ABORSI
Beikut ini adalh pengakuan dari tiga wanita yang telah melakukan aborsi saat remaja:
Saya telah berpacaran dengan Bob selama enam bulan ketika saya mengetahui bahwa saya hamil. Bob tidak menghendaki saya mengandung dan melahirkan bayi kami, mengingat usia kami baru delapan belas tahun. Saya tidak mau melenyapkan kehidupan bayi di dalam tubuh saya ini, tetapi saya tidak mengenal siapapun untuk menjadi tempat mengadu. Keluarga saya adalah penganut Katolik dan menentang keras pengguguran kandungan dan orang-orang yang biasanya saya berkeluh kesah juga menentang aborsi. Satu-satunya orang yang dapat saya aja bicara adalh Bob dan beberapa teman wanita yang setahu saya pernah melakukan aborsi. Karena mereka mendorong saya untuk melakukan aborsi, saya merasa terapaksa menjalaninya. Saya mencari-cari di Internet dan menemukan suatu klinik di Ohio. Saya ketakutan, tetapi saya melakukan aborsi pada bulan Oktober 2000.
Saya tidak ingat sebagian besar prosesnya sebab dokter memberi obat bius melalui infus. Saya hanya teringat sempat berkata pada dokter itu bahwa saya merasa kesakitan saat proses dimulai meski kemudian tidak bisa mengingat dengan jelas rasa sakit itu. Ketika proses aborsi selesai, seorang perawat membawa saya ke ruang pemulihan dimana beberapa anak perempuan juga berada di sana. Dia bertanya apakah saya ingin melihat apa yang mereka ambil, dan saya menjawab "ya". Meski tidak terlihat jelas, namn saya merasakan suatu kehampaan. Berminggu-minggu kemudian saya menderita kejang perut dan rasa nyeri. Saya menghubungi klinik untuk memastikan apakah hal itu normal, dan perawat berkata bahwa sepanjang tidak mengalami demam maka hal itu biasa saja.
Setelah aborsi,periode menstruasi saya berlangsung tepat waktu. Tahun lalu saya terlambat menstruasi selama tiga bulan dan harus mendapat tambahan hormon agar menstruasi selama tiga bulan dan harus mendapat tambahan hormon agar menstruasi saya tidak terlambat. Ketika saya kembali mengalami keterlambatan menstruasi selama dua bahwa ada kista di dalam indung telur, juga terdapat luka di leher rahim saya. Dokter mengatakan bahwa luka itu terjadi saat proses aborsi, dan akibatanya saya mungkin tidak lagi bisa mempunyai anak.
Bagi sebagian dari Anda, aborsi mungkin tidak merupakan masalah, tetapi coba pikiran akan hidup Anda ke depan. Ketika Anda menikah, tidaklah Anda menghendaki suatu keluarga? Aborsi dan gangguan makan, hingga rasa bersalah dan penyesalan. Saya dengan bayi saya. Kini saya tidak lagi berhubungan dengan Bob dan tidak langsug telah melecehkan dan memanipulasi saya. Ketika melihat kembali akan masa lalu saya, saya hanya dapat belajar dari kekeliruan-kekeliuran yang telah saya perbuat.
Pengakuan tertulis kedua:
Saya berumur ujuh belas tahn saat menggugurkan kehaliman saya. Ketika mengetahui bahwa saya hamil, pacar saya nampak begitu bahagia mendengar hal itu-namun demikian, ia menghendaki agar saya melakukan aborsi. Karena ibu saya telah meninggal tujuh tahun yang lalu, satu-satunya orang yang dapat saya ajak bicara adalah ayah saya. Hal itu tidaklah mudah!
Ayah, kekasih ayah saya, dan pacar saya semua turut menemani saya pergi ke tempat praktek aborsi untuk menjalani proses aborsi. Saya sedemikian malu hingga tidak mengizinkan pacar saya atau ayah saya tetap berada di ruangan operasi ketika saya menjalani peroses itu, tetapi saya mengizinkan kekasih ayah menemani saya.
Saya seringkali berpikikir betapa pengecutnya diri saya ini, betapa saya melarikan diri dari situasi tersebut. Saya memohon pengampunan dari Tuhan. Kini, dengan mengetahui bahwa anak-anak perempuan lain seperti halnya diri saya, juga mengalami goncangan emosi yang sama, membantu saya untuk melihat bahwa hal itu terjadi karena suatu alasan. Saya hanya berharap dapat membantu anak-anak perempuan saya yang lain agar tidak membuat keputusan yang salah seperti telah saya lakukan.
Pengakuan tertulis ketiga:
Mengetahui bahwa saya hamil pada usia enam belas tahun membuat diri saya mati rasa. Saya menyayangi anak-anak, tetapis saya tahu bahwa ibu saya akan melarang saya memeliharabayi pada saat usia saya masih sangat muda. Saya mengatakan kepadanya di malam saat saya mengetahui kehamilan saya, dan dia tidak percaya kata-kata saya. Setelah berulang kali meyakinkannya, ibu saya akhirnya berkata, "Kamu tidak boleh menikah dengan dia." Lalu dia bertanya, "Apa yang kamu lakukan terhadap kehamilanmu itu?" Saya tidak menjawab. Dia menambahkan bahwa saya tidak boleh. Keesokan harinya, ibu bertanya, "Apa yang akan kamu lakukan?" Saya menjawab, "Aku tidak tahu." Dia berkata, "Kamu ini bisa berpikir apa?" Mendengar itu saya sedih dan bergegas pergi ke sekolah. Selama jam pelajaran, yang dapat saya pikirkan adalah bahwa say benar-benar menginginkan bayi ini dan memutuskan untuk memilikinya. Saya tiba di rumah sore itu, tetapi dia menertawakan saya dan mengatakan kepada saya bahwa saya tidak bisa membesarkan bayi seorang diri.
Dalam pertimbangan yang rapuh, saya mempercayai semua ucapannya, meskipun saya menginginkan bayi ini. Ibu mengatur semuanya, dan saya hanya bisa menuruti. Saya tidak bisa menghubungi pacar saya tetapi ketika saya mengetahui bahwa ia berniat untuk datang pada hari ketika saya akan masuk rumah sakit, saya memutuskan untuk tidak mempunyai anak dengan orang seperti itu. Ia pasti akan menghendaki hak pemeliharaan anak saat bayi itu telah dilahirkan. Maka saya tidak mempertahankan bayi saya dan membiarkan ibu saya yang mengatur semuanya.
Sebelum operasi, saya meminta kepada Tuhan bahwa jika hidup saya akan terus tertekan seperti ini, saya tidak mau terbangun lagi setelah operasi. Ketika terbaring di ruang operasi, saya melihat peralatan yang dipakai dokter dan seketika itu saya merasa muak. Malam itu saya merasa menjadi seorang pembunuh, tetapi saya juga percaya bahwa apa yang terjadi, pasti ada sebab dan hikmahnya. Saya tidak akan menjadi Kristen hari ini jika tidak karena pengalaman mengerikan itu. Kita perlu mendidik para remaja kita agar menghargai diri sendiri dan agar menunda melakukan hubungan seks hingga pernikahan daripada menggunakan aborsi sebagai metode kontrasepsi.
Kini bukanlah hal yang luar biasa melihat seorang anak perempuan usia enam belas tahun yang hamil berada di sekolah. Sebagian besar, jika tidak semua, kehamilan mereka itu adalah di luar rencana. Mungkin saja seorang anak perempuan mendapati bahwa dia hamil dan merasa dunianya sedang berakhir. Namun kemudian dia mendengar bahwa ada jalan keluar dari dari semua "kekacauan"itu. Dia dengan mudahnya melakukan aborsi lalu melupakan semuanya. Sebab pikirnya, cara itu sepenuhnya mana. Lalu apa yang jahat? Tidaklah janin di dalam dirinya itu hanyalah sekumpulan sel-sel? Hidupnya dapat tenang kembali dan tetap berjalan sesuai rencananya.
Dewasa ini, anak-anak remaja puteri-lebih dari sekedar pernah- melakukan hubungan seks tanpa perlindungan yang memadai. Dan ketika mendapati bahwa mereka hamil, banyak yang memilih aborsi sebagai satu-satunya jalan keluar dari masalah itu. Riset menemukan bahwa sepertiga pasien aborsi adalah para remaja. Empat puluh persen aborsi dilakukan terhadap anak-anak perempuan berusia lima belas hingga sembilan belas tahun, dan 1,9 persen dilakukan terhadap anak-anak perempuan di abwah lima belas tahun. David Reardon dan Amy Sobie yakin bahwa anak-anak remaja puteri secara psikologis belum cukup dewasa untuk membuat keputusan-keputusan dengan dampak yang sedemikian besar seperti halnya aborsi. Tidak hanya aktivis pendukung gerakan Prokehidupan yang meyakini pandangan ini, bahkan pihak Planned Parenthood atau semacam gerakan Keluarga Berencana menginformasikan kepada para konselor mereka bahwa kehamilan di usia remaja adalah "situasi krisis." Mereka memandang para remaja sebagai kelompok rapuh, tidak dapat dipercaya, dan kekurangan ketrampilan berkomunikasi. Sebagian besar remaja yang hamil merasa terpaksa untuk melakukan aborsi adalah satu-satunya cara agar orang tua mereka tidak tahu dan juga bahwa mereka terlalu muda untuk memiliki anak. Pacar maupun orangtua mungkin bahkan justru mengancam mereka.
Dalam beberapa kasus, para konselor di sekolahan yang mengatur proses aborsi tersebut atau mempromosikan aborsi sebagai satu-satunya solusi. Keluarga Carter dari Pennsylvania menuntut konselor sekolah, William Hickey, dan dewan sekolah mereka. Mereka menuduh Hickey melakukan "pemaksaan" terhadap puteri mereka agar melakukan aborsi dan bahkan mengatur hal itu. Hickey melanggar peraturan pemerintah mengenai hak persetujuan orang tua dengan mengusahakan aborsi itu agar dilakukan di Negara Bagian lain. Keluarga Carter memenangkan tuntutan sebesar $20.000, dan dewan sekolah tersebut sekarang harus menegaskan para konselor mereka agar tidak mendorong aborsi. Sangat disayangkan jika siswa tidak bisa mempercayai penasihat mereka saat dibutuhkan.
Aborsi usia remaja tidak dibatasi oleh jenis anak perempuan tertentu ataupun domisili tertentu. Di Virginia saja, lebih dari sembilan belas ribu remaja yang hamil setiap tahun. Pada tahun 1999, ada 932 aborsi yang dilakukan terhadap anak-anak perempuan Virginia berusia enam belas tahun atau lebih muda lagi. D i negara Bagian California, diperkirakan 126.300 remaja hamil setiap tahun. Delapan puluh dari setiap seribu anak perempuan berusia lima belas sampai tujuh belas tahun hamil. Di Texas, Negara Bagian yang paling besar, Center for Disease Control atau Badan Pengendalian Penyakit melaporkan bahwa terjadi 2.441 kasus aborsi terhadap remaja puteri berusia enam belas tahun dan yang lebih muda selama tahun 1999. Negara Bagin Washington yang sering hujan, melaporkan adanya 1.130 aborsi terhadap anak perempuan remaja. Itu berarti ada 21,1 persen aborsi di seluruh Negara Bagian selama 1999. Missouri melaporkan adanya 304 aborsi dalam kelompok umur ini, atau 21 persen dari jumlah keseluruhan Negara Bagian itu. Alabama mencatat ada 16.500 anak remaja hamil setiap tahun, dan 667 aborsi pada usia enam belas tahun dan lebih muda. Drai catatan aborsi di Negara Bagian itu, 24,3 persen adalah berdasarkan keputusan para remaja itu sendiri.
Aborsi tidak bisa dideteksi atau diketahui dengan mudah. Sebab sebagian besar remaja puteri melakukan aborsi untuk menyembunyikan dosa yang sudah mereka lakukan, sebagian besar dari mereka tidak akan mau bercerita dengan sukarela mengenai apa yang sudah mereka lakukan. Meskipun demikian, beberapa komplikasi dan dampak yang tertinggal setelah proses pengguguran tetap dapat dihubungkan pada aborsi yang telah mereka jalani itu. Menurut survei yang berlokasi di www.afterabortion.org, banyak wanita yang mengalami rasa bersalah, deperesi, marah, meyesal, menghukum diri sendiri, merasa tertolak, membenci diri sendiri, dan tidak dapat mengampuni diri sendiri. Beberapa orang mengalami kilas balik kenangan pengalaman buruk tersebut,mimpi buruk, perasaan ingin bunuh diri, kehilangan harga diri dan kenyamanan diri, serta rasa kehampaan. Sejumlah wanita lainnya dikuasai oleh pemikiran tentang kematian dan tentang anak-anak, yang sebenarnya bisa mereka miliki. Mereka mengalami perasaan negatif ketika berhadapan dengan berbagai pesan dari para pendukung gerakan prokehidupan.
Remaja-remaja puteri yang pernah melakukan aborsi tidak hanya mengalami dampak-dampak yang merugikan, bahka juga menjadi sasaran dari resiko-resiko lain yang jauh lebih besar. Menurut Reardon dan Sobie, anak usia belasan tahun memiliki kecenderungan antara dua hingga empat kali lebih besar untuk bunuh diri setelah menjalani abors, atau terlibat dalam berbagai hubungan yang bermasalah. Mereka juga berpeluang mengalami gangguan psikologis, bahkan hingga harus dimasukkan ke Rumah Sakit Jiwa. Pengaruh-pengaruh dari luar (orangtua, tokoh panutan, pacar, dan budaya) biasanya merupakan faktor-faktor utama dalam pengambilan keputusan berkaitan dengan kehamilan. Banyak anak remaja yang melaporkan bahwa mereka ingin memiliki bayimereka. Mereka juga mengalami ketakutan dan kecemasan yang berlebihan terhadap aborsi pengguguran. Suatu studi yang kompleks yang diselenggarakan di Finlandia menemukan bahwa para wanita pada umumnya (usia lima belas sampai empat puluh empat tahun) yang melakukan aborsi berpeluang tiga setengah kali lebih besar untuk mengalami kematian pada tahun berikutnya dibandingkan dengan mereka yang tetap mempertahankan kehamilan hingga melahirkan. Bebebrapa remaja "mengulang" trauma-trauma mereka dengan secara berulang-ulang mengalami kehamilan dan melakukan aborsi. Hal ini dapat dipandang sebagai upaya "menjalani" masa-masa kehamilan,s ebagai dampak dari pengguguran dan bahkan dikarenakan oleh hasrat untuk menggantikan bayi mereka yang meninggal.
Cabang-cabang masalah sosial dari aborsi remaja sifatnya tak terbatas. Dampak-dampak psikologi terhadap remaja mempengaruhi keseluruhan budaya kaum muda. Suatu krisis tidak hanya mempengaruhi satu orang tetapi juga para sahabat dan keluarganya. Hilangnya kehidupan menyebabkan penderitaan yang dalam, baik hidup si anak maupun sang ibu. Kematian adalah kemungkinan yang sangat nyata, baik oleh karena bunuh diri ataupun komplikasi berbagai hal. Suat artikel yang ditulis oleh Diane Dew di harian The Standard mengisahkan seorang remaja puteri berumur tiga belas tahun yang mati saat menjalani proses aborsi. Media tersebut gagal dalam memberikan liputan yang memadai tentang kisah itu, dan justru memberitakan bahwa keluarga si korban memenangkan sejumlah ganti rugi sebagai penyelesaiannya. Liputan itu tidak memberi informasi mengenai perlindungan bagi remaja puteri dan wanita untuk masa mendatang. Suatu generasi remaja puteri telah tumbuh dewasa dalam luka dan kebingungan. Orang-orang yang paling mereka percayai justru menyakiti mereka dengan memaksa mereka agar melakukan aborsi. Orangtua dan konselor mereka mengatakan bahwa mereka tidak mempunyai pilihan lain. Anak-anak itubertumbuh dengan tidak mempercayai orang dewasa dan tidak mengenal siapapun untuk dipercaya. Seringkali mereka tidak paham mengapa mereka menderita atas apa yang mereka alami itu, namun demikian , mereka juga meyakini bahwa selalu ada jalan keluar dari segala masalah yang mereka hadapi dalam hidup ini.
Lalu apa yang diperbuat untuk mencegah para remaja agar tidak melakukan aborsi? Banyak Negara Bagian yang menuntut adanya persetujuan orangtua sebelum melaksanakan aborsi terhadap remaja puteri di bawah usia tujuh belas atau delapan belas tahun. Alaska, Arizona, Colorado, Florisa, Idaho, Indiana, Kansas, Kentucky, Lousiana, Maine, Maryland, Massachusetts, Michigan, Mississipi, Missouri, North Carolina, Pennsylvania, Rhode Island, South Carolina, Tennessee, dan Wisconsin semuanya menerapkan peraturan hukum yang mengharuskan adanya izin dari orangtua atau para anggota kelurga dewasa bagi anak-anak remaja puteri untuk melakukan aborsi. Negara-negara Bagian lainnya meminta agar setidaknya pihak orangtua diberitahu terlebih dulu sebelum aborsi dilaksanakan. Meskipun demikian, banyak Negara Bagian yang tidak mempunyai peraturan hukum mengenai persetujuan orangtua atau pemberitahuan kepada pihak orangtua. Selain itu, peraturan persetujuan orangtua pasti tidak mempunyai peraturan hukum mengenai persetujuan orangtua pasti tidak akan bermanfaat jika justru orangtualah yang mamaksa puteri mereka untuk melakukan aborsi. Para remaja sendiri perlu mendapat informasi yang lebih baik. Publikasi-publikasi yangmenginformasikan kepada para siswa tentang dampak-dampak dan fakta-fakta tentang aborsiserta bantuan pasca-aborsi perlu disebarluaskan. Materi-materi semacam itu sering dibagikan di sekolah-sekolah dan juga perlu diinformasikan sebagai iklan.
Seringkali, anak-anaka perempuan melakukan aborsi karena takut mengatakan pada orangtua mereka mengenai kehamilan mereka dan tidak tahu bagaimana cara menyampaikan kepda orangtua mereka. Mereka takut terhadap konsekuensi dan terhadap kekecewaan orangtua mereka. Birthchoice.net memberikan suatu contoh kisah nyata di dalam surat berikut ini.
Ibu tersayang,
Aku sangat menyanyangi ibu, aku selalu berusaha membuat ibu bangga terhadapku. Aku seringkali berbuat kekeliruan yang sangat besar. Aku ketakutan saat akan mengatakan kepada ibu dan melibatkan ibu dalam masalah ini. Aku hamil. Aku terus menerus menangis selama tiga minggu terakhir. Tetapi aku juga akan bertanggung jawab. Aku sudah mempelajari bahwa pada usia delapan minggu, yaitu usia kandunganku saat ini, jantung bayiku sudah berdetak, gelombang otaknya sudah berdenyut, dan semua organ tubuhnya sudah tumbuh. Aku tidak akan melakukan pengguguran karena aku tahu bahwa bayiku benar-benar manusia dan berusaha mendukung, tetapi ia sangat ketakutan. Ada tempat-tempat dimana aku bisa tinggal jika ibu pikir bahwa itu adalah jalan keluar yang terbaik untuk keluarga kita. Aku mungkin akan mempertimbangkan mengenai adopsi. Aku ingin melakukan yang terbaik. Aku tidak bisa mengungkapkannya kepda ibu betapa menyesalnya aku. Aku kecewa dan malu pada ibu dan seluruh kelurga. Sekarang aku memerlukan ibu lebih dari yang sebelumnya. Tolong bantulah aku dan bayiku ini.
Aku menyayangi ibu. Jennifer
Sebagian orang yakin bahwa pengendalian kelahiran dapat memecahkan masalah. Namun demikian, pengendalian kelahiran tidak mencegah seorang anak perempuan terhadap konsekuensi secara fisik dan emosional dari hubungan seks. Perlindungan melalui kontrasepsi atau pengendalian kelahiran juga beresiko gagal. Hanya karena meminum obat batuk di saat menjalankan kontrasepsi pil, dapat membuat metode itu sia-sia.
Salah satu cara terbaik untuk mencegah aborsi remaja adalh dengan membuat anak-anak perempuan mendapat informasi yang benar secara pribadi. Orangtua mereka juga perlu mendapat informasi tersebut. Mereka perlu menyadari apa yang akan terjadi jika puteri mereka melakukan aborsi. Kedua pihak harus sadar bahwa mekipun reputasi dan gaya hidup mungkin dapat diamankan untuk sementara waktu, kedamaian dan kebahagian akan sulit dipertahankan, itupun hanya dampak yang palig ringan. Remaja puteri perlu mendapat pilihan lain untuk kehamilan mereka yang tidak dikehendaki seperti adopsi(melalui para agen dan rumah-rumah adopsi), seperti juga pilihan untuk memelihara bayi mereka. Mereka harus selalu memilih hidup daripada pengguguran secara prematur dan terencana atas bayi mereka yang belum lahir dan tidak bersalah itu. Yesus sendiri adalah seorang pembela bagi mereka yang memilih hidup. Yohanes 10:10 berkata, "Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan."