roughtorer
IndoForum Senior A
- No. Urut
- 44416
- Sejak
- 24 Mei 2008
- Pesan
- 6.755
- Nilai reaksi
- 175
- Poin
- 63
Jumat, 24 Oktober 2008 | 10:30 WIB
SURABAYA, JUMAT — Dua korban gendam tato Bojonegoro, Bambang dan Nanang, mulai bernapas lega. Tim dokter sudah menembakkan laser untuk menghilangkan sebagian besar tato yang telah membuat wajah mereka seram. Kedua warga Desa Mulyoagung, Kecamatan Kota, Bojonegoro, itu menjalani perawatan di Surabaya Skin Center (SSC), Kamis (23/10) siang. Prosesnya cukup singkat, 45 menit dan dilakukan tim pimpinan dr MY Listiawan SpKK.
Sebelum dilaser, Bambang dan Nanang dirawat selama sepekan di RSU Dr Soetomo. Pada Jumat (17/10) mereka juga menjalani spot test dengan penyinaran laser di sebagian kecil tato guna mengetahui kondisi kulit dan setting alat yang tepat. “Hasil spot test-nya bagus. Tatonya bisa hilang dan kami sudah menentukan energi (sinar laser) yang dibutuhkan,” tutur Listiawan sebelum penyinaran.
Para dokter memerlukan waktu seminggu untuk mengetahui hasil spot test itu sekaligus priming, yaitu penyiapan kulit pasien menerima tembakan sinar laser. Dari hasil tes awal itu diketahui, kondisi kulit Nanang lebih buruk daripada Bambang. Diduga, karena Nanang sempat membasuh wajahnya menggunakan sabun hijau. “Kata tukang tatonya, sabun hijau bisa mengangkat tato,” ujar Nanang.
Berdasarkan spot test, tim dokter menggunakan energi laser 4 joule untuk Nanang dan 5 joule untuk Bambang. Penyinaran itu kemudian dilakukan pada seluruh tato di wajah kedua orang itu. “Meski demikian, keduanya tetap akan menjalani penyinaran kembali untuk mendapat hasil baik. Setelah lima kali penyinaran harapannya bisa clear semua. Tiap penyinaran berselang sebulan,” tutur Listiawan.
Listiawan menjelaskan, laser berfungsi memecah partikel warna tato yang tertanam di kulit. Begitu pecah, partikel warna itu bisa diserap kulit dan gambar akan hilang. Namun pada kasus Bambang dan Nanang, penangannya cukup sulit, karena tato dibuat secara profesional.
Dengan alat rajah modern, warna itu diinjeksikan jauh ke dalam kulit. Zat pewarnanya pun tergolong jenis yang sulit dihapus. “Warna indian ink, hitam atau biru tua menyerap cahaya paling besar,” kata Listiawan.
Kemarin, begitu tiba di SCC, Bambang dan Nanang langsung dibius lokal. Lalu wajah kedua pria itu diolesi semacam krim berwarna putih dan ditutup lapisan plastik. Setelah itu mereka dilaser secara bergantian, Bambang yang pertama.
Dimulai pada pukul 14.00 proses itu tuntas dikerjakan dalam waktu 45 menit. Bahkan, pada pukul 15.00 Bambang dan Nanang sudah bisa keluar dari ruang treatment dengan wajah yang dipenuhi balutan. Mereka diantar menuju RSU Dr Soetomo untuk menjalani rawat inap selama tiga hari sebelum kembali ke Bojonegoro. Pemeriksaan berikutnya paling cepat tiga pekan mendatang.
“Rasanya lega,” ungkap Bambang ketika ditanya perasaannya. Pria tegap ini berharap pengusiran tato itu cepat selesai karena ia sudah tidak tahan untuk berkumpul keluarga. Selain itu ia juga tidak bisa bekerja.
Hal serupa diungkapkan Nanang. Terakhir kali ia ditemani keluarganya di RSU Dr Soetomo pada Jumat (17/10). “Selama ini ya sendirian saja, menurut rencana keluarga baru datang jumat (hari ini) karena dulu janjinya Jumat sudah bisa pulang,” kata Nanang.
Disinggung tentang tuntutan hukum yang mereka layangkan, Bambang menyatakan, mereka akan pikir-pikir dulu apakah akan melanjutkannya atau menghentikannya. Meski demikian, mereka menegaskan tetap akan menuntut ganti rugi secra materil. “Belum tahu berapanya, nanti dilihat-lihat dulu,” ujar Bambang.
Soal biaya terapi laser itu, SSC menolak menjawab. Pengelola menegaskan, proses itu merupakan bagian dari kerja sama dengan RSU Dr Soetomo. Namun, dalam daftar harga disebutkan bahwa penghilangan tato dengan laser dipatok Rp 1,5 juta per 10 cm² atau kurang. Bila lebih luas, sisanya dikenakan biaya Rp 175.000 per cm². rey/rie
SURABAYA, JUMAT — Dua korban gendam tato Bojonegoro, Bambang dan Nanang, mulai bernapas lega. Tim dokter sudah menembakkan laser untuk menghilangkan sebagian besar tato yang telah membuat wajah mereka seram. Kedua warga Desa Mulyoagung, Kecamatan Kota, Bojonegoro, itu menjalani perawatan di Surabaya Skin Center (SSC), Kamis (23/10) siang. Prosesnya cukup singkat, 45 menit dan dilakukan tim pimpinan dr MY Listiawan SpKK.
Sebelum dilaser, Bambang dan Nanang dirawat selama sepekan di RSU Dr Soetomo. Pada Jumat (17/10) mereka juga menjalani spot test dengan penyinaran laser di sebagian kecil tato guna mengetahui kondisi kulit dan setting alat yang tepat. “Hasil spot test-nya bagus. Tatonya bisa hilang dan kami sudah menentukan energi (sinar laser) yang dibutuhkan,” tutur Listiawan sebelum penyinaran.
Para dokter memerlukan waktu seminggu untuk mengetahui hasil spot test itu sekaligus priming, yaitu penyiapan kulit pasien menerima tembakan sinar laser. Dari hasil tes awal itu diketahui, kondisi kulit Nanang lebih buruk daripada Bambang. Diduga, karena Nanang sempat membasuh wajahnya menggunakan sabun hijau. “Kata tukang tatonya, sabun hijau bisa mengangkat tato,” ujar Nanang.
Berdasarkan spot test, tim dokter menggunakan energi laser 4 joule untuk Nanang dan 5 joule untuk Bambang. Penyinaran itu kemudian dilakukan pada seluruh tato di wajah kedua orang itu. “Meski demikian, keduanya tetap akan menjalani penyinaran kembali untuk mendapat hasil baik. Setelah lima kali penyinaran harapannya bisa clear semua. Tiap penyinaran berselang sebulan,” tutur Listiawan.
Listiawan menjelaskan, laser berfungsi memecah partikel warna tato yang tertanam di kulit. Begitu pecah, partikel warna itu bisa diserap kulit dan gambar akan hilang. Namun pada kasus Bambang dan Nanang, penangannya cukup sulit, karena tato dibuat secara profesional.
Dengan alat rajah modern, warna itu diinjeksikan jauh ke dalam kulit. Zat pewarnanya pun tergolong jenis yang sulit dihapus. “Warna indian ink, hitam atau biru tua menyerap cahaya paling besar,” kata Listiawan.
Kemarin, begitu tiba di SCC, Bambang dan Nanang langsung dibius lokal. Lalu wajah kedua pria itu diolesi semacam krim berwarna putih dan ditutup lapisan plastik. Setelah itu mereka dilaser secara bergantian, Bambang yang pertama.
Dimulai pada pukul 14.00 proses itu tuntas dikerjakan dalam waktu 45 menit. Bahkan, pada pukul 15.00 Bambang dan Nanang sudah bisa keluar dari ruang treatment dengan wajah yang dipenuhi balutan. Mereka diantar menuju RSU Dr Soetomo untuk menjalani rawat inap selama tiga hari sebelum kembali ke Bojonegoro. Pemeriksaan berikutnya paling cepat tiga pekan mendatang.
“Rasanya lega,” ungkap Bambang ketika ditanya perasaannya. Pria tegap ini berharap pengusiran tato itu cepat selesai karena ia sudah tidak tahan untuk berkumpul keluarga. Selain itu ia juga tidak bisa bekerja.
Hal serupa diungkapkan Nanang. Terakhir kali ia ditemani keluarganya di RSU Dr Soetomo pada Jumat (17/10). “Selama ini ya sendirian saja, menurut rencana keluarga baru datang jumat (hari ini) karena dulu janjinya Jumat sudah bisa pulang,” kata Nanang.
Disinggung tentang tuntutan hukum yang mereka layangkan, Bambang menyatakan, mereka akan pikir-pikir dulu apakah akan melanjutkannya atau menghentikannya. Meski demikian, mereka menegaskan tetap akan menuntut ganti rugi secra materil. “Belum tahu berapanya, nanti dilihat-lihat dulu,” ujar Bambang.
Soal biaya terapi laser itu, SSC menolak menjawab. Pengelola menegaskan, proses itu merupakan bagian dari kerja sama dengan RSU Dr Soetomo. Namun, dalam daftar harga disebutkan bahwa penghilangan tato dengan laser dipatok Rp 1,5 juta per 10 cm² atau kurang. Bila lebih luas, sisanya dikenakan biaya Rp 175.000 per cm². rey/rie
