• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Dua Desa di Gorontalo Belum Terjamah

roughtorer

IndoForum Senior A
No. Urut
44416
Sejak
24 Mei 2008
Pesan
6.755
Nilai reaksi
175
Poin
63
Selasa, 18 November 2008 | 21:56 WIB

GORONTALO, SELASA - Limbato dan Papualangi, dua desa korban gempa hebat di wilayah Kabupaten Gorontalo Utara hingga Selasa (18/11) siang belum terjamah aparat pemerintah maupun kehadiran bantuan kemanusiaan.

Saat tim wartawan Tribun Manado berada di desa itu sekitar pukul 11.00, warga hanya berkumpul di jalan desa lokasi transmigrasi lokal di Provinsi Gorontalo. Empat rumah warga setempat yang roboh keadaanya masih seperti pagi ketika gempa terjadi.

Gubernur Gorontalo Fadel Mohammad dan rombongan sekitar pukul 13.30 terlihat melintas cepat di jalan Trans Sulawesi di Kecamatan Sumalata. Mereka hendak menuju ke Tolinggula. Kehadiran Fadel Mohammad ini memasuki hari kedua setelah bencana terjadi.

Keadaan sejumlah desa di pegunungan maupun pesisir Gorontalo Utara, seperti Sumalata, Tolinggula, dan Anggrek kemarin bergerak normal. Sejumlah kecil nelayan di Sumalata dan Anggrek sudah berani melaut. Tapi malam harinya penduduk di pesisir mengungsi ke daerah ketinggian.

Mereka membuat tenda darurat di jalan-jalan beraspal di sepanjang jalan Trans Sulawesi. Di Desa Didingga, sekitar 15 kepala keluarga telah kembali ke desanya, Selasa (18/11) pagi. Dua malam sebelumya, mereka mengungsi ke bagian desa yang lebih tinggi.

Mereka mendirikan tenda tenda darurat di pinggir jalan menuju ke Kecamatan Sumalata. Di Tolinggula dan Sumalata, para petani di pegunungan pun kembali ke kebun dan mengolah sawah. Pasar Molangga di Tolinggula ramai dikunjungi masyarakat.

Dari hasil pantauan di Tolinggula dan Sumalata, kerusakan terparah di wilayah Gorontalo terjadi di Desa Limbato, enam kilometer dari pusat kecamatan Tolinggula, dan Desa Papualangi, sekitar tujuh kilometer dari Desa Limbato.

Di Limbato, empat rumah hancur, 10 rumah rusak berat karena sebagian besar tembok bangunan runtuh, dan lima rumah lain rusak ringan. Kerusakan umumnya berupa retaknya dinding bangunan.

Di Desa Papualangi, balai desa roboh, dua masjid hancur, dua bangunan puskesmas rusak total, serta dua balai pertemuan rusak berat. Jembatan berangka baja di Desa Biau yang meliintang di atas Sungai Biau asnya bergeser sekitar satu meter, dan amblas sekitar 20 sentimeter.

Kerusakan lainnya berupa robohnya gapura SDN I Tolinggula Tengah, kecamatan Tolinggula. Gerbang utama SD tersebut runtuh saat terjadi gempa susulan pukul 04.30 wita pada Selasa (18/11).

Kepala Sekolah SDN I, Nurhayati Achmad SPd mengatakan pagi setelah gempa sekolah libur mendadak. Selain alasan keamanan, murid-murid banyak yang tidak masuk karena tinggal di sekitar rumah bersama orang tuanya menyelamatkan diri.

"Kami takut jika terjadi gempa susulan saat pelajaran. Bagaimana menyelamatkan murid yang berjumlah dua ratus ini?" kata Nurhayati mengenang peristiwa dramatis sehari sebelumnya.

Sekretaris Kecamatan (Sekcam) Tolinggula, Imran Arimas, mengatakan tidak ada korban jiwa di wilayahnya. Yang ada hanya dua orang menderita luka ringan.

Korban bernama Nurjanah (39) dan anaknya yang berusia sekitar empat tahun. Keduanya mendapatkan pengobatan di Puskesmas Tolinggula, kemudian diizinkan pulang.

Wakil Gubernur Gorontalo Ir Hi Gusnar Ismail, MM bersama tim dari Dinas Kesejahteraan Sosial (Dinkesos) dan Unit Penanggulangan Bencana Provinsi telah mengunjungi lokasi. "Pemprov melalui Pak Wagup menyerahkan bantuan berupa 17 karton mi instant dan 180 kilogram beras," kata Imran.

Akan tetapi, bantuan itu belum didistribusikan ke desa-desa yang membutuhkan. Bahan pangan itu masih menumpuk di kantor kecamatan. Imran mengatakan bantuan diminta diambil oleh masing-masing kepala desa.

Mekanisme ini dinilai membebani dan memperlambat distribusi. Sebab para kepala desa mendapat beban tambahan harus jemput bantuan ke kecamatan. Ironisnya, belum satu pun aparat kecamatan yang mengunjungi daerah-daerah terparah yang kena dampak gempa.

Sekretaris Desa Papualangi, Abubakar Ibrahim, menyatakan keprihatinannya atas sikap pemerintah kecamatan. Sebab menurutnya distribusi bantuan tanggung jawab kecamatan. Para kepala desa pun menemui hambatan sarana transportasi, serta mahalnya biaya sewa kendaraan.

"Kami tak hanya mengurus warga desa yang jadi korban. Bagaimana mau jemput bantuan, mobil saja sulit. Seharusnya pihak kecamatan berinisiatif," kata Abubakar yang turun dari desa di pegunungan yang terletak sekitar 16 kilometer dari pusat kota Tolinggula. (Tribun Manado/Fernando Lumowa dan Defriyatno Neke)
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.