Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Hijrah,berasal dari bahasa Arab yg berarti 'meninggalkan, menjauhkan dari & berpindah tempat'. Dalam konteks sejarah, hijrah adalah kegiatan perpindahan yg dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW bersama para sahabat beliau dari Makkah ke Madinah, dengan tujuan mempertahankan & menegakkan risalah Allah, berupa akidah & syariat Islam.Makna hijrah pada era sekarang adalah meninggalkan yg buruk & mendekati yg baik. Nah, pada era modern seperti sekarang ini, semangat gerakan hijrah kembali digaungkan oleh para ustadz, influencer, & para pemuda/pemudi yg mencari jati diri dalam beragama.
Namun, banyak tingkah-tingkah pemuda/pemudi yg mengerjakan hijrah hingga mungkin barangkali menciptakan kita gemas. Beberapa faktor penyebabnya adalah pandangan mereka tentang hijrah itu sendiri, modernitas kehidupan, & pengaruh lingkungan. Di era sekarang ini untuk mengaji tidak harus pergi ke pondok pesantren ataupun harus datang ke pengajian di suatu tempat. Alih-alih harus pergi ke suatu tempat, di era sekarang untuk mengaji dapat di dalam kamar tanpa harus keluar rumah. Mudah, kan.
Di era sekarang, untuk berdakwah tidak melulu harus berada di mimbar, ustadz dapat mengpakai media sosial sebagai tempat untuk berdakwah. Media yg dipakai untuk berdakwah oleh para ustadz beragam, Whatsapp, Telegram, Instagram, Twitter, Facebook, & Youtube, atau dengan mengetik nama ustadz di search engine, kita bakal dapat dengan mudah menemukan materi-materi kajian yg dihinggakan oleh ustadz tersebut. Mudah memang, namun kita harus dapat memilah mana ustadz yg benar & mana yg ya gitu deh, kita harus cermat dalam memilih & memilah, seperti latar belakang ustadz tersebut, lulusan mana, belajar hingga tingkat apa. Barangkali sepertinya sekarang ini untuk jadi ustadz tidak terlalu sulit, sebut saja Ustadz Bangun Samudra, cuma dengan mualaf & mengaku lulusan S3 Vatikan, dapat jadi ustadz yg terkenal. Di tempat lain, ada ustadz yg berdakwah dengan berapi-api, menyerukan perang, mencap siapaun yg tidak sepemikiran sebagai kafir. Hmm, bukankah Nabi mengajarkan untuk berdakwah dengan santun?
Sobat hijrah, dalam keseharianya ber-sosmed biasanya pasang status WA, IG, & Facebook dengan gambar gambar dengan caption untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, namun terkadang, mereka share status berita hoax, & ketika ditanyai, jawaban yg diterima adalah, Lha, saya dapet dari grup & disuruh nyebarin Hmmm, menggelikan memang, apalagi sudah berada di bangku kuliah, yg semestinya cara berpikir sudah modern & mengpakai logika secara tepat sehingga tidak mudah dibohongi oleh hoax.
Sobat hijrah, menggaungkan ajakan untuk mengikuti sunnah. Sunnah, secara bahasa memiliki arti Jalan, & Gaya Hidup, dalam pengertian hukum, berupa apabila dikerjakan mendapat pahala, & kalau tidak dikerjakan tidak apa apa, & dalam pengertian ilmu hadist, sunnah berarti ucapan atau tindakan yg dilakukan Nabi. Ini saya kira sebuah hal yg bagus, tetapi jangan lupa dengan hal yg wajib ya, wkwkwk.
Ketika pergi ke masjid pakaian yg dulu memakai kaos, celana jeans, sekarang berganti jadi gamis, dan perempuan, yg dulu jilbab hingga pundak sekarang diganti jilbab yg panjang, & memakai niqab. Di sisi lain, yg sudah bertahun-tahun ngaji di pesantren mengpakai baju batik atau kadang baju koko yg sederhana & memakai sarung, & peci khas berwarna hitam seperti yg dipakai bapak-bapak di belakang buku iqro. Panggilan mas, mbak, sekarang berganti jadi akhi, ukhti, aneh memang, saya malah baru mengenal istilah itu pada saat semester 1 kuliah pada 2018. Yang dulu profil picture WA nya foto selfie, kini berganti dengan kaligrafi arab. Yang dulunya koleksi lagu & musik hingga ratusan, kini dihapus & diganti koleksi murrotal. Yang dulu tidak peduli dengan kehidupan orang lain, sekarang berubah jadi polisi moral dengan dalil yg didapat dari hasil browsing. Mungkin kita masih mengingat apa yg terjadi di Sragen beberapa waktu yg lalu, anggota rohis yg meneror siswi cuma karena tidak mau mengenakan jilbab, hingga menghina ayahnya karena tidak mau menasehati siswi tersebut. Hmmm, ngeri. Yang dulu masih berpacaran, diputusin dengan alasan harap menghindari zina dan harap mendekatkan diri kepada Allah. Di tempat lain, ada seorang teman saya yg dulu aktif mengajak untuk mengikuti kajian di masjid kampus, & dia juga mengatakan kepada saya untuk tidak pacaran, karena menurutnya pacaran itu dosa, selang beberapa bulan, malahan teman saya itu mendapatkan pacar, hmmm. Apa mungkin saya terlalu polos menganggap teman saya itu sudah menanggalkan keharapan untuk berpacaran atau karena faktor yg lain sata tidak tahu.
Trend sobat hijrah dapat jadi positif & negatif, tergantung kalau dilihat dari sudut mana. Seperti apa yg dikatakan oleh Mbak Kalis Mardiasih, Hijrah jangan jauh-jauh, nanti nyasar, wkwkwkwk.
Sekian artikel saya yg sederhana ini. Ini cuma berisi opini, pengalaman pribadi. Saya meminta maaf kalau ada kesalahan dalam menulis artikel ini.
Sekian & terimakasih.
Spoiler for Sumber ::
Sumber foto :
NU Online - Beranda Islam Indonesia
Website resmi Suara Nahdlatul Ulama, menyajikan informasi tentang Nahdlatul Ulama dan keislaman
Hari ini 15:06