.lah.....tapi

begitu DI TAGIH akan pembuktian,,mereka tidak bisa membuktikan nya....
bisa di bilang hanya tahan CELUP....tapi tidak tahan KETOKAN dan PELICINAN...

nama tidak lah penting,,tapi ajaran nya lah yang PENTING.
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.