star8online
IndoForum Newbie D
- No. Urut
- 69021
- Sejak
- 20 Apr 2009
- Pesan
- 90
- Nilai reaksi
- 1
- Poin
- 8
Dengan kondisi seperti ini, tidak mengherankan bila masih ada 50.
000 keluarga yang memilih mengistirahatkan keluarganya
di pemakaman rumah atau kantor sembari menunggu ada Columbarium (pemakaman
di atas tanah untuk abu kremasi) kosong. Pada Selasa (14/4), pemerintah membuka permohonan untuk tempat kremasi baru
di Diamond Hilal,
yang merupakan tempat pemakaman terluas
di sana.
Di tempat ini, masih ada 18.500
columbarium
yang kosong. Namun, dalam sekejap, permohonan ini ludes karena diserbu peminat. Pada hari pembukaannya saja, ada 1.
000 orang
yang mengantre. “Saya harap kali ini
bisa menemukan tempat sehingga ayah saya
bisa beristirahat selamanya dengan tenang,” kata Raymond Wong
yang harus mengantre selama tiga jam sebelum mengembalikan surat permohonan mereka.
Untuk menyelesaikan permasalahan minimnya lahan pemakaman, Pemerintah
Hong Kong sebenarnya sudah membuat 37.
000
columbarium baru
yang akan digunakan hingga 2012. Angka ini hanya
bisa menampung jumlah
orang
yang meninggal dalam satu tahun. Berdasarkan perkiraan pemerintah, hingga 2016, lebih dari setengah
orang
yang meninggal
di
Hong Kong tidak
bisa menemukan tempat peristirahatan.
Alhasil, daftar tunggu pun semakin bertumpuk.
Di
Hong Kong, makam permanen sangat jarang dan harganya pun selangit, hingga USD30.
000 (sekira Rp330 juta). Rata-rata sewa tempat makam
di sana bernilai USD3.
000 (sekira Rp33 juta)
yang digunakan untuk jangka waktu selama 10 tahun. Setelah itu, keluarga
bisa memperbaharui sewa atau memberikan tempat itu bagi
orang lain.
Bagi keluarga
yang memiliki kerabat
di luar negeri, mereka lebih memilih untuk menguburkan jenazah keluarganya
di luar
Hong Kong, misalnya
di Kanada dan Amerika Serikat. Karena banyaknya peminat, bisnis joki permakaman tumbuh subur.Tahun lalu saja, pemerintah menangkap 18 supervisor pemakaman karena menerima isu suap.
Mereka terbukti menggali jenazah
yang ada
di sana sebelum terurai sempurna.
Kendati kekurangan lahan pemakaman, warga
Hong Kong justru menolak rencana pemerintah
yang berniat memperbanyak colambarium. Pasalnya, pembangunan ini berkonsekuensi mendekatkan rumah mereka dengan tempat pemakaman.
sumber : http://www.star8online.com/archives/363



000 keluarga yang memilih mengistirahatkan keluarganya
di pemakaman rumah atau kantor sembari menunggu ada Columbarium (pemakaman
di atas tanah untuk abu kremasi) kosong. Pada Selasa (14/4), pemerintah membuka permohonan untuk tempat kremasi baru
di Diamond Hilal,
yang merupakan tempat pemakaman terluas
di sana.
Di tempat ini, masih ada 18.500
columbarium
yang kosong. Namun, dalam sekejap, permohonan ini ludes karena diserbu peminat. Pada hari pembukaannya saja, ada 1.
000 orang
yang mengantre. “Saya harap kali ini
bisa menemukan tempat sehingga ayah saya
bisa beristirahat selamanya dengan tenang,” kata Raymond Wong
yang harus mengantre selama tiga jam sebelum mengembalikan surat permohonan mereka.
Untuk menyelesaikan permasalahan minimnya lahan pemakaman, Pemerintah
Hong Kong sebenarnya sudah membuat 37.
000
columbarium baru
yang akan digunakan hingga 2012. Angka ini hanya
bisa menampung jumlah
orang
yang meninggal dalam satu tahun. Berdasarkan perkiraan pemerintah, hingga 2016, lebih dari setengah
orang
yang meninggal
di
Hong Kong tidak
bisa menemukan tempat peristirahatan.
Alhasil, daftar tunggu pun semakin bertumpuk.
Di
Hong Kong, makam permanen sangat jarang dan harganya pun selangit, hingga USD30.
000 (sekira Rp330 juta). Rata-rata sewa tempat makam
di sana bernilai USD3.
000 (sekira Rp33 juta)
yang digunakan untuk jangka waktu selama 10 tahun. Setelah itu, keluarga
bisa memperbaharui sewa atau memberikan tempat itu bagi
orang lain.
Bagi keluarga
yang memiliki kerabat
di luar negeri, mereka lebih memilih untuk menguburkan jenazah keluarganya
di luar
Hong Kong, misalnya
di Kanada dan Amerika Serikat. Karena banyaknya peminat, bisnis joki permakaman tumbuh subur.Tahun lalu saja, pemerintah menangkap 18 supervisor pemakaman karena menerima isu suap.
Mereka terbukti menggali jenazah
yang ada
di sana sebelum terurai sempurna.
Kendati kekurangan lahan pemakaman, warga
Hong Kong justru menolak rencana pemerintah
yang berniat memperbanyak colambarium. Pasalnya, pembangunan ini berkonsekuensi mendekatkan rumah mereka dengan tempat pemakaman.
sumber : http://www.star8online.com/archives/363


