yan raditya
IndoForum Addict E
- No. Urut
- 163658
- Sejak
- 31 Jan 2012
- Pesan
- 24.461
- Nilai reaksi
- 72
- Poin
- 48
KARAWANG– Kedatangan jasad Wati binti Ami,tenaga kerja Indonesia (TKI) wanita asal Dusun Saca, Desa Tambak Sumur, Kecamatan Tirtajaya, Kabupaten Karawang, Kamis (14/6) malam, memunculkan pertanyaan pihak keluarga.
Setelah keluarga membuka jasad korban yang sudah berada di dalam peti,diketahui bagian tubuh korban mengalami lebam dan terdapat jahitan,mulai dada hingga bawah bagian perut.Mata sebelah kiri tidak ada.Atas bukti tersebut,keluarga menduga organ tubuh Wati sudah tidak utuh. Pengawas dan Perlindung Tenaga Kerja Indonesia (KP2- TKI) Wilayah Karawang Hasim menyatakan, dugaan organ tubuh korban tidak lengkap didasarkan adanya jahitan di tubuh korban serta bola mata yang tidak lengkap.
Kedatangan jenazah juga tidak dilengkapi dokumen, baik dari pihak Arab Saudi maupun dari Kedubes RI di negara tersebut. “Biasanya jika ada TKW yang meninggal selalu disertakan dokumen. Adanya berbagai kejanggalan ini,kami dan pihak keluarga semakin curiga,”kata Hasim. Atas kejanggalan tersebut, pihak keluarga akan melaporkan masalah tersebut ke polisi dan Kemenlu.Selain itu,pihak keluarga juga akan menuntut hak korban seperti asuransi dan gaji yang belum dibayar selama empat bulan bekerja.
“Kami akan membuat laporan dan mengurus agar hak korbandapatdipenuhi,” kataHasim. Arman, suami korban, mengatakan, dirinya menerima kabar Wati meninggal pada 24 April 2012 dari teman istrinya itu.Alasannya Wati meninggal karena sakit. Untuk mencari kebenaran informasi tersebut, Arman menanyakan ke PJ2- TKI dan meminta agar jasad istrinya itu segera dipulangkan. “Mendengar informasi istri meninggal membuat saya shock karena sebelumnya Wati tidak pernah mengeluh sakit atau apapun,”kata Arman.
Anggota DPRD Ishak Iskandar mengatakan,banyak kasus yang menimpa tenaga kerja wanita di luar negeri yang tidak jelas penyelesaiannya. Pihaknya pun mendesak instansi terkait untuk mengusut tuntas kematian Wati. Wati berangkat ke Arab Saudi pada 19 Juni 2011 melalui PJTKI PT Dian Bhakti Setia (DBS) yang berkantor di Jakarta Pusat.Dia ditempatkan sebagai pembantu rumah tangga pada keluarga Ayid Hasan Fahad Al-Qahtani di Kota Riyadh.
Setelah keluarga membuka jasad korban yang sudah berada di dalam peti,diketahui bagian tubuh korban mengalami lebam dan terdapat jahitan,mulai dada hingga bawah bagian perut.Mata sebelah kiri tidak ada.Atas bukti tersebut,keluarga menduga organ tubuh Wati sudah tidak utuh. Pengawas dan Perlindung Tenaga Kerja Indonesia (KP2- TKI) Wilayah Karawang Hasim menyatakan, dugaan organ tubuh korban tidak lengkap didasarkan adanya jahitan di tubuh korban serta bola mata yang tidak lengkap.
Kedatangan jenazah juga tidak dilengkapi dokumen, baik dari pihak Arab Saudi maupun dari Kedubes RI di negara tersebut. “Biasanya jika ada TKW yang meninggal selalu disertakan dokumen. Adanya berbagai kejanggalan ini,kami dan pihak keluarga semakin curiga,”kata Hasim. Atas kejanggalan tersebut, pihak keluarga akan melaporkan masalah tersebut ke polisi dan Kemenlu.Selain itu,pihak keluarga juga akan menuntut hak korban seperti asuransi dan gaji yang belum dibayar selama empat bulan bekerja.
“Kami akan membuat laporan dan mengurus agar hak korbandapatdipenuhi,” kataHasim. Arman, suami korban, mengatakan, dirinya menerima kabar Wati meninggal pada 24 April 2012 dari teman istrinya itu.Alasannya Wati meninggal karena sakit. Untuk mencari kebenaran informasi tersebut, Arman menanyakan ke PJ2- TKI dan meminta agar jasad istrinya itu segera dipulangkan. “Mendengar informasi istri meninggal membuat saya shock karena sebelumnya Wati tidak pernah mengeluh sakit atau apapun,”kata Arman.
Anggota DPRD Ishak Iskandar mengatakan,banyak kasus yang menimpa tenaga kerja wanita di luar negeri yang tidak jelas penyelesaiannya. Pihaknya pun mendesak instansi terkait untuk mengusut tuntas kematian Wati. Wati berangkat ke Arab Saudi pada 19 Juni 2011 melalui PJTKI PT Dian Bhakti Setia (DBS) yang berkantor di Jakarta Pusat.Dia ditempatkan sebagai pembantu rumah tangga pada keluarga Ayid Hasan Fahad Al-Qahtani di Kota Riyadh.