• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Internasional Drama 50 jam Liga Super Eropa

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Diggie
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Diggie

IndoForum Activist C
No. Urut
287751
Sejak
6 Apr 2020
Pesan
13.992
Nilai reaksi
1
Poin
0
Berikut adalah berita Drama 50 jam Liga Super Eropa.

Drama 50 jam Liga Super Eropa


Para pendukung sepakbola berunjuk rasa menentang Liga Super Eropa di luar Stadion Stamford Bridge di London pada 20 April 2021 menjelang pertandingan Liga Inggris antara Chelsea & Brighton and Hove Albion. Mereka membawa spanduk bertuliskan "super rakus". 14 klub Liga Premier yg tidak terlibat dalam rencana Liga Super Eropa dengan suara bulat menolak liga itu. Liverpool, Arsenal, Chelsea, Manchester City, Manchester United & Tottenham Hotspur adalah enam klub Liga Inggris yg terlibat dalam rencana itu namun kemudian mundur. (AFP/ADRIAN DENNIS)

Saya ini direktur AC Milan tetapi saya tak tahu apa pun soal proyek Liga Super. Saya tak pernah terlibat dalam berbagai pembicaraanJakarta (ANTARA) - Ketika klub-klub para pendiri Liga Super Eropa satu per satu meninggalkan rencana lomba senilai 4,5 miliar pound (Rp90 triliun) cuma 50 jam setelah diumumkan Minggu malam pekan lalu itu, saling lempar batu sembunyi tangan pun terungkap.

Ide dasar liga ini mempertemukan 15 klub pendiri yg selamanya tak tergantikan dalam lomba ini & lima lainnya yg dapat diambil dari klub-klub lain berdasarkan performa. Kompetisi 20 klub ini menciptakan mereka mencampakkan Liga Champions.

Tetapi hingga diumumkan Minggu malam, ternyata cuma ada 12 klub pendiri yg menandatangani proposal ini.

Baca juga: Ketika sepak bola dieksploitasi cuma demi laba

Keduabelas klub itu adalah Real Madrid, Liverpool, Manchester United, Juventus, Arsenal, Barcelona, Milan, Inter Milan, Atletico Madrid, Chelsea, Manchester City, & Tottenham. Mereka gagal membujuk Bayern Muenchen & Paris Saint Germain untuk bergabung.

Tidak itu saja manuver mereka menciptakan geram komunitas sepak bola, entah itu otoritas sepak bola, otoritas liga, klub-klub lain, pemerintah, pemain, pelatih & tentu saja pendukung sepak bola.

Akibatnya, proposal itu seketika lenyap setelah hampir seluruh klub pendiri balik badan tak kuasa menghadapi penentangan hebat dari komunitas sepak bola, termasuk dari pemain & penggemar.

Media massa Inggris, salah satunya The Guardian, kemudian menurunkan laporan apa yg terjadi di belakang layar yg menciptakan proposal ini layu sebelum berkembang & berhenti sama sekali sekalipun para penggagasnya menyatakan proposal ini cuma ditunda untuk sementara.

Kepada The Guardian, sejumlah orang dalam di balik rencana itu mengungkapkan tiga faktor yg menciptakan rencana ini berantakan sebelum dapat diwujudkan. Pertama, strategi humas yg kacau, gejolak internal dalam klub-klub pendiri, & bungkamnya ke-12 klub ketika diserang terus menerus oleh penggemar, pemerintah & otoritas sepak bola.

Bibit kejatuhan muncul lebih cepat dari yg dikira ketika New York Times & The Times, melaporkan prakarsa itu Minggu siang. Kabar ini mengejutkan 12 klub pendiri yg tetap saja bungkam hingga Minggu malam itu. Mereka bingung dapat secepat itu bocor ke media massa ketika mereka belum siap mengerjakan apa-apa.

"Selama berjam-jam tak ada pernyataan resmi. Dengan begitu, musuh-musuh Liga Super berkesempatan untuk serempak menyerang. Tak ada yg mengupas sisi positifnya," mengatakan salah satu orang dalam itu.

Baca juga: UEFA harap "bangun kembali persatuan" setelah kisruh Liga Super Eropa

Narasi terbangun

Segera setelah itu narasi pun terbangun, bahwa 12 klub pendiri liga itu rakus karena mendapatkan uang tanda tangan kesepakatan 200-300 juta pound (Rp4 triliun-Rp6 triliun) ketika klub-klub lain dihimpit kesulitan, bahwa liga baru yg rencananya dimainkan tengah pekan itu akan meruntuhkan Liga Premier & menghancurkan piramida sepak bola di mana klub-klub kecil dapat menanjak ke puncak.

Nada narasi itu semuanya buruk, tak ada yg mau melihat potensi keuntungan dari liga itu, termasuk penegakan financial fair play yang lebih baik & danang 10 miliar pound (Rp201 triliun) yg diberikan klub-klub dalam piramida sepak bola selama 23 tahun yg jumlahnya tiga kali lebih akbar dari nilai yg saat ini dinikmati.

Yang juga jadi serangan kepada Liga Super ini makin sengit adalah kerahasiaan proyek ini hingga-hingga para pemain & manajer-manajer mereka sama sekali tak tahu rencana itu. Mereka sungguh tak tahu seperti apa Liga Super Eropa itu, kapan mulainya, & apa konsekuensinya kepada kontrak mereka.

"Saya ini direktur AC Milan tetapi saya tak tahu apa pun soal proyek Liga Super. Saya tak pernah terlibat dalam berbagai pembicaraan, Saya tahu kabar itu dari berita Minggu malam,” mengatakan legenda sepak bola Italia Paolo Maldini.

Baca juga: Pemilik Liverpool minta maaf kepada suporter terkait Liga Super Eropa

Bukan cuma Maldini, manajer-manajer kelas atas seperti Juergen Klopp dari Liverpool juga tak tahu proyek ini.

Lalu keesokan hari setelah kabar itu muncul, pada Senin, para pemain Chelsea berjumpa dengan ketua mereka, Bruce Buck, & beberapa dari pemain itu terang-terangan tak harap bersama lagi Chelsea kalau itu harus dibayar dengan tidak dapat tampil membela negara asal mereka dalam pertandingan-pertandingan internasional.

Menurut salah satu orang dalam Liga Super Eropa, skenario itu mustahil terjadi karena secara legal badan sepak bola Eropa (UEFA) tak dapat melarang pemain mana pun tampil dalam lomba internasional, termasuk Piala Dunia.

"Setiap upaya melarang klub atau pemain akan jadi petunjuk pasti adanya pelanggaran kepada hukum lomba Uni Eropa," mengatakan si orang dalam itu.

Tetapi sumber lainnya, masih kepada The Guardian, menyatakan sejak awal proposal itu memiliki cacat fatal karena Bayern Muenchen & Paris Saint-Germain yg merupakan dua finalis Liga Champions tahun lalu, menolak menandatangani liga ini.

Baca juga: Seluruh klub Inggris mundur dari Liga Super Eropa

Dua pilar goyah

Tetapi masalah lebih akbar yg dihadapi Liga Super adalah reaksi amat bermusuhan dari penggemar sepak bola, otoritas sepak bola & sejumlah pemerintah.

Pemerintah Inggris bahkan memimpin penentangan kepada Liga Super Eropa yg tidak saja dengan mengundang kelompok-kelompok pendukung sepak bola supaya angkat bicara tetapi juga berjanji menjegalnya lewat langkah-langkah legislatif.

Ini mengejutkan sejumlah orang yg terlibat dalam Liga Super, mengatakan seorang sumber. Yang juga menciptakan para inisiator Liga Super Eropa terhenyak adalah Eropa & dunia sepak bola bersatu padu menentang proposal itu, bahkan Presiden FIFA Gianni Infantino yg sering berseberangan dengan Presiden UEFA Aleksander Ceferin kali ini kompak. Infantino tak mau melawan tekanan habis-hadapatn dari masyarakat sepak bola supaya mengecam Liga Super Eropa.

Situasi berubah drastis ketika Pep Guardiola menciptakan kaget direksi Manchester City setelah menyatakan tak sudi terlibat dalam Liga Super saat kontrak barunya nanti ditandatangani. Juergen Klopp dengan beberapa direksi Liverpool juga bersitegang & ini terjadi beberapa saat sebelum Liverpool bertandang ke kandang Leeds United untuk menjalani laga liga Senin.

Itu semua berarti sebelum 14 klub Liga Premier Inggris lainnya berjumpa Selasa. Mereka jadi yakin proyek baru itu bermasalah karena tiga klub pendirinya menghadapi guncangan dari internalnya sendiri.

Liga Super Eropa, menurut The Guardian, dibangun di atas empat pilar, yakni adanya sejumlah regu besar, pendanaan besar, pasar yg akbar untuk proyek baru, & kerangka aturan yg mesti tahan dari gugatan.

Baca juga: Presiden FIFA peringatkan klub Liga Super Eropa

Tetapi Selasa itu dua dari empat pilar itu goyah. Pilar pertama, yakni regu besar, goyah setelah Chelsea & Manchester City harap kelua. Pilar ketiga, yakni pasar, juga goyah setelah Amazon, Sky, Comcast & BT tak tertarik membeli hak siar Liga Super Eropa.

Sementara itu pemilik Chelsea & Manchester City, masing-masing Roman Abramovich & Sheikh Mansour, mendadak gelisah. Kedua orang ini tidak melibatkan diri dalam sepak bola Inggris untuk alasan mencari untung, melainkan demi reputasi.

Mereka tak mau disebut rakus & memburu untung semata. Dan ketika para pendukung Chelsea memblokade jalan ke Stamford Bridge, saat itu pula Chelsea mantap berubah pikiran, keluar dari Liga Super. Efek domino pun tercipta.

City, Arsenal, MU, Liverpool & Spurs pun akhirnya juga keluar dari rencana Liga Super Eropa. Inter & AC Milan serta kemudian Atletico, juga mundur. Tetapi pemilik Juventus, Andrea Agnelli, tetap "yakin pada indahnya proyek ini”.

Apa daya, gebrakan itu ambruk ditimpa akibat gebrakan itu sendiri. Reformasi untuk sistem lomba yg dikelola UEFA itu pun malah jadi bumerang.

UEFA justru jadi kian kuat, padahal badan sepak bola Eropa ini pun bukan organisasi tanpa cacat yg sebelum ini konstan berusaha dikoreksi berbagai kalangan, khususnya klub-klub akbar itu.

Baca juga: UEFA marah besar, sebut ada ular di balik Liga Super Eropa

Berita diatas dikutip dari internet, jika Drama 50 jam Liga Super Eropa adalah spam, mohon beritahu kami.
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.