• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Diatas Sajadah Cinta

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. gie
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

gie

IndoForum Beginner A
No. Urut
15890
Sejak
20 Mei 2007
Pesan
1.172
Nilai reaksi
34
Poin
48
semoga bisa diambil manfaatnya dari cerita2 dibawah ini..amin.:)

Entah Malaikat Entah Siapa
Kutatap wajah Ahmad Yassin, putra kami satu-satunya. Wajahnya begitu bercahaya.Ya, dia memang anak yang kami cintai. Keramahan dan rasa sayangnya kepada kami, membuatnya bagai permata. Bagi kami, kehadirannya adalah rahmat yg tak putus-putusnya dicurahkan Yang Maha Kuasa.
“Bagaimana, Le, keadaan rumah sakit di sana?”tanyaku seperti biasa, ketika dia pulang mengunjungi kami yang terpisah jauh dari tempatnya bekerja.
“Alhamdulillah, pak.rumah sakit semakin meningkatkan pelayanannya.Apalagi musim panas seperti sekarang,masyarakat begitu mudah terserang batuk dan pilek.maka kami harus bekerja xtra keras melayani mereka”.
“Tapi kamu masih rajin mengikuti pengajian to Le?”istriku bertanya, ketika dia baru masuk ruang tamu sambil membawa segelas air putih untuk ahmad, putra kesayangannya.
”Alhamdulillah mak.InsyaAllah,pengajian seperti itu yg slalu saya perlukan untuk menjaga semangat bekerja dan melayani”.
“Ya syukur kalau begitu,”kata istriku sambil duduk merapatkan diri kepadanya.seperti biasa tangannya akan segera mulai bergerilya memijiti pundak anaknya.Kasih sayang seorang ibu apakah memang selalu indah seperti itu?
“Pak…”
Aku tatap matanya.sepasang mata sejuk itu sekejap saja membalas tatapanku, sebelum kemudian menunduk kembali. “Ada apa Le?”
“saya beberapa hari ini gelisah.Teman-teman seperjuangan dikantor pun mengalami hal yg sama.pasti bapak dan emak sudah tahu jika di Palestina perang dan pembantaian telah terjadi lagi”.Ahmad bergerak mengambil tas hitam yg dia letakkan dibawah meja, tas yg selama ini memnemaninya mencari ilmu dan bekerja.sebuah Koran nasional dia keluarkan dan diberikannya padaku.tepat dihadapanku terpampang berita yg dimaksud.
Suara Indonesia, Selasa, 9 April 2002
Seratus pejuang Palestina di Nablus ditangkap,Hizbullah Rudal Tank Israel Shebaa(AFP): pertempuran sengit kembali pecah dikawasan Lebanon Selatan. Rudal Sagger milik kelompok gerilyawan Hizbullah berhasil menghantam tank Israel.Gerilyawan Hizbullah kemarin meningkatkan serangan terhadap posisi-posisi tentara Israel di kawasan Shebaa Farms yg diperebutkan.Tembakan puluhan roket Katyusah dan bom mortar gerilyawan Hizbullah itu mendapat balasan serangan udara dari tentara Israel.
Tidak aku teruskan berita itu.Aku lebih penasaran dengan perkataannya.
“Saya merasa terpanggil pak.Saya punya kewajiban membantu mereka saudara-saudara kita.Kewajiban itu lebih terbebankan pada diri saya, karena saya masih mudah dan menjadi harapan agama.Walaupun hidup kita sederhana,tapi hidup kita lebih baik dari mereka.Saya ingin berangkat kesana pak,mak.”
Istriku berhenti memijit pundak anaknya.Ia seketika tertunduk.Ia pasti terkejut mendengar keinginannya.Aku sendiri harus menarik napas penjang.Sudah sering kudengar banyak anak mudah yg berangkat ke Palestina untuk berjihad,tapi tidak pernah terkira anakku yg berkeinginan seperti itu.
Istriku mulai menangis dan memerah matanya.”Kok kamu tidak bilang-bilang dahulu to Le?Tiba-tiba saja kamu pulang terus pamitan mau pergi jauh.”
“saya tidak enak mak, jika memberitahu lewat telepon dulu sebelum pulang.Lebih baik kan menyampaikan langsung.Lagipula tidak mungkin saya memberitahukannya jauh-jauh hari, lha wong tragedy Palestina juga terulang begitu secara mendadak.”
“Bukankah kamu seudah sering sedekah nyumbang tenaga dan harta kepada orang-orang sekitar Le?Kenapa kamu masih ingin kesana?Apakah yg kamu lakukan tidak cukup?”
Aku tau ini sungguh berat bagi istriku.Siapa yg tega melepaskan anak dibawah siraman hujan peluru dan gelegar ledakan granat?Siapa yg tega melepas anak menjemput kematian?apalagi Akhad putra kami satu-satunya.
“Mak, sebagai muslim siapa yg tidak ingin mati syahid?Bukankah tidak ada keinginan yg harus dimiliki muslim seperti kita selain mati di jalan Allah?Emak membesarkan anak,bukankah tujuannya agar saya menjadi manusia berguna?Inilah saatnya menunjukkan bahwa kehidupan saya tidak sia-sia Mak.”Ucapan Ahmad meluncur begitu halusnya.
Kami terdiam beberapa jenak lamanya.Perkataannya benar-benar masuk kedalam hatiku.Pasti begit juga dengan istriku.
“Tapi Le..biarlah orang lain saja…”
“Sudahlah mak,”sahutku memotong.”Ini memang berat bagi kita.Namun ini memang jihad dan sebagai umat Islam kita harus menepatinya dengan ikhlas,Doakan saja agar anakmu selamat.Kita semua percaaya urip mung mampir ngombe(hidup hanya numpang minum).Ketika ada kesempatan kenapa tidak kita ambil untuk menyiapkan perbekalan?”Istriku terdiam.
“Lha kamu sendiri mau berangkat kapan?”tanyaku kepada Ahmad setelah menarik napas dalam-dalam.Begitu sesak mengucapkannya.
“InsyaAllah saya berangkat dua hari lagi.”
Ya Allah,seperti biasa ia datang kapan saja dan pergipun secara tiba-tiba.Bahkan untuk kepergian yg penting inipun ia melakukan hal yg sama.”Saya dan teman-teman akan bergabung dengan organisasi Solidaritas Palestina di ibukota.Kami sebagai dokter kemanusiaan yg rencananya akan ditempatkan dipengungsian.Jadi Emak dan Bapak tidak usah khawatir,karena saya tidak akan turun ke medan perang langsung.”
“Mak, Lihat lho anakmu malah langsung mengamalkan ilmunya disana,”aku mencoba membahagiakan istriku.
“Ya sudah Le,siapkan apa yg kamu butuhkan.”
“Rencananya disana kami akan satu bulan saja untuk sementara.InsyaAllah sepulangnya,saya akan menyiapkan perbekalan yg lebih memadai untuk pertolongan para pengungsi dan korban perang juga.”

Dua hari berlalu begitu cepat,ketika orang yg dicintai bersama kita.Dua minggu berjalan merambat,ketika yg dicintai jauh dari sisi kita.Begitu juga kami,sudah dua minggu Ahmad pergi ke Palestina.Dia hanya sempat menelepon ketika baru datang di bandara Jordan.
Sejak kepergian Ahmad,istriku semakin larut dalam doa-doa demi keselamatan anaknya tercinta.Ya Allah,sungguh kasih sayang ibu sangat pantas Kau hadiahi surga dibawah telapak kakinya.
Pagi ini aku sempat kekota membeli beberapa barang keperluan dan tak lupa sebuah Koran.Aku ngeri melihat berita yg tertulis dikoran nasional.Hampir semua berita menyebutkan kekejaman dan pembantaian di Palestina semakin menggila saja.
Suara Indonesia, Kamis, 24 April 2002
Keadaan Palestina Semakin Gawat.
Israel bantai 100 Warga Palestina
Nablus (AFP/Rtr): Perdana Menteri Israel Ariel Sharon meningkatkan serangannya terhadap daerah-daerah Palestina, menjelang kedatangan Menlu AS Collin Powell ke Timur Tengah. Di Kamp pengungsi Jenin,Tepi Barat,lebih dari 100 warga Palestina dibantai serdadu Israel.
Di pengungsian?Masya Allah!Hatiku berdegup sangat kencang.Bagaimana kabar Ahmad?Di pengungsian mana ia berada?Dengan jantung yg semakin berdetak kencangaku melanjutkan membaca berita.
Pertempuran sengit antara militer Israel dan warga Palestina kemarin masih berlanjut di Nablus,Jenin,dan sekitar kamp-kamp pengungsi.Sementara itu,tank-tank dan serdadu Israel semakin luas mencaplok wilayah-wilayah Palestina di Tepi Barat.Mulai Qabatiya diutara sampai Yatta di selatan.Seluruh kota Palestina,kecuali Hebron dan Jericho,kini telah dikuasai kembali Israel.

Tidak ada.Tidak ada berita Ahmad disana.Ya Allah,lindungilah anak kami dan semua muslim Palestina dimanapun mereka berada.

Sampai dirumah aku segera buang berita Koran itu.Cukup aku yg gelisah menantikan Ahmad,tidak perlu merambah kepada istriku.
Genap sudah 1 bulan anak kami pergi.Namun tidak ada telepon satu kalipun sejak mampir itu.Maka semakin lengkaplah kegelisahanku.
Mungkin memang disana susah untuk berkomunikasi.Karena itu pantas jika Ahmad tidak bisa menelepon lagi,usahaku menenangkan diri.
Sampai suatu hari…
Pintu luar diketuk orang.Aku segera beranjak dari ruang tengah keruang depan membukakan pintu.Siapa siang panas-panas begini bertamu,pikirku.
“Assalamualaikum,”terdengar sapa begitu aku membukakan pintu.
“Ya Allah!Mak,ini anakmu datang!”teriakku kepada istriku yg ada dibelakang.
“Alhamdulillah Le.Kamu sehat-sehat saja!”pekikku gembira.Terima kasih Ya Allah,kegelisahanku tidak menjadi nyata.Istriku segera berlari terburu-buru kearah kami.
“Mak.”Ahmad mencium tangan dan pipi emaknya.
“Ya Allah panjang umurmu Le.Tak rasani eh tiba-tiba saja kamu muncul.”
Kami seperti mendapatkan kesegaran air sumber yg begitu dingin dan menghilangkan dahaga.Buah hati kami telah datang.Istriku menangis bahagia mengungkapkan syukurnya.Kami saling berpelukkan melepaskan rindu dan harap cemas seperti meluap begitu saja dari hatiku.Kami kemudian berjalan langsung masuk keruang tengah.
Istriku segera menyiapkan air minum dan sekalian makan siang.Wajahnya tampak bahagia.Ah,biasa itu seorang ibu.Selesai mengambilkan air putih dan sambil menunggu masakan selesai,seperti biasa tangannya akan bergerilya menyelusuri dan memijiti pundak anaknya.
“Ayo Le.Cerita gmn keadaan disana.”aku melanjutkan lagi percakapan.”Masya Allah!Pak,keadaan disana sangat sulit untuk dilukiskan dengan kata-kata.Jasad manusia seakan-akan tidak ada harganya.Baik yg dengan sengaja ditembak maupun terkena peluru nyasar,tidak boleh diambil untuk dimakamkan selain dengan izin tentara Israel.Kekejaman mereka juga sangat tidak terkatakan.Sering mereka sengaja terlihat berfoto disamping mayat orang Palestina yg berhasil mereka bunuh.Melihat keadaan disana pantas saja jika para ulama mewajibkan kepada setiap muslim berjihad Pak Mak.Anak-anakpun tidak lepas dari sasaran para pembunuh itu.Semua yg kita lihat dan disampaikan diberita-berita itu,masih tidak seberapa dalam kenyataannya.”
Ahmad terus bercerita tentang baktinya dan peristiwa yg dialaminya disana.Subhanallah,begitu mulia para Syuhada-Nya.Dan anakku..anakku lebih kurus,tapi cahaya ketaatan dan keikhlasan semakin terpancar dari wajahnya.Inikah yg disebut atsaris sujud itu?Ya Allah,golongkan kami kedalam golongan orang yg berhasil menjaga amanat-Mu.
“Karena melihat kesulitan yg ada disana itulah Mak,maka saya harus segera kembali…Kalau Mak dan Bapak izinkan,saya ingin pergi dua hari lagi.”setelah Ahmad mengucapkan kata-kata itu,kami saling terdiam.Namun tiba-tiba istriku berkata,”Ya sudah Le.Jika memang itu yg kau pikir terbaik,Emak hanya bisa mendukung dan mendoakanmu.”
Subhanallah,istriku begitu pasrah dan ikhlas kata-katanya.Ahmad sendiri mendadak berseri-seri wajahnya.Kami bahagia.Benar-benar bahagia.

Satu hari yg tersisa kami gunakan untuk benar-benar menumpahkan kerinduan.Kami merasakan keluarga ini sempurna.Semoga selalu dalam naungan rahmat-Nya.Kami saling bercerita tentang hal-hal yg dulu telah kami lewati.Kami membawa semua kenangan yg menyenangkan,maupun menyedihkan.
Dengan kebahagiaan ini kami semakin mensyukuri,ternyata kesedihan yg pernah kami rasakan tidak sebangding dengan kenestapaan warga Palestina.Kami saling menuangkan rindu,seakan-akan ini yg terkahir kali kami bertemu.Dilubuk hati kami paling dalam sama merasakan…ah,entah.
Waktupun berlalu begitu cepat ketika kita bersama orang-orang yg kita cintai.Hari ini didepan pintu,Ahmad sudah akan segera pergi kemedan Jihad,Palestina.Ia memeluk emaknya dengan erat dan menciumi pipinya.Keduanya saling bertangisan.
“Mak,kasih sayangmu tidak akan pernah terlupakan.Air susumu yg membuat saya hidup Mak.Dan doamu yg membawa saya kembali selamat.Mak,sekarang saya mohonkan kembali selamat.Mak,sekarang saya mohonkan keikhlasan untuk melepaskan kepergianku.Izinkan aku menyerahkan diriku yg satu-satunya ini kepada Allah.Jika anakmu ini mati,maka sama artinya Mak yg syahid…Bukankah tubuh saya ini adalah darahmu Mak?”
Mereka semakin erat berangkulan dengan air mata yg terus berjatuhan.Aku pun tidak bisa menahan air mata yg semakin deras.istriku menyeka air matanya.”Aku bebaskan dirimu dari segala kewajibanmu terhadapku Le.Pergilah.Pergilah baktikan dirimu kepada Allah.Aku ikhlaskan dirimu mengabdi sepenuhnya kepada Allah,”ujarnya terbata-bata,sambil mengusap rambut Ahmad,dikecupnya keningnya.”Pergilah Le.Semoga Allah selalu menyayangimu.”
Ahmad berjalan kearahku.Dia mengecup tanganku.Air mata kami terus mengalir tak terbendung.Allah,sungguh indah kebahagiaan yg Kau berikan.
“Pak,saya minta maaf atas segala dosa yg pernah saya lakukan.Ampuni segala kesalahan anakmu ini.”
“Ya Le.Iya.Aku sudah maafkan semua kesalahanmu.Pergilah.Pergilah berjuang dijalan Allah.Hanya doa yg bisa bapakmu ini berikan.”
Aku kecup keningnya.Aku cium pipi anakku satu-satunya ini.Mungkin untuk yg terakhir kali.Kemudian pelan-pelan ia angkat semua perbekalannya yg harus dia bawa.Tas punggung warna hitam itu disampirkan di pundaknya.Dia sekali lagi menatap wajah kami,sementara air mata kami semakin deras mengalir.
Ahmad melangkah keluar dengan wajah yg tenang dan bahagia.Kami mengikutinya sampai lepas halaman.Angkutan kota berhenti tepat di depan kami.Sekali lagi Ahmad menyalami kami sebelum kemudia dia naik,dan angkutan mulai bergerak pelan hilang diujung jalan.Ya Allah,kupasrahkan kebahagiaan anak kami kepada-Mu.

Telepon rumah berdering tiba-tiba.Setengah berlari istriku masuk kerumah.Sempat terdengar salamnya sebelum kemudian tiba-tiba istriku menjerit.Aku segera masuk pula dan segera mengangkat gagang telepon yg terjatuh.
“Assalamualaikum”
“Wa’alaikumsalam.Pak,kami dari Solidaritas Palestina,menyampaikan berita bahwa kemarin telah terjadi pemboman salah sasaran oleh pasukan Amerika kebarak para pengungsi.Putra bapak,Ahmad Yassin yg menjadi dokter di pengungsian tersebut telah…….Syahid!”
Ya Allah.Waktu terasa berhenti berputar saat itu.Aku tidak bisa berkata-kata lagi.Permintaan maaf dari suara di telepon, karena berita itu disampaikan tidak langsung menemui kami,tidak sempat aku tanggapi.
Artinya,anak kami memang belum pulang sejak dia pergi pertama kali,dan sungguh tidak akan kembali.kami pun sadar,Ahmad Yassin tadi bukan anak kami yg selama ini,entah malaikat entah siapa.Kami tahu,dia kini bahagia bersama yg dia cari dan cintai dalam hidupnya.Kami tahu,dia menantikan kami menyusulnya.Kami tahu….
 
Karena setiap manusia itu istimewa

Jika anda disodorkan sebuah foto diri anda dan teman-teman,siapa sosok yg pertama kali ingin anda lihat?sudah pasti gambar anda sendiri,baru kemudian gambar teman-teman anda.iya ya,mungking itu yang ada dibenak anda ketika hal diatas dikemukakan.anda tak perlu heran, karena setiap kita adalah
istimewa.Keistimewaan yang dimiliki setiap manusia itulah yg membuat setiap manusia juga merasa harus dipentingkan.

Tidak hanya manusia dewasa,anak bayi pun sudah dibekali sifat ingin dipentingkan layaknya orang dewasa.Bayi memang tidak bisa bicara,tapi ia punya cara ampuh untuk mengekspresikan kekecewaan,dan juga meminta perhatian dari orang dewasa,yakni menangis.coba saja anda abaikan ajakan anak anda atau keponakan anda untuk bermain bersama,ia pasti akan merengek atau berteriak keras sambil menangis meminta anda menuruti kehendaknya.Atau tatkala seorang anak kecil meminta anda membelikan permen kesukaannya namun anda tak menggubrisnya,kebanyakan anak-anak pasti menangis.Belumlah berhenti tangisannya sebelum anda memberikan perhatian penuh kepadanya.

Setiap manusia memiliki perasaan bahwa dia istimewa dan ingin dipentingkan,semestinya ini menjadi salah satu kunci sukses membina hubungan baik dengan orang lain.Salah satu prinsip interrelationship yang harus dipegang kuat adalah menjaga agar seseorang tidak kehilangan perasaan istimewanya atau tetap membuat seseorang yakin bahwa ia bagian penting dari sesuatu.Dan kunci itu semua ada didua indra yang anda miliki,mata dan telinga!

Manusia dianugrahkan dua telinga dengan satu mulut agar manusia lebih banyak mendengar daripada berbicara.Upayakan untuk terlatih mendengar setiap pembicaraan orang lain hingga ia selesai bicara,sementara disaat yang sama kita berupaya menahan mulut ini berbicara,apakah itu menyela pembicaraan orang atau bahkan meminta orang lain tak meneruskan pembicaraannya.Padahal ia belum tuntas menyampaikan ide dan gagasannya.
Ini adalah salah satu cara efektif untuk tetap menjaga perasaan istimewa seseorang.Ia merasa bahwa dirinya dipentingkan ketika orang yang diajak bicara mendengarkan dengan seksama,penuh perhatian,pandangan yang serius dan tak menunjukkan sedikitpun rasa bosan.Berlatihlah untuk melakukan hal ini,maka anda telah mendapatkan dirinya secara tak langsung.Indikasinya,ketika anda berbicara,maka ia akan melakukan hal yang sama dengan anda,yakni menganggap bahwa anda itu istimewa dan setiap pembicaraan anda menjadi penting untuk didengarkan.

Selain itu usahakan berbicara sesuatu yang baik dengan cara yang baik pula,ini akan terdengar menyejukkan ditelinga orang yang mendengarkan anda.Dengan berbicara yang baik menggunakan cara yang baik,anda telah juga membantu seseorang untuk merasa diperlakukan secara baik pula.
Berusaha untuk berbicara yang baik dan disaat yang sama juga belajar untuk mendengarkan setiap pembicaraan lawan bicara dengan sabar dan penuh perhatian,tidaklah mudah.Perlu latihan dan kerja keras untuk bisa menerapkannya.Inilah tantangannya,karena sifat dasar manusia itu sendiri yang merasa dirinya istimewa dan ingin dipentingkan sering memaksa anda untuk ingin terus berbicara dan berharap orang lain mau mendengarkan,karena anda merasa penting untuk didengarkan.Jadi,sesungguhnya amatlah berat menerapkan cara ini.Disatu sisi anda ingin merasa tetap istimewa dan ingin dipentingkan,disisi lain anda harus menghargai perasaan istimewa dan ingin dipentingkan milik orang lain.Namun demikian,dengan kesabaran dan kesungguhan,anda pasti bisa melakukannya.

Satu tips untuk anda,ketika anda mencoba bersabar menahan ego anda untuk merasa istimewa dan dipentingkan,sementara anda tetap menjaga perasaan istimewa dan ingin dipentingkan orang lain,justru disitulah letak keistimewaan anda.Ya,dengan demikian anda benar-benar telah menjadi orang yang istimewa.
Yakinlah!
 
Doa Ibu Kado Istimewa

Bisa jadi saya anak paling malang diantara anak-anak lain dikampung. Bukan hanya karena ibu jarang memberi uang untuk jajan disekolah, sehingga saya sering menghabiskan waktu istirahat sekolah untuk mereka-reka berapa uang jajan si Adi, apa yang selalu dibeli Rena, atau memerhatikan nikmatnya es doger ditangan Sukma. Bahkan untuk merayakan hari ulang tahunku yang setahun sekalipun ibu tidak melakukannya.
Tidak ada tepuk meriah teman-teman, tidak juga tiupan lilin diatas kue tart yang selalu saya saksikan di setiap perayaan uloang tahun Rommy, Hilda, juga Siska. Tidak ada balon, hiasan khas ulang tahun, dan yang pasti, tak mungkin saya berharap ada kado ulang tahun. Siapa yang mau ngasih? Tak ada pesta, ya tak ada kado.
“Ibu yang akan kasih kamu kado…,” sapa ibu mengagetkan lamunanku. Sejenak kemudian saya masih terdiam membayangkan gerangan kado apa yang akan diberikan ibu. Sampai akhirnya, sebuah doa terajut dari mulutnya disertai kecupan hangat dikening dan pipiku.
Seketika, sebalut kehangatan terasa menelusup ke setiap aliran darahku. Doa ibu, jauh lebih indah dari hiruk-pikuk tepuk tangan, tak bisa dibandingkan dengan kue tart termahal sekalipun. Lilin merah dengan api menyala, balon dan hiasan ulang tahun jelas tak seindah doa ibu, Untaian kalimat pinta yang dirajut ibu, bahkan lebih sempurna dari gaun ulang tahun milik siapapun.
Kehangatan kecupan ibu jelas lebih sejuk dari jutaan ucapan selamat dari siapapun. Tak ada satupun bingkisan ulang tahun yang mampu menandinginya, kecupan ibu adalah kado termahal yang pernah kuterima.
Suatu ketika, saya terjatuh saat pertama kali belajar naik sepeda. Saya menangis karena dua sebab : kaki saya memar dan sedikit berdarah tepat dilutut kanan, dan kemudi sepeda saua bengkok. Bapak segera mengangkat sepeda sementara ibu langsung mendekapku. Tidak ragu, ibu mengusap air mataku dan memberikan satu kecupan pada luka dikakiku.
Kecupan ibu juga yang mengantarku masuk ke ruang kelas saat hari pertama sekolah. Mulanya aku takut, mungkin ini juga yang dirasakan setiap anak yang baru pertama kali masuk sekolah. Dalam pandanganku, bangku-bangku sekolah dasar, papan tulis, juga meja belajar itu lebih mirip mahluk aneh yang siap menerkamku. Guru dan teman-teman baru itu, lebih terlihat seperti monster menyeramkan bagiku. Tapi dengan sekali kecup di ubun-ubunku, ibu berkata, “Masuklah, anak ibu kan jagoan…”
Selang sepekan hari sekolah, tepat dipekan kedua, seharusnya saya kembali masuk sekolah. Tapi demam yang menyerangku sejak malam tak kunjung reda di pagi harinya. Saya sedih tidak bisa sekolah hari itu, sedih juga karena tidak bertemu teman-teman baik dikelas, dan yang paling menyedihkan tentu saja saya harus tertinggal pelajaran dikelas. Namun, ternyata bukan hanya saya yang sedih saat itu, tepat dipinggir tempat tidurku, sesosok anggun terlelap lelah setelah semalaman terjaga menungguku, memberiku obat, mendengarkan setiap keluhanku, membetulkan selimutku, dan mendekapku erat saat tubuh ini menggigil kedinginan. Di sudut matanya, masih tersisa bekas air mata semalaman.
Kini, saya sadari, doa dan kecupan ibulah kado yang paling kuharapkan disetiap hari ulang tahunku. Dan tentu saja, kehadiran ibu senantiasa lebih kuinginkan dari sekedar ratusan undangan lengkap dengan ratusan kadonya.
Bagi saya, ibu adalah kado terindah di setiap ulang tahunku. Terima kasih Allah yang masih memberikan kesempatan saya untuk bersama ibu di hari terindah ini. Dan saya selalu berharap, ditahun depan ibu masih tetap jadi kado istimewa.
Ibu, semakin kumengerti hadirmu.
 
Keajaiban Basmalah

Suatu ketika Abu Hurairah ra., salah seorang sahabat nabi terkenal, bertemu dengan setan penggoda orang mukmin dan setan penggoda orang kafir. Setan penggoda orang kafir itu gemuk, segar, rapih dan memakai baju bagus. Sedangkan setan penggoda orang mukmin kurus kering, kusut, dan telanjang.
Setan gemuk itu bertanya pada setan penggoda kaum mukmin yang kurus, “Kenapa keadaanmu menyedihkan, kau kurus kering, kusut dan telanjang?”
Setan kurus menjawab.
“Aku bertugas menggoda orang mukmin yang selalu berzikir dan membaca basmalah menyebut nama Allah. Ketika hendak makan dan minum ia membaca basmalah menyebut nama Allah, maka aku tetap lapar dan haus. Ketika memakai minyak, ia menyebut nama Allah, maka aku tetap kusut. Dan ketika memakai baju, ia juga menyebut nama Allah sehingga aku tetap telanjang!”
Setan gemuk menyahut,
“Kalau begitu aku beruntung. Aku bersama orang kafir yang tidak pernah menyebut nama Allah. Pada waktu makan, ia tidak menyebut nama Allah sehingga aku bisa makan bersamanya sampai puas. Ketika minum dia juga tidak menyebut nama Allah sehingga aku bisa ikut minum. Ketika memakai minyak ia tidak menyebut nama Allah sehingga aku ikut minyakan. Dan ketika memakai pakaian ia tidak menyebut nama Allah sehingga aku ikut memakai pakaiannya.”

Begitulah, betapa agung faidah membaca basmalah. Setan tidak bisa ikut makan makanan orang yang membaca “Bismillahirrahmanirrahim!” Bahkan dalam sebuah hadist Rasulullah Salallahualaihiwassalam. Bersabda, bahwa rumah yang dibacakan basmalah maka setan tidak akan bercokol dan bermalam di dalamnya.
Baginda Rasulullah Salallahualaihiwassalam. Mengajarkan agar umatnya memulai segala perbuatan baiknya dengan membaca basmalah, menyebut nama Allah Subhanahuwataala. Agar perbuatan itu benar-benar penuh berkah, tidak diganggu setan dan mendapatkan ridha dari Allah Yang Maha Rahman.

Buktikan sendiri..:)
 
thank's for shared some great storys bro /no1
 
Dahsyatnya Berkah dari Allah.

Ada kisah menggetarkan tentang dahsyatnya berkah dari Allah. Seorang kiai pemiliki sebuah pesantren di Jawa Tengah menuturkannya,
“Ada seorang pria yang mempunyai empat orang laki-laki. Pada saat ia jatuh sakit, salah seeorang anaknya yang sangat ikhlas hatinya berkata,”Apakah kalian akan merawat ayah, walau kalian tidak mendapatkan warisannya ataukah saya yang akan merawatnya dan tidak ada untukku bagian dari warisannya.”
Ia mengatakan hal itu karena tahu ayahnya tak memiliki apa-apa. Ia tidak ingin ketika saudaranya merawat ayahnya ditengah jalan kecewa karena tahu tidak ada imbalannya. Ia tidak ingin karena kecewa lantas mereka tidak serius merawat ayahnya. Ia tahu ia adalah paling miskin diantara saudara-saudaranya. Tapi demi ayah tercinta, ia siap untuk berkorban.
Anak-anak yang lain seketika itu berkata, “Kamulah yang harus merawatnya dan tidak ada bagian sedikitpun untukmu dari warisannya.”
Jawaban itu sudah ia duga. Saudara-saudaranya pasti ingin lepas tangan. Namun ia justru tersenyum. Bisa merawat dan berbakti pada orang tua adalah kebahagiaan tiada tara baginya. Ia lalu merawat ayahnya itu sampai akhir hayatnya. Dan ia tidak mendapat sedikitpun dari warisan orang tuanya tersebut. Ia sangat percaya berbakti kepada orangtua pasti mendatangkan berkah.
Suatu malam dalam tidur anak yang sangat berbakti pada orang tuanya itu bermimpi. Ia didatangi oleh seseorang yang berwajah menyenangkan. Orang itu berkata “Datanglah ketempat ini dan itu. Lalu ambillah seratus dinar!”
Dalam mimpinya itu ia bertanya, “Apakah ada berkahnya?”
Orang dalam mimpinya menjawab, “Tidak ada.”
Pagi harinya ia menceritakan perihal mimpinya itu pada istrinya. Sang istri berkata, “Ambillah wahai suamiku! Karena keberkahannya adalah agar kita membeli pakaian dengannya dan bisa mencukupi kebutuhan hidup kita.”
Namun ia tak mengambilnya karena tidak ada berkahnya.
Saat sore hari, ia kembali tidur dan bemimpi lagi. Dalam mimpinya lelaki itu kembali datang dan berkata padanya, “Datanglah ketempat ini dan itu, lalu ambillah sepuluh dinar!”
Ia bertanya, “Apakah ada berkahnya?”
Mereka menjawab, “Tidak ada.”
Saat pagi datang, ia pun kembali menceritakan pada istrinya. Ia pun menjawab dengan jawaban yang sama, sehingga iapun tidak mau mengambilnya. Kemudian ia didatangi pada malam ketiga, orang itu padanya, “Datangilah tempat ini dan itu, lalu ambillah satu dinar!”
Ia kembali bertanya, “Apakah ada berkahnya?”
Orang itu menjawab, “Ya ada!”
Paginya ia membuktikan mimpinya. Ditempat yang disebutkan ia menemukan beberapa dinar dan ia hanya mengambilo satu dinar saja. Lalu ia pergi kepasar. Tiba-tiba, ia berpapasan dengan seorang laki-laki yang membawa dua ikan laut yang bentuknya lucu tidak seperti ikan biasa. Ia tertarik. Ia bertanya, “Berapa harga dua ikan ini?”
“Satu dinar.” Jawab penjual ikan itu.
Maka iapun membelinya dan membawanya pulang. Dua ikan laut itu masih hidup. Ia letakkan dua ikan laut itu dalam sebuah tempat di kaca.
Hari berikutnya penjual ikan itu kembali menemuinya. Penjual ikan itu membawa seorang pejabat penting kerajaan dan seorang tabib.
“Saya yakin ikan yang saya jual kepada orang ini adalah ikan yang Tuan cari.” Kata penjual ikan itu pada sang pejabat.
Sang pejabat mempersilahkan tabibnya memeriksa dua ikan itu. Setelah memeriksa dengan seksama tabibnya itu berkata,
“Benar tuan, inilah ikan yang diperlukan untuk mengobati penyakit tuan puteri.”
Sang pejabat lalu menjelaskan pada lelaki pemilik ikan itu perihal keinginannya membeli dua ikan itu berapapun harganya. Putrinya sakit dan hanya bisa diobati dengan dua ikan itu. Sudah satu bulan lebih ia mencari ikan itu kemana-mana namun tidak dapat. Ia juga telah mengerahkan nelayan untuk mencarinya di laut tapi tidak mendapatkan.
Setelah mendengar penjelasan sang pejabat lelaki itu menjawab, “Tuan harta bisa dicari tapi kasih sayang pada seorang anak adalah segala-galanya bagi orang tua. Jika Tuan berkenan maka harga dua ikan ini adalah lima puluh ribu dinar emas dan Tuan mengangkat saya menjadi orang penting dalam pemerintahan.”
Tanpa berpikir panjang sang pejabat setuju. Lelaki itu jadi orang kaya sekaligus orang penting. Namun ia tidak lupa asal-usulnya. Ia tetap memiliki hati yang tulus. Dekat dengan orang biasa dan disukai siapa saja.
Putri pejabat itu akhirnya sembuh. Begitu sembuh, sang putrid juga memberi hadiah khusus padanya. Sebuah kebun korma yang sangat luas. Ia benar-benar berubah menjadi orang yang sangat kaya raya dan penting dinegaranya. Ia merasa inilah berkah merawat ayahnya hingga akhir hayat. Meski tidak mendapat warisan, namun Allah menggantinya dengan yang lebih baik.
 
Cahaya ayat Kursi... Subhanallah

Dalam sebuah hadis, ada menyebut perihal seekor
syaitan yang duduk diatas pintu rumah.
Tugasnya ialah utk menanam keraguan di hati
suami terhadap kesetiaan isteri di rumah dan keraguan
dihati isteri terhadap kejujuran suami di luar rumah.
Sebab itulah Rasulullah tidak akan masuk rumah
sehinggalah Baginda mendengar jawaban salam
daripada isterinya.
Disaat itu syaitan akan lari bersama-sama dengan
salam itu.

Hikmat Ayat Al-Kursi mengikut Hadis-hadis:

1) Barang siapa membaca ayat Al-Kursi apabila
berbaring di tempat tidurnya, Allah SWT
mewakilkan dua orang Malaikat memeliharanya
hingga subuh.

2) Barang siapa membaca ayat Al-Kursi di akhir
setiap sembahyang Fardhu, dia akan berada dlm
lindungan Allah SWT hingga sembahyang yang
lain.

3) Barang siapa membaca ayat Al-Kursi di akhir
tiap sembahyang,tidak menegah akan dia daripada
masuk surga kecuali maut dan barang siapa
membacanya ketika hendak tidur, Allah SWT
memelihara akan dia ke atas rumahnya, rumah
jirannya dan ahli rumah-rumah disekitarnya.

4) Barang siapa membaca ayat Al-Kursi di akhir
tiap2 sembahyang fardhu, Allah SWT
menganugerahkan dia setiap hati orang yg
bersyukur,setiap perbuatan orang yg benar,pahala
nabi-nabi serta Allah melimpahkan padanya rahmat.

5) Barang siapa membaca ayat Al-Kursi sebelum
keluar rumahnya, maka Allah SWT mengutuskan
70,000 Malaikat kepadanya - mereka semua memohon
keampunan dan mendoakan baginya.

6) Barang siapa membaca ayat Al-Kursi di akhir
sembahyang Allah SWT akan mengendalikan
pengambilan rohnya dan dia adalah seperti orang
yang berperang bersama Nabi Allah sehingga mati
syahid.

7) Barang siapa yang membaca ayat Al-Kursi
ketika dalam kesempitan nescaya Allah SWT berkenan
memberi pertolongan kepadanya.

Dari Abdullah bin 'Amr r.a., Rasulullah S.A.W.
bersabda, “Sampaikanlah pesanku biarpun satu
ayat..."


Wassalam,

"Utamakan SELAMAT dan SEHAT untuk Dunia Mu,
Utamakan SHOLAT dan ZAKAT untuk Akhirat Mu"

Subhanallah...
 
kado tercantik

Tak pernah kulihat sebelumnya, kado secantik ini. Entah dari mana datangnya, aku tidak peduli. Karena yang pasti kado itu akan menjadi milik ku. Sungguh, aku tidak bisa bercerita kepada kalian tentang perasaan yang menderu saat pertama kali ditawari untuk menerima kado tsb. Seorang dengan ikhlas sepenuh hati akan menyerahkannya kepadaku, hari ini.
Melihat bungkusnya yang indah berwarna putih dengan motif bunga2 kecil merah jambu, tak salah penilaianku. Kado itu teramat cantik, Yang kutahu, tidak hanya hari ini ia terbungkus seindah itu. Setiap hari, setiap waktu, selalu terbungkus rapih. Isinya..??? Jangan pernah tanyakan padaku, karena aku - juga orang lain- tak pernah tahu yang ada didalamnya dan bagaimana rupa isinya. Jangankan tersentuh, terlihatpun tidak. Terutama oleh orang2 yang memang terlarang untuk melihatnya. Seistimewa apakah kado itu..?? Sehingga tak seorangpun pernah melihat kado secantik itu? dan seistimewa apakah diriku sehingga seseorang berkenan mempercayakannya kepadaku??
Terbayang dari bungkusnya, yang setiap hari terlihat rapih dan terjaga dengan baik, yang tidak tersentuh kecuali oleh yang berhak menyentuhnya. Aku yakin, isi dan rupa didalamnya, jauh lebih indah dari cantik bungkusnya. Aku mengerti, kalaulah kado itu mampu sedemikian cantiknya terjaga kulit luarnya, bagaimana lagi aku meragukannya tak senantiasa diperindah rupa dalamnya, juga inti terdalam dari semua isinya, yang sejujurnya adalah hal terpenting dari semua kecantikan sesuatu. Maaf, aku tak bisa mengajak anda ikut membayangkan indah rupa isinya, dan kalaupun aku tahu anda mencoba melakukannya, sebaiknya anda berhadapan denganku. Kado tercantik itu milikku, akan kujaga ia dan takkan kubiarkan orang lain ikut menikmatinya, meskipun sekedar membayangkannya.
Ingin sekali kucari pita pembuka kado yang biasanya berwarna merah agar segera kesingkap isinya. Tapi, satu hal masih mengganjalku. Masih tersisa berapa saat agar aku benar2 mendapatkan izin untuk membukanya?? Tapi, harus kutunggu pemiliknya, yang menjaganya, dan merawatnya selama ini benar2 menyerahkannya padaku dalam suatu upacara sakral. Kenapa harus sakral?? sesuatu yang cantik nan suci harus diserahkan dalam koridor keagungan yang juga suci. itulah jawabnya!! tak apalah sebagai satu jalan untuk tetap menyucikan hatiku dan diriku, juga kado tercantik itu, wajib kujalani upacara sakral itu!!
Aku berjanji, setelah kuterima diharibaanku, kado tersebut akan kujaga, kurawat, kuperlakukan ia agar tetap menjadi kado tercantik, terindah, terbaik, terbagus selamanya..!!!
Sampai tidak adalagi yang membuatku harus melirik kado2 diluar yang terkadang hanya bagus dan cantik bungkusnya saja!!!
 
Meminang Bidadari

“Menikah?”
“Ya…”
“Tentu,” jawab Ayesha tanpa ragu.
“Pertimbangkan dulu. Jangan cepat ambil keputusan.”
Bibinya berkata benar. Ayesha sedikit tersipu, tangannya membenahi abaya yang dipakainya dengan rikuh.
“Dengan siapa, ammah?”
Wajah lembut itu tiba-tiba mengeras. Kedua matanya mendadak menyembung. Mungkin karena air mata yang siap turun, entah kenapa. Luapan kebahagiaankah, karena keponakan yang diurusnya sejak kecil ini, akhirnya ada yang meminang?
Ayesha menunggu jawaban dari ammah-nya. Tapi beberapa kejap hanya dilalui gelombang senyap.
“Ammah…dengan siapa?”
Pandangan tajam wanita berumur itu menembus bola mata Ayesha. Seperti menimbang-nimbang kesiapan keponakan yang dicintainya itu, menikah. Ayesha membalas pandang, lebih karena ia tidak mengerti kenapa pernikahan, kalau memang itu yang akan terjadi padanya, tak disambut ammah dengan riang, seperti pernikahan pada umumnya.
“Dengan Ayyash!”
“Ayyash?”
Ammah mengangguk. Wajahnya pucat, namun terkesan lega. Biarlah…biarlah Ayesha yang memutuskan..ini hidupnya. Suara hati wanita itu bicara.
Di depannya tubuh Ayesha seperti kaku. Seolah tak percaya. Senang, tapi juga tahu apa yang akan dihadapinya. Berita itu mungkin benar. Yang jadi pertanyaan, siapakah dia?
“Kau pikirkan dulu, ya? Ia memberi waktu sampai tiga hari. Katanya lebih cepat, lebih baik.”
Ayesha masih tak bergerak. Pandangannya menembus jendela, menyisiri rumah-rumah dilingkungannya dan debu tebal yang terhembus dijalan. Pernikahan..sungguh penantian semua gadis. Dengan Ayyash pula, siapa yang keberatan?
Tapi semuapun tahu, apa arti sebuah pernikahan di Palestina. Tantangan, perjuangan lain yang membutuhkan kesiapan lebih besar. Terutama bagi setiap gadis yang menikahi pemuda macam Ayyash!

Dulu sekali, sewaktu kecil, ia tak memungkiri, kerap memperhatikan Ayyash dan teman-temannya dari balik kerudung yang biasa menutupkannya ke wajah, jika mereka kebetulan berpapasan. Mereka bertetangga. Begitukah Ayesha mengenal Ayyash, dan melihat bocah lelaki yang usianya lebih tua lima tahun darinya, tumbuh dewasa.
Ayah Ayyash salah satu pemegang pemimpin tertinggi di HAMAS, sebelum tewas dakan aksi penyerangan markas tentara Israel. Ibunya, memimpin para wanita Palestina dalam berbagai kesempatan, mencegat, dan mengacaukan barisan tentara Yahudi, yang sedang melakukan pengejaran atas pejuang Intifadah.
Mereka biasa muncul tiba-tiba dari balik tikungan yang sepi, atau memadat di pasar-pasar, dan menyulitkan pasukan Israel yang mencari penyusup. Bukan tanpa resiko, karena semua pun tahu, para tentara itu tak menaruh kasih pada perempuan atau anak-anak. Para perempuan yang bergabung, menyadari betul apa yang mereka hadapi. Terkena tamparan atau tendangan, bahkan popor senapan, hingga tubuh mengucurkan darah, bahkan terlepasnya nyawa, adalah taruhannya.
Ayesha sejak lima tahun lalu, tak pernah meninggalkan satu kalipun aksi yang diadakan. Ia iri dengan para lelaki yang mendapat kesempatan lebih memegang senjata. Itu sebabnya kemudian gadis berkulit putih kemerahan itu, tak ingin kehilangan kesempatan jihadnya, sejak usia belia. Tiga tahun lalu, ketika ibunda Ayyash syahid dalam satu aksinya, setelah sebuah peluru mendarat didahinya, mereka semua datang, juga Ayesha, untuk menyalatkan wanita pejuang itu.
Pedihnya kehilangan ummi, Ayesha dan perasaan berduka yang bagaimanapun memang manusiawi. Begitu kagumnya ia melihat ketegaran Ayyash, mengatur semua prosesi hingga tanah menutup dan memisahkan dari Bunda tercinta. Tak ada sedu sedan, tak ada air mata. Hanya doa yang terucap tak putus.
Begitulah Ayyash menghadapi kehilangan Abi, saudara-saudara lelakinya, adik perempuannya yang paling kecil, lalu terakhir ummi yang dikasihi. Begitu pula yang dipahami Ayesha cara pejuang menghadapi kematian keluarga yang mereka cintai.
Dan kini, Ayesha dua puluh dua tahun. Masih menyimpan pendar kekaguman dan simpati yang sama bagi Ayyash. Bocah lelaki bermata besar itu sudah menjelma menjadi lelaki gagah, dengan kulit merah kecoklatan, hidung bangir, dan mata setajam elang. Semangat perjuangan dan ketabahan lelaki itu sungguh luar biasa.
Sewaktu dua abangnya melakukan aksi bom syahid, meledakkan gudang logistik Isreal, ia hanya mengucapkan inna lillahi, sebelum bangkit dan menggemakan Allahu Akbar, saat memasuki rumah, dan mengabarkan berita itu pada umminya. Lalu ketika Fatimah, adiknya yang berpapasan dengan tentara, diperkosa, dan dibunuh sebelum dilemparkan dijalan dengan tubuh tercabik-cabik, Ayyash masih setabah sebelumnya. Padahal siapapun tahu, cintanya pada Fatimah, bungsu dikeluarga mereka.
Ayesha tak mengerti, terbuat dari apa hati lelaki itu. Setelah semua kehilangan, tak ada dendam yang lalu membuatnya menyerang membabi buta, atau meluapkan amarah dengan makian kotor. Ayyash menerima semua itu dengan keikhlasan luar biasa. Hanya matanya yang sesekali masih berkilat, saat ada yang menyebut nama adiknya. Diluar itu, hanya kesalihan, dan ketaatannya pada koordinasi gerak HAMAS yang kian bertambah. Begitu, dari hari ke hari.

Mereka berhadapan. Pertama kali dalam hidupnya ia bisa bebas menatap wajah lelaki itu dari jarak dekat. Ayyash yang tenang. Hanya bibirnya yang menyunggingkan senyum lebih sering, sejak ijab Kabul diucapkan, meresmikan keberadaan keduanya.
Ayyash yang tenang dan hati Ayesha yang bergemuruh. Bukan saja karena kebahagiaan yang meluap-luap, tapi oleh sesuatu yang lain. Sebetulnya hal itu ingin disampaikannya pada lelaki yang kini telah menjadi suaminya. Namun saat terbayang apa yang telah dialami Ayyash, dan senyum yang pertama kali dilihatnya begitu cerah. Batin Ayesha urung.
Biarlah..nanti-nanti saja, atau tidak sama sekali, pikirnya.
Ia tak mau ada yang merisaukan hati lelaki itu, terlebih karena waktu yang mereka miliki tak banyak. Bahkan sebentar sekali.
Dua hari yang lalu, Ayyash sendiri yang menyampaikan kebenaran beritu itu, niatan lelaki berusia dua puluh tujuh tahun, yang sudah selama dua pecan dibicarakan orang dari mulut ke mulut.
“Ayyash mencari istri!”
“Ia akan menikah secepatnya, akhirnya.”
“Tapi siapa yang akan menerima pernikahan berusia sehari semalam? Berita itu mungkin benar. Meski waktu pastinya tak ada yang tahu.”
Percakapan gadis-gadis dilingkungan mereka. Awalnya Ayesha tak mengerti.
“Kenapa sehari semalam?” tanyanya pada ammah-nya.
“Sebab lelaki itu sudah mempersiapkan aksi itu, Ayesha. Kini tinggal sepekan lagi. Waktunya hampir habis.”
Ayesha ingat ia menggigit bibir menahan sesak yang tiba-tiba melanda. Ayyash pasti sudah menyanggupi melakukan aksi bom syahid, seperti dua saudaranya dahulu. Cuma itu alas an yang bisa diterima, kenapa pejuang yang selama ini terkesan tak peduli dan tak pernah memikirkan untuk menikah, karena mobilitasnya yang tinggi, tiba-tiba seolah tak sabar untuk segera menikah.
“Saya ingin menghadap Allah, yang telah member begitu banyak kemuliaan pada diri dan keluarga saya, dalam keadaaan sudah menyempurnakan separuh agama.” Demikian kalimat panjang lelaki itu. Wajahnya yang menunduk, dan rahangnya yang terkatup rapat, menunggu jawaban darinya. Ayesha merekam semua itu dalam ingatannya dua hari lalu, saat khitbah dilangsungkan.
“Ya…,” jawabannya memecah kesunyian. Ammah serta merta memeluknya dengan wajah berurai air mata. Bahagia berbaur kesedihan atas keputusan Ayesha. Membayangkan keponakannya yang selalu dibanggakan karena semangatnya yang tak pernah turun, akan menjalani pernikahan. Yang malangnya, bahkan lebih pendek dari umur jagung.
Berganti-ganti Ayesha melihat wajah Ammah yang basah air mata, lalu senyum dari bibir Ayyash yang tak henti melantunkan hamdalah.
Didepan Ayesha, Ayyash tampak begitu bahagia, karena sebelum tugas itu dilaksanakan, ia berhasil menemukan pengantinnya. Seorang bidadari dalam perjuangan yang ia hormati, dan kagumi kekuatan mental maupun fisiknya. Ya Ayesha.
Mereka masih bertatapan. Saling menyunggingkan senyum. Ayesha yang wajahnya masih sering bersemu dadu, tampak sangat cantik dimata Ayyash. Pengantinnya, bidadarinya…kata-kata itu diulangnya berkali-kali dalam hati. Namun betapapun cantiknya Ayesha, Ayyash tak hendak melanggar janji yang ditekadkan jauh dalam sanubarinya.
“Ayesha..saya tak menginginkanmu, bukan karena saya tak menghormatimu.”
Senyum Ayesha surut. Matanya yang gemintang menatap Ayyash tak berkedip, menunggu kelanjutan kalimat lelaki itu. Ini malam pertama mereka, dan setelah itu, tak akan ada malam-malam lain. Besok selepas waktu dhuha, lelaki itu menemukan penggal akhir hidupnya, menemui kekasih sejati. Allah Rabbul Izzati. Tak layakkah Ayesha memberikan yang terbaik baginya? Bagi ia yang akan menjelang syahid?
Pendar dimata Ayesha luruh. Ayyash mendongakkan dagunya, tangannya yang lain menggenggam jari-jari panjang Ayesha, seakan mengerti isi hati istrinya.
“Saya mencintaimu, Ayesha. Dan saya meridhai semua yang telah dan akan Ayesha lakukan, selama kebersamaan ini dan setelah saya pergi. Saya percaya dan berdoa, Allah akan memberimu seorang suami yang lebih baik, sepelas kepergian saya.”
Ayesha tersenyum. Menyembunyikan hatinya yang masih bergemuruh. Seandainya ia bisa menceritakannya pada Ayyash. Tapi, ia tak sanggup.
“Tak apa. Saya mengerti.” Cuma itu yang bisa dikatakan pada Ayyash.
Suasana sekitar hening. Langit tanpa bulan tak mempengaruhi kebahagiaan di hati Ayyash. Bulan, baginya, malam ini telah menjelma pada kerelaan dan keikhlasan istrinya.
“Saya ingin, Ayesha bisa mendapatkan yang terbaik.” Lelaki itu melanjutkan kalimatnya. “Dan karenanya saya merasa wajib menjaga kehormatanmu. Kita bicara saja, ya? Ceritakan sesuatu yang saya tak tahu, Ayesha.”
Ayesha menatap mata Ayyash, lagi. Disana ia bisa melihat kegarangan dan keteduhan melebur satu. Sambil ia berpikir keras, apa yang bisa diceritakannya pada lelaki itu? Tak lama dari bibir wanita itu meluncur cerita-cerita lucu tentang masa kecil mereka. Canda teman-teman mainnya, dan kegugupannya saat pertama berhadapan dengan Ayyash.
Juga jari-jari tangannya yang berkeringat saat ia mencium tangan Ayyash pertama kali. Betapa ia hampir terjatuh karena keram, akibat duduk terlalu lama, ketika mencoba bangun menyambut orang-orang yang datang menyalami mereka tadi pagi.
Diantara senyum dan derai tawa suaminya, Ayesha masih berpikir tentang lelaki yang duduk dihadapannya. Sungguh, ia ingin membahagiakan Ayyash, dengan cara apapun. Melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah Ayyash, membuat Ayesha tak habis pikir. Kenapa kebahagian orang lain, bisa begitu membuatnya bahagia?
Namun, inilah kebahagiaan itu, bisiknya sesaat setelah mereka menyelesaikan salat malam dan tilawah bersama. Kali pertama dan terakhir. Kebahagiaan bukan pada umurnya, tapi pada esensi kata bahagia. Dan Ayesha belum pernah sebahagia itu sebelumnya.
Mereka masih belum bosan menatap satu sama lain, dan berpegangan tangan. Saat ia merebahkan diri di dada Ayyash setelah salat subuh, lelaki itu tak menolak.
“Biarkan saya berbakti padamu Ayyash.”
Ia ingat Ayyash menundukkan wajah dalam, seperti berpikir keras, sebelum kemudian mengangguk dan menerimanya.
Beberapa jam lagi, Ayesha menghitung dalam hati. Kedua matanya memandangi wajah Ayyash yang pulas didepannya. Tinggal beberapa jam lagi, dan mereka akan tinggal kenangan. Dirinya dalam kenangan Ayyash, Ayyash dalam kenangan orang-orang sekitarnya.
Ketika fajar mulai menampakkan diri, Ayesha yang telah rapi, kembali menatap Ayyash yang tertidur pulas, mencium kening dan tangan lelaki itu, sebelum meninggalkan rumah dengan langkah pelan.

Ia terbangun oleh gedoran pintu. Pukul setengah tujuh pagi. Kerumunan didepan rumahnya. Pagi pertama pernikahan mereka. Ada apa?
“Ayyash…istrimu.Ayesha.”
Ada titik air meruah diwajah Ammah Ayesha. Lalu suara-suara gamang yang berdengung. Saling melangkahi, semua seperti tak sabar menyampaikan berita itu padanya.
“Setengah jam lalu, Ayyash. Ledakan…Ayesha yang melakukannya!”
“Gudang peluru itu. Bunyi…bagaimana kau bisa tak mendengar?”
Ayyash merasa tubuhnya mengejang. Istrinya…Ayesha mendahuluinya? Kepalan tangannya mengeras. Mengenang semua keceriaan dan kejenakaan, serta upaya Ayesha membahagiakannya. Jadi… Masya Allah! Istrinya kini…benar-benar bidadari.
Pikiran itu menghapuskan rasa pedih yang sesaat tadi coba menguasai hatinya. Meski senyum kehilangan belum lepas dari wajah lelaki itu, sewaktu ia undur didi, dari kerumunan di depan rumah.
Keramaian yang sama masih menantinya dengan sabar, ketika tak lama kemudian lelaki itu berkemas, lalu dengan ketenangan yang tak terusik, melangkahkan kakinya meninggalkan rumah.
Waktu tinggal sebentar. Tentara Israel pasti akan melakukan patrol kemari, sesegera mungkin, setelah apa yang dilakukan Ayesha.
Ia harus segera pergi. Ayyash mempercepat langkahnya. Teman-temannya sudah menunggu dalam jip terbuka yang membawa mereka berempat.
Sepanjang jalan, tak ada kata-kata. Semua melarutkan diri dalam zikir dan memutihkan niatan. Operasi dari ini direncanakan akan menghancurkan salah satu pusat militer Israel di daerah perbatasan. Memimpin paling depan, langkah Ayyash sedikitpun tak digayuti keraguan, saat diam-diam menyusup. Allah memberinya bidadari, dan tak lama lagi, ia akan menyusulnya. Pikiran bahagianya bicara. Ayyash tersenyum, mengaktifkan alat peledak yang meliliti badannya. Ini untuk perjuangan…
Dan bumi yang terharu atas perjuangan anak-anaknya, pun meneteskan air mata. Hujan pertama pagi itu, untuk Ayyash dan Ayesha.
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.