byakuya
IndoForum Activist C
- No. Urut
- 46894
- Sejak
- 25 Jun 2008
- Pesan
- 14.460
- Nilai reaksi
- 288
- Poin
- 83
Badan Anggaran DPR saat ini menyiapkan rencana untuk membangun Gedung DPR baru untuk menggantikan gedung Nusantara I di kompleks MPR/DPR, Senayan, yang selama ini menjadi ruang para anggota dewan.
Pembangunan gedung baru itu diperkirakan akan menyedot dana Rp 1,8 triliun. Penganggarannya akan diusulkan secara bertahap, yang dimulai dari APBN Perubahan 2010 sebesar Rp 250 miliar.
''Bangunan itu membutuhkan dana sekitar Rp 1,6 triliun. Sisanya (anggaran) digunakan untuk perlengkapan di dalam, seperti AC dan perkakas lain. Jadi, estimasi totalnya sekitar Rp 1,8 triliun,'' kata Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR Harry Azhar Aziz di Jakarta, (2/4).
Menurut dia, pembangunan gedung baru tersebut seharusnya sudah dibahas DPR periode lalu. Namun, untuk menghindari kehebohan karena menjelang Pemilu 2009, pimpinan DPR periode lalu menunda dan melimpahkannya kepada DPR periode 2009-2014.
Dasarnya adalah hasil penelitian Kementerian Pekerjaan Umum (Kemen PU) 2008-2009 yang menyebutkan, kemiringan gedung Nusantara I mencapai 7 derajat.
''Nggak tahu situasi sekarang. Anggota DPR yang tahu setiap hari khawatir saja. Apalagi, kalau terjadi gempa,'' ujarnya.
Harry menambahkan, saat ini banyak anggota DPR yang tidak berani berkantor di gedung Nusantara I yang dibangun pada 1987 itu.
''Stafnya saja yang disuruh berkantor di sana. Ketidaknyamanan ini, kalau dibiarkan berlarut, tentu mengganggu kinerja,'' kata legislator dari Fraksi Partai Golkar tersebut.
Harry mengatakan trauma saat terjadi gempa pada awal 2009. Itu terjadi saat DPR periode 2004-2009. Saat itu Harry berada di lantai 10 gedung yang memiliki 24 lantai tersebut.
''Goyangannya begitu keras, terpikir apa akan roboh gedung ini. Ya sudah, berdoa saja,'' katanya.
Pada Oktober 2009, gempa kembali terjadi. Di DPR periode 2009-2014, Harry berkantor di lantai 12. ''Beberapa bagian malah sudah retak,'' ujarnya.
Rencananya, kata Harry, gedung baru itu didirikan di belakang gedung Nusantara I. ''Jadi, bentuknya seperti letter U. Kalau masuk dari gerbang belakang DPR lebih dekat,'' katanya.
Pembangunan gedung baru itu diperkirakan akan menyedot dana Rp 1,8 triliun. Penganggarannya akan diusulkan secara bertahap, yang dimulai dari APBN Perubahan 2010 sebesar Rp 250 miliar.
''Bangunan itu membutuhkan dana sekitar Rp 1,6 triliun. Sisanya (anggaran) digunakan untuk perlengkapan di dalam, seperti AC dan perkakas lain. Jadi, estimasi totalnya sekitar Rp 1,8 triliun,'' kata Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR Harry Azhar Aziz di Jakarta, (2/4).
Menurut dia, pembangunan gedung baru tersebut seharusnya sudah dibahas DPR periode lalu. Namun, untuk menghindari kehebohan karena menjelang Pemilu 2009, pimpinan DPR periode lalu menunda dan melimpahkannya kepada DPR periode 2009-2014.
Dasarnya adalah hasil penelitian Kementerian Pekerjaan Umum (Kemen PU) 2008-2009 yang menyebutkan, kemiringan gedung Nusantara I mencapai 7 derajat.
''Nggak tahu situasi sekarang. Anggota DPR yang tahu setiap hari khawatir saja. Apalagi, kalau terjadi gempa,'' ujarnya.
Harry menambahkan, saat ini banyak anggota DPR yang tidak berani berkantor di gedung Nusantara I yang dibangun pada 1987 itu.
''Stafnya saja yang disuruh berkantor di sana. Ketidaknyamanan ini, kalau dibiarkan berlarut, tentu mengganggu kinerja,'' kata legislator dari Fraksi Partai Golkar tersebut.
Harry mengatakan trauma saat terjadi gempa pada awal 2009. Itu terjadi saat DPR periode 2004-2009. Saat itu Harry berada di lantai 10 gedung yang memiliki 24 lantai tersebut.
''Goyangannya begitu keras, terpikir apa akan roboh gedung ini. Ya sudah, berdoa saja,'' katanya.
Pada Oktober 2009, gempa kembali terjadi. Di DPR periode 2009-2014, Harry berkantor di lantai 12. ''Beberapa bagian malah sudah retak,'' ujarnya.
Rencananya, kata Harry, gedung baru itu didirikan di belakang gedung Nusantara I. ''Jadi, bentuknya seperti letter U. Kalau masuk dari gerbang belakang DPR lebih dekat,'' katanya.

