• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

DOSA & BISNIS KOTOR PETINGGI G*REJ*

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Angela
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Angela

IndoForum Pro E
No. Urut
88
Sejak
25 Mar 2006
Pesan
45.487
Nilai reaksi
35
Poin
0
DOSA & BISNIS KOTOR PETINGGI G*REJ*



tirto.id - Sebulan lalu muncul petisi daring menuntut keuangan gereja-gereja akbar di Indonesia diaudit. Pembuatnya adalah Hanzel Samuel, pelajar kelas 2 SMA. Ia menuding gereja tempatnya dulu beribadah mendapatkan persembahan & perpuluhan tetapi bukan dipakai untuk membangun gereja melainkan masuk kantong pribadi sang pendeta.

"Buat beli mobil. Buat kekayaan dialah, pokoknya, katanya kepada saya.Hanzel berhitung kasar: bila dalam satu pekan seorang jemaat memberikan perpuluhan Rp100 ribu, sementara ada 1.000 jemaat yg memberi perpuluhan, minimal terkumpul Rp100 juta. Tapi, pembangunan enggak ada, perbaikan sarana gereja enggak ada, tudingnya. "Itu yg saya khawatirkan. Ia menuntut simpel: transparansi penggunaan danang gereja. Kalau pemasukan siapa yg kasih itu ada, tetapi dipakai untuk apa saja enggak ada." Petisi itu menuai dukungan lebih dari 1.500 orang. Cerita Hanzel bukan barang baru.

Bergunjing soal korupsi di gereja kadang jadi dialog jemaat tetapi nyaris bukan isu publik lantaran dianggap menyentuh kesakralan agama. Memang sempat ada argumen mendesak perlu audit keuangan gereja yg dilontarkan oleh Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Alexander Marwata pada 2017. Sayangnya, dorongan ini cuma angin lalu. Tantangannya sulit mengingat sistem hukum di Indonesia tidak mengenal audit dari pemerintah kepada lembaga keagamaan. Salah satu persoalan yg kami hadapi dapat saja gereja itu jadi tempat money launderingpencucian uang, ujar Jeirry Sumampow, saat itu Kepala Humas Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia, pada 1 November 2017.


Dosa & Bisnis Kotor Petinggi Gereja Kerawanan gereja jadi tempat pencucian uang mengkhawatirkan lantaran di beberapa gereja raksasa, pendeta dapat terlibat mengerjakan bisnis; sebuah pintu lebar bagi kemungkinan korupsi & pencucian uang. Salah satu contoh kasus publik adalah Billy Sindoro, gembala sidang Gereja Christ Catedral (bagian dari Gereja Bethel Indonesia Basilea) dicokok KPK dalam kasus suap izin Meikarta pada 2018.



Meikarta adalah usaha dari Lippo Grup tempat Billy jadi salah satu bosnya. Suap semacam ini bukan perdana kali dilakukan oleh Billy. Pada 2008, ia pernah ditangkap KPK karena menyuap Komisioner Komisi Pengawas Persaingan Usaha dalam kasus hak siar Barclays Premier League. Meski sudah divonis penjara pada Maret lalu, laman Christ Cathedral masih menampilkan Billy Sindoro sebagai co-lead pastor yg tidak menerima upah dari gereja.



Soal kasus-kasus korupsi yg menyangkut petinggi gereja, Direktur Pascasarjana Sekolah Tinggi Teologi Bethel Indonesia Junifrius Gultom mengatakan memang ada kelemahan dalam ajaran gereja, khususnya pada Pentakosta Karismatik, yg cuma menekankan personal sin seperti seks bebas, judi, mabuk & sebagainya. Namun, sering lupa dimensi social sin yg menyangkut rekanan sosial. "Jarang sekali bicara soal ketamakan. Jarang soal penebangan hutan, misalnya. Karena jarang dimuridkan dengan kurikulum yg integrated & holistik sehingga mereka mengatakan Tuhan itu urusan di gereja.



Kalau saya di gereja, Tuhan nothing to do with my business. Itu, kan, keliru, ujar Gultom. Karena itu tak jarang banyak orang saleh di gereja, tetapi dalam perilaku bisnis jauh dari nilai-nilai Kekristenan, menurut Gultom. Maka, mereka membayar upah secara tidak manusiawi, lalu menghalalkan segala cara mengurus izin dengan menyuap. Suap itu mereka pikir tidak ada urusannya dengan Tuhan, katanya.





Respons Satir Jemaat Namun, kondisi gereja macam itu bukannya minim kritisisme. Era media sosial melahirkan akun-akun satire & gosip yg menarik puluhan ribu pengikut, termasuk untuk merespons naiknya tingkat kesalehan kelas menengah Indonesia berbanding lurus dengan tingkat keglamoran para pemimpin agamanya. Misalnya akun Instagram @gerejapalsu yg turut mengampanyekan petisi audit gereja-gereja raksasa & kerap menyindir praktik para pendeta memperkaya diri dengan tudingan didapatkan dari uang jemaat.

Ada pula akun @jemaat_gerejapalsu yg melayangkan kritik serupa kepada kehidupan bergereja. Orang di belakang admin akun tersebut berkata ia menciptakan sindiran & sarkasme dengan persona anonim lantaran tidak ada prosedur whistle blower alias 'peniup peluit' di gereja. Karena gereja tidak mengakui whistle blower.

Jemaat yg kritis tanpa tedeng aling-aling akan dianggap sesat & dikeluarkan dari gereja, katanya. Ada juga akun @pastorinstyle yg menyoroti penampilan glamor para pastor mega church. Ia menampilkan foto pastor lalu iseng-iseng melacak pakaian serta aksesori yg dipakai para pastor itu. Beberapa yg mengejutkan misalnya ada pastor yg memakai jam tangan seharga lebih dari Rp1 miliar. Beberapa pastor perempuan & istri pastor mengenakan aksesori dari merek mahal seperti tas Hermes seharga ratusan juta.

Unggahan mereka direspons balik dari sejumlah pendeta. Salah satunya Pastor Raditya Oloan, yg dalam kolom komentarnya menulis akun-akun satire ini cuma melihat keburukan orang lain. [...] bukan jadi martir, malah jadi satir... Gue yakin banget [apa yg dilihat] orang-orang satire ini mungkin bener ... tetapi cuma [lihat] kesalahan, katanya.

Sementara Pendeta Yohanes Nahuway dari GBI Mawar Saron berkata apa yg ditampilkan oleh akun satire itu mengabaikan konteks. Menurutnya, sering kali para pendeta mendapatkan hadiah dari jemaat berupa barang mewah, bukan dibeli sendiri oleh pendeta. "Kadang kita sulit menolak kalau ada jemaat yg mau berterima kasih dengan cara memberikan barang. Saya pernah khotbah di Amerika kemudian diberi uang Rp30 juta.

Saya belikan iPad Pro. Nanti ada yg bilang, 'Pendeta gaya amat beli iPad mahal.' Padahal bukan uang kita, katanya. Junifrius Gultom juga berpendapat ada banyak pendeta memang sudah tajir sebelum berkiprah di gereja. Ada orang tidak tahu bahwa di Karismatik, kalangan profesional dapat ditahbiskan jadi pendeta. Jadi banyak teman-teman saya jadi pendeta sudah kaya sebelumnya. Gaya hidupnya sudah begitu, ujarnya

SUMBER PENCERAHAN




Hari ini 12:38
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.