• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Dna Menguak Asal-usul

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. goesdun
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

goesdun

IndoForum Junior A
No. Urut
32661
Sejak
7 Feb 2008
Pesan
3.024
Nilai reaksi
66
Poin
48
Dengan DNA Menguak Asal-usul Masa Lalu

APA yang bisa dilihat dari DNA?

Ahli forensik sudah lama berterima kasih terhadap teknologi ini karena berperan besar dalam pengungkapan pelaku kejahatan.

Di bidang kesehatan pun, penelitian DNA banyak membantu dalam memahami epidemiologi penyakit dan membuka cakrawala pengobatan baru.

Akan tetapi, kini DNA pun berperan besar dalam memahami perilaku sosial suatu masyarakat, bahkan yang telah lewat ribuan tahun.

Prof John Stephen Lansing PhD, antropolog dari University of Arizona, Amerika Serikat, sudah melakukannya di Bali.
Dibantu para peneliti dari Bali, Lansing mengumpulkan 557 DNA laki-laki Bali .

Mereka berasal dari kelompok-kelompok pengelolaan air yang dikenal sebagai Subak, di kawasan Sebatu dan Tabanan.

Data-data itu kemudian dianalisis untuk melacak asal-usulnya.

HASILNYA ternyata mencengangkan. Semula masyarakat Bali dianggap hanya berasal dari dataran China yang kemudian bermigrasi melewati Pulau Formusa (kini Taiwan ), Filipina, dan kemudian Indonesia sebelum akhirnya ke Australia sehingga disebut Austronesia.

Ternyata, di Bali ditemukan beragam haplogroup atau kelompok gen-gen yang berkait.

Haplogroup itu ada yang sama dengan kelompok suku (tribal) di India atau Arab. "Namun, haplogroup terbesar bukanlah Austronesia, melainkan campuran India dan Austronesia," ujar Lansing dalam diskusi bertajuk "Membaca Struktur Sosial dari Genom: the Austronesian Expansion", yang berlangsung di Lembaga Eijkman Jakarta , Selasa (14/12).

Ini berarti pengaruh India tidak sekadar budaya seperti yang diduga selama ini, melainkan memang pernah ada migrasi besar dari India ke Bali ribuan tahun lalu.

Kesimpulan bahwa orang Bali juga "berdarah India " semakin kuat bila dikaitkan dengan temuan gigi kuno dari ekskavasi Wayan Ardika di Sembiran, Bali . Gigi yang menurut analisis karbon berusia 2.150 tahun itu ditemukan bersama berbagai peninggalan kuno dari India .

"Mata rantai kromosom Bali-India juga terbukti lebih kuat dibanding mata rantai Bali-Timur Tengah," ujar Lansing dalam acara yang dihadiri antropolog James Danandjaja, arkeolog RP Sujono, pakar biologi molekuler Sangkot Marzuki, Herawati Sudoyo, dan para pakar linguistik itu.

HAL lain yang menarik, analisis DNA juga menunjukkan bahwa transisi dari budaya suku menjadi kerajaan padi lahan basah sudah berlangsung lebih kurang 1.200 tahun lalu, dengan munculnya teknologi lanskap untuk irigasi sawah berteras.

Kecenderungan di subak untuk menikah dengan anak perempuan dari subak yang sama-diduga untuk mempererat kerja sama-bisa dibaca di hasil analisis DNA.

"Dari data yang disajikan, saya juga melihat bahwa kalaupun kawin dengan orang luar, tampaknya lebih banyak terjadi pada laki-laki," kata Sangkot dan dibenarkan Lansing .

Karena itu, Lansing dan para hadirin yang hadir sungguh berharap penggunaan metode DNA ini nantinya bisa lebih luas lagi, melihat pola perpecahan bahasa, misalnya, maupun berbagai perilaku sosial masyarakat lainnya. (nes)

Sumber : Kompas. Sabtu, 18 Desember 2004
 
Mengingat masih banyak orang Bali (Hindu) yang belum tahu dari mana asal usulnya dan berusaha menelusuri sejarah kehidupan leluhurnya.
Tak jarang beberapa polemik pun muncul, bahkan terkadang putus asa. Pencarian panjang yang melelahkan terhadap perjalanan sejarah serta asal usul para leluhurnya mungkin sudah saatnya menggunakan DNA.

-oOo-
 
Masyarakat Tengenan Keturunan India

Prajurit Dewa Indra

Masyarakat Tenganan memercayai bahwa mereka keturunan India. Keyakinan itu seakan terbukti dengan adanya penelitian tim gabungan ilmuwan Indonesia dan Swiss pada tahun 1978.

Dari riset genetik yang dilakukan terhadap sampel darah 18 penduduk Tenganan, didapat kesamaan suatu enzim antara mereka dengan masyarakat asal Calcuta, India. Hal ini diperkuat oleh kesamaan ritual antara penduduk Tenganan dan masyarakat India. Bahkan, kain gringsing yang merupakan salah satu ciri khas masyarakat Tenganan juga memiliki persamaan dengan kain patola India.

Salah satu tradisi, yang dijadikan bukti bahwa mereka adalah masyarakat Hindu sekte Dewa Indra yang notabene ada di India, terlihat pada ritual mereka menghormati dewa perang tersebut. Salah satunya melalui ritual Geret, Perang Pandan, di mana para pemuda desa itu menggelar pertarungan damai dengan menggunakan seikat pandan. Dua laki-laki saling menggoreskan gepokan pandan ke tubuh lawan.

Ritual ini mereka gelar setiap tahun pada sasi (bulan) ke-5 saat Hari Raya Sambah diperingati. Perang Pandan itu sendiri dilaksanakan dalam rangka menghormati Dewa Indra, sosok dewa perang. Sebagai pengikut Dewa Indra, penduduk Tenganan memercayai diri mereka merupakan keturunan ksatria perang.

Ritual tersebut menjadi salah satu daya tarik wisata di Karangasem, khususnya Tenganan. Selain keunikan lainnya, semisal seni menulis dan menggambar di atas daun lontar hingga keunikan adat serta bangunannya, ritual semacam Perang Pandan diakui sebagai penyerap datangnya para wisatawan. Peningkatan kedatangan wisatawan ke Tenganan seiring dengan upaya Pemerintah Daerah Karangasem mengondisikan Desa Tenganan sebagai tujuan wisata budaya.
 
Desa Trunyan

Taru Menyan sendiri diyakini sebagai asal mula nama Desa Trunyan. Konon, pohon ini pernah menyebarkan bau sangat harum. Keharumannya inilah yang menyerap bau busuk mayat-mayat di kuburan ini.

MENYEBUT Trunyan, ingatan langsung pada sebuah desa kecil yang letaknya terpencil di tepi Danau Batur dan di kaki Bukit Abang. Terbayang pula suasana kehidupan masyarakat Bali tempo dulu dengan tradisi kuat menyelimuti desa ini.

Trunyan adalah salah satu desa Bali Aga (Bali kuna) yang berada di Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli. Hampir serupa dengan desa Bali Aga, yaitu Tenganan di Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem, Trunyan memiliki perbedaan dengan desa-desa di Bali umumnya.

Warga Trunyan menyebut diri mereka sebagai Bali Turunan, yaitu orang yang pertama kali turun dari langit dan menempati tanah Pulau Bali. Sementara penduduk Bali lainnya disebut Bali Suku yang berasal dari Jawa (Majapahit). Antropolog James Danandjaja yang pernah meneliti di Trunyan menyebutkan, masyarakat Trunyan memang memiliki kebanggaan pada ciri-ciri kelompoknya yang berbeda dengan masyarakat Bali lainnya.

Meskipun sama-sama menganut agama Hindu, nilai dan tradisi yang dianut warga Trunyan berbeda dengan desa-desa di Bali lainnya. Dalam upacara kematian, misalnya, warga Trunyan juga mengenal ngaben layaknya masyarakat Bali pada umumnya, namun mayatnya tidak dibakar.

Apabila salah seorang warga Trunyan meninggal secara wajar, mayatnya ditutupi kain putih, diupacarai, kemudian diletakkan tanpa dikubur di bawah pohon besar, Taru Menyan, di Sema Wayah. Namun, apabila penyebab kematiannya tidak wajar, mayatnya dikuburkan di Sema Bantas. Keunikan ini menarik wisatawan untuk berkunjung ke Trunyan.

Keunikan lainnya adalah peninggalan purbakala, Prasasti Trunyan. Tersebutlah pada tahun Saka 813 (891 Masehi), Raja Singhamandawa mengizinkan penduduk Turunan (Trunyan) membangun kuil. Kuil berupa bangunan bertingkat tujuh ini merupakan tempat pemujaan Bhatara Da Tonta.

Kuil bertingkat tujuh ini dinamakan Pura Turun Hyang. Di dalamnya tersimpan arca batu Megalitik yang dipercaya dan disakralkan masyarakat Trunyan sebagai arca Da Tonta. Dikenal pula sebagai Pura Pancering Jagat sebagai istana Ratu Gede Pancering Jagat.
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.