• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Dramaturgi: Tyrants of Trunojoyo

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Angela
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Angela

IndoForum Pro E
No. Urut
88
Sejak
25 Mar 2006
Pesan
45.487
Nilai reaksi
35
Poin
0
11501120_20231210081831.jpeg
Ferdi Sambo - Listyo Sigit Prabowo - Fadil Imran

Dalam lakon drama yg tumbuh subur sejak era Yunani ada istilah 3-act structure, diketahui sebagai prologos, parodos & eksodos. Prologos secara awam diketahui juga sebagai prolog, dimana karakter-karakter yg hadir dalam cerita diperkenalkan, latar belakang serta konflik konflik-konflik diperlihatkan. Parodos dapat dibilang merupakan bagian utama dari drama tersebut, dimana konflik berkembang & interaksi konflik para tabiat hampir mencapai klimaksnya, & cerita berkembang semakin kmpleks dengan intrik-intrik & twist yg berkembang. Exodos kemudian muncul sebagai sebuah resolusi dimana konflik disempurnakan.

Markas Besar Kepolisian hari ini, tak ubahnya lakon 3-act stage tersebut. Drama & konflik polisi yg tidak netral jadi cerita utamanya. Beberapa waktu lalu kita digemparkan oleh narasi yg berkembang di publik bahwa Jenderal Polisi Listyo Sigit memainkan peran sebagai aktor utama yg mengorkestrasi semua polisi untuk memenangkan Prabowo Subianto & Gibran Rakabuming Raka. Jenderal Listyo Sigit secara clear memberi intruksi pada para bawahannya untuk memastikan kemenangan Gibran pada Pemilu 2024.

Pada hari sebelumnya saya sudah menuliskan bagaimana Perang Bintang Trunojoyo sudah pecah di internal antara Faksi Polri Berpolitik (Kapolri - Wakapolri - Kabaharkam) vs Faksi Polri Tetap Netral (Irwasum - Kabareskrim - Kepala Densus 88) sebagai prologos. Silahkan baca https://www.kaskus.co.id/thread/6569...ile&med=thread untuk menikmati bagaimana prolog drama Kapolri Listyo Sigit P memaksa Trunojoyo tunduk & patuh ikuti perintahnya menangkan Prabowo Gibran. Siapa saja tokoh-tokoh yg jadi hero & anti-hero bagi demokrasi Indonesia.

Prolog itu kini sedang berkembang mencapai Parodos, Kapolri mulai mempertajam konflik ke berbagai arah di tubuh Polri. Link berita ini merupakan teaser bagaimana keseruan konflik itu berkembang. (https://nasional.kompas.com/read/202...-kadensus-88).

Drama polisi tidak netral memasuki fase komedi & sang antagonis utama sudah menunjukkan bagaimana dirinya memiliki kuasa untuk abuse of power. Konflik antara Kapolri & pihak penentangnya (polisi netral/Irwasum - Kabareskrim - Kepala Densus 88) dimulai dengan sebuah cemoohan yg menyerang tokoh penentang. Seperti sudah diketahui sebelumnya Kadensuss 88 adalah tokoh yg menentang Kapolri. Kini penentangan itu berbuah jadi rotasi dengan dalih tour of duty.

Kadensus 88 Irjen Pol. Marthinus Hukom tumbuh berkembang di kesatuan antiterorisme sepanjang berkarier di kepolisian. Jabatan yg diembannya di reserse antiterorisme antara lain Kepala Tim atau Katim Anti Teror Bom Polda Metro Jaya pada 2002, Analis Intelijen Satgas Anti Teror Polri pada 2002 hingga 2015, & Kabid Intelijen Densus 88 Antiteror Polri pada 2010 hingga 2015.

Irjen Pol Marthinus Hukom boleh dibilang punya banyak jasa sebagai insan anti teroris. Kariernya di kepolisian banyak diluangkan di bidang reserse, utamanya anti teror. Ia diketahui sebagai sosok yg andil dalam penangkapan Ali Imron, pelaku teror Bom Bali. Ia juga tercatat ikut dalam penangkapan teroris Nasir Abbas, Azahari bin Husin & Noordin Mohammad.

Kadensus 88 kini harus meninggalkan semuanya, ditanggalkan keahliannya, diasingkan pada jabatan baru sebagai Kepala Badan Narkotika Nasional.

Rotasi & promosi yg dilakukan Kapolri tidak cuma menyasar Kadensus, copot-pasang jabatan strategis yg menguntungkan Kapolri juga dilakukan pada gerbong lain. Celakanya, promosi diberikan pada Gerbong Sambo. Pamen-pamen yg terlibat kasus polisi tembak polisi mendapat promosi jabatan yg cukukup luar biasa setelah dijatuhkan sanksi disiplin. Aneh? Jelas! Bagaimana mungkin periwara menengah setelah mendapat sanksi, diberikan hadiah jabatan.

Pamen Polri yg mendapat hadiah promosi jabatan tersebut adalah eks Kapolres Metro Jakarta Selatan, Kombes Budhi Herdi Susanto & mantan Kasubdit Resmob Ditreskrimum Polda Metro Jaya AKBP Handik Zusen. Kombes Budhi kini ditugaskan jadi Kabag Yanhak Rowatpers SSDM Polri. Sementara AKBP Handik dipercaya untuk mengemban jabatan Kasubbag Opsnal Dittipidum Bareskrim Polri.

Antagonis utama Kapolri terlihat menghimpun kekuatan dengan mengembalikan kawan lama dengan Kabarhakam Fadhil Imran sebagai ikon barunya, sebagai "Gerombolan Sambo". Permainan drama yg semakin merusak citra kepolisian dengan preseden buruk kembalinya Gerombolan Sambo. Menumbuhkan kekhawatiran di publik akan kenerja & netralitas polisi.


Dalam drama klasik, konflik-konflik yg muncul pada act Parodos semakin berkembang dengan spectrum & tokoh-tokoh baru bermunculan. Menyerang & menolong sang tokoh utama. Ode-ode yg mensyairkan kebenaran bermunculan mengiringi alur cerita.

Masih dalam lingkaran sang antagonis utama, Novel Baswedan adalah tokoh yg pernah diselamatkan oleh Listyo Sigit P, ketika dirinya dihancurkan melalui Tes Wawasan Kebangsaan (TWK), Kapolri dengan sigap memberikan uluran tangan & menolong menyelamatkan Novel Baswedan dkk yg ditelantarkan KPK. Polri merekrut 57 mantan pegawai KPK yg tidak lulus Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) jadi ASN Polri dalam rangka memperkuat institusi Polri, salah satunya bidang pencegahan korupsi (https://www.kompas.tv/nasional/23928...di-asn-polri). Novel menambahkan, dirinya & teman-temannya harap betul berkontribusi lebih banyak bagi negara dalam rangka memberantas korupsi. Dan tawaran Kapolri sebagai ASN Polri terlalu sayang untuk dilewatkan.

Namun baru-baru ini, Novel Baswedan menaikan satu oktaf lagu yg awalnya dinyanyikan oleh Agus Raharjo mantan Ketua KPK. Agus Raharjo melantunkan lagu "Intervensi Jokowi Pada Kasus E-KTP" (https://nasional.tempo.co/read/18057...-kasus-e-ktp). Sungguh lagu yg sangat nyaring berdering mengganggu telinga kekuasan. Novel Baswedan justru menguatkan amplifikasi lagu itu. Semakin kuat, semakin kencang, semakin nyaring lagu tersebut. Nyanyian Novel Baswedan menciptakan Kapolri terjepit. Novel mengamini kabar bahwa Agus Raharjo mantan Ketua KPK sempat harap mundur ketika Jokowi mengintervensi kasus e-KTP yg sedang ditangani KPK pada masa kepemimpinan Agus. (https://www.viva.co.id/berita/nasion...at-mau-mundur)

Peran yg dimainkan Novel Baswedan jelas akan menciptakan rungsing Kapolri. Nyanyian Novel Baswedan dapat menyibak semua kebobrokan yg tersembunyi di balik layar pentas drama ketidaknetralan Polri. Sang antagonis utama menghadapi dilema, haruskan ia memecat Novel yg sudah mempertontonkan hal berbahaya selama drama berlangsung. Memecat Novel artinya melindungi kekuasaan di balik layar, menjelaskan bahwa Novel Baswedan sudah memperkeruh suasana dengan ikut melantunkan nyanyian sumbang yg dimainkan Agus Raharjo. Permainan Novel sungguh berbahaya bagi Kapolri, menunjukkan bahwa dirinya bukanlah antagonis utama sebenarnya, ada Tiran yg lapar di balik pentas harap menguasai semua perhatian penonton & mengambil semua kekuasaan. Tiran ini mencoba menyembunyikan batang hidungnya, meski tangannya sudah menggurita ke semua aspek. Menjalar meraih & menghimpun kekuasaan.

Tulisan mengenai drama ini saya dedikasikan untuk insan teater yg mengalami persekusi oleh kekuasaan yg korup & takut kepada kebebasan seni & pertunjukkan. Untuk mereka yg dibungkam untuk menyampaikan kebenaran melalui jalan-jalan Seni. Saya juga mengangkat topi bagi Mas Butet Kertaredjasa, saya bersama Mas Butet. (https://www.cnnindonesia.com/nasiona...pentas-teater)

Jika apa yg terjadi pada Mas Butet "Butet mengaku diperintah untuk menandatangani surat pernyataan yg berisi komitmen untuk tidak membahas unsur politik dalam pentas" adalah benar, maka semua insan kreatif kebebasan seninya akan terancam. Saya mengutuk kekuasaan yg memaksa & mengatur cara kita berkesenian.

Drama kekuasaan ini belum akan berakhir, Parodos masih berlanjut, dengan konflik-konflik yg akan terus berkembang. Tragedi belum juga terlihat, tirai juga belum tersibak memperlihatkan Tiran yg bersembunyi di balik panggung.
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.