roughtorer
IndoForum Senior A
- No. Urut
- 44416
- Sejak
- 24 Mei 2008
- Pesan
- 6.755
- Nilai reaksi
- 175
- Poin
- 63
Rabu, 22 Oktober 2008 | 06:16 WIB
BATAM, RABU - Mengenaskan. Seorang ayah kandung tega memasung anak gadisnya sendiri menggunakan rantai besi dirangkai rantai sepeda motor gara-gara menolak dijadikan pengemis jalanan di lampu merah.
Selama tiga hari, sejak Minggu (19/10) pagi, Ita Purnamasari, gadis belia yang baru berumur 16, itu terbelenggu di dalam warung dekat rumah No 37, RT 01/RW 37, Tanjungsengkuang, Batam. Lokasi warung dengan rumah hanya terpisah gang. Ruangan berdinding papan itu hanya seukuran empat meter persegi.
Penderitaan Ita berakhir saat informasi penyiksaan itu diketahui jajaran Polsekta Batuampar, Selasa (21/10) malam, sekitar pukul 23.00 WIB. Dipimpin Kapolsek Batu Ampar, AKP Didik Erfianto, polisi menuju warung tempat korban dipasung.
Saat polisi tiba, ayah Ita yang bernama Syamsudin, sedang pergi menangkap ikan di laut. Petugas langsung membuka jendela warung itu dan terlihat Ita tengah duduk bersimpuh beralaskan kasur tipis.
Korban menutup wajahnya dengan selimut. Kaki kirinya terbelenggu rantai yang terikat pada sebuah tiang. Kaki kiri korban terlihat sudah membengkak. Polisi kesulitan melepas rantai karena digembok dan tidak ada kuncinya. Polisi terpaksa melepas rantai menggunakan gunting berukuran besar.
Kelegaan terpancar di wajah Ita saat digotong keluar ruangan penyiksaan itu. "Kenapa kalian lama sekali." Kalimat itulah pertama kali yang keluar dari mulut korban usai polisi berhasil melepaskan ikatan.
Dengan terbata-bata Ita mencerikatan kepada Tribun bagimana ia bisa dirantai oleh keluarganya. Pada Kamis lalu, Ita melapor ke Mapolsek Batam Kota karena kerap disiksa ayahnya. Ia juga mengaku dipaksa menjadi pengemis di lampu merah. Setiap hari, Ita yang tidak lulus SD, mengaku diharuskan membawa uang Rp 100 ribu hingga Rp 200 ribu. Bila tak membawa setoran, tangan sang ayah lah yang bicara.
Bahkan rambut Ita yang sebelumnya terurai sebahu dipotong menggunakan parang hingga menjadi cepak dan tak beraturan. Karena tak tahan lagi, Ita akhirnya melaporkan penyiksaan yang dialaminya kepada polisi.
Namun Syamsudin mendatangi polisi dan mengatakan anaknya susah diatur dan jarang pulang rumah. Kata Syamsudin, Ita sering pergi dengan laki-laki. Akhirnya polisi mengizinkan Syamsudin membawa pulang anaknya.
Bukannya dibawa pulang, Syamsudin mengantar Ita ke sebuah panti asuhan di Perumahan Bida Asri, Batam Centre. Hari Minggu pagi, Syamsudin membawa pulang Ita dari panti asuhan tersebut. Setibanya di rumah, kata Ita, dirinya langsung dipukuli menggunakan sapu lidi, kemudian dipasung. "Saya dipukul pakai sapu lidi," ujarnya dengan suara lemah sambil menyilangkan tangan di tubuhnya.
Selama dalam pasungan, Ita kerap berdoa kepada agar Tuhan menolongnya. Hingga akhirnya doa Ita terjawab tadi malam. Polisi langsung membawanya ke Mapolsek Batu Ampar untuk mengambil keterangan. Polisi juga memanggil kakak korban berinisal OL. Hingga berita ini diturunkan, Ita masih diperiksa. Namun ia bersyukur karena sudah bebas dari pasungan.
Berawal dari sepucuk surat
Bagaimana polisi mendapatkan kabar pemasungan Ita? Informasi penyiksaan ini terungkap dari surat pendek yang ditulis Ita, ditujukan kepada temannya, Dedi.
Surat pendek itu berbunyi, "Saya melapor karena saya sudah tidak betah dipukul terus."
Korban nekat menulis surat itu kendati dia tahu bahwa apabila ketahuan ayahnya, dia pasti mendapatkan siksaan lebih keras.
Awalnya Ita berjanji bertemu dengan Dedi di lapangan bola, dekat rumahnya. Namun Dedi tak berani datang karena tidak ada teman yang mau mengantar. Menurut pengakuan Dedi, ia mendapatkan surat itu dari kakaknya. "Kakak saya bertemu Misda. Surat itu diberikan kepada kakak saya," ujarnya.
Setelah menerima surat dari kakanya, tanpa pikir panjang, Dedi segera melapor ke Mapolsekta Batuampar, Selasa (21/10) malam. Dedi mengatakan ia terakhir bertemu Ita pada hari Minggu lalu di panti asuhan. "Terakhir saya ketemu dia di panti asuhan itu, waktu dia dijemput bapaknya," ujar Dedi.
Dedi mengatakan, ia resah tak mendapat kabar dari Ita. Surat Ita seakan menjadi pemompa semangat Dedi untuk menyelamatkan temannya itu. Dedi mengatakan surat itu selalu ia simpan dan ia jaga, hanya ia lepaskan kepada polisi yang akan membebaskan Ita . "Dia pernah bilang sama saya, 'Ded, bawa aku ke mana saja, aku sudah tak tahan lagi'," tutur Dedi menirukan ucapan Ita.
Dedi mengatakan dirinya sangat sayang pada Ita, hingga seandainya ia punya uang, ia akan membawa Ita ke rumahnya di Bandung.
Ketika ditanya apakah ia sayang kepada Ita sebagai teman atau punya perasaan istimewa, dengan malu- malu Dedi menjawab, "Adalah sedikit-sedikit," ujarnya sambil tersipu.
Dedi mengatakan, dirinya mengenal Ita di lampu merah saat mengemis. Ia mengatakan, sebenarya sudah punya pekerjaan lain. Namun karena Ita memohon untuk membantu memenuhi setoran, Dedi akhirnya kembali turun ke jalan untuk membantu Ita.
Dedi mengatakan sesama anak jalanan mereka saling membantu. Karenanya, kendati tinggal di Telaga Punggur, Dedi tetap selalu menemani Ita setiap kali mengemis di lampu merah. (Novyana Handayani, El Tjandring)


