XiaoYanZi
IndoForum Beginner A
- No. Urut
- 144616
- Sejak
- 14 Jul 2011
- Pesan
- 1.118
- Nilai reaksi
- 38
- Poin
- 48
Washington (ANTARA/Xinhua-OANA) - Duta Besar AS untuk Suriah Robert Ford, Ahad (7/8), mengatakan ia akan terus bertemu dengan pemrotes di negara ia ditempatkan itu kendati pemerintah di Damaskus menentang keras tindakan tersebut.
Dalam wawancara yang disiarkan di progam ABC "This Week", Ford mengatakan ia "tidak peduli" apakah pemerintah Suriah marah sebab ia "harus memperlihatkan solidaritas bagi pemrotes".
Ford, yang telah kembali ke Suriah, baru-baru ini dipanggil dari negeri itu untuk berkonsultasi dengan para pejabat AS mengenai situasi di Suriah.
Pada 11 Juli, ia melakukan kunjungan kontroversial ke kota Hama di Suriah tengah, yang telah dilanda protes antipemerintah. Kunjungan tersebut tampaknya memicu serangan dari sebagian warga Suriah terhadap Kedutaan Besar AS dan kediaman duta besar di Damaskus.
Setelah serangan itu, AS telah meningkatkan tekanan atas pemerintah Suriah, baik secara lisan maupun tindakan, kata Xinhua, yang dipantau ANTARA di Jakarta, Senin.
"Saya akan melakukannya lagi besok, kalau saya harus melakukannya. Saya akan terus bergerak keliling negeri itu. Saya tak bisa berhenti," kata Ford di dalam wawancara tersebut.
Ia mengatakan AS sedang mencari cara untuk menjangkau pemrotes Suriah "melalui media sosial, melalui jejaring seperti Facebook, dan dengan berkeliling negeri itu".
Ford menyampaikan kembali pendirian AS bahwa Presiden Suriah Bashar al-Assad "telah kehilangan keabsahan", dan mengatakan ia dan pemerintahnya "akan jadi masa lalu", seperti yang telah dikatakan Presiden AS Barack Obama pada 31 Juli.
Namun ia mengatakan "situasi di Libya sangat berbeda dengan apa yang terjadi di Suriah", ketika ia ditanya mengapa AS tak melakukan aksi militer terhadap Suriah, seperti yang dilakukannya di Libya.
Ia mengatakan ketika ia berbicara dengan pemrotes di Suriah, mereka sangat jelas bahwa "mereka tak mengingini campur-tangan militer Amerika".
Dalam wawancara yang disiarkan di progam ABC "This Week", Ford mengatakan ia "tidak peduli" apakah pemerintah Suriah marah sebab ia "harus memperlihatkan solidaritas bagi pemrotes".
Ford, yang telah kembali ke Suriah, baru-baru ini dipanggil dari negeri itu untuk berkonsultasi dengan para pejabat AS mengenai situasi di Suriah.
Pada 11 Juli, ia melakukan kunjungan kontroversial ke kota Hama di Suriah tengah, yang telah dilanda protes antipemerintah. Kunjungan tersebut tampaknya memicu serangan dari sebagian warga Suriah terhadap Kedutaan Besar AS dan kediaman duta besar di Damaskus.
Setelah serangan itu, AS telah meningkatkan tekanan atas pemerintah Suriah, baik secara lisan maupun tindakan, kata Xinhua, yang dipantau ANTARA di Jakarta, Senin.
"Saya akan melakukannya lagi besok, kalau saya harus melakukannya. Saya akan terus bergerak keliling negeri itu. Saya tak bisa berhenti," kata Ford di dalam wawancara tersebut.
Ia mengatakan AS sedang mencari cara untuk menjangkau pemrotes Suriah "melalui media sosial, melalui jejaring seperti Facebook, dan dengan berkeliling negeri itu".
Ford menyampaikan kembali pendirian AS bahwa Presiden Suriah Bashar al-Assad "telah kehilangan keabsahan", dan mengatakan ia dan pemerintahnya "akan jadi masa lalu", seperti yang telah dikatakan Presiden AS Barack Obama pada 31 Juli.
Namun ia mengatakan "situasi di Libya sangat berbeda dengan apa yang terjadi di Suriah", ketika ia ditanya mengapa AS tak melakukan aksi militer terhadap Suriah, seperti yang dilakukannya di Libya.
Ia mengatakan ketika ia berbicara dengan pemrotes di Suriah, mereka sangat jelas bahwa "mereka tak mengingini campur-tangan militer Amerika".