Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Bicara soal klakson di lampu merah bukan cuma Mumbai saja yg demikian, tetapi di kota tempat tinggal saya juga kerap terjadi. Meski lampu masih merah, kendaraan di belakang kita akan membunyikan klakson.
Biasanya hal ini terjadi pada perempatan yg tidak dijaga polisi sehingga mereka berharap dapat terus berjalan menerobos lampu merah.
Padahal jelas-jelas arus kendaraan dari arah lain sedang berjalan. Para penerobos ini tentu menghalangi kelancaran mereka yg saat itu sedang lampu hijau. Kasihan sekali mereka yg sedang mendapatkan haknya untuk jalan, namun perjalanan mereka terhambat karena ulah penerobos tersebut.
"Dan orang-orang yg menyakiti orang-orang yg mukmin & mukminat tanpa kesalahan yg mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka sudah memikul kebohongan & dosa yg nyata."
(Surat Al-Ahzab: 58)
Kalau mau dihitung-hitung, bukan cuma pelanggaran lampu merah saja yg mengganggu orang lain, namun kendaraan yg berhenti sembarangan juga sering menyebabkan kemacetan panjang di belakangnya.
Ada beberapa daerah tertentu yg pernah saya lewati, antrian ratusan kendaraan dapat lebih dari satu jam di sana. Ketika tiba di ujung jalan, saya lihat rupanya cuma disebabkan beberapa kendaraan saja yg berhenti tidak pada tempatnya.
Tanpa perasaan bersalah, perbuatan mereka sudah menghabiskan waktu para pengguna jalan lain. Boleh jadi di antaranya sedang menuju rumah sakit, atau menuju bandara, & keadaan genting lainnya. Memang tidak ada polisi jadi tidak ada yg memberi sanksi.
Tapi jangan lupa, perhitungan Allah di akhirat nanti teramat detail & teliti. Mukmin yg berakal sehat akan takut sekali menghadapi hari tersebut, & tak akan berani sedikit saja menghalangi hak orang lain.
Dahulu Rasulullah melarang para sahabat duduk-duduk di tengah jalan. Namun pada zaman itu terkadang ada sesuatu yg menyebabkan orang-orang memang harus duduk di tengah jalan, misalnya karena berkaitan dengan rumah yg ada di tepi jalan itu.
Lalu Rasulullah menjawab kalau memang terpaksa mengerjakannya maka jagalah hak dari jalan tersebut yaitu,
"Menundukkan pandangan, tidak menghalangi, menjawab salam, serta dalam rangka amar makruf & nahi mungkar."
(Hadist Riwayat Muslim)
Jadi, masih beranikah kita memperlambat laju perjalanan orang lain cuma karena kepentingan pribadi? Siapkah kita kalau di hari perhitungan kelak orang-orang itu menuntut balik hak mereka yg kita halangi di dunia?
Buku Motivasi Islam untuk Pengembangan diri
campsite.bio
Bisa Cek-cek dulu, barangkali ada diantara Anda sukai
Hari ini 14:10
Biasanya hal ini terjadi pada perempatan yg tidak dijaga polisi sehingga mereka berharap dapat terus berjalan menerobos lampu merah.
Padahal jelas-jelas arus kendaraan dari arah lain sedang berjalan. Para penerobos ini tentu menghalangi kelancaran mereka yg saat itu sedang lampu hijau. Kasihan sekali mereka yg sedang mendapatkan haknya untuk jalan, namun perjalanan mereka terhambat karena ulah penerobos tersebut.
"Dan orang-orang yg menyakiti orang-orang yg mukmin & mukminat tanpa kesalahan yg mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka sudah memikul kebohongan & dosa yg nyata."
(Surat Al-Ahzab: 58)
Kalau mau dihitung-hitung, bukan cuma pelanggaran lampu merah saja yg mengganggu orang lain, namun kendaraan yg berhenti sembarangan juga sering menyebabkan kemacetan panjang di belakangnya.
Ada beberapa daerah tertentu yg pernah saya lewati, antrian ratusan kendaraan dapat lebih dari satu jam di sana. Ketika tiba di ujung jalan, saya lihat rupanya cuma disebabkan beberapa kendaraan saja yg berhenti tidak pada tempatnya.
Tanpa perasaan bersalah, perbuatan mereka sudah menghabiskan waktu para pengguna jalan lain. Boleh jadi di antaranya sedang menuju rumah sakit, atau menuju bandara, & keadaan genting lainnya. Memang tidak ada polisi jadi tidak ada yg memberi sanksi.
Tapi jangan lupa, perhitungan Allah di akhirat nanti teramat detail & teliti. Mukmin yg berakal sehat akan takut sekali menghadapi hari tersebut, & tak akan berani sedikit saja menghalangi hak orang lain.
Dahulu Rasulullah melarang para sahabat duduk-duduk di tengah jalan. Namun pada zaman itu terkadang ada sesuatu yg menyebabkan orang-orang memang harus duduk di tengah jalan, misalnya karena berkaitan dengan rumah yg ada di tepi jalan itu.
Lalu Rasulullah menjawab kalau memang terpaksa mengerjakannya maka jagalah hak dari jalan tersebut yaitu,
"Menundukkan pandangan, tidak menghalangi, menjawab salam, serta dalam rangka amar makruf & nahi mungkar."
(Hadist Riwayat Muslim)
Jadi, masih beranikah kita memperlambat laju perjalanan orang lain cuma karena kepentingan pribadi? Siapkah kita kalau di hari perhitungan kelak orang-orang itu menuntut balik hak mereka yg kita halangi di dunia?
Buku Motivasi Islam untuk Pengembangan diri
selfdevelopment's Campsite.bio
selfdevelopment's Campsite.bio profile. Create your own bio link for free today.