Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Kata banyak orang, di zaman sekarang kuliah di mana pun tidak masalah. Masih untung dapat berkuliah. Di luar sana, begitu banyak orang tidak dapat kuliah akibat berbagai faktor, kira-kira seperti itu alasan yg biasa diberikan. Saya sangat setuju akan hal itu. Kuliah, biar bagaimanapun membutuhkan biaya yg tidak sedikit. Tetapi kalau memang begitu adanya, apakah kuliah di mana pun dapat dibenarkan oleh masyarakat kita?
Sebagai orang yg pernah mengenyam pendidikan sarjana di salah satu perguruan tinggi negeri di Jawa Timur, saya merasa sedikit beruntung. Apa sebab? Misalkan, ketika kedua orang tua mengenalkan saya kepada rekan-rekan mereka, akan sedikit bangga dengan menyebut dimana anak-anaknya mengenyam pendidikan. Baik saya & kakak perempuan saya berkesempatan menikmati kuliah di kampus berstatus negeri, & dapat dikatakan sangat ternama hingga-hingga orang lain dapat berdecak kagum. Stigma yg berkembang di masyarakat adalah; kampus negeri berisi sekumpulan pelajar yg lebih pandai & memiliki daya juang lebih tinggi dibanding mereka yg berkuliah di kampus swasta.
Saya cukup sepakat soal daya juang. Begitu banyak orang berlomba-lomba untuk menduduki kursi kuliah di kampus negeri. Berbagai usaha akan dilakukan. Mulai dari sekedar belajar lebih giat dengan menambah jam belajar, mengikuti pembelajaran di tempat les, hingga setiap kencan dengan Tuhan keharapan untuk belajar di kampus negeri tak pernah alpha disebut. Calon mahasiswa kampus negeri akan mengerjakan segala usaha supaya cita-citanya tercapai. Memang ada perasaan bangga bila suatu saat nanti, mereka dapat jadi anggota di kampus negeri impian mereka. Saya tidak munafik karena saya merasakan euforia itu.
Tetapi saya tidak sepakat untuk stigma bahwa kampus negeri berisi sekumpulan pelajar yg lebih pandai dibandingkan mahasiswa dari kampus swasta. Bagi saya, dimanapun seseorang mengenyam pendidikan di perguruan tinggi, baik berstatus negeri atau swasta, sering ada tiga golongan mahasiswa.
Pertama, adalah ekstrim kanan; golongan mahasiswa super rajin dalam mengikuti perkuliahan, ditambah dengan menyibukkan diri dengan berbagai aktivitas kemahasiswaan, IPK setiap semester membumbung tinggi & berakhir dengan lulus bahkan dapat keluar kampus dari deadline yg ditentukan.
Kedua, kategori ekstrim kiri; golongan mahasiswa super malas untuk sekedar mendengar ceramah dosen di kelas, kadang-kadang tidak masuk kuliah & titip absen, tak jarang golongan ini sebagai beban kelompok bila ada tugas kuliah yg harus dikerjakan bersama, IPK tiap semester yg mengenaskan, syukur-syukur mereka lulus meski harus betah berlama-lama di kampus.
Ketiga, merupakan golongan rakyat kebanyakan; kemampuan biasa saja, tidak rajin tetapi juga tidak malas, banyak yg tidak mengikuti berbagai kegiatan kemahasiswaan meski ada juga cuma untuk sekedar ikut-ikutan, berkontribusi dalam kelompok meski seadanya, IPK tiap semester biasa saja & berujung lulus dengan cara biasa.
Tetapi apapun golongannya, mereka yg berkuliah di kampus negeri akan sering dipandang membawa bekal yg lebih baik untuk tahapan selanjutnya, misalkan dalam mencari pekerjaan, utamanya bagi mereka yg menyandang status fresh graduate. Ijazah lulusan kampus negeri seperti mengandung sihir tertentu yg dapat memudahkan dalam urusan mencari kerja.
Ya memang ini tidak dapat dipungkiri karena stigma yg berkembang di masyarakat soal kampus negeri & lulusannya dipandang lebih baik dibanding produk kampus swasta begitu kuat. Dalam dunia kerja bahkan di awal proses rekrutmen & seleksi, banyak perusahaan yg menurut saya memberikan persyaratan cukup unik. Misalkan batasan IPK; alumni kampus swasta harus sedikit lebih tinggi dibandingkan lulusan kampus negeri. Hal ini yg semakin memperkuat stigma bahwa alumni kampus swasta dipandang tidak setara dengan alumni kampus negeri. Belum lagi untuk menyakinkan perusahaan tempat mereka melamar kerja, lulusan kampus swasta mesti membawa kopi surat akreditasi kampus & jurusan tempat mereka belajar. Sedangkan bagi yg lulusan negeri, setidaknya berdasarkan pengalaman saya dulu sekali dalam mencari kerja, tidak dibebankan hal itu.
Buat saya agak kurang adil melihat fenomena tersebut. Bahkan meski tidak ditulis di iklan lowongan kerja, hal tersebut tetap terjadi sewaktu memilih kandidat. Sebetulnya untuk urusan persyaratan jabatan, pengaruh user jauh lebih banyak dibandingkan recruiter. Tidak perlu lah mengerjakan proses rekrutmen & seleksi cuma berdasarkan stigma & berujung anggapan tanpa mengedepankan esensi. Hei, anda yg mengurusi proses rekrutmen & seleksi, biarkanlah pelamar kerja diberikan kesempatan yg sama tanpa memandang latar belakang status kampus tempat calon pekerja belajar.
Kemudian hal unik lain yg saya dapatkan soal kampus negeri & swasta adalah, alumni kampus negeri meskipun bukan berasal dari kampus yg sama, akan memiliki pandangan tersendiri soal mereka yg lulus dari kampus swasta. Bisa dikatakan terlalu bangga dengan almamater mereka. Pasti beda lah, Bos. Antara lulusan negeri dengan swasta. Lihat saja kualitas lulusannya. Coba bicara dengan mereka soal tema yg lebih mendalam, atau lihat saja kinerja mereka. Banyak dari alumni swasta tidak dapat memberikan sesuai yg diharapkan. Kamu sendiri pernah merasa begitu, kan? tanya teman saya suatu waktu.
Kemudian saya menyanggah, Tapi kan itu soal kualitas diri yg dimiliki seseorang, bukan seratus persen dipengaruhi tempat mereka menimba ilmu. Tidak perlu lah langsung memberikan evaluasi sebegitunya cuma berdasarkan tempat mereka belajar. Terlalu banyak faktor yg mempengaruhi kualitas yg dimiliki seseorang.
Memang tidak gampang melawan diskriminasi bagi mereka yg lulusan kampus swasta. Saya yakin, mereka lebih banyak mengalami kesulitan cuma untuk memulai mencari nafkah. Barangkali seluruh jari saya belum cukup untuk menghitung berbagai penderitaan yg mereka alami; bagaimana mereka meyakinkan pihak perusahaan bahwa mereka setara dengan alumni negeri, menjaga muka supaya tetap tersenyum disaat orang-orang sekitar bahkan dapat saja dari keluarga besar; memandang bahwa mereka hanyalah orang 'biasa' karena berkuliah di kampus swasta. Padahal memilih tempat berlabuh untuk menimba ilmu bukan perkara mudah. Sama seperti orang yg mengenyam pendidikan di kampus negeri, mereka yg berkuliah di kampus swasta pun punya pertimbangan tersendiri. Pilihan yg mereka buat sangat layak untuk mereka jalani tanpa perlu dipandang atau bahkan hingga diperlakukan yg aneh-aneh.
Pesan yg dapat saya hinggakan bagi yg sudah berkuliah di kampus swasta, Tetaplah belajar dengan baik supaya anda dapat dipertanggungjawabkan secara kualitas, hingga orang lain tidak akan memandang dimana anda belajar. Sedangkan bagi yg belum berkuliah, saya berpesan, Dik, berusahalah untuk berkuliah di kampus negeri. Karena beberapa akbar masyarakat Indonesia saat ini, tidak memandang apa jurusanmu tetapi dimana anda berkuliah.
Sungguh ironis.
Selengkapnya di
www.cangkeman.com
Download App Cangkeman diSINI
Hari ini 17:08